Menjadikan Greenland rumah — Bagaimana warga Asia Tenggara membangun kehidupan baru di Arktik
Kekurangan tenaga kerja di Greenland telah menciptakan jalur migrasi yang tak terduga dari Asia Tenggara. Dalam bagian kedua seri ini, CNA melihat bagaimana warga Filipina dan Thailand menjadi komunitas pendatang terbesar di pulau tersebut.
Seorang migran asal Filipina berpose dengan ikan yang baru ditangkap di depan putrinya, dengan latar fjord di Sisimiut, Greenland. (Foto: CNA/Jack Board)
SISIMIUT, Greenland: Matahari musim panas tak kunjung tenggelam di cakrawala ketika Rid Mondejar, teman-temannya, dan anak-anak mereka memanjat bebatuan yang menghadap ke barat, ke arah fjord yang terhubung dengan Samudra Atlantik Utara.
Musim ikan trout sedang berlangsung. Hasil tangkapan yang lezat menanti mereka yang mau mengadu keterampilan memancing di perairan lepas Sallinnguit yang terus berubah, sebuah pulau kecil yang terhubung dengan Sisimiut, kota terbesar kedua di Greenland sekaligus permukiman tertua yang terus dihuni.
Kelompok warga Filipina itu datang untuk berpiknik dan memancing hingga larut malam. Jauh di atas Lingkar Arktik, tempat ini kini menjadi rumah bagi Mondejar, keluarganya, serta sekitar 50 warga Filipina lainnya.
“Saya menemukan kedamaian di sini. Di kampung halaman, semuanya selalu sibuk, sedangkan di sini kita bisa menikmati ritme kehidupan yang lebih lambat,” kata perempuan berusia 37 tahun asal Cebu itu, sementara putranya yang berusia sembilan tahun, Neo, memanjat dan mengumpulkan siput laut kecil di antara bebatuan.
“Kalau Neo berada di Filipina sekarang, saya rasa dia hanya akan duduk dan menonton televisi, mungkin hampir sepanjang hari. Jadi, saya suka di sini karena pada hari yang sangat cerah seperti ini, dia bisa keluar dan menikmati waktu di luar ruangan,” katanya.
Semakin banyak warga Asia Tenggara dan keluarga mereka membangun kehidupan baru di berbagai komunitas terpencil Greenland.
Pulau terbesar di dunia itu sedang mengalami salah satu perubahan demografis tercepat dalam sejarah modernnya. Populasinya yang kecil, arus keluar kaum muda yang terus berlangsung, serta pertumbuhan ekonomi telah membuka jalur migrasi tenaga kerja yang tak terduga dari Asia Tenggara.
Dua kelompok migran asing terbesar di Greenland saat ini berasal dari Filipina dan Thailand, masing-masing berjumlah sekitar 1.300 dan 460 orang, dari total populasi sekitar 57.000 jiwa.
Jumlah warga Filipina meningkat dari sekitar 270 orang lima tahun lalu, sementara populasi warga Thailand kira-kira telah berlipat ganda dalam periode yang sama.
Pada hari-hari musim panas yang panjang, pesona Greenland mudah dipahami. Bentang alamnya unik dan memukau, dibentuk oleh permainan cahaya dan bayangan.
Namun, para migran ini juga harus menghadapi kehidupan ekstrem di kawasan utara: hari-hari musim dingin yang diselimuti kegelapan, matahari tengah malam yang nyaris tidak terbenam pada bulan-bulan hangat, suhu yang sangat dingin, serta keterasingan yang nyata — semuanya demi membangun kehidupan yang lebih baik.
Warga Filipina dan Thailand kini bekerja di berbagai sektor di seluruh pulau, mulai dari supermarket, hotel, restoran, perikanan, perusahaan kebersihan, pabrik bir, fasilitas kesehatan hingga usaha kecil.
Sekitar 12 hingga 13 persen tenaga kerja di Greenland kini bukan berlatar belakang Greenland, mencerminkan perekonomian yang kini sangat bergantung pada tenaga kerja asing.
Greenland saat ini berada dalam fase pertumbuhan ekonomi, seiring upayanya melakukan diversifikasi dan memperluas sektor pariwisata, jasa, pertambangan, dan energi, kata Christian Kjeldsen, CEO Greenland Business Association, organisasi pengusaha sektor swasta dan perdagangan terbesar di wilayah tersebut.
“Kalaupun kami semua memiliki dua atau tiga pekerjaan, jumlah orang di Greenland tetap tidak akan cukup. Jadi, kami akan bergantung pada orang-orang yang datang dari luar,” katanya.
Semakin besarnya perhatian dunia terhadap Greenland hanya mempercepat ekspansi tersebut.
Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mengincar wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark itu, sorotan dunia terhadap Greenland dan ekonominya yang masih berkembang pun semakin besar.
Trump secara konsisten mengatakan bahwa kepemilikan atau kendali Amerika atas Greenland merupakan kebutuhan mutlak bagi keamanan nasional AS. Dalam KTT NATO pada Juli, ia mengisyaratkan Washington dapat mempertimbangkan kembali komitmen militernya terhadap Eropa apabila Denmark menolak bekerja sama terkait Greenland.
Di tengah ketidakpastian itu, Mondejar termasuk salah satu orang yang memanfaatkan peluang di negeri nun jauh itu.
Ia bekerja di sebuah hotel lokal di Sisimiut setelah mengikuti kekasihnya — yang kini menjadi suaminya — ke Greenland, keputusan yang awalnya membuat teman dan keluarganya kebingungan.
“Itu 11 tahun lalu. Dia sering mengatakan kepada saya bahwa di sini cukup dingin dan dia membutuhkan seseorang untuk dipeluk,” katanya. “Dan sungguh, teman-teman saya sampai bertanya, memang Greenland itu di mana?”
Beradaptasi dengan wilayah tanpa pepohonan, yang diterpa angin dari ujung utara bumi, bukan tanpa tantangan. Namun, menurut Mondejar, keuntungan ekonominya sepadan, karena keluarganya dapat membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan.
“Greenland bukan sekadar tempat bekerja. Di sinilah kami membangun keluarga dan kehidupan bersama,” katanya.
MENEMUKAN GREENLAND
Alih-alih perekrutan formal atau agen tenaga kerja, ikatan keluarga menjadi benang merah dalam banyak kisah migrasi di Greenland. Biasanya, seorang kerabat lebih dulu mendapatkan izin kerja dan menetap, sebelum kemudian membawa pasangan atau anak melalui skema reunifikasi keluarga.
Di Nuuk, ibu kota Greenland, kini terdapat 31 anggota keluarga besar Annabelle Cruz yang tinggal dan bekerja di sana. Perjalanan keluarga itu telah berlangsung selama 16 tahun, sejak saudara perempuan Cruz menjadi anggota keluarga pertama yang pindah ke sana.
Cruz, 39, bekerja sebagai supervisor penjualan di Brugseni, jaringan supermarket lokal. Ia berganti-ganti menggunakan bahasa Inggris, Denmark, dan Greenland saat berinteraksi dengan staf dan pelanggan di seluruh toko — kemampuan yang dipelajarinya dalam dua tahun sejak pindah dari Pampanga, Filipina.
Menurutnya, kepindahan itu terutama didorong faktor ekonomi — gajinya berkali-kali lipat lebih tinggi daripada di kampung halaman — tetapi juga oleh keinginan mencari pengalaman baru.
Rata-rata pekerja asal Asia di Greenland, di seluruh sektor, memperoleh pendapatan tahunan sebesar US$52.800 (sekitar Rp943 juta) berdasarkan data 2024.
Angka tersebut sekitar 9,5 kali rata-rata upah tahunan di Thailand dan lebih dari 12 kali rata-rata upah tahunan di Filipina.
“Setiap kali melihat unggahan mereka di Facebook, saya sangat penasaran seperti apa rasanya menjalani kehidupan di Arktik,” katanya mengenai pengalamannya melihat kehidupan keluarganya di Nuuk dari kejauhan.
“Jadi, itu salah satu alasan saya datang ke sini. Saya ingin melihat budaya dan alam yang berbeda, jauh dari tempat saya dibesarkan.”
Migrasi warga Filipina ke luar negeri untuk bekerja dan mencari peluang merupakan salah satu sistem migrasi tenaga kerja terbesar dan paling lama berlangsung di dunia. Diperkirakan 10 juta hingga 12 juta warga Filipina tinggal atau bekerja di luar negeri, sekitar 10 persen dari populasi negara tersebut.
Warga Filipina di luar negeri mengirim remitansi senilai US$38,3 miliar (sekitar Rp684 triliun) pada 2024, sebuah rekor yang setara dengan sekitar 8,7 persen PDB negara tersebut. Sementara itu, sekitar satu juta hingga dua juta warga Thailand diperkirakan tinggal atau bekerja di luar negeri, dengan remitansi setara sekitar 1,8 persen PDB pada 2024.
Pemerintah Greenland juga memberikan berbagai fasilitas kepada pekerja asing.
“Jika mereka memiliki izin kerja, mereka berhak mendapatkan layanan kesehatan, obat-obatan, pendidikan, pensiun, semuanya. Semua itu dibayar melalui pajak kami, jadi dibiayai oleh publik,” kata Steven Arnfjord, profesor madya bidang pekerjaan sosial sekaligus direktur Centre for Arctic Welfare di University of Greenland.
Komunitas Filipina di Nuuk dan wilayah lainnya telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2026, terdapat 770 warga Filipina di ibu kota, dibandingkan hanya 118 orang satu dekade sebelumnya.
Bagi Merlyn Mejala, warga Filipina yang telah lama menetap di Nuuk sejak pindah dari Mindanao pada 2010, pertumbuhan komunitas itu membuka peluang untuk mendirikan toko bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari bagi ekspatriat Asia.
Memasuki tokonya terasa seperti berpindah benua. Rak-raknya dipenuhi mi instan, camilan pedas, dan minuman energi yang familier, menghadirkan cita rasa sekaligus kenangan akan kampung halaman.
“Kami memulainya dari sangat kecil, lalu kemudian orang-orang di seluruh Greenland mengenal kami. Sekarang saya bisa mengirim barang kepada mereka dan usaha kami pun semakin besar,” katanya.
Ia bercerita bagaimana dirinya pergi ke pelabuhan untuk menjemput warga Filipina atau Indonesia yang bekerja di kapal pesiar yang baru tiba dan merindukan makanan Asia, lalu membiarkan mereka memasak di dapur pribadinya yang kecil di samping toko.
“Saya tidak pernah berhenti berbagi,” ujarnya.
Bagi kelompok migran di Nuuk, komunitas menjadi tumpuan kehidupan sosial mereka.
Warga Filipina menghadiri Misa Minggu di satu-satunya gereja Katolik di pulau tersebut, sementara komunitas Thailand rutin berkumpul untuk merayakan berbagai perayaan nasional dan budaya penting, seperti ulang tahun Raja dan Songkran, tahun baru Thailand.
Namun, seiring jumlah mereka bertambah, Mejala mengakui bahwa mempertahankan kedekatan dan keakraban menjadi semakin sulit.
“Dulu komunitasnya sangat menyenangkan, kecil dan mudah berkumpul. Komunitas kecil mudah dikelola, tetapi sekarang semakin besar dan komunikasi menjadi sulit,” katanya.
Komunitas Thailand telah lebih lama menetap di Nuuk, terutama di sektor restoran, pijat, dan perhotelan.
Meena Manly, 54, yang berasal dari Udon Thani di Thailand utara, telah menyaksikan Nuuk yang dahulu merupakan permukiman kecil berubah dan berkembang selama dua dekade terakhir.
Kini ia sendiri menjadi pemilik usaha — Smile Thai Massage and Beauty — dan mampu membuka jalan bagi terapis-terapis muda yang ingin memperoleh pengalaman bekerja di luar negeri.
Dengan som tum — salad pepaya tradisional — yang siap dibuat stafnya dan bir Singha dingin di lemari es, suasana kampung halaman terasa tak terlalu jauh, katanya.
“Dengan orang-orang Thailand di sini, saya rasa semua orang saling menyayangi dan membantu. Rasanya seperti pelukan besar,” katanya.
“Kondisi keuangan dan pekerjaannya bagus, dan standar hidupnya juga baik. Yang terpenting, penghasilannya lebih tinggi dibandingkan di Thailand.
“Dan bagi mereka yang ingin datang ke sini, tidak ada yang lebih sulit daripada pikiran kita sendiri. Selalu ada hal-hal baru yang harus kita pelajari dan kita harus tetap berpikiran terbuka.”
Pada masa-masa awal, Meena kerap menangis hingga tertidur karena panjangnya hari-hari tanpa cahaya matahari begitu membebaninya. Namun, ia mengatakan, kini telah menjadi lebih tangguh dan siap mendukung para pendatang baru seperti Chatprapa Panyacharoen, 24, yang meninggalkan Thailand kurang dari enam bulan lalu.
“Ada beberapa kesulitan dalam menyesuaikan gaya hidup, cuaca, kondisi tempat tinggal, dan makanan. Dulu saya bukan orang yang sering makan som tum, tetapi sejak tinggal bersama semua orang di sini, akhirnya saya memakannya setiap hari,” kata Chatprapa sambil tertawa.
“Sangat wajar menghadapi tantangan-tantangan ini pada awalnya. Tetapi kalau Anda bertanya apakah sekarang saya kesepian, jawabannya tidak. Ini telah mengubah hidup saya,” tambahnya.
Natkritta Winyasak, 42, asal Chiang Rai di Thailand utara, merenungkan apa yang membuat Greenland istimewa dan bagaimana kehidupan di sana mengubah bayangannya tentang Arktik.
Ketika tiba di Nuuk satu setengah tahun lalu, suhu mencapai minus 19 derajat Celsius. Wajahnya terasa membeku dan ia kehilangan indra penciuman karena hawa dingin. Tidak ada jalan yang terlihat karena semuanya tertutup salju.
“Di kampung halaman, kami punya 7-Eleven dan semacamnya ... Tetapi di sini tidak ada. Jadi saya bertanya-tanya bagaimana saya akan bertahan hidup,” katanya.
Seperti yang dialami banyak orang lainnya, kini ia telah terpikat oleh “ritme hidup yang lambat”. Ia tidak lagi terburu-buru. Keindahan kawasan kutub itu kini tersaji tepat di depan pintu rumahnya.
“Pada musim dingin, Anda bisa melihat Cahaya Utara tepat di depan rumah. Anda tidak perlu membeli tiket pesawat untuk terbang dan melihatnya dari dekat; semuanya ada tepat di luar, setiap malam. Dan itu sangat indah, dengan semua warnanya,” tuturnya.
“Kami jauh dari rumah, tetapi kami tidak merasa tidak bahagia.”
KETEGANGAN DAN INTEGRASI
Migrasi mengubah wajah Greenland. Di Nuuk yang terus berkembang — dan semakin sering bahkan di permukiman yang lebih terpencil — bahasa Inggris kerap menjadi bahasa pertama yang didengar warga lokal ketika memasuki toko atau restoran.
Migrasi juga mengubah lingkungan kerja serta membawa bahasa, tradisi, dan perspektif baru ke tengah masyarakat yang sejak lama dibentuk oleh perpaduan budaya, kata Arnfjord.
“Baik atau buruk, ini sesuatu yang perlu kami sesuaikan. Orang berharap dilayani dalam bahasa yang bagi banyak orang merupakan bahasa ketiga mereka, dan terkadang hal itu menimbulkan sedikit ketegangan,” katanya.
Selama berabad-abad, lanskap sosial dan politik Greenland sebagian besar dibentuk oleh hubungan antara masyarakat adat Kalaallit dan institusi kolonial Denmark. Kedatangan komunitas migran baru menambahkan lapisan baru pada identitas tersebut.
“Ada banyak perhatian terhadap integrasi. Apa sebenarnya maknanya? Bagaimana kita melakukannya, dan bagaimana kita mencegah hal ini menjadi cerita buruk dan justru menjadikannya cerita yang baik? Ini menyangkut ekonomi dan pertumbuhan; kita membutuhkan tenaga mereka untuk membantu kita, sekaligus menjaga cara hidup dan budaya kita,” tutur Arnfjord.
Pemerintah Greenland tengah bekerja sama dengan kalangan usaha untuk merumuskan mekanisme percepatan yang memudahkan perusahaan merekrut tenaga kerja, jelas Kjeldsen dari Greenland Business Association.
Menurutnya, hal itu merupakan pengakuan atas kebutuhan terhadap tenaga kerja asing sekaligus langkah untuk meninggalkan narasi lama bahwa “kalau seseorang datang dari luar, itu karena kita tidak kompeten atau tidak mampu melakukan sesuatu sendiri”, sebuah warisan pemikiran dari masa kolonial.
“Hal itu masih melekat dalam sejarah dan budaya kita ... itulah sebabnya kita berisiko menghadapi penolakan terhadap imigrasi jika tidak mengelola narasi ini dengan benar,” katanya.
Greenland kini berada di tengah perubahan besar dan menghadapi pertanyaan mendasar mengenai posisinya di dunia. Ancaman invasi AS membayangi masyarakat setempat, sementara kekhawatiran mengenai pengaruh asing menjadi bahan perdebatan nasional.
Tillie Martinussen, mantan anggota parlemen, berharap pekerja migran tidak terseret politik lokal maupun internasional yang memainkan sentimen anti-imigran secara terselubung.
“Sebagian kelompok separatis yang sangat nasionalistis ingin membicarakan hal itu dan membingkainya sebagai ‘orang asing melawan kita’. Itu selalu menjadi isu yang mudah dimanfaatkan, tetapi sejauh ini warga Greenland tidak terlalu terpancing,” katanya.
Meski demikian, kasus rasisme yang sesekali terjadi tetap menjadi pengingat menyakitkan bagi para migran bahwa mereka masih dianggap sebagai orang luar.
“Saya rasa memang ada ketegangan,” kata Mejala.
“Mungkin karena sekarang ada banyak orang Filipina. Saya pernah mendengar keluhan bahwa mereka [warga lokal] tidak lagi mendapatkan pekerjaan karena pekerjaan itu diisi oleh orang Filipina.”
Cruz mengatakan bahwa mempelajari bahasa Greenland dan Denmark serta memilih menghadapi kesalahpahaman dengan empati alih-alih kebencian telah membantunya beradaptasi.
“Setiap kali saya merasakan rasisme, saya berpikir bahwa mereka sebenarnya tidak bermaksud menyakiti saya,” katanya. “Kita hanya perlu mengubahnya menjadi sesuatu yang positif. Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena ini adalah tempat mereka.”
DI ANTARA DUA DUNIA
Dalam cerita rakyat Greenland, ada sosok “qivittoq”, seseorang yang meninggalkan masyarakat dan berjalan menuju pegunungan, diselimuti kehampaan, hingga akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lain.
Para pendatang masa kini justru melakukan kebalikannya. Mereka datang bukan untuk menghilang ke belantara Greenland, melainkan untuk membangun ekonomi modernnya, sambil dalam banyak kasus menikmati unsur-unsur kehidupan di salah satu wilayah paling terpencil di dunia.
GP Dupitas, 42, perlahan menemukan tempatnya sendiri di bentang luas Greenland, sering kali dengan senapan di tangan.
Perawat terdaftar asal Mindanao, Filipina, itu telah membenamkan dirinya dalam salah satu tradisi Greenland yang paling mendalam dan sakral: berburu.
Pulau itu biasanya tertutup salju dan es, sehingga nyaris tak memungkinkan untuk bercocok tanam.
Selama ribuan tahun, komunitas Inuit bertahan hidup dengan berburu anjing laut, paus, ikan, burung, rusa kutub, dan musk ox. Berbagai praktik dan inovasi dalam budaya tradisional mereka lahir dari kebutuhan berburu untuk bertahan hidup.
Cara hidup itu bertahan hingga kini dan menjadi bagian mendasar dari identitas masyarakat Greenland. Dupitas menemukan rasa kebersamaan dan kedekatan dengan masyarakat serta alam Greenland, sekaligus ketenangan saat menyusuri kawasan sunyi untuk berburu.
“Ketika Anda jauh dari kota, Anda tidak melihat orang lain, hanya ada pegunungan dan burung-burung,” katanya. “Semuanya benar-benar alami. Sangat berbeda dengan tempat saya tinggal di Filipina.”
Satu dekade lalu, Dupitas mengikuti istrinya ke ibu kota Nuuk dan awalnya bekerja sebagai asisten di rumah sakit kota — posisi yang jauh di bawah kualifikasinya.
Meski demikian, pekerjaan itu memberikan penghasilan lebih tinggi daripada pekerjaannya di kampung halaman. Sejak itu, ia perlahan meniti karier, mempelajari bahasa setempat dan tanpa sengaja ikut membuka jalan bagi semakin banyak warga Filipina untuk bekerja di sektor kesehatan Greenland.
“Sekarang sudah seperti invasi,” katanya sambil tertawa kecil.
Dupitas juga mengadopsi tradisi menyimpan daging dalam sebuah freezer besar agar cukup untuk kebutuhan sepanjang tahun — musim berburu di Greenland berlangsung singkat dan terbatas pada bulan-bulan yang lebih hangat.
Ia pun memadukan dua budaya dalam kesehariannya, antara lain dengan memasak hidangan Filipina seperti adobo untuk anak-anaknya menggunakan daging lokal seperti rusa kutub dan musk ox.
“Saya juga ingin menunjukkan budaya saya kepada mereka. Mereka tinggal di sini, lahir di sini, dan ketika berada di tempat penitipan anak mereka makan paus, anjing laut, burung, semuanya, karena itulah makanan lokal,” katanya.
“Jadi mereka mengalami budaya Greenland, sementara di rumah saya juga memasak hidangan Filipina.”
Perpaduan serupa juga terlihat di restoran-restoran Thailand di seluruh Greenland, yang memodifikasi resep tradisional dengan bahan lokal, sebagian untuk menyesuaikan dengan ketersediaan bahan dan sekaligus membangun hubungan dengan masyarakat setempat.
Ketika salju musim panas yang tidak biasa turun di luar, kobaran api menyambar dari wajan di dapur restoran Kin-D ApS di Sisimiut.
Hidangan seperti pad kaphrao — tumisan Thailand dengan daun holy basil — yang menggunakan daging rusa kutub, serta kari panang dengan musk ox menjadi menu populer.
Menurut Naruephat Boonsong, pekerja restoran asal Provinsi Sukhothai, kuncinya adalah beradaptasi.
“Hidup di sini sederhana karena kami belajar bagaimana hidup dan beradaptasi. Mudah,” katanya. “Tapi sangat dingin!”
Mondejar mengatakan, dirinya tidak akan tinggal di Greenland selamanya. Suatu hari nanti, Filipina akan memanggilnya pulang.
“Akar saya masih ada di sana. Saya tetap berasal dari Filipina. Saya orang Filipina,” katanya.
Dan ketika saatnya tiba untuk meninggalkan Greenland bersama keluarganya, ia akan membawa serta keterampilan dan pelajaran berharga yang diperolehnya dari menjalani kehidupan di Arktik.
“Saya menjadi lebih ... mandiri, lebih tangguh. Saya bangga akan hal itu.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.