Angka bunuh diri melonjak di Indonesia, Jawa Tengah catat kasus terbanyak
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus bunuh diri mengguncang tanah air.
JAKARTA: Kasus bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), terdapat sekitar 746 ribu kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia. Dari jumlah itu, Indonesia diperkirakan menyumbang 4.750 kasus.
Namun, angka resmi ini diyakini hanya puncak gunung es. Studi terbaru menyebut jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar akibat stigma dan praktik underreporting.
ANGKA RESMI VS REALITAS SEBENARNYA
Data Polri mencatat, sepanjang 2024 terdapat peningkatan sekitar 100 kasus dibanding tahun sebelumnya. Hingga Agustus 2024, Pusiknas Polri melaporkan mayoritas korban adalah laki-laki, yakni 714 kasus atau 76,94 persen, sementara korban perempuan tercatat 171 kasus atau 18,43 persen.
Meski demikian, angka ini dianggap tidak mencerminkan realitas. Banyak keluarga memilih bungkam karena stigma sosial.
Peneliti Sandersan Onie dari University of New South Wales, melalui studi yang diterbitkan di The Lancet Regional Health – Southeast Asia (2024), bahkan mengungkapkan bahwa angka bunuh diri di Indonesia kemungkinan 860 persen lebih tinggi daripada data resmi.
Data Polri hanya mencakup 12,8 persen dari estimasi WHO, sementara Survei Registrasi Sampel (SRS) mencatat 51,4 persen. Sisanya hilang dalam laporan yang tak tercatat karena faktor malu dan tekanan sosial.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, dr Imran Pambudi, dilansir dari detikHealth, Rabu (10/9), menyebut Jawa Tengah menjadi provinsi dengan kasus bunuh diri terbanyak pada 2024, yakni 478 kasus dalam setahun.
Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibanding Jawa Timur, dan jauh lebih tinggi daripada Jawa Barat yang hanya mencatat 72 kasus meski populasinya terbesar di Indonesia.
Pemerintah kini masih meneliti faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka bunuh diri di Jawa Tengah.
EPIDEMI KASUS BUNUH DIRI DI TANAH AIR
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus bunuh diri dilansir dari Kompas mengguncang berbagai daerah di Indonesia seperti:
1. Bandung, Jawa Barat (September 2025): Seorang ibu muda berinisial EN (34) ditemukan meninggal bersama dua anaknya di rumah kontrakan. Surat wasiat singkat yang ditemukan menyingkap perasaan kalah oleh hidup dan rasa lelah.
2. Tulungagung, Jawa Timur (Agustus 2025): Sepasang suami istri nekat menenggak racun karena tekanan ekonomi.
3. Bangkalan, Jawa Timur (Februari 2025): Seorang ibu muda berinisial NS (26) gantung diri di rumahnya, meninggalkan surat permintaan maaf untuk keluarga.
4. Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Januari 2025): Seorang ibu muda mengakhiri hidupnya setelah berbulan-bulan menanggung pengangguran suami dan lilitan utang.
Imran mengingatkan bahwa satu kasus bunuh diri berdampak pada sekitar 35 orang di sekitarnya, mulai dari keluarga, teman, hingga penolong. Tekanan psikologis bisa membuat mereka merasa bersalah, stres, bahkan terdorong untuk melukai diri sendiri.
Ia menegaskan pentingnya pemberitaan yang sensitif di media dan media sosial. Publikasi detail kasus maupun informasi pribadi korban dapat memperburuk keadaan.
Oleh sebab itu, lanjutnya penting bagi media dan masyarakat untuk mencegah penyebaran informasi yang bisa memicu munculnya keinginan bunuh diri pada orang lain.
Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.