AHY klarifikasi pernyataan, pastikan Bandara Kertajati siap untuk industri dirgantara
AHY sempat menyebut bandara tersebut berada “in the middle of nowhere”.
JAKARTA: Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberikan klarifikasi terkait pernyataannya tentang Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka yang sempat menjadi sorotan publik.
AHY pekan lalu menilai BIJB Kertajati sepi karena berada lokasinya berada “in the middle of nowhere” alias antah-berantah.
"Siapa yang pernah ke sana? Seperti apa Kertajati? Sepi? Tapi bagus kan? Besar, bagus, megah, tapi in the middle of nowhere, di Majalengka, kawasan Rebana (Cirebon, Patimban, Kertajati) namanya," ucap AHY dikutip Kompas pada Jumat (24/10).
Dalam pernyataan terbarunya, AHY mengatakan kata-katanya dipotong dan dimaknai secara sempit.
“Mungkin dipotong sempit ya, tetapi sebetulnya semangatnya adalah bagaimana kita bisa menghadirkan integrasi wilayah,” jelas AHY diwartakan Kompas.com usai meresmikan Kantor DPD Partai Demokrat Jawa Barat di Jalan Pacuan Kuda, Bandung, Minggu (26/10).
INTEGRASI INFRASTRUKTUR JADI KUNCI
AHY menegaskan pentingnya integrasi antarinfrastruktur, seperti bandara, pelabuhan, dan jalan akses pendukung. Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang besar harus diikuti konektivitas yang baik agar dapat berfungsi optimal.
“Jadi pembangunan infrastruktur, termasuk bandara dan dermaga, harus dihubungkan dengan akses keluar-masuk lokasi tersebut supaya benar-benar hidup,” urainya.
Ia menambahkan, proyek besar seperti BIJB Kertajati akan kehilangan potensi jika tidak terhubung dengan kawasan sekitarnya.
“Jangan sampai infrastrukturnya besar, bagus, memakan biaya tinggi, tetapi tidak optimal,” tegas AHY.
Lebih lanjut, AHY mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengembangkan Kertajati sebagai pusat industri dirgantara. Salah satu inisiatif awal adalah kerja sama antara BIJB Kertajati dengan Garuda Maintenance Facility (GMF) untuk menghadirkan fasilitas Maintenance Repair Overhaul (MRO).
“Kami bersama Kementerian Bappenas dan Kementerian Perhubungan sedang menyiapkan kerja sama yang baik untuk kebutuhan MRO,” katanya.
Program tersebut, lanjut AHY, akan dimulai dari layanan perawatan helikopter dan ke depan akan dikembangkan untuk pesawat sayap tetap (fixed wings).
“Diawali dulu dengan helikopter, mudah-mudahan setelah itu fixed wings. Kami juga melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga terkait,” sebutnya.
Menurut AHY, keberadaan fasilitas MRO di Kertajati diharapkan dapat menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi kawasan Rebana, yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
“Kalau wilayah-wilayah itu terhubung dan tidak terisolasi, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi daerah,” tutur AHY.
Pemerintah, pungkasnya, berkomitmen memastikan setiap infrastruktur strategis memiliki nilai tambah melalui konektivitas antarwilayah dan integrasi ekonomi yang berkelanjutan.