Skip to main content
Iklan

Dunia

‘Sudah Cukup’: Ambisi Trump atas Greenland membuat migran Asia Tenggara cemas

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya mengambil alih kendali atas Greenland, komunitas migran Asia Tenggara yang terus berkembang di pulau itu menghadapi ketidakpastian. Dalam bagian pertama seri ini, CNA melihat bagaimana para migran Filipina dan Thailand menyikapi situasi tersebut.

‘Sudah Cukup’: Ambisi Trump atas Greenland membuat migran Asia Tenggara cemas

GP Dupitas, warga Filipina, berpose bersama seekor rusa kutub hasil buruan di Nuuk, ibukota Greenland, pada Juni 2026. (Foto: CNA/Jack Board)

NUUK, Greenland: Pada Januari, di tengah musim dingin yang pekat, GP Dupitas kerap menatap langit gelap, seolah menunggu munculnya siluet pesawat militer di ketinggian.

Saat matahari nyaris tidak terbit di atas cakrawala, Greenland berada dalam kondisi tegang.

Dupitas, 42, seorang perawat asal Filipina yang bekerja di rumah sakit di ibu kota Nuuk, juga merasa cemas. Ia telah menjadikan Greenland sebagai rumahnya selama lebih dari satu dekade. Namun tiba-tiba, tempat itu tak lagi terasa seaman seperti sebelumnya.

“Semua orang melihat ke atas untuk memastikan apakah ada Hercules [pesawat] yang datang. Rasanya seperti kami sedang mengalami invasi,” kenang Dupitas.

Setelah kembali berkuasa untuk masa jabatan kedua pada Januari 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan bahwa Greenland seharusnya berada di bawah kendali Amerika. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan menggunakan opsi militer untuk merebut wilayah tersebut.

Pada awal 2026, situasi itu memicu peningkatan kekuatan militer di Greenland dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Denmark mengumumkan Operasi Arctic Endurance dan mengerahkan tambahan 200 tentara, sekaligus menyiapkan perangkat pengawasan dan pertahanan, dengan janji melindungi Greenland di tengah meningkatnya ketegangan internasional.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengumumkan pengerahan militer tambahan serta berkomitmen membuka konsulat di Nuuk sebagai bentuk nyata dukungan terhadap Greenland.

Warga Greenland secara konsisten menggelar protes terhadap ancaman Donald Trump untuk mengambil alih pulau tersebut. (Foto: CNA/Jack Board)

Tiba-tiba, tentara dari berbagai negara terlihat berbaur di lorong-lorong hotel. Bendera merah-putih Greenland bermunculan di tengah salju. Suhu politik yang memanas sangat kontras dengan menggigilnya musim dingin ekstrem di kawasan utara tersebut.

Greenland, pulau terbesar di dunia dan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, memiliki arti strategis yang sangat penting—baik karena lokasinya, kepentingan militernya, maupun sumber daya mineralnya yang melimpah.

Trump menginginkannya. Pada awal tahun, ia mengatakan, Washington akan mendapatkannya dengan “cara mudah” atau “cara sulit”.

Langkah Trump segera dibalas dengan aksi protes di jalanan. Ribuan warga Greenland menunjukkan penolakan terhadap ancamannya melalui demonstrasi besar di sekitar konsulat AS di kota tersebut.

Massa mengangkat poster bertuliskan slogan seperti “Greenland Tidak Dijual” dan “Usir Amerika”, menegaskan bahwa mereka tidak ingin wilayahnya diserahkan kepada Amerika Serikat.

Sikap itu sejalan dengan jajak pendapat pada saat itu yang menunjukkan bahwa 85 persen warga Greenland menolak wilayah tersebut bergabung dengan AS.

Bagi warga Greenland, perdebatan ini menyangkut kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri. Sementara bagi para migran Asia Tenggara—yang jumlahnya meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan warga Filipina dan Thailand sebagai komunitas diaspora terbesar—situasi tersebut mengancam keberlangsungan hidup mereka di tempat yang telah mereka pilih sebagai rumah baru.

Kini, mereka terjebak di tengah ketegangan politik kekuatan-kekuatan global.

Apartemen Dupitas berada di sebuah punggung bukit. Dari balkon kayunya, ia dapat memandang Pelabuhan Nuuk, tempat kapal feri, kapal penangkap ikan, kapal kontainer, dan kapal angkatan laut berebut ruang di sepanjang tepi laut.

Di kejauhan terdapat Semenanjung Akia, kawasan yang sebagian besar belum dikembangkan dengan bentang tundra bergelombang dan lereng berbatu. Pikiran bahwa pesawat tempur Amerika mungkin muncul dari balik puncak-puncak tersebut sempat terasa sebagai kemungkinan yang nyata.

“Semakin lama berlangsung ... semakin terasa nyata,” kata Dupitas. “Kalau saya mengingatnya sekarang, rasanya agak lucu, tetapi pada saat itu benar-benar sangat menakutkan. Saya juga ingin melindungi anak-anak dan keluarga saya.”

Menurutnya, sang istri ingin keluarganya meningkatkan kualitas hidup dengan meninggalkan Greenland dan mencari kehidupan yang lebih aman dan pasti di Denmark, tempat mereka juga diizinkan bekerja. Namun bagi Dupitas, memulai semuanya dari awal merupakan pilihan terakhir.

“Jadi, kami tetap tinggal dan mengikuti imbauan, menyimpan air dan makanan. Dengan begitu, kami merasa aman karena sudah siap. Bahkan, jika sesuatu terjadi, kami sudah bersiap,” katanya.

Ursilito Ersig, pekerja pabrik bir asal Filipina di Nuuk, mengatakan, situasi geopolitik dalam beberapa bulan terakhir membuatnya gelisah. (Foto: CNA/Jack Board)

Namun, sebagian warga lainnya benar-benar ketakutan. Seminggu setelah demonstrasi di Nuuk, angin kencang merusak jalur transmisi pembangkit listrik tenaga air yang memasok sebagian besar kebutuhan listrik ibu kota.

Pemadaman listrik pun terjadi, sementara pasokan air dan koneksi internet kota turut terdampak.

Bagi Ursilito Ersig, warga asli Cebu City yang bekerja di sebuah pabrik bir di Nuuk, kehilangan listrik dan pemanas di tengah musim dingin semakin memperkuat perasaannya bahwa Greenland telah menjadi tempat yang tidak pasti untuk membesarkan anaknya yang masih kecil.

“Sangat sulit kalau keluarga saya berada di sini. Apalagi ketika kamar kami tidak memiliki pemanas, itu sangat berbahaya bagi kami. Karena itulah saya dan istri memutuskan bahwa mereka akan kembali ke Filipina untuk selamanya,” katanya.

Kini ia tinggal seorang diri, bekerja dan mengirimkan uang untuk menghidupi orang-orang yang dicintainya, lebih dari 10.000 km jauhnya.

Ia mengakui, perpisahan itu menyakitkan. Namun, hal tersebut juga berarti ia memiliki lebih sedikit kekhawatiran jika ketegangan suatu hari meningkat.

“Saya tidak punya keluarga yang harus saya khawatirkan jika terjadi kekacauan.”

PELUANG DI TENGAH KETIDAKPASTIAN

Sementara para pemimpin dunia membahas nilai strategis Greenland, banyak orang yang menjaga roda perekonomiannya tetap berjalan justru berfokus pada persoalan yang jauh lebih sederhana: tetap aman, mengirim uang ke kampung halaman, dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.

Greenland masih membutuhkan pekerja, dan bisnis-bisnis lokal terus mencari tenaga kerja dari Asia Tenggara untuk mengisi kekurangan pekerja yang berkepanjangan.

Saat ini, sekitar 1.300 warga Filipina dan 460 warga Thailand tinggal di Greenland, menjadikan mereka komunitas asing terbesar di wilayah tersebut. Populasi warga Filipina meningkat hampir lima kali lipat hanya dalam lima tahun, sementara komunitas Thailand bertambah sekitar dua kali lipat.

Migrasi terlihat di mana-mana di Nuuk, mulai dari hotel, tempat pijat, restoran hingga pabrik pengolahan makanan laut. Pergerakan pekerja ini bahkan menjangkau lebih jauh lagi, hingga permukiman-permukiman terpencil Greenland jauh di atas Lingkar Arktik.

Masa depan pulau yang tidak pasti kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Greenland berupaya mendiversifikasi ekonominya agar tidak hanya bergantung pada sektor perikanan, dengan memperluas sektor pariwisata, pertambangan, energi, dan jasa.

Pertumbuhan tersebut semakin menekan pasar tenaga kerja yang sudah kekurangan pekerja, menurut Christian Kjeldsen, CEO Greenland Business Association, organisasi pengusaha sektor swasta dan perdagangan terbesar di wilayah itu.

Menurutnya, peluang memang masih tersedia. Namun, ketidakpastian politik telah menghambat sebagian investasi, yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap jalur migrasi secara lebih luas.

“Risikonya, jelas, kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir,” katanya.

“Ada risiko bahwa tempat ini dalam beberapa tahun mendatang bisa berada di bawah yurisdiksi yang berbeda. Hal itu menimbulkan ketegangan bagi investor dan orang-orang saat ini merasa takut. Kami sudah melihat banyak hal selama bertahun-tahun, tetapi tahun ini buruk.”

Ketika Greenland terseret ke panggung diplomasi global, para pemimpinnya terpaksa mengatur ulang hubungan internasional setelah sekian lama mengandalkan—bahkan terkadang dengan “fokus berlebihan”—upaya membangun hubungan dengan Washington, menurut para pakar.

“Sangat jelas bahwa alih-alih melihat ke barat, ke AS, mereka kini kembali melihat ke timur, ke Eropa dan mitra-mitra lainnya,” kata Rasmus Leander Nielsen, kepala Centre for Foreign and Security Policy di University of Greenland.

Tillie Martinussen, mantan anggota parlemen Greenland, melihat adanya kemungkinan keuntungan dari hubungan yang lebih erat dengan Uni Eropa, hubungan yang lebih jelas dengan Denmark, serta meningkatnya perhatian dunia terhadap Greenland.

“Ada banyak cara yang kami coba untuk melihat sisi positifnya. Bahkan, sudah ada ungkapan di sini, ‘jadi, terima kasih, Trump’. Memang sedikit ironis, tetapi saya rasa tahun ini kita akan melihat ledakan pariwisata dan itu akan baik bagi perekonomian kami,” tuturnya.

“Kami hanya tidak ingin menjadi bagian dari Amerika Serikat.”

Tillie Martinussen, mantan anggota parlemen Greenland, di rumahnya di Nuuk pada Juni 2026. (Foto: CNA/Jack Board)

Sebagian pemilik usaha juga bersikap optimistis namun dengan penuh kehati-hatian. Meena Manly, yang berasal dari timur laut Thailand, telah menjalankan Smile Thai Massage and Beauty di Nuuk sejak 2019.

Ia secara bertahap memperluas usahanya dan merekrut lebih banyak terapis dari Thailand.

Dengan semakin banyaknya kapal pesiar yang merapat di pelabuhan setempat dan penerbangan langsung dari AS yang mendarat di Greenland, perempuan berusia 54 tahun itu meyakini perhatian terhadap Greenland dapat mendatangkan lebih banyak pelanggan.

“Ini menarik untuk sektor wisata, dan saya yakin banyak orang juga mulai memperhatikan peluang bisnis,” katanya.

“Sekarang banyak orang ingin tahu Greenland itu ada di mana.”

Meena Manly bersama stafnya asal Thailand di usaha pijat dan kecantikan miliknya di Nuuk, Greenland. (Foto: CNA/Jack Board)

“SUDAH CUKUP”

Meski beberapa bulan terakhir relatif tenang, bayang-bayang Amerika masih menggantung di atas Greenland. Anggapan bahwa ketegangan telah mereda pun ternyata tidak bertahan lama.

Dengan Rusia yang telah mengakar di kawasan Arktik dan China yang terus memperluas kehadirannya, Washington sejak lama memandang Greenland sebagai wilayah yang semakin penting bagi keamanan nasionalnya. Dalam 18 bulan terakhir, berbagai perkembangan terus mengingatkan akan hal tersebut.

Dalam unggahan Facebook saat Hari Nasional Greenland pada Juni, utusan khusus Trump untuk wilayah tersebut, Jeff Landry, menyiratkan bahwa ulang tahun Amerika Serikat yang ke-251 tahun depan dapat dirayakan dengan penambahan negara bagian ke-51.

Greenland pun kembali masuk dalam agenda presiden pada KTT NATO awal Juli, ketika Trump menyatakan Washington dapat mempertimbangkan kembali komitmen militernya terhadap Eropa apabila Denmark menolak bekerja sama terkait Greenland.

“Wilayah itu seharusnya dikendalikan oleh Amerika Serikat, bukan Denmark. Dan ketika mereka tidak mau menyetujuinya, dengan semua uang yang kami keluarkan untuk membantu mereka menghadapi Rusia, kami sebenarnya tidak perlu mengeluarkan uang apapun. Kami bisa menarik seluruh tentara kami dari Eropa,” katanya di Ankara pada 7 Juli.

Pemerintah AS juga meningkatkan kehadirannya di Nuuk. Konsulatnya baru-baru ini pindah ke gedung modern yang lebih besar di pusat kota. Potret Trump terlihat melalui pintu kacanya, berdampingan dengan the Great Seal of United States.

Di pusat kota, skala konsulat baru itu sangat mencolok.

Dengan luas 2.800 meter persegi, kompleks tersebut jauh lebih besar daripada fasilitas diplomatik yang selama ini biasa dilihat warga Greenland. Bangunan itu sangat kontras dengan kantor-kantor sederhana dan bangunan bersejarah yang secara tradisional menjadi tempat perwakilan negara asing di Nuuk.

Ratusan warga Greenland memprotes pembukaannya pada Juni lalu. Mereka memandang fasilitas yang sangat luas itu sebagai bukti bahwa Washington berniat memainkan peran yang jauh lebih aktif dalam menentukan masa depan Greenland.

“Tidak benar-benar mengetahui apa motivasi pemerintahan Trump—apakah aneksasi atau sekadar posisi tawar—cukup sulit untuk dicerna,” kata Nielsen.

Bersama para demonstran, para migran Asia Tenggara juga ikut turun ke jalan mendukung kedaulatan Greenland. Salah satunya adalah Merlyn Mejala dari Mindanao, Filipina, yang pindah ke Nuuk bersama suaminya yang berkewarganegaraan Denmark pada 2010.

“Tentu saja kami juga sangat terpukul, karena kami mencintai apa yang kami miliki. Lalu tiba-tiba muncul ketegangan,” katanya. “Kami ikut terdampak. Kami tidak menginginkan ini. Sudah cukup.”

Ditambah dengan pernyataan-pernyataan terbaru Trump dan Landry, situasi itu juga membuat para anggota parlemen Greenland terus waspada.

Merlyn Mejala, warga Filipina, bersiap membuka toko barang impor Asia miliknya di Nuuk, Greenland. (Foto: CNA/Jack Board)

Bo Martinsen, anggota parlemen Greenland dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa tidak ada yang berubah dari pesan Trump, meskipun kini pernyataan tersebut tidak sesering sebelumnya.

“Kita harus selalu berhati-hati ketika sebuah negara besar mengancam kebebasan kita,” ujarnya.

“Saya sangat marah, tetapi juga sedih, karena ada orang-orang yang merasa bahwa dalam pikiran sehat mereka, mereka berhak memiliki sebuah negara atau rakyatnya. Menurut saya, itu cara berpikir yang sangat sakit.”

Dari sudut pandang banyak warga Greenland, khususnya penduduk pribumi, sebagian besar percakapan internasional justru melupakan inti persoalannya. Mereka semakin menolak penggambaran Greenland sebagai sebuah objek yang dapat diperoleh atau diperebutkan.

Pesan mereka kini sederhana: keputusan harus dibuat bersama warga Greenland, bukan sekadar tentang mereka.

“Anda tidak boleh lupa bahwa memang ada manusia yang tinggal di Arktik; tempat ini bukan sekadar taman nasional yang masih alami, atau tempat beruang kutub berkeliaran di mana-mana,” kata Nielsen.

Perasaan diperlakukan secara tidak manusiawi itu telah menjadi salah satu sumber frustrasi utama dalam situasi geopolitik Greenland saat ini.

“Sepertinya semua orang membicarakan kami seolah-olah kami semacam masyarakat liar, atau seperti sebongkah es, sebagaimana dikatakan Trump di Davos. Itu cukup mengecewakan,” tutur  Martinussen.

“Awalnya menakutkan, sekarang menjengkelkan. Dan menurut saya, salah satu hal yang paling banyak saya lihat adalah kemarahan,” katanya.

Menurut Martinussen, di kalangan politik terdapat upaya sadar untuk bergerak melampaui rasa takut. Fokus kini diarahkan pada persatuan dan harapan untuk bertahan hingga masa kepresidenan Trump berakhir.

Apa pun ketidakpastian yang menanti, Martinussen percaya warga Greenland telah berulang kali menunjukkan kemampuan mereka untuk bertahan menghadapi kesulitan.

“Greenland telah dijajah berulang kali, jadi kemampuan untuk bertahan hidup sudah ada dalam DNA kami.”

Bagi para migran Asia Tenggara yang tidak memiliki ikatan sedalam itu dengan kawasan Arktik, memiliki rencana cadangan kini menjadi sesuatu yang terpaksa diperlukan. Namun, setelah menempuh perjalanan sejauh ini, membayangkan harus pulang tetap merupakan hal yang sulit.

“Bagi saya, saya ingin Greenland tetap menjadi Greenland seperti sekarang,” kata Ersig, pekerja pabrik bir asal Filipina.

“Kalau Amerika ingin membantu, tidak masalah. Tetapi kalau mereka ingin menginvasi, saya rasa tidak.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan