Skip to main content
Iklan

Indonesia

Ada formalin hingga boraks, BPOM temukan ratusan takjil berbahaya

Lubuklinggau tercatat paling banyak temuan takjil bermasalah, sementara BPOM juga menemukan kasus di Tangerang, Surabaya dan Jakarta pada es cendol, sirup dan kerupuk.

Ada formalin hingga boraks, BPOM temukan ratusan takjil berbahaya

Warga mengantre membeli takjil dari pedagang di bazar Ramadan di sebuah kompleks perumahan di Jakarta Timur. (CNA/Nivell Rayda)

JAKARTA: Ribuan sampel takjil diuji selama Ramadan, dan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) masih menemukan formalin hingga rhodamin B dalam makanan yang dijual ke masyarakat.

Dari hasil pemeriksaan menggunakan rapid test kit terhadap 5.447 sampel takjil di 513 lokasi dari 2.407 pedagang, ditemukan 108 sampel yang mengandung bahan kimia berbahaya.

Zat berbahaya tersebut meliputi formalin pada 50 sampel, boraks pada 22 sampel, rhodamin B pada 35 sampel, serta kuning metanil. Temuan itu tersebar di berbagai sentra penjualan takjil di sejumlah wilayah Indonesia.

Formalin kerap ditemukan pada mi kuning, tahu bakso, teri nasi, cincau hitam, tahu kotak, sambal goreng hingga cumi asin. Ciri umumnya antara lain tekstur tidak mudah hancur, memiliki bau khas formalin, dan mampu bertahan lebih dari satu hari pada suhu ruang.

Sementara itu, makanan yang mengandung boraks biasanya bertekstur kenyal, tidak mudah hancur, dan tidak lengket. Boraks umumnya sering dibubuhkan di mi kuning basah, kerupuk terigu, kerupuk beras, lontong, sotong, hingga janggelan.

Adapun ciri makanan yang mengandung rhodamin B umumnya memiliki warna merah muda atau pink mencolok, tampak berpendar, serta warna yang tidak merata atau muncul titik-titik warna. Zat ini kerap ditemukan pada aneka kerupuk, bolu, jelly merah, sirup merah, es cendol, es jambu, dan kue mangkok.

JANGAN KORBANKAN KESEHATAN DEMI UNTUNG SESAAT

Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan peringatan keras kepada pedagang agar tidak lagi menggunakan bahan berbahaya dalam produk pangan.

"Kami menginstruksikan para pedagang untuk tidak lagi menjual pangan yang mengandung bahan berbahaya. Jangan sampai keuntungan sesaat mengorbankan kesehatan masyarakat," tegas Taruna Ikrar dalam konferensi pers hasil intensifikasi pengawasan pangan Ramadan di Gedung Bhineka Tunggal Ika, Jakarta, Rabu (11/3), dikutip Liputan 6.

Ia menyebut temuan terbanyak bahan-bahan berbahaya itu tercatat di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dengan 27 sampel tidak memenuhi ketentuan.

"Kita sudah lakukan seluruh Indonesia di 513 titik khusus makanan takjil, terbanyak di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, ada 27 sampel tidak memenuhi ketentuan, dan memang temuan takjil berbahaya ini meningkat juga dari tahun lalu,” ungkapnya.

Temuan lainnya dilaporkan di Tangerang, Surabaya, hingga Jakarta. Di ibu kota, BPOM menemukan takjil berbahaya pada es cendol, sirup, dan kerupuk yang mengandung rhodamin B.

Taruna menyampaikan lokasi temuan takjil berbahaya tahun ini bergeser dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan evaluasi dan penindakan yang dilakukan BPOM berjalan efektif serta memberikan efek jera bagi pelaku.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan