Ilmuwan ramalkan India-Pakistan perang nuklir di 2025, tewaskan 125 juta orang, dunia menderita
India dan Pakistan tengah saling serang setelah aksi terorisme terjadi di Kashmir. Para peneliti pada 2019 lalu telah meramalkan skenario perang nuklir yang terjadi pada 2025.
Tentara Angkatan Darat Pakistan memberi hormat saat berdiri di atas sistem rudal pertahanan udara pada parade militer Hari Kemerdekaan Pakistan di Islamabad, Pakistan, pada 23 Maret 2022. (REUTERS/Saiyna Bashir)
Ketegangan tengah terjadi antara India dan Pakistan ketika kedua negara saling serang buntut dari aksi terorisme di Kashmir yang menewaskan puluhan orang. Jika ketegangan terus meningkat, muncul kekhawatiran akan terjadi perang besar di antara kedua negara pemilik senjata nuklir ini.
Kekhawatiran ini telah disampaikan oleh para peneliti lingkungan dan nuklir sejak lama. Pada 2019, para ilmuwan menerbitkan hasil penelitian berjudul "Bagaimana perang nuklir India-Pakistan bisa terjadi-dan apa konsekuensi globalnya" di Bulletin of the Atomic Scientist.
Dalam skenario yang ditulis oleh tim ilmuwan lintas bidang seperti ahli iklim, fisika nuklir, dan keamanan internasional ini, perang nuklir antara India dan Pakistan bisa terjadi pada 2025, yaitu tahun ini.
Mengapa tahun 2025? Ini alasannya: "Skenario yang digambarkan di sini, asumsi kami, akan terjadi di tahun 2025, di saat kedua negara masing-masing sudah memiliki 250 senjata nuklir. Pada akhirnya, Pakistan akan menggunakan seluruh senjata itu, sementara India akan menyisakan 100 untuk bertahan dari serangan China, alasan pertama mengapa India memutuskan membuat senjata nuklir".
Dalam skenario pada penelitian para ilmuwan tersebut, pada 2025 akan terjadi serangan teroris di India yang memicu perang kedua negara, menewaskan banyak pejabat tinggi negara. Karena banyak pemimpin mereka yang tewas, tentara India mengambil keputusan sendiri dengan melintasi perbatasan menggunakan tank dan juga melewati Line of Control di Kashmir.
"Para jenderal Pakistan panik dan memutuskan bahwa satu-satunya cara dapat memukul mundur invasi pasukan India yang lebih unggul adalah dengan senjata nuklir," tulis skenario dalam penelitian para ilmuwan itu.
Lantas terjadilah perang nuklir selama enam hari yang mengubah wajah dunia.
SKENARIO PERANG NUKLIR ENAM HARI
Para ilmuwan kemudian memberikan skenario perang nuklir selama enam hari antara India dan Pakistan. Berikut adalah skenarionya:
Di hari pertama, Pakistan akan menembakkan 10 bom nuklir berkekuatan 5 kiloton, atau setengah dari kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, pada Perang Dunia II. Bom ini akan dijatuhkan Pakistan di wilayahnya sendiri secara terukur untuk meluluhlantakkan tank-tank India.
Di hari kedua, Pakistan meluncurkan lagi 15 bom nuklir taktis. India kemudian membalas dengan menembakkan 20 bom nuklir strategis terhadap instalasi militer Pakistan (2 di Bahawalpur, 18 di bandara dan depot senjata nuklir), menyebabkan kerusakan besar, asap membubung ke udara seperti yang terjadi di Hiroshima pada 1945
Di hari ketiga, Pakistan meluncurkan 45 bom nuklir strategis ke garnisun militer di kota-kota India dan pangkalan angkatan laut serta udara. India membalas dengan 10 bom nuklir ke pangkalan darat, udara dan laut Pakistan. Karena serangan ini kebanyakan terjadi di perkotaan, kehancurannya luar biasa, perang sudah tidak bisa lagi dihentikan.
Di hari keempat sampai keenam, Pakistan menghabiskan seluruh 120 bom nuklir mereka yang tersisa untuk meratakan kota-kota di India. Serangan itu dibalas dengan tembakan 70 bom nuklir oleh India ke Pakistan. India masih menyimpan 100 bom nuklir lagi, untuk jaga-jaga jikalau China menyerang mereka.
KEHANCURAN BESAR DI DUNIA
Para ilmuwan mengatakan perang nuklir kedua negara dalam skenario itu akan menewaskan antara 50 hingga 125 juta orang di kedua belah pihak.
Dampaknya terhadap kehidupan warga yang selamat juga akan sangat panjang, penderitaan sudah di depan mata. Pasalnya, kota-kota besar India dan Pakistan hancur lebur tidak bisa lagi ditinggali.
"Jutaan orang terluka butuh perawatan, kerusakan berdampak pada infrastruktur kelistrikan, transportasi dan finansial," tulis para ilmuwan.
Dampak terhadap lingkungan adalah yang terparah, dirasakan masyarakat di seluruh dunia.
Berdasarkan skenario tersebut, perang nuklir India-Pakistan akan melepaskan asap karbon akibat bom atom ke atmosfer terluar bumi hingga 16,1 teragram.
"Asap itu akan dipanaskan oleh sinar matahari dan terangkat tinggi ke stratosfer, bisa bertahan selama bertahun-tahun karena tidak ada hujan di stratosfer," kata peneliti.
Panas dan sinar matahari yang terhalang asap di stratosfer akan memicu musim dingin nuklir selama bertahun-tahun. Suhu udara akan turun, hujan berkurang, dan kondisi bumi lebih gelap.
"Musim dingin nuklir akan menghentikan pertanian di seluruh dunia, mengakibatkan kelaparan bagi miliaran orang," tulis penelitian.
PERLUCUTAN SENJATA NUKLIR JADI SOLUSINYA
Apa yang disampaikan para ilmuwan dalam penelitian mereka memang masih merupakan asumsi dan skenario, namun disampaikan dengan dasar-dasar sains sesuai dengan bidang keilmuan masing-masing.
Mereka mengatakan kehancuran yang terjadi dalam skenario di atas jadi bukti bahwa bom nuklir bukan lagi alat untuk menghentikan perang, seperti pada Perang Dunia II ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki.
Keyakinan mempersenjatai negara-negara dengan bom atom demi menciptakan perdamaian, papar para ilmuwan, adalah sebuah "kebodohan".
Di abad ke-21, kata mereka, satu-satunya cara yang aman dalam mengakhiri pertikaian antara negara adalah melalui "negosiasi dan resolusi konflik". Oleh karena itu, upaya perlucutan senjata nuklir harus didukung.
Upaya perlucutan senjata nuklir juga mengalami momentum positif dengan diratifikasi oleh 32 negara di bawah Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir PBB. Sayangnya, sembilan negara pemilik senjata nuklir malah terus mengembangkan teknologi mereka ini.
"Proliferasi nuklir belum berhenti, dan negara-negara lain mempertimbangkan untuk mengembangkan senjata nuklir juga. Di tengah kondisi ini, serta dengan dasar sains yang kami pahami, kami mendukung tindakan tegas untuk membatasi dan menghapuskan senjata nuklir demi menjamin perdamaian," pungkas para ilmuwan.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.