Skip to main content
Iklan

Dunia

Semakin banyak warga terpaksa tinggalkan Gaza utara saat tank Israel bergerak lebih dalam

Semakin banyak warga terpaksa tinggalkan Gaza utara saat tank Israel bergerak lebih dalam

Warga Palestina bereaksi setelah sebuah sekolah yang menampung para pengungsi terkena serangan Israel di kamp pantai di Kota Gaza, 7 November 2024. (Foto: REUTERS/Mahmoud Issa)

KAIRO: Pasukan Israel meningkatkan pemboman di Jalur Gaza pada hari Kamis (7 November) dan memerintahkan lebih banyak evakuasi, menciptakan gelombang pengungsian baru dari Gaza utara di mana warga Palestina khawatir mereka tidak akan dapat kembali.

Saat tank-tank Israel maju di Beit Lahiya sebulan setelah serangan baru di Gaza utara, puluhan keluarga mengalir keluar, tiba di sekolah-sekolah dan tempat penampungan lain yang menampung orang-orang terlantar di Kota Gaza dengan barang-barang dan makanan apa pun yang dapat mereka bawa.

Drone melayang di atas kepala menyiarkan perintah evakuasi, yang juga disiarkan di outlet media sosial, pesan audio dan teks yang dikirim ke telepon penduduk, kata seorang pengungsi.

"Setelah mereka mengungsikan sebagian besar atau semua orang di Jabalia, sekarang mereka mengebom di mana-mana, membunuh orang-orang di jalan dan di dalam rumah mereka untuk memaksa semua orang keluar," kata pria itu kepada Reuters melalui aplikasi obrolan, hanya menyebutkan satu nama, Ahmed, karena takut akan akibatnya.

Pejabat Palestina mengatakan Israel sedang melaksanakan rencana "pembersihan etnis" dan mereka beserta penduduk mengatakan tidak ada bantuan yang masuk ke Jabalia, Beit Lahiya, dan Beit Hanoun sejak serangan dimulai pada 5 Oktober.

Militer Israel mengatakan mereka terpaksa mengevakuasi Jabalia dan mulai mengevakuasi Beit Lahiya di dekatnya pada hari Rabu sehingga mereka dapat menghadapi militan Hamas yang mereka katakan telah berkumpul kembali di sana.

Mereka membantah laporan pers bahwa orang-orang yang dievakuasi dari Gaza utara tidak akan diizinkan untuk kembali dan mengatakan mereka terus mengizinkan bantuan masuk ke Gaza utara dan wilayah Jabalia, tempat mereka mengatakan mereka terlibat dalam "pertempuran sengit".

"Pernyataan yang dikaitkan dengan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) dalam 24 jam terakhir, yang mengklaim bahwa penduduk Gaza utara tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka, tidak benar dan tidak mencerminkan tujuan dan nilai-nilai IDF," katanya.

Petugas medis Palestina mengatakan tembakan Israel telah menewaskan enam orang di Jabalia, kamp pengungsi terbesar dari delapan kamp pengungsi bersejarah di daerah kantong itu, empat di Beit Lahiya dan tujuh di Rafah, dekat perbatasan dengan Mesir di Gaza selatan.

Militer Israel mengatakan pasukan yang beroperasi di Jabalia telah menewaskan sekitar 50 militan dalam 24 jam terakhir dan telah memfasilitasi keluarnya warga Palestina dari zona pertempuran melalui rute yang terorganisasi.

Pejabat Palestina dan PBB mengatakan tidak ada daerah aman di daerah kantong itu, tempat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya mengungsi secara internal.

"LEBIH BRUTAL"

Kampanye darat Israel selama lebih dari setahun untuk memusnahkan gerakan Islamis telah mengubah sebagian besar Jalur Gaza menjadi gurun dengan bencana kemanusiaan yang sedang berlangsung.

"Dengan kembalinya Trump, (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu akan menjadi lebih brutal," kata Ahmed, merujuk pada mantan presiden pemenang pemilu AS Donald Trump, yang menggambarkan dirinya sebagai sekutu yang lebih dapat diandalkan bagi Israel.

Lebih dari 43.300 warga Palestina telah tewas dalam lebih dari setahun perang di Gaza, kata otoritas kesehatan di daerah kantong itu.

Perang dimulai setelah militan yang dipimpin Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang ke Gaza, menurut penghitungan Israel.

Di Tulkarm, di Tepi Barat yang diduduki Israel, pasukan Israel menembak mati seorang pria Palestina selama penyerbuan, kata petugas medis, seraya menambahkan bahwa pesawat tanpa awak Israel telah melukai lima orang lainnya, termasuk seorang ibu dan putranya, dengan disabilitas sindrom down.

Kekerasan telah meningkat di Tepi Barat sejak dimulainya perang Hamas-Israel di Gaza. Ratusan warga Palestina - termasuk pejuang bersenjata, pemuda, dan warga sipil - telah tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel. 

Puluhan warga Israel telah tewas dalam serangan jalanan Palestina selama setahun terakhir. Kementerian kesehatan Palestina, yang tidak membedakan antara warga sipil dan militan dalam penghitungan korban tewas, menyebutkan jumlahnya mencapai 775, termasuk 167 anak-anak.

📢 Kuis CNA Memahami Asia, eksklusif di saluran WhatsApp CNA Indonesia, sudah dimulai. Ayo uji wawasanmu dan raih hadiah menariknya!

Jangan lupa, terus pantau saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk mendapatkan tautan kuisnya 👀

🔗 Cek info selengkapnya di sini: https://cna.asia/4dHRT3V

Source: AGENCIES/ih

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan