Trump perintahkan uji coba nuklir AS sebelum bertemu Xi Jinping
Jika terlaksana, maka ini akan menjadi uji coba ledak nuklir pertama AS dalam 33 tahun terakhir.
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam KTT para pemimpin dunia untuk mengakhiri perang Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir, 13 Oktober 2025. (Yoan Valat / Pool via REUTERS)
BUSAN, Korea Selatan – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (30/10) memerintahkan militer AS untuk segera melanjutkan uji coba senjata nuklir, beberapa menit sebelum ia bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.
Trump mengumumkan keputusan mengejutkan itu melalui platform Truth Social saat berada di helikopter kepresidenan Marine One dalam perjalanan menuju Busan untuk menghadiri pertemuan dagang dengan Xi. Ia menyatakan telah menginstruksikan Pentagon agar melakukan pengujian terhadap persenjataan nuklir AS “dalam tingkat yang setara” dengan negara-negara bersenjata nuklir lainnya.
“Karena program uji coba negara lain, saya telah memerintahkan Departemen Perang untuk memulai pengujian senjata nuklir kita secara setara. Proses itu akan dimulai segera,” tulis Trump.
“Rusia berada di posisi kedua, dan China jauh di belakang, tetapi akan sejajar dalam lima tahun,” tambahnya.
Trump tidak memberikan penjelasan lebih lanjut dan memilih diam ketika seorang wartawan menanyakan unggahannya usai memberi pernyataan pembuka di hadapan Xi. Hingga kini belum jelas apakah yang dimaksud Trump adalah uji coba nuklir eksplosif, yang biasanya dilakukan oleh Badan Keamanan Nuklir Nasional AS, atau uji coba penerbangan rudal berhulu ledak nuklir.
Uji senjata nuklir AS terakhir dilakukan 33 tahun lalu, tepatnya pada 23 September 1992, di bawah pemerintahan Presiden George H. W. Bush.
Setelah itu, AS menetapkan moratorium uji coba nuklir dan menandatangani Traktat Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif (CTBT) pada 1996, meskipun hingga kini Senat AS belum meratifikasinya secara resmi.
Perintah Trump menuai reaksi di dalam negeri AS, termasuk dari para anggota parlemen.
Anggota parlemen dari Partai Demokrat asal Nevada, Dina Titus, menulis di platform X: “Saya akan mengajukan rancangan undang-undang untuk menghentikan hal ini.”
Direktur Asosiasi Pengendalian Senjata (Arms Control Association), Daryl Kimball, mengatakan AS membutuhkan setidaknya 36 bulan untuk kembali melakukan uji coba nuklir bawah tanah di lokasi pengujian lama di Nevada.
“Trump salah informasi dan tidak memahami situasi. Amerika Serikat tidak memiliki alasan teknis, militer, atau politik untuk melanjutkan uji coba nuklir eksplosif pertama sejak 1992,” tulis Kimball di X.
CHINA LIPATGANDAKAN BOM NUKLIR DALAM LIMA TAHUN TERAKHIR
Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan kembali uji coba senjata nuklir diambil setelah China secara agresif memperluas kemampuan persenjataan nuklirnya dalam beberapa tahun terakhir.
Perintah Trump juga datang hanya berselang beberapa hari setelah Rusia mengumumkan keberhasilan uji coba rudal jelajah serta torpedo bertenaga nuklir.
Berbicara di pesawat kepresidenan Air Force One awal pekan ini, Trump menanggapi langkah Moskow dengan mengatakan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin seharusnya “berupaya mengakhiri perang di Ukraina, bukan menguji rudal.”
Menurut lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington, arsenal nuklir China meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 600 hulu ledak pada 2025, dari sekitar 300 pada 2020. Militer AS memperkirakan jumlah itu dapat melampaui 1.000 unit pada 2030.
Parade Hari Kemenangan di Beijing pada September lalu memperlihatkan lima sistem senjata nuklir yang seluruhnya mampu menjangkau daratan utama Amerika Serikat, menurut laporan CSIS.
Sementara itu, Asosiasi Pengendalian Senjata mencatat Amerika Serikat memiliki 5.225 hulu ledak nuklir, sedangkan Rusia 5.580.
Putin pada Rabu (29/10) mengumumkan keberhasilan uji coba torpedo super Poseidon bertenaga nuklir, yang menurut analis militer dapat menghancurkan wilayah pesisir dengan gelombang radioaktif besar.
Sebelumnya, pada 21–22 Oktober, Rusia juga telah menguji rudal jelajah Burevestnik dan melakukan latihan peluncuran nuklir, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Barat.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.