Donald Trump 'ngambek' tidak dapat Nobel, kembali ancam rebut Greenland
Dalam suratnya kepada pemimpin Norwegia dan Finlandia, Trump mengaku telah menghentikan delapan perang sehingga layak dapat Nobel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di Markas Besar PBB, New York City, AS, pada 23 September 2025. (Foto: Reuters/Mike Segar)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkesan "ngambek" karena tidak mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian kendati, menurut klaimnya, telah menghentikan banyak perang. Dia kemudian kembali melontarkan ancaman untuk merebut Greenland.
Pernyataan Trump ini disampaikan secara tertulis untuk menjawab pesan dari Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store dan Presiden Finlandia Alexander Stubb pada 18 Januari lalu.
Dalam pesan itu, Store dan Stub menentang keputusan Trump yang ingin menerapkan tarif dagang kepada negara-negara sekutu di Eropa karena menolak rencana AS mengambil alih Greenland.
"Anda tahu posisi kami terkait isu-isu ini. Namun, kami yakin kita semua harus bekerja sama untuk meredakan situasi ini dan menurunkan ketegangan — begitu banyak hal yang terjadi di sekitar kita di mana kita perlu bersatu," tulis keduanya kepada Trump dalam pesan resmi yang dibagikan oleh pemerintah AS kepada negara-negara lain.
Alih-alih mendapatkan jawaban diplomatis, keduanya mendapati reaksi keras dari Trump. Dalam balasannya, Trump mengatakan bahwa dia tidak lagi "merasa berkewajiban untuk semata-mata memikirkan Perdamaian", lantaran Norwegia "memutuskan tidak memberikan Penghargaan Nobel Perdamaian untuk dirinya".
"Dear Jonas: Mengingat Negara Anda memutuskan untuk tidak memberi saya Penghargaan Nobel Perdamaian atas keberhasilan menghentikan 8 Perang PLUS, saya tidak lagi merasa berkewajiban untuk semata-mata memikirkan Perdamaian, meskipun itu akan tetap menjadi hal yang utama, tetapi kini saya hanya memikirkan apa yang terbaik dan tepat bagi Amerika Serikat,” tulis Trump dalam balasannya, yang dilihat oleh Reuters.
Trump memang secara terbuka berkampanye untuk mendapatkan Nobel. Tapi ternyata tahun ini Nobel diberikan untuk pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado.
Dalam pertemuan pekan lalu dengan Trump di Gedung Putih, Machado memberikan medali emas Nobel itu kepada Trump. Namun Panitia Nobel Norwegia mengatakan penghargaan tidak bisa dipindahtangankan, dibagikan atau dicabut.
Pada Senin (19/1), Store mengatakan bahwa dia telah berulang kali mengatakan kepada Trump dan pemerintahan AS bahwa Norwegia tidak terlibat dalam pemilihan pemenang Nobel.
“Saya sudah beberapa kali menjelaskan dengan jelas kepada Trump terkait fakta yang sudah diketahui secara umum, bahwa yang menganugerahkan penghargaan tersebut adalah Komite Nobel yang independen, bukan pemerintah Norwegia,” kata Store.
KEMBALI ANCAM REBUT GREENLAND
Dalam pesannya kepada Store, Trump juga kembali mengancam akan merebut Greenland dengan mempertanyakan kedaulatan Denmark atas wilayah tersebut
Trump mengatakan: “Denmark tidak dapat melindungi wilayah itu dari Rusia atau China, lantas mengapa mereka punya ‘hak kepemilikan’ atasnya?”
“Tidak ada dokumen tertulis, hanya karena sebuah kapal mendarat di sana ratusan tahun lalu, padahal kami juga punya kapal yang mendarat di sana.”
Kedaulatan Denmark atas pulau yang luas dan kaya mineral tersebut didokumentasikan dalam serangkaian instrumen hukum yang mengikat, termasuk sebuah perjanjian yang disepakati pada 1814. AS juga berulang kali mengakui bahwa Greenland merupakan bagian dari Kerajaan Denmark.
Trump menutup pesannya kepada Store dengan gaya khasnya yang berapi-api.
“Saya telah berbuat lebih banyak untuk NATO dibandingkan siapa pun sejak organisasi itu didirikan, dan sekarang NATO seharusnya melakukan sesuatu untuk Amerika Serikat. Dunia tidak akan aman kecuali kami memiliki Kendali Penuh dan Total atas Greenland. Terima kasih! Presiden DJT.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.