Skip to main content
Iklan

Dunia

Trump: Perang dengan Iran bisa berlangsung sebulan, korban AS mulai berjatuhan

Seorang pejabat Israel mengatakan tujuan perang saat ini adalah melemahkan pemerintahan Iran hingga runtuh.

Trump: Perang dengan Iran bisa berlangsung sebulan, korban AS mulai berjatuhan

Presiden AS Donald Trump mengepalkan tangan saat menaiki Air Force One di Bandara Internasional Palm Beach di West Palm Beach, Florida pada 1 Maret 2026. (Foto: Reuters/Elizabeth Frantz)

WASHINGTON DC: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (1/3) menyatakan bahwa perang melawan Iran bisa berlangsung hingga satu bulan. 

Pernyataan itu muncul setelah Washington mengumumkan telah menghancurkan markas besar Garda Revolusi Iran dan Israel mengklaim operasi gabungan tersebut memberikan “pukulan telak” terhadap sistem komando dan kendali Teheran.

Militer Israel juga menyatakan bahwa angkatan udaranya telah menguasai wilayah udara Teheran dan melancarkan gelombang serangan yang menargetkan pusat intelijen, keamanan, serta komando militer.

Sehari setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, AS dan Israel melanjutkan kampanye militer yang dampaknya mulai terasa luas mempengaruhi sektor pelayaran, penerbangan, hingga harga minyak dunia. 

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei berbicara dalam pesan yang disiarkan televisi, setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel, di Teheran, Iran, 26 Juni 2025. (Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran/WANA/Handout via REUTERS)

Bandara-bandara utama Timur Tengah, termasuk Dubai sebagai hub internasional tersibuk di dunia, ditutup akibat serangan udara berkelanjutan. Penutupan ini menjadi salah satu gangguan penerbangan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam wawancara dengan Daily Mail, Trump mengatakan serangan dapat berlangsung selama empat minggu.

“Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu. Ini negara besar, jadi akan memakan waktu empat minggu – atau kurang,” kata presiden berusia 79 tahun itu.

Trump juga menyebut dirinya tetap terbuka untuk pembicaraan lebih lanjut dengan Iran, meski tidak memastikan apakah dialog tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.

“Saya tidak tahu. Mereka ingin berbicara, tapi saya bilang seharusnya kalian berdialog minggu lalu, bukan minggu ini,” ujarnya.

Memasuki hari kedua konflik, Trump menyatakan 48 pemimpin Iran telah tewas dan militer AS mulai menenggelamkan Angkatan Laut Iran, menghancurkan sembilan kapal perang dan “memburu sisanya”.

Militer AS menyebutkan lebih dari 1.000 target Iran telah diserang sejak Trump memerintahkan dimulainya operasi tempur besar pada Sabtu. Serangan tersebut termasuk penggunaan pesawat pengebom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon ke fasilitas rudal bawah tanah Iran.

KORBAN JIWA AS

Namun serangan balasan Iran mulai memakan korban. Setelah sebelumnya dilaporkan tidak ada korban jiwa pada Sabtu, militer AS pada Minggu menyatakan tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.

Garda Revolusi Iran mengeklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz, serta menyerang pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain menggunakan drone dan rudal.

Komando Pusat militer AS menambahkan sejumlah personel lainnya mengalami luka ringan akibat serpihan dan gegar otak.

Lokasi serta rincian insiden tidak diungkapkan secara resmi, tetapi dua pejabat AS yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan kepada Reuters bahwa para prajurit tewas di sebuah pangkalan di Kuwait.

Trump mengakui kematian tersebut sebagai korban pertama dalam operasi besar sejak ia kembali ke Gedung Putih tahun lalu. Serangan AS ke fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu dan penangkapan presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS pada Januari tidak menimbulkan korban jiwa dari pihak AS.

Dalam pidato video, Trump menyampaikan belasungkawa namun memperingatkan kemungkinan bertambahnya korban.

“Sayangnya, kemungkinan akan ada lagi sebelum ini berakhir. Tapi Amerika akan membalas kematian mereka dan memberikan pukulan paling menghancurkan kepada teroris yang berperang melawan peradaban,” tegasnya.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Minggu menunjukkan hanya sekitar satu dari empat warga Amerika mendukung operasi tersebut. Jika Selat Hormuz – jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia – tetap ditutup lebih dari beberapa hari, konsumen AS akan mulai merasakan lonjakan harga bahan bakar.

Orang-orang berkumpul untuk berkabung atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, di sebuah lapangan di Teheran pada 1 Maret 2026. (Foto: AFP/Atta Kenare)

AKANKAH REJIM MULLAH IRAN BERTAHAN?

Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan tujuan saat ini adalah melemahkan pemerintahan Iran hingga runtuh. Ia menambahkan Israel “bertindak dengan caranya sendiri” untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan.

Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan dewan kepemimpinan interim yang terdiri dari dirinya, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje'I dan anggota Dewan Wali serta ulama senior Ayatollah Alireza Arafi mengambil alih sementara tugas Pemimpin Tertinggi.

Senator Demokrat dari Delaware Chris Coons meragukan perubahan rezim bisa dicapai hanya melalui serangan udara.

“Tidak ada contoh dalam sejarah modern di mana perubahan rezim terjadi semata-mata lewat serangan udara,” katanya kepada CNN.

Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen nasional AS untuk kawasan Timur Tengah, menilai strategi Washington dan Israel tampaknya tidak hanya bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran, tetapi juga mengguncang rezim dengan menghabisi kepemimpinan senior dan menguji loyalitas aparat.

Keberhasilan strategi itu, katanya, akan bergantung pada apakah militer tetap setia atau membelot jika gelombang protes publik muncul kembali.

“Tidak ada jawaban sederhana tentang apa yang akan terjadi selanjutnya,” ucap Senator Republik dari Arkansas Tom Cotton dalam wawancara di CBS.

Senator Republik dari Carolina Selatan Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, mendukung seruan agar rakyat Iran menentukan masa depan mereka sendiri.

“Ide bahwa ‘kalau kamu menghancurkannya, kamu harus memilikinya’, saya tidak percaya itu. Ini bukan Irak. Ini bukan Jerman. Ini bukan Jepang. Kami akan membebaskan rakyat dari rezim teroris,” kata Graham.

 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: AGENCIES/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan