Skip to main content
Iklan

Dunia

Cuaca ekstrem musim panas membayangi Piala Dunia 2026

Para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim meningkatkan risiko cuaca ekstrem, sementara FIFA telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi seperti jeda hidrasi dan protokol keselamatan cuaca.

Cuaca ekstrem musim panas membayangi Piala Dunia 2026

Balai Kota Toronto di pusat kota Toronto, saat kota ini memulai transformasinya menjelang Piala Dunia FIFA, di Toronto, Kanada, 12 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Wa Lone)

WASHINGTON: Piala Dunia 2026 akan dimulai pada Kamis (11/6) di tengah ancaman cuaca musim panas yang sudah lazim terjadi di Amerika Utara, mulai dari suhu panas ekstrem, kelembapan tinggi yang menyengat, hingga badai petir yang dapat menyebabkan penundaan pertandingan secara mendadak.

Prakiraan musiman menunjukkan, suhu di atas normal akan terjadi di sebagian besar wilayah Amerika Serikat. Sementara itu, aliran udara lembap dari Teluk Meksiko berpotensi memicu badai petir dan cuaca buruk selama pekan-pekan awal turnamen.

Meski kondisi cuaca untuk setiap pertandingan belum dapat diprediksi secara pasti dari sekarang, para ilmuwan olahraga memperingatkan adanya risiko cuaca yang jelas dalam penyelenggaraan Piala Dunia musim panas yang berlangsung di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.

Ukuran utama yang digunakan bukan hanya suhu udara, melainkan wet-bulb globe temperature (WBGT), yang memperhitungkan suhu, kelembapan, paparan sinar matahari, dan angin untuk mengukur tingkat tekanan panas terhadap tubuh.

Kelompok penelitian World Weather Attribution memperingatkan bahwa sekitar 25 persen pertandingan berpotensi dimainkan dalam kondisi yang melampaui batas keselamatan yang direkomendasikan.

Lapangan rumput alami yang baru dipasang dan peningkatan fasilitas stadion ditampilkan selama tur media di Stadion BC Place, menjelang turnamen sepak bola Piala Dunia FIFA, di Vancouver, British Columbia, Kanada, 12 Mei 2026. (Foto: REUTERS/Jennifer Gauthier)

TANTANGAN PANAS DARI DALAM TUBUH

Chris Minson, profesor fisiologi sekaligus salah satu direktur Exercise and Environmental Physiology Labs di University of Oregon, mengatakan, pemain elite menghasilkan panas tubuh dalam jumlah sangat besar bahkan sebelum faktor cuaca diperhitungkan.

“Sebanyak 75 persen dari seluruh energi yang kita gunakan saat berolahraga berubah menjadi panas,” kata Minson. “Hanya sekitar 25 persen yang benar-benar digunakan untuk melakukan aktivitas fisik itu sendiri.”

Dalam kondisi panas, terik, atau lembap, sistem pendinginan alami tubuh akan semakin kesulitan bekerja. Kelembapan menjadi perhatian khusus karena keringat hanya dapat mendinginkan tubuh jika menguap.

“Salah satu hal yang paling sulit bagi kami adalah ketika tingkat kelembapan sangat tinggi,” ujar Minson.

Beberapa kota tuan rumah yang memiliki tingkat kelembapan tinggi, antara lain, Houston, Miami, Dallas, dan Monterrey.

PERUBAHAN IKLIM DINILAI MEMENGARUHI PERFORMA PEMAIN

Penelitian terbaru dari Climate Central menunjukkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya suhu yang cukup tinggi untuk memengaruhi performa pemain pada 97 dari total 104 pertandingan turnamen.

Peningkatan terbesar diperkirakan terjadi pada laga fase grup antara Uruguay dan Spanyol di Guadalajara pada 26 Juni. Para peneliti memperkirakan terdapat peluang 70 persen terjadinya panas yang dapat mengganggu performa pemain, atau 37 poin persentase lebih tinggi dibandingkan jika tidak terjadi perubahan iklim.

Ryan Calsbeek, profesor ilmu biologi di Dartmouth College yang meneliti pengaruh tipe tubuh terhadap performa atlet di berbagai kondisi iklim, mengatakan, panas dan kelembapan tidak hanya memengaruhi kesejahteraan pemain tetapi juga tempo dan gaya permainan.

“Suhu yang lebih tinggi dan kelembapan yang lebih tinggi kemungkinan akan memperlambat jalannya pertandingan,” katanya. “Ketika atlet harus tampil dalam waktu yang sangat lama, mereka tidak akan mampu menyeimbangkan kekuatan eksplosif dari upaya cepat mereka dengan kebutuhan daya tahan aerobik untuk menjalani pertandingan lebih dari 90 menit dalam kondisi panas dan lembap.”

Hampir setengah dari seluruh pertandingan memiliki peluang sedikitnya 50 persen untuk dimainkan pada suhu di atas 28 derajat Celsius, ambang batas yang dikaitkan dengan penurunan kemampuan sprint, jarak tempuh pemain, dan waktu pemulihan.

Calsbeek menambahkan, ketinggian Kota Meksiko yang mencapai sekitar 2.240 meter di atas permukaan laut juga dapat menjadi faktor penting, terutama bagi tim yang datang dari daerah dengan ketinggian lebih rendah tanpa waktu yang cukup untuk beradaptasi. Kota tersebut dijadwalkan menjadi tuan rumah lima pertandingan.

FIFA menyatakan, setiap pertandingan Piala Dunia akan memiliki jeda hidrasi selama tiga menit di masing-masing babak. Penentuan jadwal pertandingan juga disebut telah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk suhu rata-rata, perjalanan tim, hari istirahat, perencanaan medis, dan infrastruktur pendingin.

PROTOKOL KESELAMATAN DIPERTANYAKAN

Sejumlah stadion tuan rumah dilengkapi atap yang dapat dibuka-tutup maupun sistem pengendalian iklim. Regulasi turnamen juga memungkinkan pertandingan ditunda, dihentikan sementara, dijadwalkan ulang, atau dipindahkan demi alasan kesehatan, keselamatan, maupun keamanan, termasuk akibat cuaca buruk.

Minson menilai, FIFA seharusnya mewajibkan intervensi ketika nilai WBGT mencapai 26 derajat Celsius dan mempertimbangkan penundaan pertandingan ketika angkanya berada di kisaran 28 hingga 30 derajat Celsius.

Ia juga menyerukan penerapan jeda pendinginan selama enam menit, penyediaan area teduh untuk mendinginkan pemain, bak es darurat, serta waktu istirahat babak pertama yang lebih panjang jika kondisi cuaca mengharuskannya.

“Jika ada pemain yang tampak mengalami delirium, tidak dapat berpikir dengan jernih, atau kolaps di lapangan, mereka harus segera didinginkan,” ujarnya.

Bagi FIFA, turnamen ini merupakan ajang unjuk kemampuan logistik berskala besar. Namun, bagi para pemain, pelatih, dan ilmuwan olahraga, Piala Dunia 2026 juga dapat menjadi ujian mengenai bagaimana sepak bola beradaptasi dengan masa depan yang semakin panas.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan