Kesaksian WNI di Damaskus: Sempat buat wasiat karena takut, ternyata berujung bahagia
Terdapat lebih dari 1.000 WNI di Suriah ketika pasukan pemberontak berhasil merebut kota Damaskus dari Bashar al-Assad pada Minggu (8/12), mengakhiri konflik berdarah selama lebih dari 13 tahun.
Pemandangan kota Damaskus pada pagi hari setelah pemberontak merebut ibu kota dan menggulingkan Presiden Bashar al-Assad di Damaskus, Suriah, 9 Desember 2024. Foto: Reuters/Amr Abdallah Dalsh)
JAKARTA: Situasi pada Sabtu malam (7/12) lalu di Damaskus, Suriah, mencekam lantaran muncul kabar pasukan pemberontak akan segera masuk dan menyerbu ibu kota. Seluruh warga kota, termasuk warga negara Indonesia (WNI) di Damaskus menutup rapat-rapat pintu dan jendela, tak terkecuali Tubagus Muhammad.
"Tiba-tiba internet malam itu putus, jadi kami tidak tahu kabar dari luar," kata mahasiswa Indonesia berusia 22 tahun ini kepada CNA.
Tubagus lantas pergi tidur di kamar kosannya di distrik Rukan al-Din, terletak sekitar 10 menit dari Istana Presiden Assad di pusat kota. Tiba-tiba pada pukul 2 dini hari, Minggu (8/12), dia dibuat terjaga oleh suara rentetan tembakan. Suasana ketika itu berubah menjadi mencekam.
"Suara tembakan di mana-mana, saya pikir sedang ada baku tembak. Suara takbir Allahu Akbar juga terdengar. Itu mungkin adalah malam paling mencekam buat saya," kata mahasiswa fakultas Ushuluddin di Universitas Bilad al-Syam ini.
"Saya bahkan sempat membuat video wasiat, kalau-kalau itu malam terakhir saya," lanjut dia.
Ketika internet menyala kembali sekitar pukul 5 pagi, Tubagus menyadari bahkan suara itu bukanlah baku tembak, melainkan tembakan ke udara sebagai bentuk perayaan.
"Mereka ternyata celebrate, merayakan bahwa rezim telah runtuh," kata Tubagus.
Pada Minggu itu, pasukan pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pimpinan Abu Mohammed al-Golani berhasil menguasai Damaskus tanpa ada perlawanan dari militer. Assad kabur ke luar negeri, dilaporkan telah menerima suaka di Rusia.
Kaburnya Assad menandai awal dari berakhirnya konflik berdarah yang telah berlangsung lebih dari 13 tahun di Suriah, menewaskan lebih dari 580 ribu orang dan membuat 12 juta orang mengungsi. Perkembangan ini disambut gembira oleh rakyat Suriah yang turun ke jalan-jalan merayakan kebebasan dari cengkeraman rezim.
Atmosfer kegembiraan ini dirasakan oleh Wahyudi, mahasiswa Indonesia lainnya di Damaskus. Selepas salat subuh pada Minggu itu, kata Wahyudi, masyarakat Damaskus keluar rumah seraya mengumandangkan takbir.
"Suasananya lebih meriah dari pada Lebaran. Tidak menakutkan sama sekali. Suara tembakan ke udara terdengar, bentuk perayaan," kata Wahyudi kepada CNA.
Tidak hanya di Damaskus, runtuhnya rezim Assad juga dirayakan rakyat di seluruh Suriah. Bahkan, perayaan juga dilakukan oleh warga Suriah yang mengungsi di seluruh dunia.
"Mereka seolah merasakan terlepas dari penjara setelah Assad turun," ujar Wahyudi yang juga mahasiswa Universitas Bilad al-Syam ini.
Tubagus mengatakan teman-temannya yang warga Suriah terlihat membagikan kegembiraan di media sosial. Dia mengaku baru tahu bahwa teman-temannya itu ternyata tidak menyukai Assad, selama ini mereka menahan diri karena takut.
"Kami banyak yang tidak mengira (mereka tidak suka Assad). Setelah itu mereka upload story yang lumayan berani tentang Assad," ujar Tubagus.
PERINGATAN DARI BEBERAPA HARI SEBELUMNYA
Sebelum menguasai Damaskus, berbagai media menyebutkan pasukan pemberontak telah menguasai kota-kota di sekitarnya, seperti Aleppo, Hama dan Homs. Setelah kota-kota itu direbut, Damaskus tinggal sejangkauan tangan para pemberontak.
Peringatan situasi bahaya telah disampaikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus kepada seluruh WNI di Suriah beberapa hari sebelum direbutnya ibu kota. Catatan KBRI, ada 1.162 WNI yang tersebar di Suriah, terbanyak di Damaskus. Mahasiswa Indonesia di kota itu berjumlah sekitar 200 orang.
Pada Sabtu (7/12), KBRI telah menetapkan Siaga 1 dan membuat langkah kontingensi, termasuk evakuasi.
Wahyudi mengatakan pekan ini perkuliahan dan sekolah diliburkan sampai situasi tenang. Mahasiswa yang tinggal di asrama pada Sabtu lalu juga dilarang keluar pada malam hari. Namun ternyata kondisinya jauh dari yang ditakutkan.
"Jam 5 (pada Minggu) saya terbangun, ada suara ribut-ribut, tapi tidak ada kericuhan," kata mahasiswa asal Padang Sidempuan, Sumatra Utara, ini.
"Mereka (pemberontak) walau datang dengan senjata, tapi tidak menyerang warga, hanya fokus ke tempat-tempat militer," lanjut dia.
Kondisi panik sempat terjadi pada Sabtu malam, sehari sebelum Damaskus direbut. "Saya pulang ke rumah lewat pasar, terjadi panic buying. Warga membeli semua yang bisa dibeli, karena khawatir akan ada baku tembak," ujar Tubagus.
Judha Nugraha, Direktur Perlindungan WNI di Kementerian Luar Negeri, mengatakan pada Minggu siang bahwa kondisi ketika itu masih dinamis meski pertempuran sudah mereda.
"Situasi keamanan masih sangat dinamis. Terdapat beberapa ledakan besar di sekitar kota Damaskus yang berasal dari serangan udara yang diduga dilakukan Israel. Terdapat pula peluru nyasar yang mengenai atap gedung KBRI tembus hingga ruang rapat, namun tidak ada WNI yang terluka," kata Judha.
Pada Senin, sehari setelah direbutnya Damaskus, toko-toko masih belum buka sehingga sulit bagi warga membeli bahan makanan.
Tubagus dan para mahasiswa dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) membagikan makanan kepada WNI yang membutuhkan bantuan. Toko-toko baru buka kembali pada Selasa (10/12) dan kondisi berangsur kondusif, masyarakat juga beraktivitas seperti biasa.
"Menurut saya ini adalah transisi pemerintahan paling damai dalam sejarah, saya tidak mengira," kata Tubagus.
"Saya bangga bisa menyaksikan langsung sejarah besar ini."
'KAMI BAIK-BAIK SAJA'
Tubagus dan Wahyudi telah empat tahun berkuliah dengan beasiswa penuh di Damaskus, dan di tahun ini mereka berharap bisa lulus.
Konflik di Suriah yang telah berlangsung sejak 2011 tidak menyurutkan niat mereka berkuliah di negara itu pada 2021. Tubagus mengaku awalnya ditentang orangtua ketika memutuskan kuliah di Damaskus, tapi dia sudah melakukan riset dan memastikan kota itu aman.
"Kenapa pilih Suriah, saya ingin belajar agama dan mendapatkan berkah. Karena Nabi bilang 'berkahilah tanah Syam (Suriah) dan Yaman'," kata Tubagus.
Wahyudi senada dengan mengatakan bahwa studi keislaman di Suriah sangat bagus dengan banyak ulama yang mendiami negara ini. "Di kota ini ulama sangat-sangat banyak, tidak kalah dari Mesir," kata Wahyudi.
Selain itu, mereka mengakui bahwa Damaskus adalah kota yang sangat indah. "Indah banget, Eropa-nya Timur Tengah. Di sini kental dengan tempat-tempat bersejarah, banyak makam sahabat (Nabi) dan para ulama," ujar Tubagus.
Setelah konflik berakhir dan transisi pemerintahan berlangsung sepenuhnya, sebagai warga asing, mereka berharap Suriah akan lebih damai lagi dan semakin banyak didatangi orang.
"Kami turut senang kalau warga Suriah senang. Semoga Suriah maju ke arah yang lebih positif," kata Tubagus.
Sementara Wahyudi menyampaikan kepada keluarga di Indonesia agar tidak khawatir: "Kami semua baik-baik saja. Insyaallah ke depannya bakal lebih baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk masa sekarang".