Skip to main content
Iklan

Dunia

Trump dan Xi kembali bertemu, mampukah hubungan AS-China tetap stabil?

Trump dan Xi menghadapi sederet agenda di Washington. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah pertemuan ini dapat membuat hubungan AS-China tidak terlalu bergantung pada kedua pemimpin, kata analis.

Trump dan Xi kembali bertemu, mampukah hubungan AS-China tetap stabil?

Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping saat Xi tiba di Joint Base Andrews, Maryland, AS, menjelang kunjungan kenegaraan pada 23 September 2026. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

BEIJING: Hanya empat bulan setelah Presiden AS Donald Trump bertandang ke Beijing untuk bertemu Xi Jinping, pemimpin China itu tiba di Washington pada Rabu (23/9) waktu setempat untuk kunjungan balasan. Trump menyambut langsung Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Joint Base Andrews.

Menurut analis, hubungan kedua negara kini lebih stabil, tetapi persaingan strategis di antara mereka tidak banyak berubah.

Pertemuan yang menjadi sorotan ini akan menjadi ujian awal bagi "stabilitas strategis konstruktif" yang disepakati kedua pemimpin pada Mei. Analis menilai pertemuan ini akan menunjukkan sejauh mana hubungan kedua negara telah membaik dan apakah stabilitas itu dapat bertahan di tengah berbagai perbedaan mendasar.

Menurut analis, dialog yang terus berjalan dan ketergantungan ekonomi kedua negara memberi alasan bagi AS dan China untuk menahan diri, meski perselisihan soal perdagangan, teknologi, dan keamanan masih berlanjut.

"Saya menyebutnya stabilisasi yang nyata tetapi masih dangkal, sebagian didorong oleh kerentanan kedua pihak, bukan karena strategi mereka semakin sejalan," kata peneliti kebijakan China Li Yaqi kepada CNA.

"Hubungan ini semakin mampu pulih setelah terjadi konfrontasi, tetapi belum cukup baik dalam mencegah konfrontasi kembali terjadi."

Dampaknya juga melampaui hubungan kedua negara.

Sekutu dan mitra AS akan mencermati setiap perubahan sikap terkait Taiwan. Sementara hasil pembicaraan soal perang Iran, jika ada, dapat menunjukkan sejauh mana Washington dan Beijing mampu bekerja sama dalam isu regional, kata para pengamat.

MENGELOLA PERSAINGAN

Xi tiba di AS pada Rabu (23/9) untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari atas undangan Trump.

Trump dan Ibu Negara Melania Trump menyambut langsung Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Joint Base Andrews di luar Washington. Sambutan langsung oleh presiden AS di bandara merupakan hal yang jarang dilakukan.

Xi dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih pada Kamis, kunjungan pertamanya ke sana sejak 2015.

Upacara penyambutan pada Kamis akan melibatkan hampir 480 personel militer serta atraksi pesawat pengebom B-2 dan empat jet tempur F-22. Jamuan kenegaraan akan digelar pada malam harinya. 

Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping setibanya Xi di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

Kedua pasangan akan menghadiri jamuan minum teh di Gedung Putih pada Jumat sebelum mengunjungi Arsip Nasional untuk melihat dokumen tentang sejarah hubungan AS-China.

Menurut analis, salah satu perbedaan dibanding empat bulan lalu adalah semakin banyaknya komunikasi di tingkat pejabat untuk mengelola ketegangan dan mencegah perselisihan membesar.

Pembicaraan perdagangan dan ekonomi juga terus berlangsung. Pada Minggu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng bertemu selama delapan jam di New York untuk mempersiapkan pertemuan Trump-Xi.

Menurut AS, pembicaraan itu mencakup perdagangan, mineral kritis, dan kecerdasan buatan (AI). Kementerian Perdagangan China mengatakan kedua pihak bertukar pandangan secara "terbuka, mendalam, dan konstruktif" mengenai pelaksanaan kesepakatan dagang sebelumnya, perdagangan dan investasi bilateral, serta isu terkait AI.

Pertemuan itu menyusul panggilan video antara He, Bessent, dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada 30 Juli. Saat itu, Beijing menyampaikan "kekhawatiran serius" setelah Washington mengumumkan tarif baru terhadap barang dari China dan puluhan mitra dagang lainnya terkait tuduhan kerja paksa, serta pembatasan baru terhadap robot dan inverter daya China.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent (kiri) dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng berjabat tangan dalam perundingan dagang di kantor pusat OECD, Paris, Prancis, 16 Maret 2026. (Foto: US Treasury/Handout via Reuters)

Menurut Sun Chenghao, peneliti senior di Center for International Security and Strategy, Tsinghua University, komunikasi semacam ini menunjukkan "periode stabilitas masih terbatas, tetapi secara bertahap mulai memiliki mekanisme yang lebih tetap".

"Kesepakatan yang dicapai kedua pemimpin mulai diterapkan di tingkat pejabat," katanya kepada CNA, dengan menyebut komunikasi antara Bessent dan He sebagai contoh.

Namun, menurut analis, hubungan AS-China yang relatif tenang juga muncul karena kedua pihak menyadari besarnya kerugian yang dapat mereka timbulkan satu sama lain.

Pembatasan China terhadap ekspor logam tanah jarang dan mineral kritis membuat AS rentan terhadap gangguan rantai pasok. Di sisi lain, AS dapat menekan China lewat tarif dan pembatasan akses terhadap semikonduktor canggih serta teknologi pembuatan cip.

Menurut analis, risiko tekanan ekonomi tersebut membuat kedua negara semakin berkepentingan menjaga persaingan agar tidak semakin memanas.

Pada saat yang sama, diplomasi langsung antara kedua pemimpin semakin berperan penting, kata para pakar.

Sean King, wakil presiden senior perusahaan konsultan bisnis Park Strategies yang berbasis di New York, menyoroti perubahan besar sikap Trump terhadap Xi dibanding masa jabatan pertamanya. Saat itu, Trump pernah menuntut China membayar ganti rugi akibat pandemi COVID-19.

Dalam kunjungannya ke Beijing pada Mei, Trump berulang kali menyebut Xi sebagai "pemimpin hebat", mengatakan dirinya "sangat menghormati" Presiden China itu, dan menyebut menjadi sahabat Xi sebagai sebuah "kehormatan". Pujian itu terus berlanjut. Dalam wawancara pada Juni, Trump menyebut Xi "sangat cerdas" dan "selalu serius".

"Xi jelas berhasil memikat Presiden AS," kata King kepada CNA. Ia membandingkan kehangatan Trump terhadap Xi dengan perselisihannya baru-baru ini dengan sejumlah sekutu, termasuk Italia dan Korea Selatan.

Trump berselisih secara terbuka dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pada Juni karena Italia menolak mendukung perang AS dengan Iran. Pada Agustus, ia memerintahkan pengurangan latihan militer bersama Korea Selatan setelah mengkritik sikap Seoul terhadap konflik tersebut dan biaya latihan.

Xi dan Trump bisa bertemu hingga empat kali tahun ini.

Setelah bertemu di Beijing pada Mei, keduanya kini kembali bertemu di Washington. Mereka juga berpeluang bertemu pada KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen pada November dan KTT G20 di Miami, Florida, sebulan kemudian.

Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Presiden China Xi Jinping saat Xi tiba di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Sun dari Tsinghua University mengatakan seringnya pertemuan kedua pemimpin menunjukkan Beijing dan Washington menyadari hubungan mereka sudah terlalu rumit untuk dikelola oleh pejabat di tingkat kementerian. Xi dan Trump berulang kali perlu turun tangan untuk mengarahkan kembali hubungan kedua negara.

Menurutnya, diplomasi semacam ini dapat memecah kebuntuan dalam isu sulit dan membantu meredakan krisis, tetapi juga memiliki risiko.

"Jika banyak persoalan membutuhkan keputusan akhir langsung dari kedua pemimpin, hubungan ini bisa menjadi semakin transaksional," kata Sun.

Menurut Sun, hubungan yang lebih kokoh adalah ketika kedua pemimpin menentukan arah, lembaga pemerintah menjalankan kesepakatan mereka, dan mekanisme yang sudah ada digunakan untuk mengelola perbedaan.

Anggota Tentara Pembebasan Rakyat China membawa bendera AS dan China menjelang kedatangan Presiden AS Donald Trump di Great Hall of the People, Beijing, China, 14 Mei 2026. (Foto: Reuters/Evan Vucci)

DARI DIALOG KE HASIL NYATA

Menurut analis, inti pertemuan di Washington adalah apakah kedua negara dapat menghasilkan kesepakatan konkret yang bertahan lama.

Salah satu ujian awal sudah terjawab. Pada Rabu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan gencatan perang dagang AS-China diperpanjang dua bulan, dari 10 November hingga 10 Januari.

Ekspor logam tanah jarang dan mineral kritis China juga akan masuk agenda, menurut pejabat AS.

AI diperkirakan turut menjadi topik utama. Teknologi ini dengan cepat menjadi salah satu medan persaingan AS-China, di tengah perdebatan global mengenai pesatnya perkembangan AI.

Sejumlah isu tersebut sudah dibahas sebelum Xi tiba di AS.

Dalam pertemuan di New York pada Minggu, Bessent mengusulkan mekanisme agar AS dan China saling memberi tahu jika terjadi insiden besar terkait keamanan AI atau keamanan nasional. Greer mengatakan kedua pihak juga berupaya menerapkan penurunan tarif untuk barang nonstrategis.

Peti kemas di Pelabuhan Tianjin, China. (Foto: CNA/Hu Chushi)

Peneliti kebijakan China Li mengingatkan agar pertemuan Trump-Xi tidak hanya dinilai dari hasil yang paling terlihat.

"Saya tidak akan terlalu terpaku pada angka pembelian yang besar atau pernyataan yang terdengar hangat," katanya.

"Ujian sebenarnya adalah apakah sikap menahan diri yang sementara ini bisa dikelola di tingkat pejabat, tanpa selalu bergantung pada pemimpin."

Li mengatakan ia akan mencermati ketentuan perpanjangan gencatan perang dagang, prosedur yang lebih jelas terkait mineral kritis, serta apakah mekanisme perdagangan dan AI memiliki tujuan serta jadwal tindak lanjut yang jelas.

AI menjadi salah satu bidang yang penting untuk diperhatikan.

"Jika ini berkembang menjadi pertemuan rutin para pakar dan prosedur yang disepakati, berarti stabilitas yang dibangun di tingkat pemimpin mulai menghasilkan mekanisme nyata untuk mengelola krisis," katanya.

Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump berjalan bersama Presiden China Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan setibanya di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

Sun dari Tsinghua University juga mengingatkan agar pertemuan ini tidak hanya dinilai dari apakah Trump dan Xi mencapai "kesepakatan besar" yang mencakup berbagai isu sekaligus. Menurut analis, kedua pihak memang tidak mengharapkan ataupun mengupayakan kesepakatan semacam itu.

"Ukuran utama kemajuan bukan apakah perbedaan akan hilang," kata Sun.

"Yang penting adalah apakah ketika muncul perbedaan, kedua pihak mampu menjaganya agar tidak membesar."

MENCARI TITIK TEMU, MENJAGA GARIS MERAH

Menurut analis, perang Iran menjadi ujian paling jelas apakah hubungan AS-China yang lebih tenang dapat menghasilkan kerja sama dalam menghadapi krisis internasional besar.

Konflik yang kini memasuki bulan ketujuh itu telah mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz dan menekan pasar energi global. Trump telah memastikan Iran akan menjadi salah satu topik pembicaraannya dengan Xi di Washington.

Ketika Trump dan Xi bertemu di Beijing pada Mei, kedua pihak sepakat Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan Selat Hormuz harus kembali dibuka.

Menurut Li, AS dan China sama-sama berkepentingan mencegah eskalasi nuklir, menjaga jalur pelayaran, dan membatasi dampak lebih lanjut terhadap harga energi.

Namun, Beijing menentang sanksi AS terhadap pihak yang berbisnis dengan Iran dan terus menekankan perlunya negosiasi serta penyelesaian politik. China juga tidak menunjukkan banyak keinginan untuk mengikuti pendekatan Washington yang menekan Teheran secara militer dan ekonomi.

"China akan menggunakan pengaruhnya ketika kepentingannya sejalan dengan Washington. Itu berbeda dengan melakukannya hanya karena diminta Washington," tambah Li.

Sun menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, kerja sama paling realistis adalah mencegah konflik meluas, menjaga jalur energi tetap terbuka, dan mendorong kembalinya diplomasi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (kiri) bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing, China, 16 September 2026. (Foto: Iranian Foreign Ministry/WANA/Handout via Reuters)

Sementara itu, Taiwan tetap menjadi salah satu isu paling sensitif dalam hubungan AS-China.

Menjelang pertemuan, media pemerintah China Global Times menyebut Taiwan sebagai "isu terpenting" antara China dan AS. Dalam editorial pada 22 September, media itu memperingatkan bahwa kesalahan menangani isu tersebut dapat menyeret kedua negara ke dalam "konfrontasi atau bahkan konflik".

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan telah menyatakan tidak segan menggunakan kekuatan untuk merebutnya kembali. Dalam pertemuan kedua pemimpin di Washington, Beijing diperkirakan akan menyampaikan kekhawatirannya atas dukungan AS terhadap Taiwan, termasuk penjualan senjata.

King dari Park Strategies sangat mencermati bagaimana Trump akan menangani isu tersebut.

Ia menyoroti kritik Trump terhadap Taiwan terkait semikonduktor dan tertundanya rencana paket penjualan senjata AS senilai US$14 miliar. Pada Mei, Trump menyebut paket itu sebagai "alat tawar yang sangat bagus" dalam pembicaraan dengan Beijing.

"Taiwan adalah kepentingan paling utama bagi Beijing dan Trump tampaknya menerima begitu saja apa yang disampaikan Xi mengenai isu tersebut," kata King kepada CNA. Menurutnya, pendekatan Trump terhadap Taiwan belakangan ini sudah lebih mengakomodasi Beijing.

Dalam pertemuan pada Mei, Xi mengatakan kepada Trump bahwa Taiwan merupakan "isu terpenting" dalam hubungan kedua negara dan memperingatkan kesalahan menanganinya dapat menyebabkan "bentrokan dan bahkan konflik", menurut pernyataan China. Xi juga meminta Washington "sangat berhati-hati" dalam menangani isu tersebut.

Dua hari kemudian, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Beijing menangkap kesan dari pertemuan itu bahwa Washington memahami posisi China dan menanggapi kekhawatirannya dengan serius.

Dampaknya tidak hanya menyangkut hubungan China-Taiwan.

Menurut Li, Taiwan juga menjadi tolok ukur komitmen AS terhadap sekutunya. Jepang dan mitra AS lainnya akan mencermati setiap perubahan sikap Washington.

"Bahasa yang dimaksudkan untuk meyakinkan Beijing pada saat yang sama dapat menimbulkan ketidakpastian di Tokyo atau Taipei," katanya.

Menurut Li, Taiwan menunjukkan tantangan yang lebih luas: apakah AS dan China dapat membangun hubungan yang lebih stabil tanpa menimbulkan ketidakpastian baru di kawasan.

MEMPERTAHANKAN STABILITAS

Menurut analis, pertemuan internasional besar berikutnya akan menjadi petunjuk awal apakah kesepakatan di Washington dapat berlanjut ke forum multilateral.

"Yang perlu diperhatikan adalah apakah China dan AS dapat memberi ruang bagi partisipasi satu sama lain dalam pertemuan multilateral besar yang mereka selenggarakan," kata Sun dari Tsinghua University, merujuk pada KTT APEC di Shenzhen pada November dan KTT G20 di Florida pada Desember.

China menetapkan "keterbukaan, inovasi, dan kerja sama" sebagai tiga prioritas selama menjadi tuan rumah APEC. Sementara itu, agenda G20 AS lebih menekankan pertumbuhan, inovasi, rantai pasok, dan ketimpangan ekonomi.

Presiden AS Donald Trump, Ibu Negara Melania Trump, Presiden China Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan memeriksa barisan kehormatan setibanya untuk kunjungan kenegaraan di Joint Base Andrews, Maryland, AS, 23 September 2026. (Foto: Reuters/Jonathan Ernst)

Perbedaan prioritas tersebut mencerminkan pendekatan kedua negara yang berbeda terhadap tatanan internasional, kata Chong Ja Ian, profesor madya ilmu politik di National University of Singapore (NUS).

"China saat ini tampaknya lebih berkepentingan membentuk lembaga, aturan, dan norma regional maupun global agar sesuai dengan kepentingannya," katanya.

Sementara itu, AS tampaknya "kurang tertarik pada mekanisme tata kelola global", tambahnya.

Di luar agenda diplomatik, peneliti kebijakan China Li mengatakan salah satu ukuran penting ketahanan hubungan AS-China adalah apakah kesepakatan di Washington dapat terus berjalan tanpa perlu campur tangan Xi dan Trump.

"Apakah yang mereka sepakati pada 24 September masih bisa berjalan pada Desember tanpa Trump dan Xi berada di ruangan yang sama?" katanya.

"Jika ya, hubungan ini semakin kuat. Jika setiap perselisihan serius masih harus dibawa ke ranah pimpinan, stabilitasnya tetap dangkal."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan