AS-Iran capai kesepakatan awal akhiri perang, penandatanganan dijadwalkan Jumat
Dalam unggahan di media sosial, Donald Trump mengatakan, selat tersebut akan dibuka kembali tanpa pungutan biaya dan blokade laut AS juga akan diakhiri.
Presiden AS Donald Trump sedang menyampaikan pidato di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, D.C., pada 11 Juni 2026. (Foto arsip: Reuters/Daniel Heuer)
DUBAI: Pejabat Amerika Serikat dan Iran pada Minggu (14/6) mengatakan, mereka telah menyepakati kerangka kerja untuk mengakhiri perang, menghentikan blokade AS terhadap Iran, dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, nasib program nuklir Iran masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan. Kesepakatan awal ini langsung menekan harga minyak dunia.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah rampung,” tulis Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social sekitar pukul 17.30 waktu setempat di Washington pada Minggu.
Unggahan tersebut muncul tak lama setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang negaranya berperan sebagai mediator, mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai pada Senin dini hari waktu setempat.
Nota kesepahaman itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi pada Jumat (19/6) di Swiss.
Rincian pasti kesepakatan tersebut belum diketahui. Dalam unggahan di platform X, Sharif mengatakan, pakta itu menyerukan “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon”.
Lebanon menjadi salah satu titik krusial dalam negosiasi, setelah Israel dan Hizbullah mengabaikan seruan Trump dan pihak lain untuk menghentikan serangan mereka dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam pernyataannya, Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyampaikan, perang dan operasi militer di semua front, termasuk Lebanon, akan berakhir secara permanen mulai Senin malam.
Belum ada tanggapan langsung dari Israel, yang sebelumnya menyatakan bukan bagian dari perundingan AS-Iran.
SELAT HORMUZ AKAN DIBUKA KEMBALI
Trump mengatakan, Selat Hormuz, jalur pelayaran utama bagi pasokan minyak dan gas dunia yang secara efektif telah ditutup Iran selama berbulan-bulan, akan dibuka kembali pada Jumat. Ia juga menyatakan telah memerintahkan penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak mengalir!” tulis Trump.
Harga minyak langsung turun setelah pengumuman tersebut. Kontrak berjangka Brent merosot 4 persen pada awal perdagangan Senin, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun lebih dari 4,6 persen. Pasar saham Asia juga menguat.
Mantan juru bicara Departemen Luar Negeri AS pada era Presiden Joe Biden, Matthew Miller, mengatakan, Trump telah memberikan konsesi penting kepada Iran demi mengembalikan situasi seperti sebelum perang dimulai.
“Kita tidak memiliki jaminan bahwa program nuklir Iran akan benar-benar ditangani, tetapi Iran telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka dapat menyandera ekonomi global dan memperoleh sesuatu dari AS sebagai imbalannya,” tutur Miller.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menuturkan, kesepakatan yang lebih luas akan dirundingkan selama masa gencatan senjata 60 hari, termasuk terkait pelonggaran sanksi terhadap Iran.
Nasib program nuklir Iran, yang juga menjadi isu pelik, akan dibahas dalam perundingan lanjutan tersebut, menurut sumber yang sebelumnya berbicara kepada Reuters.
Ribuan orang, sebagian besar di Iran dan Lebanon, telah tewas sejak pasukan AS dan Israel pertama kali menyerang Iran pada 28 Februari. Iran kemudian menyerang Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS serta secara efektif memblokade Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga energi global. Sebagai balasan, pasukan AS memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perang dengan Iran juga menjadi beban politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilu sela November, karena survei menunjukkan warga AS semakin frustrasi akibat kenaikan harga bahan bakar. Namun, Trump juga menghadapi tekanan dari sebagian anggota partainya yang menuntut agar program nuklir Iran dihentikan sepenuhnya.
Senator Partai Republik Lindsey Graham, yang dikenal sebagai pendukung garis keras terhadap Iran, memuji kesepakatan tersebut tetapi mengatakan ia akan “mengawasi dengan saksama” negosiasi terkait program nuklir Iran.
“Berdasarkan hukum kami, setiap kesepakatan nuklir dengan Iran harus diajukan ke Kongres untuk ditinjau dan diputuskan melalui pemungutan suara,” katanya. “Selamat kepada semua pihak yang telah membawa kita sampai pada tahap ini.”
Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS keluar dari perjanjian multilateral Iran tahun 2015 yang dinegosiasikan Presiden Demokrat Barack Obama. Kesepakatan itu mencabut sanksi terhadap Teheran sebagai imbalan atas pembatasan program nuklir Iran, termasuk inspeksi internasional.
Iran kemudian meningkatkan pengayaan uranium dan menghasilkan lebih dari 400 kilogram material dengan tingkat kemurnian yang mendekati standar senjata nuklir. Nasib uranium tersebut diperkirakan menjadi salah satu poin utama dalam perundingan mendatang.
TRUMP SEBUT NETANYAHU “SOSOK YANG SANGAT SULIT”
Kesepakatan ini tercapai meskipun Israel melancarkan serangan ke Lebanon pada Minggu, yang memicu kritik dari Iran maupun Trump.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbeda pandangan dengan Trump terkait tuntutan AS agar Israel membatasi operasi militernya di Lebanon guna memberi ruang bagi Washington mencapai kesepakatan dengan Iran.
Israel menyatakan akan tetap mempertahankan kebebasan operasi militernya di Lebanon, sementara Iran menjadikan gencatan senjata penuh di negara itu sebagai salah satu tuntutan utama.
Trump memperbarui Netanyahu soal perkembangan menuju kesepakatan damai dalam percakapan telepon pada Minggu, menurut laporan N12 Israel yang mengutip seorang pejabat senior.
Dalam wawancara dengan The New York Times, Trump menyebut Netanyahu sebagai “sosok yang sangat sulit” dan berpendapat bahwa pemimpin Israel itu seharusnya berterima kasih kepadanya karena telah menyelamatkan Israel dari ancaman Iran yang memiliki senjata nuklir.
Para pemimpin di luar Timur Tengah, yang terus mencermati konflik tersebut, menyambut baik pengumuman kesepakatan itu.
Dalam pernyataan bersama, Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia menyatakan, mereka siap mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas “langkah-langkah yang jelas dan dapat diverifikasi” untuk membatasi program nuklirnya.
“Kami menegaskan bahwa kebebasan navigasi tanpa pungutan biaya harus segera dipulihkan di Selat Hormuz,” kata Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Sebelum kesepakatan diumumkan, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa berdasarkan rancangan kesepakatan tersebut, AS akan menyetujui pencairan aset Iran yang dibekukan senilai US$25 miliar.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan bahwa pencairan dana Iran hanya akan dilakukan setelah Teheran memenuhi syarat-syarat tertentu dalam perjanjian damai.
Seorang pejabat AS, yang juga berbicara sebelum pengumuman resmi, mengatakan kesepakatan itu pada akhirnya akan mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran, termasuk penghancuran dan pemindahan stok uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi.
Namun, seorang pejabat senior Iran mengatakan, rancangan kesepakatan tersebut akan memungkinkan Iran — yang membantah berupaya mengembangkan bom nuklir — untuk mengencerkan uranium yang telah diperkaya di dalam negeri.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.