Skip to main content
Iklan

Dunia

Tarif Trump kembali berlaku setelah pengadilan banding beri penundaan putusan

Pusat Keadilan Kebebasan, organisasi nirlaba yang mewakili lima usaha kecil yang menggugat pemberlakuan tarif perdagangan oleh Presiden AS Donald Trump, menyebut penundaan sementara oleh pengadilan banding hanyalah langkah prosedural.

Tarif Trump kembali berlaku setelah pengadilan banding beri penundaan putusan

Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 8 April 2025. REUTERS/Nathan Howard/Foto Arsip

30 May 2025 09:19AM (Diperbarui: 30 May 2025 09:22AM)

WASHINGTON: Pengadilan banding pada Kamis (29/5) mengembalikan sementara pemberlakuan tarif perdagangan yang diterapkan Presiden Donald Trump, sehari setelah pengadilan perdagangan AS memutuskan bahwa Trump telah melampaui kewenangannya dalam menerapkan tarif tersebut serta memerintahkan penghentiannya dengan segera.

Pengadilan Banding Federal di Washington menyatakan akan menghentikan sementara keputusan pengadilan yang lebih rendah guna mempertimbangkan banding yang diajukan pemerintah. Pengadilan meminta para penggugat untuk memberikan tanggapan sebelum 5 Juni dan pemerintah sebelum 9 Juni.

Putusan mengejutkan yang diumumkan Rabu oleh Pengadilan Perdagangan Internasional AS sebelumnya berpotensi membatalkan atau menunda pemberlakuan tarif "Hari Pembebasan" yang diumumkan Trump terhadap impor dari sebagian besar mitra dagang AS, serta tarif tambahan terhadap barang-barang dari Kanada, Meksiko, dan China. Tarif terhadap ketiga negara tersebut diberlakukan karena Trump menuding negara-negara ini membantu peredaran fentanyl ke AS.

Panel tiga hakim pengadilan perdagangan tersebut menyatakan bahwa Konstitusi AS memberi wewenang kepada Kongres, bukan presiden, untuk menetapkan pajak dan tarif perdagangan. Panel itu juga menyimpulkan bahwa Trump melampaui kewenangannya saat menggunakan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional yang sebenarnya dimaksudkan untuk menangani ancaman dalam kondisi darurat nasional.

Pejabat senior pemerintahan Trump menyatakan bahwa mereka tidak khawatir dengan putusan pengadilan perdagangan, dan tetap optimistis akan menang di tingkat banding atau akan menggunakan kewenangan kepresidenan lainnya untuk memastikan tarif tetap berlaku.

Selama ini, Trump menggunakan ancaman tarif impor yang mahal kepada importir AS dari hampir setiap negara sebagai alat tekanan dalam perundingan dagang internasional, strategi yang berpotensi terganggu oleh putusan pengadilan perdagangan tersebut. Namun, pemerintah Trump menyebut putusan itu belum mengganggu negosiasi yang dijadwalkan dengan mitra-mitra dagang utama dalam waktu dekat.

Trump sendiri dalam sebuah pernyataan di media sosial mengungkapkan harapannya agar Mahkamah Agung AS akan "membatalkan keputusan yang buruk dan mengancam negara ini", sambil mengkritik cabang yudikatif sebagai anti-Amerika.

"Keputusan mengerikan ini menyatakan bahwa saya harus mendapat persetujuan Kongres untuk tarif ini," tulis Trump pada Kamis malam. "Jika dibiarkan, ini akan sepenuhnya menghancurkan kekuasaan presiden—kepresidenan tidak akan pernah sama lagi! Keputusan ini disambut baik oleh seluruh negara di dunia kecuali Amerika Serikat."

Banyak mitra dagang AS memberikan tanggapan hati-hati. Pemerintah Inggris menyebut putusan pengadilan sebagai urusan domestik AS, sementara Jerman dan Komisi Eropa menyatakan tidak dapat berkomentar.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyebut putusan pengadilan sesuai dengan posisi Kanada sejauh ini bahwa tarif Trump adalah ilegal.

Pasar keuangan, yang selama ini fluktuatif merespons ketegangan perang dagang Trump, secara berhati-hati bereaksi optimistis atas putusan pengadilan perdagangan, namun kenaikan saham Kamis terbatas karena ekspektasi bahwa keputusan pengadilan ini masih akan menghadapi proses banding yang panjang.

Memang, para analis menyebut masih banyak ketidakpastian seputar masa depan tarif Trump yang menurut analisis Reuters telah membuat berbagai perusahaan kehilangan lebih dari US$34 miliar (Rp554 triliun) akibat penjualan menurun dan biaya produksi meningkat.

Sejumlah tarif spesifik seperti baja, aluminium, dan kendaraan bermotor diterapkan Trump menggunakan kewenangan lain atas dasar keamanan nasional, dan tidak terdampak oleh putusan tersebut.

Pusat Keadilan Kebebasan, organisasi nirlaba yang mewakili lima usaha kecil yang menggugat tarif ini, menyebut penundaan sementara oleh pengadilan banding hanyalah langkah prosedural.

Jeffrey Schwab, pengacara senior lembaga tersebut, meyakini bahwa pengadilan banding pada akhirnya akan setuju bahwa usaha kecil menghadapi kerugian yang tidak dapat diperbaiki akibat kehilangan pelanggan dan pemasok penting, perubahan rantai pasok berharga mahal, serta bahkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup mereka.

Dalam kasus terpisah pada Kamis sebelumnya, pengadilan federal lainnya juga menemukan bahwa Trump melampaui kewenangannya saat menerapkan tarif resiprokal minimal 10 persen terhadap barang-barang dari hampir semua mitra dagang AS, serta tarif 25 persen atas barang dari Kanada, Meksiko, dan China terkait fentanyl.

Namun, putusan tersebut jauh lebih sempit cakupannya, dan perintah penghentian tarif hanya berlaku bagi perusahaan mainan yang menggugat. Pemerintahan Trump juga telah mengajukan banding atas keputusan tersebut.

KETIDAKPASTIAN MASIH BERLANJUT

Setelah pasar keuangan bereaksi negatif atas pengumuman tarif pada 2 April, Trump sempat menunda sebagian besar tarif impor selama 90 hari dan mengatakan akan menyusun kesepakatan bilateral dengan mitra dagang.

Namun, terkecuali kesepakatan dengan Inggris bulan ini, berbagai kesepakatan lain masih sulit tercapai. Putusan pengadilan perdagangan dan ketidakpastian proses banding juga bisa mengurangi niat negara-negara seperti Jepang untuk segera membuat perjanjian, menurut para analis.

"Dengan asumsi bahwa banding tidak berhasil dalam beberapa hari ke depan, manfaat utama dari putusan ini adalah waktu tambahan untuk persiapan dan pembatasan terhadap besarnya tarif yang tidak boleh melebihi 15 persen untuk sementara ini," kata George Lagarias, kepala ekonom dari Forvis Mazars.

Putusan pengadilan perdagangan berpotensi menurunkan tarif efektif AS menjadi sekitar 6 persen, tetapi penundaan keputusan oleh pengadilan banding membuat tarif efektif tetap berada di sekitar 15 persen, menurut estimasi dari Oxford Research. Angka tersebut sama seperti setelah Trump sebelumnya mencapai gencatan sementara yang menurunkan tarif atas barang dari China hingga musim panas ini. Sebagai perbandingan, sebelum Trump kembali menjabat pada Januari, tarif efektif berada antara 2 persen dan 3 persen.

Perang dagang Trump telah mengguncang industri mulai dari tas dan sepatu mewah hingga peralatan rumah tangga dan kendaraan bermotor akibat naiknya harga bahan baku.

Perusahaan minuman Diageo serta pembuat mobil General Motors dan Ford adalah beberapa yang menarik proyeksi keuangannya.

Perusahaan non-AS termasuk Honda, Campari, Roche, dan Novartis telah mempertimbangkan pemindahan operasi atau memperluas kehadirannya di AS guna mengurangi dampak tarif.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/jt

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan