Skip to main content
Iklan

Dunia

Usai penembakan massal di Bondi, warga dan turis berharap pesona pantai itu tidak pudar

Memori kelam serangan teror mungkin akan melekat lama di Bondi, tetapi temuan CNA menunjukkan warganya tetap teguh menjaga citra pantai ikonik Australia itu dari bayang-bayang teror.

Usai penembakan massal di Bondi, warga dan turis berharap pesona pantai itu tidak pudar

Orang-orang berkumpul di Pantai Bondi untuk menghormati korban penembakan massal pada 14 Desember di perayaan Hanukkah, di Sydney, Australia, pada 16 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

SYDNEY: Bagi warga Australia, tak ada pantai yang lebih ikonik daripada Bondi.

Hamparan pasir keemasan di Sydney itu merupakan pusat kehidupan masyarakat lokal sekaligus magnet bagi pelancong dari seluruh dunia. Dalam situasi normal, Bondi adalah ruang bermain dengan berbagai wahana.

Di kawasan timur Sydney, setiap komunitas masyarakat mungkin punya pantai favorit masing-masing, tetapi Bondi memunculkan kebanggaan yang tak tertandingi.

Kini Bondi, yang sangat lekat bagi warga Australia, mulai pulih sambil menghadapi realitas baru usai serangan teror yang menelan banyak korban.

Warga, pelaku usaha, dan para pengunjung bergulat dengan duka sambil mencoba kembali mengembalikan kehidupan mereka seperti sebelumnya.

Orang-orang berkumpul di Pantai Bondi untuk menghormati korban penembakan massal pada 14 Desember di perayaan Hanukkah, di Sydney, Australia, pada 16 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

Sebanyak 15 orang tak berdosa — termasuk seorang anak perempuan berusia 10 tahun — tewas ketika dua pria bersenjata melepaskan tembakan pada festival Hanukkah Yahudi pada Minggu (14/12).

Polisi menyatakan para pelaku adalah ayah dan anak yang terinspirasi ISIS. Sang ayah, Sajid Akram, tewas ditembak polisi di lokasi kejadian, sementara putranya, Naveed, masih dirawat di rumah sakit setelah turut ditembak.

Naveed pada Rabu didakwa dengan 59 pelanggaran, termasuk 15 tuduhan pembunuhan dan tindakan terorisme.

Insiden tersebut telah ditetapkan sebagai serangan teror dan dikategorikan kekerasan antisemit oleh kepolisian dan pejabat.

"KAMI INGIN MENUNJUKKAN DUKUNGAN"

Pada Rabu lalu (17/12), matahari bersinar terik di Bondi namun suasana tetap muram diselimuti duka. Pantai itu sepi meski cuaca cerah khas musim panas.

Pemandangan Pantai Bondi di Sydney, Australia pada 17 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

Meski begitu, ada harapan bahwa keajaiban yang membuat pantai itu begitu istimewa tidak ikut hilang.

Bagi wisatawan, Pantai Bondi wajib didatangi. Sejumlah turis mengatakan kepada CNA bahwa mereka sempat sungkan untuk datang, menghormati komunitas yang tengah berduka.

“Bondi itu ikonik. Kami ingin datang,” kata Suneeta Nagaraja, turis asal California yang berlibur bersama keluarganya.

“Kami memang berencana melihat pantai dan menyusurinya, tetapi setelah beberapa hari terakhir dan kejadian itu, kami ingin memberi ruang bagi komunitas di sini — namun tetap datang untuk berada di sini dan merasakan momennya.

“Ini tragedi, tetapi kami juga ingin menunjukkan dukungan.”

Sun Ho Ahn, turis asal Incheon, Korea Selatan, yang datang bersama keluarganya, menyampaikan hal serupa.

“Kami sempat ragu untuk datang karena situasi berbahaya setelah kejadian itu, tetapi kami tetap ingin melihat pemandangan indahnya. Ternyata pemandangannya seperti yang kami bayangkan, bahkan lebih indah lagi,” ujarnya.

Pengunjung berenang di kolam renang dekat Pantai Bondi di Sydney, Australia pada 17 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

Pelaku usaha juga mengaku bisnis mereka terganggu akibat peristiwa teror itu.

Di dekat lokasi serangan pada Minggu, aktivitas dan penyelidikan polisi terkait penembakan masih berlangsung. Tepian pantai yang biasanya dipenuhi ribuan orang, masih ditutup.

Namun pemilik kafe, Maxime Thuez, memandang masyarakat sekitar justru semakin solid usai serangan tersebut, bukan ketakutan.

“Ini selalu menjadi tempat yang sangat ramah. Rasanya semua orang saling kenal dan sangat bersahabat. Seperti gelembung kecil—seperti satu keluarga yang saling mendukung,” katanya.

SOLIDARITAS DI TENGAH DUKA MENDALAM

Bagi komunitas Yahudi Australia, beberapa hari terakhir adalah masa berduka. Polisi mengatakan para penyerang sengaja membidik mereka ketika merayakan Hanukkah.

Anggota keluarga Rabbi Eli Schlanger, yang tewas dalam penembakan selama perayaan Hanukkah Yahudi di Pantai Bondi, Sydney, pada 14 Desember, menangis selama upacara pemakaman di Chabad of Bondi, Sydney, Australia, pada 17 Desember 2025. (Foto: Reuters/Hollie Adams/Pool)

Ratusan pelayat berkumpul di sebuah sinagoga di Bondi pada Rabu untuk pemakaman Rabbi Eli Schanger, yang tewas ditembak dalam serangan Minggu lalu.

Tugu peringatan sederhana terus membesar di Bondi Pavilion, dengan berbagai penghormatan terakhir untuk para korban.

Lilin yang menandai perayaan Hanukkah kini menjadi ritual malam yang khidmat di Pantai Bondi, tempat suasana duka terasa begitu tebal.

Lokasi itu berubah menjadi ruang refleksi emosional sekaligus panggung bagi banyak pemimpin untuk menyampaikan kesedihan, seruan persatuan, serta tuntutan perlindungan yang lebih baik dari antisemitisme dan ujaran kebencian.

Penghormatan untuk korban penembakan pada 14 Desember yang menargetkan perayaan Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney, Australia, pada 16 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

Serangan tersebut merupakan penembakan massal paling mematikan di Australia dalam tiga dekade terakhir, terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global dan sorotan baru terhadap ekstremisme bermotif kebencian.

Karangan bunga juga diletakkan dekat bibir pantai. Di sini, masyarakat sekitar mulai menghadapi kenyataan bahwa tempat tinggal mereka tidak akan pernah sama lagi.

“Pantai Bondi itu sangat visual — Anda bisa melihat orang berolahraga, ada yang mengajak anjing berjalan, dan selalu ada energi baru yang datang. Ini sangat menyedihkan,” kata warga Bondi, Lisa Owen-Burke.

Suaminya, Philip, memperkirakan beberapa bulan ke depan akan berat bagi masyarakat, apalagi karena ini adalah musim liburan.

“Semoga pantai ini bisa kembali hangat, ramah, dan hidup seperti biasa,” ujarnya. “Tentu saja, akan selalu ada ingatan tentang apa yang terjadi di sini.”

Kumpulan karangan bunga bentuk penghormatan bagi korban penembakan massal yang menargetkan perayaan Hanukkah di Bondi Beach, Sydney, Australia, pada 16 Desember 2025. (Foto: CNA/Jack Board)

Meski duka masih menyelimuti, ombak yang terus menepi jadi pengingat betapa tangguhnya Pantai Bondi dan kehidupan yang harus terus berjalan.

“Saya berharap Bondi bisa bangkit kembali,” kata Andrew Meagher, warga setempat.

“Semoga orang-orang datang untuk menghargai semua hal baik tentang Pantai Bondi, dan kehidupan bisa kembali normal.”
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan