Menlu AS Rubio bertemu Wang Yi dari China di Kuala Lumpur di tengah ketegangan dagangan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kiri) dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke-58 di Kuala Lumpur, Malaysia pada 10 Juli 2025. (MANDEL NGAN/Pool via REUTERS)
KUALA LUMPUR: Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Kuala Lumpur pada Jumat (11/7), menurut Departemen Luar Negeri, pertemuan tatap muka pertama mereka di tengah memanasnya ketegangan perdagangan antara kedua negara besar tersebut.
Diplomat tertinggi Washington berada di Malaysia dalam kunjungan pertamanya ke Asia sejak menjabat, menghadiri KTT Asia Timur dan Forum Regional ASEAN bersama rekan-rekannya dari Jepang, China, Korea Selatan, Rusia, Australia, India, Uni Eropa, dan negara-negara Asia Tenggara.
Pertemuannya dengan Wang akan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global atas serangan tarif Presiden AS Donald Trump. Pekan ini, China memperingatkan Amerika Serikat agar tidak menerapkan kembali tarif yang tinggi atas barang-barangnya bulan depan.
Beijing juga mengancam akan membalas negara-negara yang membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk memutus rantai pasokan China.
Kunjungan Rubio merupakan bagian dari upaya untuk memperbarui fokus AS pada kawasan Indo-Pasifik dan melihat lebih jauh dari konflik di Timur Tengah dan Eropa yang telah menyita banyak perhatian pemerintahan Trump.
Namun, hal itu telah dibayangi oleh pengumuman minggu ini tentang tarif tinggi AS terhadap banyak negara Asia dan sekutu AS, yang mencakup 25% untuk Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia, 32% untuk Indonesia, 36% untuk Thailand dan Kamboja, serta 40% untuk Myanmar dan Laos.
Para analis mengatakan Rubio akan berupaya untuk menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi mitra yang lebih baik daripada China, saingan strategis utama Washington, selama kunjungan tersebut. Rubio menyampaikan kepada rekan-rekan sejawatnya di Asia Tenggara pada hari Kamis bahwa Indo-Pasifik tetap menjadi titik fokus kebijakan luar negeri AS.
China, yang awalnya menjadi sasaran tarif yang melebihi 100%, memiliki waktu hingga 12 Agustus untuk mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih guna mencegah Trump menerapkan kembali pembatasan impor tambahan yang diberlakukan selama pertukaran tarif balasan pada bulan April dan Mei.
'PERILAKU BULLYING'
Wang dari China telah mengkritik keras Amerika Serikat di Kuala Lumpur dan mengatakan kepada menteri luar negeri Malaysia bahwa tarif AS merupakan "perilaku bullying unilateral yang khas" yang tidak boleh didukung atau disetujui oleh negara mana pun, menurut pernyataan yang dirilis oleh Beijing pada hari Jumat.
Ia mengatakan kepada menteri luar negeri Thailand bahwa tarif telah disalahgunakan dan "merusak sistem perdagangan bebas, serta mengganggu stabilitas produksi dan rantai pasokan global".
Dalam pertemuan dengan mitranya dari Kamboja, ia mengatakan bahwa pungutan AS merupakan upaya untuk merampas hak sah negara-negara Asia Tenggara untuk membangun.
"Kami yakin negara-negara Asia Tenggara memiliki kemampuan untuk mengatasi situasi yang kompleks, berpegang teguh pada prinsip, dan melindungi kepentingan mereka sendiri," ujar Wang, menurut Kementerian Luar Negeri China.
Rubio mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa ia kemungkinan juga akan menyampaikan kepada Wang kekhawatiran AS atas dukungan China terhadap Rusia dalam perang melawan Ukraina.
"China jelas telah mendukung upaya Rusia dan saya pikir secara umum, mereka bersedia membantu semampu mereka tanpa ketahuan," katanya.
Rubio bertemu dengan menteri luar negeri Jepang dan wakil menteri luar negeri pertama Korea Selatan di Malaysia pada hari Jumat, di tengah kekhawatiran tentang tarif.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.