Skip to main content
Iklan

Dunia

Presiden China Xi Jinping tiba di AS, disambut meriah oleh Donald Trump

Presiden AS Donald Trump menyambut langsung pemimpin China Xi Jinping di bandara, mengawali kunjungan kenegaraan selama tiga hari yang akan diwarnai atraksi pesawat dan jamuan kenegaraan di Gedung Putih.

Presiden China Xi Jinping tiba di AS, disambut meriah oleh Donald Trump

Presiden AS Donald Trump, Ibu Negara Melania Trump, Presiden China Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan memeriksa barisan kehormatan setibanya untuk kunjungan kenegaraan di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

WASHINGTON: Presiden AS Donald Trump menyambut langsung Presiden China Xi Jinping di bandara pada Rabu (23/9), mengawali kunjungan kenegaraan untuk meredakan ketegangan kedua negara terkait perdagangan, kecerdasan buatan (AI), hingga Iran.

Pertemuan ini diperkirakan lebih banyak diwarnai seremoni ketimbang menghasilkan kesepakatan substantif. Namun, terobosan awal muncul ketika Washington mengumumkan perpanjangan dua bulan gencatan perang dagang dengan Beijing yang sedianya berakhir pada November.

Setelah karpet merah digelar, Trump dan Ibu Negara Melania menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, dengan berjabat tangan begitu Presiden China itu turun dari pesawat di Joint Base Andrews, pangkalan udara militer AS di luar Washington.

Trump, yang mengenakan mantel panjang dan sarung tangan, kemudian berdiri berdampingan dengan Xi di landasan saat band militer memainkan lagu kebangsaan kedua negara.

Sambutan ini berbeda saat Trump berkunjung ke Beijing pada Mei lalu. Ketika itu, Xi tidak hadir langsung menyambutnya, dan tidak ada penyambutan yang bombastis. Kendati demikian, Trump tidak mempermasalahkannya.

"Saya rasa itu pertemuan singkat yang luar biasa, sambutan yang luar biasa, dan saya rasa mereka menghargainya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih setelah menyambut Xi.

CHINA DAN AS HARUS JADI "MITRA"

Menurut media pemerintah China, Xi menyerukan kerja sama dengan AS setelah disambut Trump di Washington.

"Kedua negara kita harus menjadi mitra, bukan rival," kata Xi dalam pernyataan tertulis yang diterbitkan kantor berita Xinhua. Ia menambahkan bahwa "rakyat China dan AS telah lama menjalin hubungan persahabatan, dan kepentingan kita saling terkait erat".

Xi menantikan "pembicaraan mendalam dengan Presiden Trump mengenai isu-isu utama dalam hubungan bilateral dan situasi global", lapor Xinhua.

Menurut Xi, kedua negara harus "saling mendekat untuk membangun hubungan stabil yang mengutamakan kerja sama, menjaga persaingan dalam batas wajar, mengelola perbedaan, dan membuka jalan menuju perdamaian".

Menyinggung slogan politik khas Trump 'Make America Great Again', Xi mengatakan, "kebangkitan besar bangsa China dan tujuan menjadikan Amerika 'great again' dapat berjalan beriringan".

Ia menyampaikan, kedua pihak harus "menentukan jalan yang tepat bagi dua negara besar" untuk hidup berdampingan, lapor Xinhua.

"Saya yakin kita bisa mencapainya," ujar Xi.

"Saya percaya dengan upaya bersama kedua pihak, kunjungan ini akan membuahkan hasil, meningkatkan kesejahteraan rakyat kedua negara, dan membawa harapan baru bagi perdamaian dunia," tambahnya.

Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump menyambut Presiden China Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan setibanya di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

IRAN, AI, PERDAGANGAN

Kunjungan kenegaraan ini, yang menjadi pertemuan ketiga Xi dan Trump sejak Presiden AS itu kembali berkuasa, akan dilanjutkan pada Kamis dengan upacara penyambutan resmi dan atraksi pesawat, pembicaraan di Oval Office, serta jamuan kenegaraan di Gedung Putih.

Kunjungan akan berakhir Jumat pagi dengan acara minum teh kedua pasangan presiden di Gedung Putih, dilanjutkan kunjungan ke Arsip Nasional, tempat Deklarasi Kemerdekaan AS disimpan.

Xi melakukan kunjungan balasan ke Washington empat bulan setelah Trump bertandang ke Beijing. Menurut analis, hubungan kedua negara kini lebih stabil, tetapi persaingan strategis di antara mereka tidak banyak berubah.

Ekspektasi akan adanya terobosan besar terbilang rendah. Menurut analis, rangkaian seremoni ini terutama bertujuan menjaga hubungan kedua negara adidaya tetap tenang meski rapuh.

Trump pada Rabu memastikan perang Iran akan menjadi salah satu agenda pembicaraan. Sebelumnya, ia meremehkan laporan bahwa Beijing memasok informasi intelijen kepada Teheran di tengah konflik yang berkepanjangan.

"Saya akan membicarakan itu dan banyak hal lainnya, tetapi semuanya berjalan baik, termasuk soal itu," kata Trump ketika ditanya wartawan AFP apakah ia akan membahas Iran.

Terkait perang dagang yang dipicu tarif besar-besaran Trump tahun lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu mengumumkan perpanjangan gencatan setelah pembicaraan intensif menjelang pertemuan kedua pemimpin.

Menurut Bessent, "gencatan ekonomi" yang semula berakhir pada 10 November kini diperpanjang hingga 10 Januari.

Namun, harapan akan adanya kesepakatan bisnis meredup karena tidak ada CEO perusahaan China dalam rombongan Xi, kata dua sumber kepada AFP.

Sebaliknya, para petinggi perusahaan teknologi AS, termasuk pemimpin sejumlah perusahaan besar di bidang AI, dijadwalkan menghadiri jamuan kenegaraan pada Kamis.

Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping saat Xi tiba di Joint Base Andrews, Maryland, AS, menjelang kunjungan kenegaraan pada 23 September 2026. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

"DIKTATOR REPRESIF"

AI diperkirakan menjadi salah satu topik utama pertemuan, di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat mengancam kelangsungan umat manusia, termasuk peringatan dari sejumlah CEO perusahaan AI.

China dan AS tengah bersaing menjadi yang terdepan dalam bidang ini dan menganggap AI sangat penting bagi masa depan hingga akhir abad ini.

Dalam pembicaraan awal pada Minggu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, antara lain, membahas pembentukan saluran komunikasi untuk menangani kekhawatiran terkait AI.

Namun, secara keseluruhan kedua negara berupaya memperpanjang "gentleman's agreement" untuk meredakan ketegangan di tengah persaingan mereka, kata Jonathan Czin dari Brookings Institution kepada AFP.

Sambutan istimewa Trump untuk Xi menuai kritik dari kalangan Partai Republik yang bersikap keras terhadap China, terutama setelah muncul laporan bahwa Beijing memasok informasi intelijen kepada Iran untuk menyerang pasukan AS.

"Panglima tertinggi (Trump) kita harus ingat bahwa tamunya adalah diktator brutal, bukan dipilih, dan represif," kata Senator Republik Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.

Namun bagi Trump, kunjungan Xi juga menjadi kesempatan untuk menonjolkan seremoni di tengah persoalan di dalam negeri. Dampak perang Iran terhadap harga bahan bakar telah membuat tingkat kepuasannya merosot ke level terendah dalam sejarah menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Presiden AS terakhir yang menyambut pemimpin asing di pangkalan militer Andrews, selain dalam kunjungan Paus, adalah John F Kennedy pada 1962. Namun, Trump juga pernah menyambut langsung Presiden Rusia Vladimir Putin saat turun dari pesawat di Alaska tahun lalu.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan