Nicolas Maduro diadili di New York, mengaku diculik AS dan tidak bersalah
Eks Presiden Venezuela Maduro dituduh terlibat dalam jaringan perdagangan kokain lintas negara dan menghadapi empat dakwaan pidana, mulai dari narkoterorisme hingga kepemilikan senapan mesin dan bahan peledak.
Presiden Venezuela yang ditangkap, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, menghadiri sidang perdana mereka bersama pengacara pembela Barry Pollack dan Mark Donnelly untuk menghadapi tuduhan narkoterorisme, konspirasi, perdagangan narkoba, pencucian uang, dan lainnya, di Pengadilan Federal AS Daniel Patrick Moynihan di Manhattan, Kota New York, AS, pada 5 Januari 2026, dalam sketsa ruang sidang ini. (REUTERS/Jane Rosenberg)
Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan dirinya telah diculik oleh Amerika Serikat dan tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkotika.
Pernyataan ini disampaikan Maduro dalam persidangan atas tuduhan perdagangan narkotika di New York pada Selasa (6/1) setelah dia dan istrinya Cilia Flores diculik dari Caracas dalam serangan AS ke Venezuela akhir pekan lalu.
“Saya tidak bersalah. Saya tidak melakukan kejahatan. Saya orang yang baik. Saya masih presiden negara saya,” kata Maduro, 63, melalui penerjemah, sebelum ucapannya dipotong oleh Hakim Distrik AS, Alvin Hellerstein, di pengadilan federal Manhattan.
Istri Maduro juga menyatakan tidak bersalah. Sidang berikutnya dijadwalkan pada 17 Maret.
Puluhan demonstran, baik pendukung maupun penentang Maduro, berkumpul di luar gedung pengadilan sebelum sidang singkat selama sekitar 30 menit itu dimulai.
Di dalam ruang sidang, dengan kaki terbelenggu dan mengenakan pakaian tahanan berwarna oranye dan krem, Maduro menyatakan dirinya telah “diculik” dan tetap menjabat sebagai presiden Venezuela. Ia mendengarkan penerjemah melalui headphone ketika Hellerstein merangkum dakwaan yang diajukan.
Maduro dituduh mengawasi jaringan perdagangan kokain bersama kartel narkotika internasional dan menghadapi empat dakwaan pidana, yaitu narkoterorisme, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.
Maduro selama ini membantah tuduhan tersebut, dengan menyebutnya sebagai kedok bagi ambisi imperialis untuk merebut cadangan minyak Venezuela yang melimpah.
Pengacara Maduro, Barry Pollack, mengatakan kliennya adalah korban dari "penculikan militer" dan dia memperkirakan proses persidangannya akan panjang.
AS telah menganggap Maduro sebagai diktator yang memimpin secara tidak sah sejak ia mengklaim kemenangan dalam pemilihan 2018 yang diwarnai tuduhan kecurangan besar-besaran.
Pada saat yang sama, para pakar hukum internasional mempertanyakan legalitas penyerangan AS ke Venezuela, dengan sebagian mengecam tindakan Trump sebagai penyangkalan terhadap tatanan internasional yang berbasis aturan.
Masa depan pemerintahan Venezuela juga tetap tidak pasti setelah Trump pada Minggu lalu menyatakan bahwa “kami yang memegang kendali.” Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller pada Senin menegaskan kepada CNN bahwa “Amerika Serikat menjalankan Venezuela.”
“Kami yang menetapkan syarat dan ketentuannya. Kami memberlakukan embargo penuh atas seluruh minyak mereka. Jadi, untuk melakukan perdagangan, mereka memerlukan izin kami,” kata Miller.
Sementara di Caracas, beberapa jam setelah Maduro diculik, wakil presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela dengan pernyataan dukungan terhadap Maduro. Namun dia tidak memperlihatkan secara terang-terangan akan menentang Amerika Serikat.
Penilaian intelijen terbaru AS menilai Rodriguez sebagai figur paling siap memimpin pemerintahan sementara jika Maduro absen.
Menanggapi laporan itu, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Reuters bahwa “Presiden dan tim keamanan nasionalnya membuat keputusan realistis agar Venezuela selaras dengan kepentingan Amerika Serikat.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.