Skip to main content
Iklan

Dunia

Pergumulan batin diaspora Iran di AS saat Team Melli berlaga di Piala Dunia

Jurnalis CNA, Matthew Mohan, berbincang dengan empat anggota diaspora Iran di Amerika Serikat di tengah keriuhan Piala Dunia.

Pergumulan batin diaspora Iran di AS saat Team Melli berlaga di Piala Dunia

Para pemain Iran menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan Piala Dunia melawan Belgia di Stadion Los Angeles, Inglewood, California, pada 21 Juni 2026. (Foto: Reuters/Daniel Cole)

HOUSTON, Texas: Bagi Reza, seorang pemuda Iran yang tinggal di Houston, menyaksikan negaranya tampil piawai di Piala Dunia menjadi sumber kebanggaan.

"Saya suka olahraga. Olahraga favorit saya sepak bola ... Menonton mereka membuat darah saya berdesir," katanya kepada CNA dalam sebuah perjalanan Uber pada Senin (22/6).

Iran masih berpeluang lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah bermain imbang melawan Selandia Baru (2-2) dan Belgia (0-0). Kemenangan atas Mesir akan memastikannya.

"Kalau tim saya mencetak gol, kalau tim saya menang, saya jadi bersemangat. Itu yang saya suka," kata Reza.

Namun, Piala Dunia kali ini menjadi turnamen yang penuh tantangan bagi Team Melli.

Mereka datang ke Piala Dunia ketika Iran sedang berperang dengan salah satu tuan rumah, Amerika Serikat. Selama turnamen, mereka harus bermarkas di Meksiko meski seluruh pertandingan mereka dimainkan di AS.

Kondisi itu memaksa tim bolak-balik melintasi perbatasan. Otoritas AS hanya mengizinkan mereka berada di negara itu selama beberapa jam setelah setiap pertandingan, sementara aturan perjalanan kerap berubah pada menit-menit terakhir.

Pada Selasa, AS melonggarkan aturan perjalanan tim dengan mengizinkan mereka memasuki negara itu dua hari sebelum pertandingan berikutnya, dari sebelumnya hanya sehari. Namun, mereka tetap harus meninggalkan AS pada hari pertandingan berakhir.

Sejumlah staf dan petinggi tim Iran juga dilarang memasuki AS.

Menjelang pertandingan di Los Angeles, sejumlah aksi protes digelar. Para pendukung juga menentang larangan FIFA dengan membawa bendera Singa dan Matahari, simbol Iran sebelum Revolusi 1979, ke Stadion SoFi.

"Saya tidak suka pemerintah, tetapi sepak bola adalah satu-satunya pekerjaan para pemain," kata Reza.

"Pisahkan olahraga dari politik."

Suporter Iran merayakan kemenangan setelah pertandingan Piala Dunia melawan Selandia Baru, pada 15 Juni 2026. (Foto: REUTERS/Matthew Childs)

BEDA PENDAPAT DI ANTARA DIASPORA

Di AS, sikap terhadap diaspora Iran telah berubah selama bertahun-tahun, kata Sheila Rossi, yang pindah ke negara itu pada awal 1980-an.

Sheila, yang kini menjabat sebagai Wali Kota South Pasadena, mengenang bagaimana pada masa itu banyak orang enggan mengaku sebagai warga Iran dan bahkan mencoba mengganti nama mereka.

"Selama puluhan tahun, hampir tidak ada warga Amerika keturunan Iran yang digambarkan secara positif di media. Ada rasa malu dan kecenderungan untuk menyembunyikan identitas kami," ujarnya.

"Saya tumbuh pada masa ketika prasangka terhadap warga Amerika keturunan Iran sangat kuat."

Namun, menurut Sheila, keadaan perlahan berubah, terutama setelah munculnya gerakan Woman, Life, Freedom. Gerakan tersebut dipicu oleh kematian Mahsa Amini setelah ia ditangkap karena melanggar aturan berpakaian Islam yang ketat di Iran.

Meski perang baru-baru ini terjadi, Sheila mengaku tidak merasakan permusuhan dari masyarakat di sekitarnya. Berbicara kepada CNA sebelum laga perdana Iran di Piala Dunia 2026, ia menggambarkan perasaan diaspora terhadap Team Melli sebagai hal yang "rumit".

"Diaspora Iran bukanlah kelompok yang seragam. Kami berasal dari berbagai latar belakang etnis, sosial ekonomi, agama, dan politik. Orang-orang juga datang ke AS pada waktu dan dengan alasan yang berbeda-beda," kata Sheila, yang lahir di Iran dan tinggal di negara itu hingga usia lima tahun.

"Sebagian berharap suatu hari bisa kembali ke Iran, sementara yang lain telah berakar kuat di AS. Tidak ada satu pandangan tunggal dari warga Amerika keturunan Iran mengenai turnamen ini."

Berbeda dengan Sheila, aktivis Amerika keturunan Iran, Roozbeh Farahanipour, yang melarikan diri dari Iran pada 2000, mengatakan, ia tidak akan menonton maupun mendukung Team Melli karena menganggap tim itu mewakili pemerintah Iran saat ini.

"Mayoritas komunitas mendukung timnas. Terlepas dari apakah mereka menyukai atau membenci rezim, kebanyakan tetap mendukung tim ini. Saya tidak," katanya.

"Separuh dari mereka tidak peduli dengan politik, bahkan mungkin membawa bendera Republik Islam (Iran). Saya tidak menyalahkan mereka. Mereka hanya ingin menikmati pertandingan, dan itu hak mereka."

Pertandingan melawan Selandia Baru memperlihatkan perpecahan di kalangan warga Amerika keturunan Iran. Banyak yang mengaku terombang-ambing antara kebanggaan melihat Iran tampil di panggung sepak bola terbesar dunia, kemarahan atas tindakan keras Teheran terhadap pengunjuk rasa, dan kekhawatiran terhadap kampanye pengeboman oleh Washington.

Sebelum kick-off, sekitar 300 hingga 500 pengunjuk rasa berkumpul di luar stadion sambil membawa spanduk dan bendera anti-pemerintah.

Sebagian warga Amerika keturunan Iran mengatakan, kehadiran mereka di stadion dapat diartikan sebagai dukungan terhadap pemerintah Iran, sementara yang lain memilih mengesampingkan politik dan mendukung para pemain.

Di Meymuni Cafe di Los Angeles, Shaheen Ferdowsi rutin menggelar berbagai acara yang mempertemukan diaspora Iran. Selama Piala Dunia, kafe tersebut juga menjadi lokasi nonton bareng pertandingan.

"Kami senang bisa menjadi tempat berkumpul bagi komunitas Iran," katanya.

"Kami dikenal karena menggelar berbagai acara yang unik dan dikemas dengan baik."

"Ini hanyalah salah satu dari rangkaian acara kami. Kami tentu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu dalam momen Piala Dunia."

Los Angeles merupakan rumah bagi komunitas diaspora Iran terbesar di dunia. Karena itu, kata Shaheen, terasa sangat istimewa ketika kota tersebut diumumkan sebagai salah satu lokasi penyelenggara pertandingan Piala Dunia.

Seorang suporter Iran memegang ponsel dan bendera negaranya di dalam stadion sebelum pertandingan. (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko)

SAAT YANG MEMBINGUNGKAN

Team Melli, yang berarti "tim nasional" dalam bahasa Persia, telah lama menjadi simbol yang menghubungkan diaspora Iran dengan Tanah Air yang banyak mereka tinggalkan setelah Revolusi Iran 1979 di tengah gejolak politik dan penindasan.

"Salah satu hal yang sering saya dengar adalah bahwa pada awal 2000-an, antusiasme terhadap Team Melli sangat besar. Tim itu menjadi simbol kebanggaan nasional dan budaya yang dipandang terpisah dari pemerintah," kata Sheila.

Namun, perkembangan politik dalam beberapa tahun terakhir membuat pandangan terhadap tim ikut berubah. Situasi itu semakin rumit akibat perang Iran-AS dan berbagai kesulitan yang dihadapi Team Melli menjelang Piala Dunia.

"Saya mendengar berbagai macam emosi, mulai dari kegembiraan, kesedihan hingga kemarahan—bahkan dari orang yang sama dalam satu percakapan," kata Sheila.

"Saya percaya olahraga internasional mewakili rakyat, bukan pemerintah. Atlet menjadi sumber kebanggaan bagi anak-anak di Iran maupun Los Angeles yang sama sekali tidak berkaitan dengan politik."

"Ini jelas masa yang sangat membingungkan, sulit, dan rumit," tambah Shaheen.

Ia berharap Meymuni Cafe dapat menjadi tempat berkumpul bagi diaspora Iran, sekaligus ruang yang menghadirkan kegembiraan dan hal-hal positif.

Berdasarkan pengalamannya selama menggelar acara nonton bareng, Shaheen menuturkan, Team Melli "benar-benar berhasil menyatukan banyak orang".

"Di satu sisi, masyarakat Amerika kini jauh lebih terbuka dan menerima warga Amerika keturunan Iran. Namun di sisi lain, justru muncul perpecahan di dalam diaspora Iran sendiri," kata Sheila.

"Saya tidak suka melihat komunitas kami di Amerika terpecah. Saya juga tidak suka melihat komunitas kecil saya sendiri di lingkungan tempat tinggal saya terpecah. Tetapi, memang begitulah kenyataannya," kata Farahanipour, pemilik sebuah restoran Yunani di kawasan Westwood, Los Angeles.

Setelah bermain imbang melawan Belgia, tim Iran meninggalkan sebuah pesan di ruang ganti stadion.

"Kami datang ke Los Angeles dengan penuh kebanggaan, bertanding dengan penuh kehormatan, dan pulang dengan martabat. Terima kasih, Los Angeles, atas keramahtamahannya.

"Dan terima kasih kepada setiap warga Iran yang telah memberikan hati, suara, dan jiwa mereka untuk Iran sepanjang 180 menit ini.

"Semoga perdamaian, saling menghormati, dan persahabatan senantiasa terjalin di antara semua bangsa."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/jt(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan