Bali terasa sepi, wisman tidak singgah saat libur Nataru, ada apa dengan Pulau Dewata?
Jumlah turis asing harian menurun ke rentang hanya 11.000-16.000 orang.
DENPASAR: Periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 di Bali dirasakan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Biasanya, menjelang akhir tahun permintaan wisata melonjak dan pemesanan akomodasi terus masuk. Namun, kondisi tersebut tahun ini dinilai berbeda oleh pelaku pariwisata di lapangan.
Perbandingan jumlah penerbangan menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai juga ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan menyoroti rute penerbangan ke Bali yang terlihat lebih sepi dibandingkan rute ke Chiang Mai, Thailand, yang justru tampak lebih padat.
Berdasarkan data dari anggota Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA), tingkat okupansi vila yang dikelola anggota asosiasi hanya berada di kisaran 55–60 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai sekitar 65 persen.
Gubernur Bali I Wayan Koster mengakui adanya penurunan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Dewata pada periode menjelang Nataru 2025/2026. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh pelaku pariwisata.
“Mancanegara, hariannya ya, sekarang agak menurun. Dari periode September–Oktober, terjadi penurunan ya. Sekarang hariannya, 11.000 sampai 16.000 (orang),” kata Koster, diwartakan Kompas.com di Denpasar, akhir pekan lalu.
Koster menyebut bahwa biasanya kedatangan harian wisatawan asing ke Bali berada di kisaran 20.000 orang.
KEKHAWATIRAN BENCANA, BANJIR, DAN FAKTOR NONTEKNIS
Penurunan kunjungan wisatawan diperkirakan dipicu oleh kekhawatiran terhadap potensi bencana alam, khususnya banjir yang terjadi di beberapa wilayah Bali.
Bali sempat diterjang banjir bandang dahsyat pada September 2025 lalu.
Ketua BVRMA I Kadek Adnyana menilai minimnya respons dan penjelasan dari pemangku kebijakan memperkuat persepsi keliru bahwa banjir terjadi secara merata di seluruh Pulau Bali.
Menurut Adnyana, terdapat banyak kawasan pariwisata yang tidak terdampak banjir dan tetap aman untuk dikunjungi. Namun, kurangnya kontra-narasi membuat kekhawatiran wisatawan berkembang tanpa klarifikasi yang memadai.
Kondisi melambatnya aktivitas wisata juga dirasakan oleh para pengemudi pariwisata.
Ketua Forum Perjuangan Driver Pariwisata Bali (FPDPB) Made Darmayasa menyampaikan kepada Bali Pos bahwa penurunan jumlah wisatawan sudah terasa sejak pertengahan Oktober. Ia memperkirakan angka kunjungan saat ini turun sekitar 40 persen.
Terkait meningkatnya jumlah penerbangan ke Thailand, Darmayasa menilai hal tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kebijakan negara tersebut yang dinilai lebih ramah bagi wisatawan mancanegara, serta faktor harga yang lebih terjangkau.
Selain itu, ia menyebut sejumlah faktor lain yang memengaruhi penurunan kunjungan ke Bali, mulai dari dampak ekonomi global yang menekan daya beli, maraknya akomodasi ilegal yang mengganggu pasar hotel resmi, hingga persoalan sampah, kemacetan, dan tata kelola transportasi yang belum optimal.
Isu lingkungan dan budaya akibat overtourism juga dinilai mulai membentuk citra negatif terhadap Bali.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.