Skip to main content
Iklan

Dunia

Respons Israel terhadap serangan Hamas sudah 'keterlaluan', kata Menlu Singapura

“Meskipun kita mungkin merasakan beragam emosi mengenai hal ini, hal terburuknya adalah membiarkan sahaja perselisihan ini terpolarisasi dan memecah belahkan warga Singapura,” kata Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan.

Respons Israel terhadap serangan Hamas sudah 'keterlaluan', kata Menlu Singapura
Menlu Negeri Vivian Balakrishnan berbicara di parlemen Singapura pada 29 Februari 2024, tentang perang Israel-Hamas.

SINGAPURA: Respons militer Israel terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober sudah “keterlaluan”, namun memutuskan hubungan diplomatik dengannya tidak akan menyelesaikan situasi atau mengurangi penderitaan warga Palestina, kata Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan di parlemen pada Kamis (29 Februari). 

Dr Balakrishnan menanggapi pertanyaan anggota parlemen mengenai perang Israel-Hamas sambil menguraikan rencana belanja anggaran kementeriannya untuk tahun ini.

Meskipun perang telah membangkitkan emosi yang kuat di kalangan warga Singapura, beliau mendesak mereka untuk tidak membiarkan isu tersebut mempengaruhi keharmonisan atau kohesi negara. 

“Meskipun kita mungkin merasakan beragam emosi mengenai hal ini, hal terburuknya adalah membiarkan pertengkaran ini terpolarisasi dan memecah belah kita sebagai warga Singapura,” katanya kepada parlemen.

Pada 7 Oktober tahun lalu, kelompok militan Palestina Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel. Orang-orang bersenjata menerobos penghalang keamanan dengan rentetan roket yang ditembakkan dari Gaza, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik sejumlah warga sipil.

Israel menanggapinya dengan tanpa henti membombardir Gaza dan mengirimkan pasukan darat, membunuh dan membuat warga Palestina kehilangan tempat tinggal. Lebih dari 30.000 orang telah tewas di wilayah tersebut sejak perang dimulai, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut.

Singapura mengutuk serangan tersebut dan mengakui hak Israel untuk membela diri, serupa dengan bagaimana Singapura akan menerapkan hak yang sama jika negaranya diserang, kata Dr Balakrishnan, mengulangi apa yang sebelumnya ia nyatakan dalam pidato parlemen.

Dalam pidato terakhirnya di parlemen pada bulan November tentang konflik tersebut, Dr Balakrishnan menyatakan bahwa Israel harus menerima negara Palestina, sama seperti orang Palestina harus menerima hak keberadaan Israel.

Namun pada hari Kamis, menteri tersebut mengatakan: “Sayangnya, respons militer Israel sudah terlalu jauh.

“Situasi bencana di Gaza memerlukan gencatan senjata kemanusiaan segera untuk meringankan penderitaan yang tak tertahankan dari para korban sipil dan memungkinkan bantuan kemanusiaan untuk segera menjangkau mereka.

MEMUTUSKAN HUBUNGAN BUKAN "KONSTRUKTIF”

Singapura telah menegaskan posisinya, termasuk di PBB yang memilih dua resolusi Majelis Umum PBB mengenai perlindungan warga sipil dan menegakkan kewajiban hukum dan kemanusiaan, kata menteri tersebut.

Menanggapi seruan kepada Singapura untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel atas tindakannya, Dr Balakrishnan mengatakan ini bukanlah cara yang tepat.

“Kami mengelola hubungan internasional dengan tetap terlibat dalam komunitas internasional dan menjaga hubungan dengan sebanyak mungkin negara,” kata Dr Balakrishnan, seraya menambahkan bahwa hal ini merupakan kepentingan nasional Singapura sebagai negara kecil.

Memutuskan hubungan dengan negara yang tindakannya tidak disetujui Singapura tidak akan bersifat “konstruktif” dan juga tidak akan mengubah situasi di lapangan.

"Juga... hal ini tidak akan mempengaruhi Israel untuk tiba-tiba mengubah kebijakannya atau akan segera mengurangi penderitaan rakyat Palestina."

Dia mencatat bahwa tidak satu pun dari lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, atau negara-negara Arab seperti Mesir dan Yordania, yang memutuskan hubungan.

Mengenai apakah hubungan dengan Israel terpengaruh oleh posisi Singapura, Dr Balakrishnan mengatakan Singapura menjaga hubungan baik dengan Israel dan Otoritas Palestina.

“Semua pihak tahu bahwa Singapura akan selalu mengutarakan pendapat kita. Bukan secara provokatif, namun karena ini adalah prinsip-prinsip yang kita junjung tinggi dan kita akan terus mempertahankan posisi ini, dipandu oleh kepentingan nasional jangka panjang Singapura dan keadaan unik kita,” ujarnya. 

Ia juga memperingatkan agar tidak memikirkan konflik ini berdasarkan agama.

“Agama sebenarnya hanyalah pelapis yang menutupi inti konflik. Apa inti konfliknya? Ini adalah konflik yang sudah berlangsung lama, perebutan tanah, identitas, dan kekuasaan,” kata Dr Balakrishnan, seraya menambahkan bahwa isu tersebut sudah ada sejak lama. berabad-abad, bahkan ribuan tahun.

“Orang Israel dan Palestina sama-sama merupakan suku Semit yang telah lama memperebutkan sebidang tanah yang sama.”Ia menambahkan, Singapura sebagai pihak luar tidak mungkin menentukan pihak mana yang memiliki klaim sejarah lebih kuat.

LEBIH BANYAK BANTUAN KEMANUSIAAN

Singapura akan menyumbangkan bantuan tahap ketiga untuk Gaza melalui Yordania, kata Dr Balakrishnan.

“Kita juga akan melanjutkan dukungan lama kita terhadap upaya peningkatan kapasitas Otoritas Palestina melalui Paket Bantuan Teknis yang Ditingkatkan senilai S$10 juta,” katanya.

“Kita melakukan semua ini karena kita menantikan hari ketika ada perdamaian, dan ada negara Palestina yang berfungsi dan mampu, dan bahwa rakyat Palestina mendapatkan perdamaian dan kemajuan yang sangat layak mereka dapatkan.”

Menteri tersebut mengatakan dia mengapresiasi banyak warga Singapura yang mempunyai perasaan mendalam terhadap situasi di Gaza, namun menegaskan kembali bahwa kebijakan luar negeri tidak dapat didorong oleh sentimen atau ketertarikan terhadap kelompok eksternal mana pun.

Sejak awal Oktober lalu, pihak berwenang Singapura telah memperingatkan agar tidak mengadakan acara dan pertemuan publik terkait situasi Israel-Hamas.

Kepolisian Singapura dan Dewan Taman Nasional telah menolak permohonan untuk mengadakan acara semacam itu di Hong Lim Park, dengan alasan masalah keselamatan dan keamanan publik.

Baru-baru ini, polisi telah menyelidiki sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan perang dan memperingatkan agar tidak ada seruan protes di Singapore Airshow.

Bahkan pengajaran mata pelajaran tersebut di sekolah telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga Singapura.

Kebijakan luar negeri harus didasarkan pada kepentingan inti Singapura dan bertindak secara konsisten sesuai dengan prinsip-prinsip yang menjaga kemerdekaan, kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanannya, kata Dr Balakrishnan.

Meskipun beragam pendapat adalah hal yang “sehat” dan memberikan dasar untuk membuat “keputusan kolektif sebagai sebuah negara”, warga Singapura harus selalu menemukan jalan tengah, berkompromi dan mencapai konsensus, tambahnya.

“Keberagaman kita merupakan kekuatan sekaligus jendela peluang yang sama juga memberikan jendela bagi pengaruh (eksternal) dan perselisihan serta perpecahan. Ini bukan sebuah kesalahan. Ini adalah fitur desain Singapura,” katanya.

“Dan selama kita ingat bahwa kita tidak melakukan hal ini, kita tidak boleh membiarkan tekanan sentrifugal mengancam keharmonisan dan kohesi kita, kita dapat terus memanfaatkan keberagaman kita.”

TIDAK BOLEH PUTUSKAN HUBUNGAN

Dalam pertanyaan klarifikasi, Ketua Oposisi Pritam Singh menanyakan bagaimana Singapura bergerak maju dalam kebijakan luar negeri ketika pemerintah negara lain mengambil "posisi yang sangat berbeda" darinya, seperti dalam kasus perang Israel-Hamas, di mana kepemimpinan Israel tidak percaya pada solusi dua negara.

Dr Balakrishnan bertanya apakah ketua oposisi itu setuju bahwa Singapura tidak boleh memutuskan hubungan diplomatik bahkan ketika negara tersebut memiliki perbedaan pendapat mendasar mengenai kebijakan dengan negara berkenaan. 

Pritam menjawab: "Pertanyaan saya tentang hubungan diplomatik – saya lebih suka berkomunikasi dengan mana-mana pihak daripada terus tidak berkomunikasi dengan sebarang pihak. 

"Tetapi poin yang saya pikirkan adalah bagaimana Anda merespons ketika pihak lain sebenarnya mengambil posisi yang sangat berbeda dari posisi nasional kita."

Pritam kemudian setuju bahwa Singapura tidak boleh memutuskan hubungan.

Sebagai responsnya, Dr Balakrishnan mengatakan dia tidak dapat mengingat Singapura pernah memutuskan hubungan.

"Apakah tindakan memutuskan hubungan secara formal akan membantu?" Dia bertanya.

Akan lebih baik bagi Singapura untuk menjaga saluran komunikasi tetap terbuka, katanya, seraya menambahkan bahwa meskipun Singapura harus mengambil tindakan untuk menunjukkan ketidaksetujuannya, tindakan tersebut akan “dibatasi” dan fokus pada hasil.

Para menteri dan diplomat Singapura memiliki akses ke semua negara di Timur Tengah, tambahnya.

“Kita mungkin tidak setuju dengan apa pun yang dinyatakan oleh setiap mitra di Israel dan negara-negara Arab. Namun mereka mendengarkan kita. Mereka menghormati posisi kita, mereka bekerja sama dengan kita untuk memberikan bantuan,” kata Dr Balakrishnan.

Source: CNA/ih

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan