analisis Indonesia
Apa rencana Jokowi setelah menyatakan dukungan penuh kepada PSI?
Joko Widodo menyatakan mendukung penuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk pemilu 2029 mendatang. Namun mengapa dia tidak bergabung dalam kepengurusan partai?
Mantan Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya kepada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Kongres PSI di Solo, 19 Juli 2025. (Youtube/PSI)
JAKARTA: Joko Widodo pada akhir pekan lalu menyatakan dia akan mendukung penuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), sebuah pernyataan paling tegas Jokowi soal apa kendaraan politiknya usai tidak lagi menjabat presiden Indonesia.
Para pengamat mengatakan bahwa publik akan mencermati apakah kehadiran Jokowi bisa mendongkrak popularitas PSI pada pemilu 2029 setelah terpuruk dalam dua pemilu terakhir.
Namun peran Jokowi masih dipertanyakan karena dia tidak secara resmi menjabat di kepemimpinan PSI. Para pengamat menduga, Jokowi tengah mengincar bergabung dengan partai lain yang lebih besar.
Sejak tidak lagi menjabat presiden pada Oktober 2024 dan setelah dipecat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) karena tidak mendukung Ganjar Pranowo dalam pilpres, para pengamat mengatakan pengaruh Jokowi kini kian memudar.
Seluruh mata kini tertuju pada Jokowi yang berbicara pada Kongres PSI di Solo Sabtu lalu (19/7), di mana putranya, Kaesang Pangarep, terpilih kembali menjadi ketua partai.
"Saya akan full mendukung PSI ... saya akan bekerja keras untuk PSI," kata Jokowi.
Jokowi dalam pidatonya tersebut juga memerintahkan agar PSI mulai menyelesaikan struktur partai sebagai mesin penggerak demi mengerti aspirasi masyarakat di seluruh Indonesia.
"(Jika) Targetnya 2029 masuk ke Senayan (menjadi anggota parlemen), saya kira itu jangan dijadikan target. Karena memang itu harus. Terlalu kecil kalau target kita hanya ingin masuk Senayan," ujar Jokowi.
Ketika keesokan harinya ditanya wartawan mengenai apa dukungan yang bisa diberikannya kepada PSI, Jokowi tidak menjelaskannya secara gamblang. Dia hanya mengatakan akan "mendukung penuh".
"Kalau full mendukung artinya harus bekerja keras. (saya) Bisa di depan, juga bisa di belakang, di tengah juga bisa," kata Jokowi pada Minggu malam (20/7) seperti dikutip dari Tempo.
JOKOWI SEBAGAI PATRON BAGI PSI ATAU MENGINCAR PARTAI BESAR?
Pengamat mengatakan bahwa dukungan yang bisa diberikan Jokowi kepada PSI adalah hadir menjadi patron atau figur sentral bagi partai yang kebanyakan diisi anak-anak muda tersebut.
"Secara tidak langsung Jokowi akan menjadi patron. Selama ini kelemahan PSI adalah mereka tidak memiliki patron yang cukup kuat," kata Ambang Priyonggo, Asisten Profesor Komunikasi Politik di Departemen Jurnalisme Digital Universitas Multimedia Nusantara, kepada CNA Indonesia.
"Jokowi bisa memberikan pengaruh ke publik, sehingga dia akan mendukung di balik layar."
Hal serupa disampaikan oleh Agung Baskoro, pengamat politik dari lembaga Trias Politika Strategis, yang mengatakan hubungan Jokowi dan PSI saling menguntungkan.
"PSI butuh figur seperti Jokowi. Sementara Jokowi butuh kendaraan (politik) sebagai perisai dari serangan-serangan politik terhadap dirinya dan keluarganya, termasuk melindungi legasi dan pengaruhnya," kata Agung.
Analis komunikasi politik sekaligus founder lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio mengatakan Jokowi memiliki tugas besar untuk menaikkan reputasi PSI sehingga dia akan "all out". Pasalnya, kebangkitan PSI juga akan mendongkrak pamornya lagi.
"Kalau PSI runtuh, beban malunya ada pada Jokowi. PSI ingin melimpahkan beban berat ini (meningkatkan suara) kepada keluarga Jokowi," kata Hendri kepada CNA.
OTAK-ATIK PEMIMPIN DI PSI
PSI dibentuk pada November 2014 oleh anak-anak muda yang menggemakan politik bersih, transparan dan pro-keberagaman. Ketua umum PSI pertama adalah Grace Natalie, perempuan mantan wartawan keturunan Tionghoa.
Pengamat mengatakan, ketidakhadiran figur kuat yang berpengaruh membuat PSI kalah dalam dua pemilu terakhir.
Pada pemilu 2019, PSI hanya mendapatkan 1,89 persen suara, jauh di bawah ambang batas 4 persen untuk bisa duduk di parlemen.
Setelah gagal pada pemilu 2019, PSI mencoba rebranding dengan mengangkat ketua umum baru, Giring Ganesha, vokalis grup band Nidji. Dia digantikan Kaesang pada 2023 setelah PSI terpuruk dan demi menggaet para pemilih muda.
Sebelumnya Kaesang adalah pengusaha yang memiliki berbagai merek dagang, tanpa pengalaman politik.
Keberadaan Kaesang memang meningkatkan perolehan suara PSI menjadi 2,80 persen namun masih di bawah ambang batas.
Pendiri Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Jeffrie Geovanie mengakui mereka sengaja mengangkat Kaesang demi mendompleng nama besar keluarga Jokowi. Jika tidak, kata dia, partai itu bisa gulung tikar karena popularitas yang terus anjlok.
"Kalau Kalian tidak dapat sedikit pun darahnya (anak) keluarga Pak Jokowi atau Pak Jokowi sendiri, kita tutup partai ini," kata Jeffrie pada Kongres PSI di Solo, menceritakan apa yang dia katakan kepada anggota partai lainnya sebelum Kaesang didaulat ketua partai.
Pada Kongres PSI akhir pekan lalu, Kaesang kembali terpilih menjadi ketua umum setelah mendapatkan lebih dari 60 persen suara, mengalahkan dua calon ketua umum lainnya.
Jokowi memang menyatakan mendukung PSI, namun dia tidak masuk dalam struktur partai. Ambang Priyonggo menduga, Jokowi sengaja tidak bergabung secara resmi dengan PSI karena figurnya sudah terlalu besar untuk partai tersebut.
"Sekelas Jokowi sudah terlalu besar," kata Ambang.
Namun PSI bisa menjadi kendaraan politik bagi Jokowi untuk bisa masuk ke partai lain yang lebih mumpuni.
"Ada peluang Jokowi masuk kendaraan politik lain. Ada partai yang jelas terafiliasi ke Jokowi, dia bisa dipinang masuk partai tersebut: Golkar," tegas Ambang.
Hal senada disampaikan Made Supriatma, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura, yang mengatakan bahwa Jokowi mengincar sesuatu yang lebih dari PSI dan "hadiah terbesar itu adalah Golkar".
"PSI punya keterbatasan yang sangat besar. Partai ini dikelola anak-anak muda, Gen Z yang minim pengalaman dan tidak punya basis masyarakat bawah," kata Made kepada CNA Indonesia.
"Mereka bukan dari kalangan yang biasa berpolitik, tidak seperti Golkar."
Golkar telah berada di dua pemerintahan Jokowi dan konsisten mendukung program-programnya. Setelah didepak dari PDIP, nama Golkar sempat mencuat sebagai kendaraan potensial bagi Jokowi.
Isu Jokowi masuk Golkar menguat sejak tahun lalu, namun tidak pernah terwujud. Made juga mengatakan bahwa Golkar yang terbentuk sejak 1960-an di masa Orde Baru adalah partai yang paling pantas bagi Jokowi.
Namun menurut Made itu tidak mudah, pasalnya Jokowi sudah tidak punya pengaruh lagi dan ada kubu di partai Golkar yang menganggap dia tidak "ikut membesarkan partai".
"Resistensi dari Golkar sangat tinggi. Dia sudah tidak punya pengaruh lagi. (Beberapa kubu) di Golkar tidak mau Jokowi bergabung karena dia tidak ikut dalam membesarkan partai, tidak seperti mereka yang berdarah-darah membangun partai," kata Made.
Gesekan antar kubu di Golkar antara yang pro dan kontra Jokowi juga disebutkan oleh Ambang. Namun, kata dia, Jokowi masih memiliki loyalis di partai tersebut, salah satunya adalah ketua umum Golkar Bahlil Lahadalia yang juga menjabat menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM).
POSISI POLITIK JOKOWI
Pengamat sepakat bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh berkat titelnya sebagai mantan presiden. Namun pengaruh itu kian menuju senjakala.
"Dari efek ekor jas untuk pemilih, Jokowi mungkin sudah tidak seperti dulu karena sudah tidak menjabat dan ada degradasi akibat isu-isu seperti ijazah palsu," kata Ambang.
Hal senada disampaikan Made yang mengatakan pada pendukung Jokowi sudah banyak yang berbalik, terutama setelah putranya Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden usai kontroversi keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah syarat usia calon peserta pemilu.
"Hampir tidak mungkin (Jokowi kembali ke kekuasaan). Orang-orang seperti Puan Maharani (putri Megawati) dan AHY yang akan bertarung nanti, mungkin juga Gibran. Zaman setelah Prabowo ini akan diisi oleh orang-orang muda," ujar Made.
Para pengamat juga mengatakan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke kediaman Jokowi di Solo usai menghadiri Kongres PSI bukanlah sesuatu yang besar.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo melaporkan beberapa perkembangan salah satunya soal kesepakatan ekonomi dengan Uni Eropa yang telah dirundingkan selama 10 tahun sejak zaman kepemimpinan Jokowi.
Made mengatakan bahwa Prabowo masih menunjukkan penghormatan terhadap Jokowi, sosok yang telah berjasa besar dalam kemenangannya pada pemilu presiden.
"Dia datang ke Jokowi bukannya untuk melapor. Tidak ada ruginya bagi Prabowo untuk tidak menghormati Jokowi," kata Made.
Sementara Ambang mengatakan bahwa Prabowo ingin menjaga keseimbangan politik dengan tetap menjaga hubungan dengan Jokowi.
"Kedatangannya lebih untuk menjaga titik ekuilibrium politik setelah sebelumnya dia bertemu Megawati," ujar Ambang, menyebutkan nama ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.