Skip to main content
Iklan

Dunia

Trump tiba-tiba gebuk Indonesia, barang ini kena tarif fantastis 104%

Pengenaan tarif ini hanya satu pekan setelah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026.

WASHINGTON DC: Amerika Serikat secara mendadak mengenakan tarif bea masuk sebesar 104,38 persen terhadap impor sel dan panel surya asal Indonesia.

Kebijakan ini diumumkan Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (Department of Commerce/DOC) sebagai bagian dari upaya menekan dampak subsidi yang dinilai merugikan industri domestik AS. Selain Indonesia, tarif sementara juga dikenakan terhadap produk serupa dari India dan Laos.

Dilansir Reuters, Kamis (26/2), DOC menetapkan tarif sebesar 125,87 persen untuk impor produk sel dan panel surya dari India, 104,38 persen dari Indonesia, serta 80,67 persen dari Laos.

Selain tarif umum, pemerintah AS juga menjatuhkan tarif individual terhadap sejumlah perusahaan. Untuk produsen asal Indonesia, tarif sebesar 143,3 persen dikenakan kepada PT Blue Sky Solar dan 85,99 persen kepada PT REC Solar Energy.

Sementara itu, perusahaan India Mundra Solar dikenakan tarif 125,87 persen. Dari Laos, Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company masing-masing dikenakan tarif 80,67 persen.

BERLAKU SEPEKAN USAI PAKTA DAGANG ART

Pengumuman tarif ini muncul hanya satu pekan setelah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026.

AS beralasan produsen sel dan panel surya di ketiga negara menerima subsidi pemerintah yang membuat produk buatan AS menjadi tidak kompetitif. Impor dari Indonesia, India, dan Laos tercatat mencapai sekitar US$ 4,5 miliar atau Rp75,44 triliun, setara hampir dua pertiga dari total impor panel surya AS pada 2025.

Kebijakan ini juga melanjutkan tren pengenaan tarif terhadap panel surya murah dari Asia selama lebih dari satu dekade, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan asal China. 

Sebelumnya, AS telah mengenakan tarif tinggi terhadap produk serupa dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja, yang menyebabkan impor dari keempat negara tersebut merosot tajam.

Langkah ini merupakan tahap pertama dari dua keputusan dalam kasus perdagangan yang diajukan tahun lalu oleh Alliance for American Solar Manufacturing and Trade, yang mencakup Hanwha Qcells, First Solar, dan Mission Solar.

Pengacara utama aliansi tersebut, Tim Brightbill, menyatakan kebijakan ini penting untuk memulihkan persaingan yang dinilai adil di pasar domestik AS.

“Para produsen Amerika menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kembali kapasitas dalam negeri dan menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang layak. Investasi tersebut tidak akan berhasil jika impor yang diperdagangkan secara tidak adil dibiarkan mendistorsi pasar,” kata Brightbill.

Pemerintahan Trump juga disebut tengah merencanakan penyelidikan lanjutan terhadap praktik perdagangan yang dinilai tidak adil, termasuk terhadap negara-negara dengan kapasitas industri berlebih, dugaan penggunaan tenaga kerja paksa, diskriminasi terhadap perusahaan teknologi AS, serta pemberian subsidi besar pada komoditas tertentu seperti beras dan produk perikanan.

Amerika Serikat berencana meneliti lebih jauh kapasitas industri dan subsidi sektor perikanan Indonesia dalam rangkaian penyelidikan tersebut.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan