Xi Jinping tidak boyong CEO China ke AS, apa artinya?
Presiden China Xi Jinping membawa para pejabat ekonomi utama China ke Washington, tetapi tanpa pemimpin perusahaan. Sebaliknya, sederet petinggi perusahaan AS menghadiri jamuan kenegaraan Presiden Donald Trump.
Presiden China Xi Jinping berpidato dalam jamuan kenegaraan yang digelar Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington, AS, pada 24 September 2026. (Foto: Reuters/Evelyn Hockstein)
SHANGHAI: Tidak ada CEO perusahaan China dalam jamuan kenegaraan Presiden AS Donald Trump untuk Presiden Xi Jinping pada Kamis (24/9), sementara lebih dari 30 pemimpin perusahaan AS hadir dalam acara tersebut.
Menurut analis, ketidakhadiran mereka tidak banyak memengaruhi negosiasi karena keputusan penting tetap berada di tangan pejabat senior ekonomi Beijing yang hadir dalam pertemuan.
Namun, absennya pemimpin perusahaan China tetap memiliki dampak. Hal ini juga menunjukkan masih minimnya kemajuan AS dan China dalam perdagangan dan investasi meski kedua negara berupaya menstabilkan hubungan.
"Absennya eksekutif perusahaan teknologi China membuat mereka lebih sulit mendorong para pemimpin negaranya untuk membuka pasar China dan memperluas perdagangan yang saling menguntungkan, alih-alih kebijakan ekonomi yang kini lebih berpusat pada partai," tutur Drew Thompson, peneliti senior di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Singapura, kepada CNA.
KETIMPANGAN KEHADIRAN PENGUSAHA
Xi melakukan kunjungan kenegaraan balasan ke Washington, empat bulan setelah Trump berkunjung ke Beijing.
Para petinggi perusahaan AS hadir dalam jumlah besar di jamuan kenegaraan Gedung Putih pada Kamis.
Duduk semeja dengan Trump, Xi, dan istri mereka adalah CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, CEO AMD Lisa Su, serta Executive Chairman Apple Tim Cook.
Di meja lain hadir Jeff Bezos dari Amazon, Mark Zuckerberg dari Meta, Sam Altman dari OpenAI, Satya Nadella dari Microsoft, dan Sundar Pichai dari Google. Sejumlah petinggi Wall Street juga hadir, termasuk Jamie Dimon dari JPMorgan Chase, Larry Fink dari BlackRock, dan David Solomon dari Goldman Sachs.
Tidak ada kehadiran serupa dari kalangan bisnis China.
Delegasi Xi justru terdiri dari 16 pejabat, termasuk Wakil Perdana Menteri He Lifeng yang memimpin perundingan dagang China dengan AS, Ketua National Development and Reform Commission (NDRC) Zheng Shanjie, Menteri Perdagangan Wang Wentao, dan Menteri Keuangan Lan Fo'an.
Cai Qi, yang secara de facto menjabat kepala staf Xi, Menteri Luar Negeri Wang Yi, serta Direktur Central Policy Research Office Partai Komunis China Tang Fangyu juga hadir, berdasarkan daftar tamu resmi Gedung Putih.
Ketika Xi menjamu Trump di Beijing pada Mei, jamuan kenegaraan mempertemukan pengusaha dari kedua negara. CEO Lenovo Yang Yuanqing, pendiri Xiaomi Lei Jun, dan CEO ByteDance Liang Rubo termasuk di antara eksekutif China yang makan bersama rombongan pengusaha Trump.
Namun, pemandangan serupa tidak terlihat di Washington, D.C.
Kondisi ini juga berbeda dengan kunjungan kenegaraan Xi ke AS pada 2015 di era Presiden Barack Obama. Pendiri Alibaba Jack Ma, CEO Tencent Pony Ma, dan sejumlah pengusaha China lainnya mengikuti pertemuan CEO kedua negara bersama Xi di Seattle sebelum ia melanjutkan perjalanan ke Washington.
Menurut laporan media, Beijing sebenarnya berencana membawa rombongan pengusaha.
South China Morning Post (SCMP) pada 17 September melaporkan, sejumlah eksekutif sempat dipertimbangkan untuk ikut, termasuk produsen kendaraan listrik BYD dan Xiaomi, produsen baterai CATL, serta pemasok Nvidia Zhongji Innolight.
Namun, rencana tersebut akhirnya batal.
"Ini bisa dibilang mencerminkan minimnya kemajuan dalam isu perdagangan dan akses pasar antara kedua pihak," kata Thompson dari RSIS.
Menurut Thomson, belum ada "titik temu" antara keinginan Washington mendapat akses lebih besar ke pasar China dan tuntutan Beijing agar AS melonggarkan pembatasan ekspor teknologi serta memberi akses lebih luas bagi eksportir China.
Lin Han-Shen, direktur China di perusahaan konsultan strategis AS The Asia Group, mengatakan, Beijing dan Washington memiliki tujuan berbeda terkait daftar tamu.
Menurut Lin, Beijing ingin kehadiran para CEO menjadi bukti bahwa membaiknya hubungan dengan AS juga membuka peluang bisnis bagi perusahaan China.
SCMP melaporkan bahwa China menganggap kehadiran delegasi pengusaha sebagai bentuk timbal balik setelah sejumlah eksekutif AS, termasuk Huang dan Cook, ikut bersama Trump dengan Air Force One dalam kunjungannya ke Beijing pada Mei.
Dalam kunjungan itu, Trump memperkenalkan para eksekutif AS satu per satu kepada Xi. Perdana Menteri China Li Qiang juga bertemu dengan mereka secara terpisah, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.
Namun, menurut Lin, Washington melihat kehadiran pengusaha China sebagai persoalan izin keamanan.
Pada Januari 2025, Pentagon memasukkan CATL, salah satu perusahaan yang disebut dipertimbangkan masuk rombongan bisnis Xi, ke dalam daftar perusahaan yang dinilai terkait dengan militer China. Produsen baterai itu membantah penetapan tersebut.
Reuters pada Rabu, mengutip seorang sumber, melaporkan bahwa pejabat AS tidak ingin perusahaan China yang mereka anggap memiliki hubungan dengan militer China ikut dalam rombongan. Sumber lain mengatakan Gedung Putih memiliki prioritas lain.
APA PESAN XI KEPADA WASHINGTON?
Menurut analis, salah satu pesan yang terlihat adalah Beijing masih menganggap kesepakatan ekonomi besar harus lebih dulu dinegosiasikan pemerintah, sementara perusahaan berperan setelahnya.
"Absennya para CEO menegaskan bahwa perusahaan China tetap menjadi instrumen kebijakan, bukan aktor diplomasi independen seperti perusahaan AS," kata Lin.
Thompson dari RSIS mengatakan, Partai Komunis tetap memegang peran dominan dalam perekonomian China.
"Bukan Air China yang membeli Boeing, melainkan Partai Komunis," katanya, merujuk pada maskapai penerbangan nasional China.
Pada Mei, China menyetujui pembelian awal 200 pesawat Boeing, komitmen pertama negara itu untuk membeli pesawat buatan AS sejak 2017, menurut Gedung Putih.
Lin dari The Asia Group mengatakan, ketimpangan kehadiran pengusaha dalam jamuan Kamis "semakin memperkuat pesan Beijing bahwa Washington lebih membutuhkan hubungan bisnis dengan China daripada China membutuhkan diplomasi korporasi AS".
Namun, analis mengingatkan agar absennya kalangan bisnis China dari jamuan kenegaraan tidak ditafsirkan secara berlebihan.
"Absennya rombongan CEO mungkin mengubah kesan yang terlihat, tetapi tidak mengubah substansi pertemuan," kata George Chen, partner dan co-chair digital practice di The Asia Group, kepada CNA.
Thompson dari RSIS juga mengingatkan agar kehadiran para eksekutif AS tidak dianggap semata-mata untuk mendekati Beijing.
"Saya rasa para CEO itu juga berupaya mendekati anggota Kabinet AS yang menangani ekonomi, seperti (Menteri Keuangan) Scott Bessent, serta Presiden Trump dan keluarganya," katanya.
Jika para eksekutif China hadir, tambahnya, mereka juga akan menganggap kedekatan dengan Xi sama pentingnya dengan kesempatan bertemu pengusaha AS.
"Pesannya jelas, China masih setengah hati memperbaiki hubungan dagang dan membuatnya lebih timbal balik serta menguntungkan perusahaan AS," kata Thompson.
HAMBATAN BELUM TERATASI, KEMAJUAN MASIH TERBATAS
Menurut analis, absennya kalangan bisnis China juga menunjukkan sulitnya Washington dan Beijing mencapai kemajuan berarti dalam perdagangan dan investasi, meski kedua pemerintah berupaya menstabilkan hubungan secara keseluruhan.
Kedua pihak sepakat membentuk Board of Trade dan Board of Investment pada Mei sebagai salah satu hasil pertemuan Trump-Xi di Beijing.
Board of Trade akan menjadi wadah bagi kedua negara untuk mengelola perdagangan barang non-sensitif, sementara Board of Investment menjadi forum antarpemerintah untuk membahas masalah investasi, menurut lembar fakta Gedung Putih.
Keduanya tidak disebut secara khusus dalam keterangan resmi China mengenai pertemuan Kamis. Pada saat artikel ini ditulis, AS juga belum merilis keterangannya sendiri.
Menurut keterangan China, Xi mengatakan, tim ekonomi dan perdagangan kedua negara "telah menggelar putaran konsultasi baru dan mencapai pengaturan bersama yang baru". Ia tidak menjelaskan cakupan pengaturan tersebut atau apakah berkaitan dengan salah satu dari kedua forum itu.
Perkembangan paling jelas di bidang ekonomi terjadi tepat sebelum pertemuan Trump-Xi.
Setelah bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, Bessent menyampaikan, kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan perang dagang selama dua bulan hingga 10 Januari 2027. China belum mengonfirmasi tanggal baru tersebut secara terbuka.
"Perpanjangan itu memberi Trump dan Xi waktu tambahan untuk merundingkan hubungan ekonomi yang lebih luas, tanpa harus menghadapi tenggat 10 November," kata Lin dari The Asia Group.
Thompson mengatakan, pertemuan tersebut tidak menghasilkan terobosan ekonomi besar dan kedua pihak belum bersedia memberikan konsesi.
Menurutnya, hampir setiap industri di China memiliki kaitan dengan keamanan, sehingga Beijing sulit membuka pasarnya bagi produk AS.
Sementara di AS, produk China juga kerap menghadapi kekhawatiran soal keamanan nasional, mulai dari pengelolaan data hingga sensor dan jaringan yang dapat menimbulkan kerentanan.
"Kedua pihak belum sepakat soal industri mana yang harus dianggap berkaitan dengan keamanan nasional," katanya.
Laporan tambahan oleh Lakeisha Leo
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.