Skip to main content
Iklan

Dunia

Trump boikot KTT G20 Afrika Selatan, apa alasannya?

Trump menyatakan tidak akan mengirim satu pun pejabat AS untuk menghadiri forum internasional tersebut.

Trump boikot KTT G20 Afrika Selatan, apa alasannya?
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, AS, Rabu (21/5/2025). (Reuters/Kevin Lamarque)
13 Nov 2025 01:51PM (Diperbarui: 13 Nov 2025 02:54PM)

WASHINGTON DC: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk memboikot Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan diselenggarakan di Johannesburg, Afrika Selatan, pada 22–23 November 2025.

Trump menyatakan tidak akan mengirim satu pun pejabat AS untuk menghadiri forum internasional tersebut.

“Merupakan sebuah penghinaan besar bahwa KTT G20 diselenggarakan di Afrika Selatan,” katanya melalui akun media sosial pribadinya, Truth Social.

Keputusan kontroversial itu menimbulkan reaksi dari berbagai pihak, termasuk Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, yang menyayangkan langkah Trump tersebut.

“AS harus mempertimbangkan kembali apakah boikot politik benar-benar berhasil. Berdasarkan pengalaman saya, boikot politik tidak efektif,” ucap Ramaphosa, dikutip Associated Press (AP), Kamis (13/11).

Pada September lalu, Trump sempat mengumumkan bahwa Wakil Presiden JD Vance akan mewakilinya hadir di KTT G20. Namun, pernyataan terbaru Trump menyebut bahwa tidak akan ada perwakilan AS sama sekali dalam pertemuan tersebut.

TUDUHAN ‘GENOSIDA’ TERHADAP AFRIKANER

Dalam unggahan di Truth Social dan wawancara dengan media konservatif, Presiden berusia 79 tahun itu kembali melontarkan tuduhan lama bahwa etnis kulit putih Afrika Selatan (Afrikaner) tengah menghadapi “genosida sistematis.”

Tanpa bukti konkret, Trump menuding bahwa orang kulit putih di negara itu “dibunuh dan disembelih secara sistematis.”

Afrikaner adalah kelompok etnis minoritas kulit putih keturunan Belanda, Jerman, dan Prancis Huguenot yang datang ke wilayah Cape Colony pada abad ke-17 dan ke-18. Mereka berbahasa Afrikaans, turunan dari bahasa Belanda kuno yang kini menjadi salah satu bahasa resmi Afrika Selatan.

Taipan properti itu juga mengecam dugaan penyitaan lahan pertanian milik warga kulit putih di Afrika Selatan, yang disebutnya sebagai bentuk ketidakadilan rasial.

Pemerintah Afrika Selatan dengan tegas membantah tuduhan genosida tersebut dan menegaskan tidak ada kebijakan yang mendiskriminasi warga kulit putih.

“Tidak ada kebijakan sistematis yang menargetkan warga kulit putih. Tuduhan tersebut tidak berdasar,” tutur juru bicara pemerintah Afrika Selatan, dikutip dari AFP.

Isu ini sebelumnya juga pernah mencuat saat Trump bertemu dengan Ramaphosa di Gedung Putih awal tahun 2025, ketika ia memutar video yang menuduh pemerintah Afrika Selatan melakukan kampanye kekerasan terhadap petani kulit putih.

Selain menuding pemerintah Ramaphosa, Trump juga mengkritik keras sikap Afrika Selatan terhadap Israel, setelah negara itu menuduh Israel melakukan genosida di Gaza.

Trump menilai langkah tersebut sebagai pengkhianatan terhadap sekutu AS.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan