Skip to main content
Iklan

Dunia

'Aku selalu merasa cemas': Mahasiswa Muslim RI di Australia dihantui Islamofobia usai penembakan di Pantai Bondi

Serangan penembakan di Pantai Bondi menimbulkan kecemasan di kalangan mahasiswa Muslim Indonesia, seiring merebaknya vandalisme bernada Islamophobia di masjid di Australia dan disinformasi di media sosial.

'Aku selalu merasa cemas': Mahasiswa Muslim RI di Australia dihantui Islamofobia usai penembakan di Pantai Bondi

Petugas keamanan berjaga di luar Masjid Imam Ali bin Abi Talib di Lakemba saat jamaah datang untuk salat Jumat di Sydney, Australia, 19 Desember 2025. (Foto: REUTERS/Hollie Adams)

JAKARTA: Usai penembakan di Pantai Bondi, Sydney, mahasiswa Muslim Indonesia di Australia, mengaku khawatir akan menguatnya sentimen Islamofobia. Sebagian dari mereka diliputi kecemasan bahwa aksi teror tersebut dapat berdampak pada diri dan keluarga mereka.

Sebanyak 15 orang tewas dalam penembakan pada 14 Desember lalu yang menyasar komunitas Yahudi saat perayaan Hanukkah di Pantai Bondi. Polisi menyatakan pelakunya adalah ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram, yang terinspirasi kelompok militan ISIS.

Di tengah tragedi tersebut, seorang penjual buah Muslim asal Suriah, Ahmed Al-Ahmed, dengan berani melucuti salah satu pelaku meski dirinya turut terluka tembak. Namun, terlepas dari fakta bahwa seorang Muslim berupaya menghentikan serangan, peristiwa itu tetap memicu meningkatnya sentimen Islamofobia di Australia.

Bagi Neti (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Muslim asal Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di University of New South Wales (UNSW), Sydney, dampaknya terasa personal. Kampus utamanya yang berlokasi di Kensington hanya berjarak sekitar 8 km dari Pantai Bondi, atau 10 hingga 20 menit berkendara.

Peristiwa penembakan itu membuat perempuan berhijab ini diliputi kekhawatiran akan menguatnya sentimen Islamofobia.

Meski tempat tinggalnya tidak berada di sekitar Bondi, penembakan tersebut sempat memengaruhi aktivitasnya, terutama terkait anak-anaknya yang bersekolah di Australia. Perempuan 46 tahun ini mengaku sempat takut keluar rumah, terutama saat harus melepas anak-anaknya berangkat sekolah.

"Sempat takut keluar, khawatir ketika melepas anak-anak saya sekolah kemarin. Apalagi kami semua berjilbab dan pergi dengan transportasi publik, sangat mudah teridentifikasi," tuturnya saat dihubungi CNA Indonesia pada 16 Desember lalu, selang dua hari setelah penembakan di Pantai Bondi.

Di tengah rasa cemas tersebut, aktivitas sehari-hari Neti tetap harus berjalan. Anak-anaknya masih menjalani pekan terakhir sekolah, sementara ia sendiri tetap harus datang ke kampus untuk menyelesaikan urusan akademik.

"Sementara ini pekan terakhir anak-anak bersekolah, dan saya juga harus keluar ke kampus. Sampai sempat kepikiran untuk tidak usah (berangkat) ke sekolah, dan cancel appointment clinic kampus. Tapi akhirnya berangkat juga," ujarnya.

Unggahan bernada Islamophobia di media sosial juga menargetkan perempuan Muslim berhijab. (Foto: iStock/imamember)

Kecemasan serupa juga dirasakan oleh Hani Noor Ilahi, 36, mahasiswi Indonesia di University of Western Australia, meskipun lokasinya terpisah jarak sekitar 3.300 km dari Pantai Bondi di Sydney, New South Wales.

Hani mengungkapkan bahwa sejauh ini ia belum pernah mengalami perlakuan buruk secara langsung, terutama karena berada di lingkungan kampus yang majemuk dan multikultural.

Namun, dia merasakan situasi yang berbeda ketika di luar kampus. Ia menuturkan bahwa di area kota, terutama saat pelaksanaan sholat Jumat, masjid-masjid harus dijaga polisi karena meningkatnya tensi terhadap umat Islam.

Penjagaan masjid dilakukan setelah tempat ibadah menjadi sasaran vandalisme usai penembakan di Pantai Bondi. Pada 18 Desember lalu, dinding Masjid Bald Hills di Brisbane dicoreti grafiti bernuansa kebencian terhadap Islam, serta gambar swastika yang merupakan simbol Nazi. Polisi masih memburu pelaku.

Padahal masjid tersebut berada di Queensland, terpaut jarak ratusan kilometer dari Pantai Bondi di New South Wales.

Bagi Hani yang sehari-hari mengenakan hijab, situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. "Buat kami yang nampak identitas agamanya jadi lebih worry ya. Apalagi kalau lagi di luar lingkungan Muslim, selalu saja ada rasa cemas tentang bagaimana mereka melihat kita."

Vandalisme bernada Islamophobia terlihat di dinding Masjid Taqwa Bald Hills di Brisbane, Australia. Aksi vandalisme ini diduga dilakukan pada Kamis, 18 Desember 2025. (Foto: Instagram/@sandgatebisma)

SENTIMEN ISLAMOFOBIA MENGUAT

Kekhawatiran yang dirasakan Neti dan Hani bukan tanpa dasar. Kasus terkait Islamofobia di Australia usai penembakan di Pantai Bondi dilaporkan meningkat.

Islamofobia Register Australia, komunitas pemantau dan pelapor Islamofobia di Australia, menerima 126 laporan insiden kebencian dalam sepekan setelah penembakan, naik 10 kali lipat dibandingkan dua pekan sebelumnya.

Peningkatan serupa juga tercatat secara terpisah oleh Dewan Imam Nasional Australia. Wakil presidennya, Ahmed Abdo, mengungkapkan perempuan Muslim mengalami pelecehan verbal dan menjadi sasaran gestur tangan yang meniru senjata api, seperti dilaporkan The Guardian.

Pada 29 Desember lalu, Dewan Imam Nasional Australia merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa sembilan masjid dan pusat kajian Islam melaporkan tindakan vandalisme atau insiden keamanan serius yang memerlukan keterlibatan polisi.

Beberapa di antaranya adalah coretan grafiti bernuansa kebencian di Sekolah Islam Melbourne, potongan daging babi yang dilemparkan ke area pemakaman Muslim di Narellan, New South Wales, serta insiden perempuan Muslim yang diludahi, dilecehkan, dan diancam di Perth, Western Australia.

Serangkaian serangan yang menargetkan komunitas Muslim ini kian menebarkan rasa takut dan meningkatkan kewaspadaan di kalangan Muslim yang tinggal di Australia.
 

WNI diimbau menghindari sementara lokasi kejadian dan area keramaian usai serangan terorisme di Pantai Bondi dan menguatnya sentimen Islamofobia di Australia. (Foto: iStock/rudi_suardi)

BIBIT ISLAMOFOBIA DI AUSTRALIA

Hanya beberapa jam setelah serangan di Pantai Bondi, unggahan disinformasi bernada Islamofobia meningkat sangat signifikan di media sosial, menurut Australian Associated Press (AAP) Fact Check, anggota terakreditasi dari jaringan pemeriksa fakta internasional.

Salah satu contohnya adalah sebuah video lama yang memperlihatkan sekelompok orang menghadiri aksi protes di Sydney pada Oktober 2023 sambil meneriakkan "Allahu Akbar". 

Video tersebut diambil di luar konteks dan kembali disebarluaskan di media sosial seperti Facebook, Instagram, dan X dalam sepekan setelah penembakan, dengan klaim bahwa peristiwa itu terjadi setelah serangan di Pantai Bondi.

"Itu video lama aksi protes pro-Palestina yang diunggah ulang," ujar Dr. Sara Cheikh Husain, pakar Islamofobia dan penulis buku The Politics of Anti-Islamophobia in Australia: The Case of Muslim Community Organisations yang berbasis di Australia, kepada CNA Indonesia, akhir Desember lalu.

"[Postingan semacam itu] diunggah ulang untuk membingkai Muslim sebagai teroris atau pembenci radikal melalui narasi Islamofobia, seperti jihadis, teroris, radikal, Muslim, laki-laki Muslim yang marah, pendukung Hamas, pengungsi, dan istilah-istilah serupa, dalam adegan yang digambarkan seolah-olah merayakan serangan di Pantai Bondi," ujarnya.
 

Dokumen pengadilan yang dirilis pada 22 Desember 2025 menunjukkan bendera ISIS buatan sendiri ditemukan di dalam kendaraan yang diyakini digunakan oleh pelaku penembakan di Pantai Bondi, Sajid dan Naveed Akram. (Foto: Dok. Kepolisian New South Wales/Handout via REUTERS)

Menurut pengamat terorisme dan intelijen dari Universitas Indonesia, Ridlwan Habib, Islamofobia di Australia bukanlah fenomena baru yang muncul semata-mata akibat serangan di Pantai Bondi. Menurutnya, persoalan ini telah memiliki akar yang panjang dan berkembang sejak lama.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bagian dari konteks yang lebih luas, termasuk keterlibatan sebagian Muslim Australia dalam jaringan ekstremisme global.

Salah satu contohnya adalah Tareq Kamleh, warga negara Australia yang bergabung dengan ISIS di Suriah. Ia sempat muncul dalam video perekrutan ISIS berjudul "Layanan Kesehatan di Negara Islam", yang berisi pesan propaganda untuk bergabung dengan ISIS pada tahun 2015 silam.

Namun, Kepolisian Federal Australia menyebut bahwa kedua pelaku penembakan tidak memiliki keterkaitan dengan sel teroris yang lebih besar, meskipun serangan tersebut disebut terinspirasi oleh ISIS.

Dokumen pengadilan yang dirilis pada 22 Desember 2025 menunjukkan rekaman CCTV yang memperlihatkan Naveed Akram dan ayahnya, Sajid Akram, pelaku serangan penembakan saat perayaan Hanukkah Yahudi di Pantai Bondi pada 14 Desember 2025, membawa barang-barang yang dibungkus dengan selimut saat keluar dari 103 Brighton Avenue, Campsie, New South Wales, Australia. (Foto: Kepolisian NSW/Handout via REUTERS)

TERKAIT SENTIMEN ANTI-PALESTINA?

Ridlwan menekankan bahwa unggahan bernada Islamofobia usai serangan di Pantai Bondi mencakup berbagai isu yang berkaitan dengan Islam dan imigran. "Terutama tentang hijab, kemudian tentang imigran, kemudian tentang isu pengamanan paspor," ujarnya ketika dihubungi CNA Indonesia.

Menurut Sara, narasi "Islam radikal" memberikan dampak yang sangat besar terhadap komunitas Muslim di Australia karena berbagai isu yang berbeda dicampuradukkan dalam satu kerangka ancaman.

"Polanya sejauh ini tetap sama. Yang terjadi kemudian adalah campur-aduk Islamofobia dari tiga narasi saling terkait tentang siapa yang harus disalahkan, yakni tiga kelompok utama yang menjadi sasaran Islamofobia: yaitu Muslim, kelompok pro-Palestina, serta pengungsi dan migran," katanya.

Sara menekankan label ekstremisme tersebut kemudian melebar dan digunakan untuk menyasar spektrum yang lebih luas, termasuk aktivisme dan gerakan pro-Palestina, meskipun tidak memiliki keterkaitan langsung.

Di tengah arus narasi tersebut, keberanian Ahmed Al-Ahmed yang terluka ketika melawan pelaku penembakan menurut Sara seharusnya dapat menjadi kontra-narasi terhadap Islamofobia dan mematahkan generalisasi terhadap Muslim, "jika kita hidup dalam ruang yang logis, apolitis, dan kritis."

Namun, Sara menegaskan bahwa dalam kenyataannya, ruang semacam itu belum sepenuhnya ada. Menurutnya, kisah heroik tersebut tidak menghentikan para pelaku Islamofobia untuk terus menyebarkan misinformasi demi mendemonisasi Muslim.

Kendaraan polisi berpatroli di luar Masjid Imam Ali bin Abi Talib Lakemba saat orang-orang datang untuk salat Jumat, di Sydney, Australia, 19 Desember 2025. (Foto: REUTERS/Hollie Adams)

ISIS BUKAN ISLAM

Guna mencegah terulangnya serangan serupa di kemudian hari, pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh Aceh, Al Chaidar, menyarankan agar pemerintah Australia melakukan pengumpulan basis data terhadap warganya, baik warga negara maupun residen. Langkah tersebut, menurutnya, bertujuan untuk memetakan ideologi.

"[Survei idelogi] semacam itu tidak bisa dilakukan terang-terangan sebenarnya, tapi harus dilakukan secara pelan-pelan," ujar Al Chaidar kepada CNA Indonesia.

"Karena harus ada kategori-kategorinya yang jelas, yang sesuai dengan kategori organisasi atau pelaku terorisme atau afiliasi terorisme yang ada selama ini," lanjutnya.

Menurutnya, menghadapi Islamofobia di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim merupakan tantangan yang sangat besar. "Sebenarnya tidak ada satu pun negara [Barat] yang terbebas dari Islamofobia. Seperti ada benturan antara peradaban Islam dengan peradaban Barat yang terlihat tidak compatible," ujarnya.

"Padahal Islam bisa saja sangat adaptif terhadap semua itu," lanjutnya.

Dalam konteks tersebut, Al-Chaidar menegaskan bahwa pemerintah Australia perlu secara aktif melakukan kampanye yang menegaskan bahwa sosok pahlawan dalam peristiwa tersebut juga berasal dari komunitas Muslim. 

"Pemerintah Australia juga perlu menyebutkan bahwa ISIS itu bukan, tidak mewakili Islam. Harus ada penegasan itu," ujarnya.

Perdana Menteri New South Wales, Chris Minns, saat menjenguk Ahmed al-Ahmed, pedangan buah Muslim asal Suriah yang berani menyergap dan melucuti senjata pelaku penembakan di Pantai Bondi. (Foto: Instagram/@chrisminnsmp)

DUKUNGAN PEMERINTAH DAN KOMUNITAS

Ridlwan menyebut bahwa dukungan komunitas sangat diperlukan untuk meluruskan narasi "Islam radikal" yang marak di media sosial. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan melakukan penguatan kampanye moderasi beragama.

"Di sana kan ada imam-imam Islam moderat. Mereka harus secara lebih aktif mengkampanyekan bahwa Islam itu damai," ujarnya.

Di tengah menguatnya sentimen Islamofobia saat ini, Ridlwan mengatakan mahasiswa Muslim Indonesia di Australia harus terus menjalin komunikasi dengan otoritas setempat. "Harus berkomunikasi dengan otoritas tempat, karena keamanan warga asing itu kan juga menjadi bagian dari tanggung jawab polisi lokal," ujarnya.

Di tengah menguatnya setimen Islamofobia di Australia, WNI di negara itu diimbau untuk menjauhi keramaian atau daerah yang berisiko. (Foto: iStock/f maliki)

Ridlwan juga menekankan pentingnya memperkuat solidaritas internal di antara komunitas Indonesia. "Bersama diaspora, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), kemudian koordinasi dengan KJRI," tuturnya.

Selain itu, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan dalam beraktivitas di ruang publik tertentu. "Menghindari tempat-tempat publik yang tidak aman, khawatirnya ada retaliasi atau pembalasan dendam secara brutal, terutama bagi mahasiswi yang identitas [agamanya] jelas dengan menggunakan hijab," ujarnya.

Neti dan Hani mengaku selalu memerhatikan imbauan dari pemerintah, baik pemerintah Australia maupun Indonesia, menyusul serangan di Pantai Bondi.

KJRI Sydney sendiri di akun media sosial Instagram sudah mengunggah imbauan kepada seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Sydney agar tetap tenang sembari meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian menyusul serangan penembakan di Pantai Bondi.

Hani mengungkapkan ia mendapat email imbauan keamanan dan dukungan dari universitasnya tak lama setelah aksi serangan di Pantai Bondi terjadi. Email yang dikirim kepada seluruh mahasiswa kampusnya itu berisi informasi kontak yang dapat dihubungi oleh mahasiswa yang mungkin terdampak dari serangan ini.

Selain dari kampusnya, Neti juga mengungkapkan bahwa imbauan keamanan serupa datang dari sejumlah komunitas keagamaan, seperti Mission of Hope, yang disebarkan secara informal melalui WhatsApp untuk memberikan dukungan kepada siapa pun yang terdampak.

"Ya, di kampus ada dukungannya, begitu juga dengan komunitas-komunitas terdekat," katanya.

Neti berharap kondisi kembali aman dan ia dapat melanjutkan studinya dengan rasa aman tengah masyarakat multikultural Australia.

"Semoga kita saling menjaga agar tetap aman dan damai semuanya. Kesan pertama saya [datang] ke Australia adalah berbagai komunitas multikultural hidup berdampingan, dan semoga selalu seperti itu."

Harapan serupa juga diungkapkan Hani. "Semoga orang-orang yang memiliki identitas yang terlihat, misalnya mereka yang berjilbab, mereka yang memakai sorban atau turban, atau memakai pakaian yang mencirikan identitas agama suku ras tertentu, mereka merasa aman untuk mengekspresikan apa yang menjadi bagian dari identitasnya," kata Hani.

Menurutnya, rasa aman tersebut dapat membuka ruang untuk saling mengenal dan memahami."Dan dengan itu kayaknya kita bisa lebih mengenal satu sama lain dan memahami bahwa kita tidak bisa mengeneralisasikan satu identitas tertentu dengan karakteristik tertentu," pungkasnya.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan