Skip to main content
Iklan

Dunia

Siapa Paus berikutnya? Dari Asia hingga Afrika, 9 kardinal diprediksi jadi penerus Paus Fransiskus

Dari moderat hingga konservatif, 9 calon paus ini memiliki pandangan berbeda tentang isu-isu sensitif, termasuk soal LGBTQ+ dan imigran. Siapa yang akan mencetak sejarah berikutnya sebagai pemimpin umat Katolik sedunia?

Siapa Paus berikutnya? Dari Asia hingga Afrika, 9 kardinal diprediksi jadi penerus Paus Fransiskus

Kardinal Peter Turkson dalam salah satu unggahan di media sosial. (Foto: Instagram/@cardinalpeterturkson)

23 Apr 2025 10:57AM (Diperbarui: 23 Apr 2025 11:14AM)

JAKARTA: Wafatnya Paus Fransiskus pada Senin (21/4) mulai memicu spekulasi mengenai siapa yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan umat Katolik sedunia.

Sebanyak sembilan kardinal kini mulai mencuri perhatian publik dan dinilai sebagai kandidat kuat pengganti Paus Fransiskus

Jika terpilih, beberapa dari mereka berpotensi mencatatkan sejarah baru karena berasal dari wilayah Asia hingga Afrika. Siapa saja mereka?

1. Pietro Parolin, 70 tahun, Italia

Kardinal Pietro Parolin memimpin Misa Kudus untuk memperingati 20 tahun wafatnya Paus Yohanes Paulus II di Basilika Santo Petrus, di Vatikan, 2 April 2025. (Foto: REUTERS/Yara Nardi)

Parolin dikenal sebagai kandidat moderat dan dijuluki sebagai "sosok penerus" karena kedekatannya dengan Paus Fransiskus, menurut The Guardian. 

Ia menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan sejak 2013, memainkan peran penting dalam urusan diplomatik, termasuk negosiasi sensitif dengan Tiongkok dan negara-negara di Timur Tengah. 

Parolin juga dihormati sebagai perwakilan Paus yang tepercaya oleh diplomat-diplomat sekuler.

Ia juga tercatat sebagai tokoh penggerak utama dalam kesepakatan kontroversial dengan pemerintah Tiongkok pada 2018 mengenai penunjukan uskup. Namun, banyak yang menganggap gebrakannya ini merupakan bentuk kompromi terhadap rezim komunis. 

Bagi para pengkritiknya, Parolin  dinilai terlalu modernis dan pragmatis, srta lebih mementingkan ideologi dan solusi diplomatik ketimbang prinsip iman. 

Namun bagi para pendukungnya, Parolin adalah sosok idealis pemberani dan pendukung perdamaian sejati.

2. Luis Antonio Tagle, 67 tahun, Filipina

Kardinal Luis Antonio Tagle mencium salib selama kebaktian Jumat Agung Sengsara Tuhan di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 18 April 2025. (Foto: REUTERS/Yara Nardi)

Jika terpilih, maka mantan Uskup Agung Manila ini bisa menorehkan sejarah sebagai Sri Paus pertama dari benua Asia. 

Ia sempat digadang-gadang sebagai penerus pilihan Paus Fransiskus dan kandidat kuat untuk melanjutkan agenda progresifnya. 

Namun akhir-akhir ini, posisinya tampak meredup. Tagle pernah menyatakan bahwa sikap Gereja Katolik terhadap pasangan gay dan pasangan yang bercerai terlalu keras, meskipun ia tetap menolak hak aborsi di Filipina.

Menurut laporan Reuters, dari tahun 2015 hingga 2022, Tagle merupakan pemimpin tertinggi Caritas Internationalis, sebuah konfederasi yang beranggotakan lebih dari 160 organisasi bantuan, pelayanan sosial, dan pengembangan Katolik di seluruh dunia

Namun, Paus Fransiskus memecat seluruh jajaran pimpinan konfederasi ini pada tahun 2022, menyusul tuduhan perundungan dan penghinaan terhadap para karyawan, dan menunjuk seorang komisaris untuk menjalankannya.

Tagle, yang juga dicopot dari jabatannya, tetap menjabat sebagai presiden tetapi tidak terlibat dalam operasinal konfederasi sehari-hari. 

3. Peter Turkson, 76 tahun, Ghana

Kardinal Peter Turkson dalam salah satu unggahan di media sosial. (Foto: Instagram/@cardinalpeterturkson)

Jika terpilih sebagai paus berikutnya, Turkson akan menjadi paus kulit hitam pertama dalam beberapa abad terakhir. 

Ia dikenal vokal terhadap isu-isu seperti krisis iklim, kemiskinan, dan keadilan ekonomi, sambil tetap memegang teguh ajaran tradisional Gereja tentang imamat, pernikahan heteroseksual, dan homoseksualitas. 

Meski begitu, pandangannya terkait beberasa isu tersebut belakangan mulai melunak. Ia menilai bahwa sejumlah hukum di berbagai negara Afrika terkait isu-isu sensitif tersebut terlalu keras. 

Turkson juga lantang menyoroti isu korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia.

4. Péter Erdő, 72 tahun, Hungaria

Kardinal Peter Erdo ketika akan memasuki kendaraan di Vatikan, Roma, Italia, 22 April 2025. (Foto: REUTERS/Mohammed Salem)

Sebagai kandidat utama dari pihak konservatif, ErdÅ‘ merupakan pendukung kuat ajaran dan doktrin Katolik tradisional. 

Jika terpilih, ia akan menjadi simbol pergeseran besar Gereja Katolikdari pendekatan Paus Fransiskus. 

ErdÅ‘ dikenal sebagai intelektual ulung dan sosok berbudaya tinggi. Mendiang Kardinal George Pell pernah menganggapnya sebagai pilihan tepat untuk mengembalikan supremasi hukum di Vatikan pasca-Fransiskus. 

Pada 2015, Erdő mengaku sempat selaras dengan pandangan nasionalis Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán. Ia menolak seruan Fransiskus yang meminta gereja membuka pintu bagi para migran.

5. Matteo Zuppi, 69 tahun, Italia

Presiden Konferensi Waligereja Italia Kardinal Matteo Zuppi menghadiri pertemuan sinode kedua di Aula Paulus VI di Vatikan, 31 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Guglielmo Mangiapane)

Zuppi diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus pada 2019. Ia dianggap berada di kubu progresif Gereja, dan diyakini akan melanjutkan warisan kebijakan Paus Fransiskus, terutama dalam kepedulian terhadap kaum miskin dan terpinggirkan.

Dalam isu hubungan sesama jenis, Zuppi tergolong liberal. Dua tahun lalu, Paus Fransiskus menunjuknya sebagai utusan perdamaian Vatikan untuk konflik Ukraina, hingga ia berkunjung ke Moskow guna "mendorong aksi kemanusiaan". 

Di sana, ia bertemu Patriark Kirill — pemimpin Gereja Ortodoks Rusia sekaligus sekutu Vladimir Putin — serta Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

6. José Tolentino Calaça de Mendonça, 59 tahun, Portugal

Kardinal José Tolentino Calaça de Mendonça dalam salah satu unggahan di media sosial. (Foto: Instagram/@comodissetolentino)

Sebagai kandidat termuda, usia muda Tolentino bisa menjadi hambatan — para kardinal ambisius mungkin enggan menunggu 20 atau 30 tahun lagi untuk kesempatan berikutnya. 

Tolentino juga memicu kontroversi karena dianggap bersimpati dengan pandangan toleran terhadap hubungan sesama jenis dan dekat dengan biarawati Benediktin feminis yang mendukung penahbisan perempuan serta pro-pilihan (pro-choice). 

Ia dikenal dekat dengan Paus Fransiskus dan berpendapat bahwa Gereja harus terlibat aktif dengan budaya modern.

7. Mario Grech, 68 tahun, Malta

Kardinal Mario Grech (tengah) saat mengisi acara di Sekolah Teologi Jesuit Universitas Santa Clara. (Foto: Instagram/@jstscu)

Awalnya dianggap sebagai sosok tradisional, Grech mulai mengadopsi pandangan yang lebih progresif setelah terpilihnya Paus Fransiskus pada 2013. 

Para pendukungnya menilai perubahan ini sebagai bukti kapasitasnya untuk bertumbuh dan berubah. 

Ia pernah mengkritik para pemimpin politik Eropa yang mencoba membatasi aktivitas LSM dan menyatakan dukungan bagi diakon perempuan.

8. Pierbattista Pizzaballa, 60 tahun, Italia

Uskup Agung Yerusalem Pierbattista Pizzaballa memberi isyarat pada hari Misa Minggu Paskah di Gereja Makam Kudus di Kota Tua Yerusalem, 20 April 2025. (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)

Sejak 2020, Pizzaballa menjabat sebagai Patriark Latin Yerusalem, posisi penting dalam membela minoritas Kristen di Tanah Suci.

Usai serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, Pizzaballa menawarkan dirinya sebagai sandera demi pembebasan anak-anak yang ditahan di Gaza. Ia juga sempat mengunjungi Gaza pada Mei 2024 setelah negosiasi panjang. 

Meskipun ia kemungkinan akan melanjutkan sebagian aspek kepemimpinan Paus Fransiskus, Pizzaballa jarang memberikan pernyataan publik tentang isu-isu kontroversial.

9. Robert Sarah, 79 tahun, Guinea

Kardinal Robert Sarah dalam salah satu unggahan di media sosial. (Foto: Instagram/@cardinalrobertsarah)

Sarah merupakan kardinal tradisionalis yang pernah dianggap mencoba menyaingi otoritas Paus Fransiskus. 

Pada 2020, ia menulis buku bersama Paus Benediktus (saat itu sudah pensiun) yang membela selibat klerus — yang dianggap sebagai bentuk penantangan terhadap Paus Fransiskus. 

Ia mengecam "ideologi gender" sebagai ancaman terhadap masyarakat, serta berbicara lantang menentang fundamentalisme Islam. 

Sama seperti Turkson, jika terpilih maka Sarah juga bisa menorehkan sejarah sebagai paus kulit hitam pertama dalam beberapa abad terakhir.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan