Skip to main content
Iklan

Indonesia

Bandung uji coba gratis angkot listrik, cek rutenya

Kendaraan dilengkapi AC, tapping card dan transmisi otomatis. Rutenya melewati kawasan permukiman untuk mendukung konektivitas first dan last mile.

Bandung uji coba gratis angkot listrik, cek rutenya

Uji coba angkot Listrik milik Kopamas Kota Bandung.(Dokumentasi Kopamas Bandung)

24 Aug 2026 04:02PM (Diperbarui: 24 Aug 2026 04:05PM)

BANDUNG: Warga Bandung kini bisa menjajal angkot listrik secara gratis selama masa uji coba. Dua armada berkapasitas 12 penumpang tersebut melayani perjalanan dari kawasan Bandara Husein hingga Terminal Ledeng, melewati sejumlah jalan utama dan permukiman.

Uji coba dilakukan Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung sebagai langkah awal menuju peremajaan angkutan kota dengan kendaraan berbasis listrik.

Selama pengujian, seluruh biaya operasional dua armada ditanggung Kopamas sehingga penumpang belum dikenakan tarif.

"Jumlah angkot listrik saat ini baru dua unit dan masih dalam fase uji coba dari Kopamas Kota Bandung. Uji coba ini memakai dana sendiri," kata Ketua Kopamas Budi Kurnia kepada Kompas.com, Sabtu (22/8).

Kopamas akan menggunakan periode pengujian untuk mengumpulkan data mengenai biaya operasional, jarak tempuh, kebutuhan pengisian baterai, jumlah penumpang, hingga pengalaman pengemudi

Respons masyarakat juga menjadi salah satu indikator untuk melihat potensi penggunaan kendaraan listrik sebagai angkutan umum sehari-hari.

Dua angkot listrik yang digunakan merupakan kendaraan buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB). Kabin dilengkapi pendingin udara (AC), perangkat tapping card untuk transaksi digital, serta transmisi otomatis.

Kendaraan memiliki kapasitas 12 penumpang dengan dimensi panjang sekitar 4,5 meter, lebar 1,6 meter, dan tinggi sekitar 2 meter.

Angkot tersebut menggunakan baterai 12 volt berkapasitas 50 kWh. Jarak tempuhnya diperkirakan dapat mencapai 300 kilometer dalam kondisi tertentu.

Pengisian baterai menggunakan slow charging membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam. Sementara dengan fast charging, waktu pengisian dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam.

RUTE ANGKOT LISTRIK BANDUNG

Angkot listrik memulai perjalanan dari kawasan Bandara Husein menuju Jalan Abdul Rahman Saleh, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jalan Pajajaran.

Dari sana, kendaraan melintasi Jalan Kapten Tatanegara sebelum menuju Jalan Dr Djunjunan melalui Jalan LMU Suparmin dan Jalan Sukawana.

Setelah melintasi kawasan Pasteur, perjalanan diteruskan melalui Jalan Sukamulya, Jalan Sukagalih, dan Jalan Cipedes Tengah.

Angkot kemudian melewati Jalan Ir Sutami, Jalan Sukahaji, Jalan Gegerkalong Hilir, kompleks perumahan Pondok Hijau, dan Jalan Sersan Bajuri sebelum mencapai Terminal Ledeng.

Pemilihan rute tersebut mempertimbangkan akses menuju kawasan permukiman sehingga layanan tidak hanya terkonsentrasi di jalan-jalan utama.

Konsep ini diarahkan untuk mendukung konektivitas first mile dan last mile, dengan angkot mendekati kawasan tempat tinggal sehingga masyarakat memiliki akses lebih mudah menuju transportasi umum.

Kopamas juga menggunakan masa uji coba untuk memperkenalkan kendaraan listrik kepada para pemilik angkot yang nantinya perlu melakukan peremajaan armada.

"Uji coba ini sambil mengenalkan kepada pemilik angkot untuk peremajaan kendaraan konvensional kalau ingin tetap melanjutkan usaha di bidang transportasi disarankan menggunakan kendaraan listrik," ujar Budi.

Menurut Budi, struktur biaya operasional menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pengemudi angkot saat ini. Selain setoran kepada pemilik kendaraan, pengemudi harus menanggung pengeluaran bahan bakar.

"Setoran Rp100 ribu, setoran Rp170 ribu artinya Rp270 ribu itu harus ada setoran ke pemilik. Pengemudi dapat berapa kita tidak tahu, itu konsekuensi pengemudinya," ungkapnya.

Beban tersebut berpotensi bertambah apabila peremajaan dilakukan dengan membeli kendaraan konvensional baru karena muncul biaya cicilan kendaraan.

"Kalau pakai konvensional, maka setorannya akan naik. Untuk biaya cicilan kendaraan saja Rp180-200 ribu. Artinya setoran ditambah bensin jadi Rp370 ribu bebannya," jelas Budi.

Kendaraan listrik diharapkan memberikan ruang untuk menekan pengeluaran bahan bakar sehingga struktur biaya operasional dapat disesuaikan tanpa menambah beban pengemudi.

"Kalau pakai kendaraan listrik, ada substitusi dimana Rp 170 ribu untuk bensin kemudian substitusi sebagai kenaikan setoran sehingga beban pengemudi tidak bertambah," katanya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan