Skip to main content
Iklan

Indonesia

7 santri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo terjebak teruntuhan, semua terdeteksi masih hidup

Hingga Selasa siang, tercatat tiga korban meninggal dunia dalam tragedi memilukan ini.

7 santri Ponpes Al Khoziny Sidoarjo terjebak teruntuhan, semua terdeteksi masih hidup
Petugas SAR mencari korban di tengah reruntuhan bangunan yang ambruk saat sebuah musala roboh ketika para santri sedang melaksanakan salat di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. (Reuters/Stringer)

SIDOARJO: Proses evakuasi korban musala ambruk di asrama putra Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Jalan Khr. Abbas I No.18, Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, terus berlangsung hingga hari kedua, Selasa (30/9).

Tim SAR gabungan berupaya menyelamatkan tujuh santri yang masih terjebak di bawah reruntuhan, seluruhnya terpantau masih hidup.

Tragedi ini menelan tiga korban jiwa dan melibatkan lebih dari seratus santri, sementara penyelamatan tujuh korban lainnya berpacu dengan waktu dan harus dilakukan tanpa alat berat untuk menghindari risiko lebih besar.

TUJUH SANTRI MASIH TERJEBAK

Sekdaprov Jatim Adhy Karyono mengatakan, korban yang masih hidup terdeteksi di tiga titik berbeda.

"Yang masih hidup dan terdeteksi ada tujuh lagi. Ada satu sektor yang di belakang satu orang, kemudian di tengah satu orang, di samping kanan lima orang. Itu terdeteksi masih komunikasi," kata Adhy dikutip CNN Indonesia.

Untuk menjaga kondisi korban, tim SAR menyalurkan makanan, minuman, dan oksigen.

"Kita kasih suplai minum, makan, kemudian kasih oksigen," ujarnya.

Adhy menegaskan, proses penyelamatan dilakukan hati-hati tanpa penggunaan alat berat agar getaran tidak memperparah kondisi reruntuhan.

"Fokus hari ini kita belum menggunakan alat berat karena kalau dilakukan alat berat, maka pergeseran itu menjadi malah mencelakakan ya, baik petugas maupun yang dievakuasi," terangnya.

Seorang kerabat korban menangis setelah tragedi ambruknya musala saat para santri melaksanakan salat di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia, 30 September 2025. (Reuters/Dipta Wahyu)

TIGA KORBAN JIWA

Hingga Selasa siang, tercatat tiga korban meninggal dunia. Dua korban meninggal di RSUD dr R.T. Notopuro Sidoarjo yakni Mochammad Mashudul Haq (14), warga Kali Kendal, Dukuh Pakis, Surabaya, dan Muhammad Soleh (22) asal Tanjung Pandan, Bangka Belitung. Satu korban meninggal lainnya di RSI Siti Hajar.

Direktur Utama RSUD Sidoarjo, Atok Irawan, mengatakan Muhammad Soleh mengalami luka parah akibat himpitan di bagian bawah tubuh.

"Pasien Soleh sempat mengalami himpitan di bagian bawah tubuh hingga harus dirawat intensif sebelum akhirnya meninggal dunia saat dirujuk ke RSUD Sidoarjo," ucap Atok.

Karena kondisi kritis, Soleh bahkan harus menjalani amputasi di lokasi kejadian demi menyelamatkan nyawanya. Ia adalah santri Ponpes Al Khoziny sekaligus mahasiswa semester lima di kampus yang dikelola pesantren tersebut.

Berdasarkan data Kantor SAR Surabaya, terdapat 102 santri menjadi korban musala ambruk, di mana 99 orang berhasil selamat.

Saat kejadian, puluhan hingga ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar berjemaah di bangunan yang masih dalam tahap pembangunan.

PENYEBAB BANGUNAN AMBRUK

BNPB mengungkap, peristiwa ini termasuk kategori bencana kegagalan teknologi. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut lemahnya pondasi menjadi faktor utama.

Kejadian bermula sejak pagi ketika proses pengecoran lantai empat dilakukan. Saat salat Asar berjemaah pukul 15.00 WIB, tiang pondasi diduga tidak mampu menahan beban pengecoran, menyebabkan bangunan runtuh hingga ke lantai dasar.

Abdul Muhari menekankan pentingnya penerapan standar keselamatan konstruksi secara ketat agar tragedi serupa tidak terulang.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan