Prabowo dan PM Pakistan Sharif siap sambangi Teheran untuk redam eskalasi Perang Iran
Indonesia dan Pakistan ingin ambil peran sebagai kekuatan Muslim penengah konflik, sementara Dubes Iran di Jakarta kembali menegaskan sikap Teheran yang anti-negosiasi.
Presiden Prabowo Subianto dan PM Pakistan Shehbaz Sharif bersalaman usai menyampaikan pernyataan pers bersama di kediaman resmi Perdana Menteri, Islamabad, pada Selasa, 9 Desember 2025. (BPMI Setpres)
JAKARTA: Di tengah meningkatnya ketegangan di Iran, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif disebut siap terbang ke Teheran guna mendorong de-eskalasi konflik.
Rencana tersebut diungkap Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie usai acara buka bersama dengan Presiden Prabowo di Istana Negara, Kamis (5/3).
Jimly menyampaikan bahwa Presiden membeberkan isi percakapannya dengan PM Sharif terkait kemungkinan lawatan bersama ke Teheran.
"Dan yang saya bersyukur Presiden (Prabowo), Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama dengan Presiden Prabowo untuk berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden," kata Jimly dikutip dari Antara, Jumat (6/3).
Menurut Jimly, PM Pakistan menghubungi langsung Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan tersebut untuk membahas langkah bersama.
"Pakistan baru menelepon Presiden Prabowo beberapa jam sebelum pertemuan ini ya kan. Nah dia mau sama-sama berdua. Oh itu bagus sekali," tutur dia.
Jimly menilai rencana kunjungan tersebut merupakan langkah positif agar konflik tidak semakin meluas. Ia juga melihat dukungan Pakistan sebagai sinyal bahwa inisiatif mediasi Indonesia mendapat respons.
Sebagai dua negara dengan populasi Muslim besar, Indonesia dan Pakistan dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong dialog.
"Walaupun mungkin peluangnya kecil tapi dicoba. Intinya Indonesia mengambil peran sebagai global player. Itu kita dukung. Jangan dianggap negatif dulu ya. Ini kan orang (tertingginya) sudah dibunuh ya kan. Ayatullah-nya sudah dibunuh, masa ditawarin damai, bukan dalam konteks itu, tetapi ini untuk mencegah eskalasi,” terang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.
RESPONS PAKISTAN DAN SIKAP IRAN
Pada kesempatan terpisah, PM Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi pembicaraan teleponnya dengan Presiden Prabowo dan menyebut diskusi tersebut berlangsung produktif.
"Kami bertukar pandangan mengenai kekhawatiran mendalam kami terhadap situasi di Timur Tengah, dan kami sepakat mendesak dibutuhkan masing-masing pihak untuk menahan diri untuk memperbarui kembali diplomasi demi mencegah eskalasi lebih lanjut. Kami juga membahas perkembangan terkini di Afghanistan, dan setuju untuk tetap berhubungan erat dalam beberapa hari ke depan untuk bersama-sama mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan," kata PM Sharif dalam siaran pers resminya.
Namun, Iran telah memberi sinyal penolakan terhadap tawaran mediasi tersebut. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan Teheran tidak akan membuka ruang negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Dubes Boroujerdi dikutip Antara.
Ia menegaskan Iran telah beberapa kali bernegosiasi dengan Amerika Serikat, tetapi selalu berujung pada pelanggaran komitmen atau tindakan militer dari Washington.
Merujuk pada pengalaman tersebut, Boroujerdi menyampaikan bahwa Iran tidak akan menerima bentuk perundingan apa pun dalam fase konflik saat ini.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.