Skip to main content
Iklan

Dunia

FOKUS: Greenland yang mencair dan peringatan dari ujung dunia

Naiknya suhu membuat lapisan es Greenland semakin mencair dan dampaknya akan dirasakan seluruh dunia. Pada saat yang sama, Arktik menjadi arena perebutan kepentingan, termasuk ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menguasai Greenland.

FOKUS: Greenland yang mencair dan peringatan dari ujung dunia

Gunung-gunung es hanyut di perairan lepas pantai barat Greenland selama musim panas Arktik. (FOTO: CNA/Jack Board)

SISIMIUT, Greenland: Dari kejauhan, Desa Sarfannguit tampak seperti permen warna-warni yang ditebar di atas rak.

Tersembunyi jauh di sebuah teluk sempit dan terlindung, jauh dari paus bungkuk dan anjing laut bercincin yang mengikuti arus kaya nutrisi di Selat Davis, rumah-rumah warna-warni berdiri di antara lereng granit yang terbuka.

Sarfannguit adalah satu dari puluhan komunitas kecil di Greenland yang masa depannya kian tak menentu, bergulat dengan perubahan iklim, penyusutan populasi selama puluhan tahun, dan peluang ekonomi yang semakin terpusat di kota-kota.

Arktik memanas sekitar empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Perubahan ini mengubah garis pantai, ekosistem, hingga pola cuaca di kawasan utara Bumi.

Dari titik tertinggi permukiman yang dihuni sekitar 100 orang ini, angin kencang menyapu bentang alamnya yang tandus dan berlekuk halus. Di kejauhan, bunga-bunga liar Arktik, semak kerdil, dan lumut kerak tumbuh tersebar, menjadi penghias di semenanjung berbatu itu.

Sarfannguit dari udara, sebuah permukiman kecil di pesisir barat Greenland. (FOTO: CNA/Jack Board)

Di tempat ini juga berdiri “Qaammat” - berarti “Bulan” dalam bahasa Greenland - sebuah karya seni dari kaca yang membiaskan cahaya dan baja. Karya ini menjadi penghormatan bagi warisan budaya takbenda masyarakat asli Inuit yang terus hidup di kawasan tersebut.

Bertahun-tahun Hanserak Olsen memandangi panorama ini, melewati pemakaman kecil tempat leluhurnya bersemayam, hingga ke kawasan yang telah menjadi titik pertemuan penting selama 4.000 tahun.

Selama beberapa generasi, setiap musim panas keluarga-keluarga di Sarfannguit pergi berburu ke pedalaman, menuju lapisan es Greenland yang menakjubkan. Olsen, nelayan sekaligus pemandu perahu berusia 69 tahun yang tumbuh besar di sini, kini bertanya-tanya apakah tradisi itu akan terus bertahan.

Ia mencemaskan kondisi es laut yang semakin sulit diprediksi, pergeseran populasi ikan yang membuat hasil tangkapannya tahun ini menurun, serta anak-anak muda yang pergi untuk menempuh pendidikan dan mencari pekerjaan.

Perubahan iklim menambah berat berbagai persoalan yang sejak lama dihadapi permukiman-permukiman terpencil di Greenland.

“Tentu saja, di sini ada internet. Tapi di kota ada jauh lebih banyak pilihan menarik dan kehidupan yang lebih modern,” katanya. Olsen kerap merujuk pada Sisimiut, kota yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dengan perahu.

Hanserak Olsen berjalan melintasi permukiman Sarfannguit, tempat ia tumbuh besar. (FOTO: CNA/Jack Board)

Lapisan es Greenland mencair lebih cepat dibanding hampir semua tempat lain di Bumi. Pulau terbesar di dunia itu akan menjadi “titik pusat bertemunya” berbagai dampak dari kawasan kutub yang semakin panas dan basah, kata Klaus Dodds, profesor geopolitik di Middlesex University London dan salah satu penulis Unfrozen: The Fight for the Future of the Arctic.

Para pakar mengatakan, perubahan yang terjadi di Greenland akan berdampak ke seluruh dunia. Lapisan es yang menutupi lebih dari 80 persen daratan Greenland kini menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan permukaan laut global.

Dalam skenario emisi tertinggi Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), mencairnya lapisan es Greenland diperkirakan akan menyumbang sekitar 13 cm terhadap kenaikan permukaan laut global pada 2100, dengan kisaran kemungkinan antara 9 cm hingga 18 cm.

Dampaknya terhadap kota-kota pesisir di dunia akan sangat besar.

Risiko tinggi akan dihadapi kawasan delta Sungai Mekong, Ayeyarwady, dan Chao Phraya di Asia, kota-kota megapolitan dataran rendah seperti Jakarta dan Manila, serta pelabuhan-pelabuhan yang rentan di Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

“Intinya sederhana: apa yang terjadi di Greenland tidak berhenti di Greenland. Dampaknya akan mencapai kawasan pesisir, sistem transportasi, rumah, pelabuhan, dan pasokan air di kota-kota pesisir di seluruh Asia,” kata Benjamin Horton, dekan School of Energy and Environment di City University of Hong Kong.

Sebuah gletser mengalir di antara pegunungan Greenland barat. (FOTO: CNA/Jack Board)

Asia menjadi kawasan yang paling rentan terhadap kenaikan permukaan laut karena besarnya jumlah penduduk yang tinggal di wilayah pesisir dataran rendah, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), badan ilmiah PBB untuk perubahan iklim.

Sekitar 70 persen penduduk dunia yang terancam kenaikan permukaan laut dan penurunan muka tanah tinggal hanya di delapan negara Asia, termasuk Bangladesh, India, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Dari 20 kota pesisir dunia yang diperkirakan mengalami kerugian terbesar akibat banjir pada 2050, sebanyak 13 berada di Asia. Bangkok, Ho Chi Minh City, dan Jakarta termasuk di antaranya.

“Greenland mungkin terasa jauh, tetapi apa yang terjadi di sana berkaitan langsung dengan setiap garis pantai di Bumi. Ini bukan sekadar persoalan Arktik yang jauh dari kita,” kata Horton.

Temuan IPCC menyebutkan bahwa risiko yang dihadapi masyarakat pesisir diperkirakan meningkat setidaknya 10 kali lipat pada abad ini karena permukaan laut akan terus naik. Jumlah penduduk dan infrastruktur yang terpapar ancaman tersebut juga akan terus bertambah, terutama di Asia Tenggara.

Dampak berbagai perubahan global itu mungkin belum terasa di pesisir Sarfannguit. Namun, apa yang terjadi di sana berkaitan erat dengan perubahan tersebut. Olsen dan warga lainnya kini merasakan langsung dampaknya di tingkat lokal.

Karya seni dari kaca pembias cahaya dan baja bernama “Qaammat” - yang berarti “Bulan” dalam bahasa Greenland - di Sarfannguit. (FOTO: CNA/Jack Board)

PERSAINGAN GLOBAL

Seiring mencairnya es, Arktik semakin menjadi arena persaingan kekuatan-kekuatan geopolitik terbesar dunia yang mengincar peluang baru untuk menambang mineral kritis, memperluas pengaruh militer, dan membuka jalur transportasi.

“Greenland dan wilayah-wilayah lainnya berada di tengah persaingan negara-negara besar dengan ambisi global mereka,” kata Dodds.

Perhatian Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Greenland telah memicu gejolak berkepanjangan di wilayah otonom itu. Sejak memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025, Trump terus berupaya membawa Greenland di bawah kendali AS.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump terus menekan Greenland. Dalam wawancara radio pada akhir Juli, ia mengatakan besar kemungkinan AS akan menguasai Greenland sebelum masa jabatannya berakhir pada Januari 2029.

Trump, yang sejak lama skeptis terhadap perubahan iklim, juga telah menarik AS dari Kesepakatan Paris. Langkah itu membuat AS yang secara historis adalah penghasil polusi terbesar tidak tergabung dalam kesepakatan utama dunia untuk mengatasi perubahan iklim dan tidak terikat target global pengurangan emisi.

Seiring bumi semakin panas dan tekanan terhadap sumber daya alam meningkat, Dodds menilai Arktik akan semakin menjadi pusat persaingan global untuk memperebutkan lahan, air, dan mineral kritis.

“Artinya Arktik akan semakin masuk dalam perhitungan perebutan sumber daya,” katanya memperingatkan.

Sebongkah es yang mencair mengapung di fyord dekat Nuuk, Greenland, pada Juni 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

Saat ini, hanya sedikit proyek pertambangan yang aktif di Greenland, meski wilayah itu dinilai menyimpan potensi besar sumber daya mineral yang belum dieksploitasi, termasuk logam tanah jarang, grafit, dan litium.

China berulang kali berupaya menanamkan investasi di sektor infrastruktur dan pertambangan Greenland. Namun, sebagian besar proyek besar tidak berlanjut karena kekhawatiran politik dan keamanan.

“Namun, tidak diragukan lagi bahwa semakin banyak negara memandang Arktik sebagai kawasan yang perlu mereka masuki. AS sangat khawatir China khususnya berpotensi menjadi pesaing yang setara pada suatu titik di abad ini,” kata Dodds.

Arktik sejak lama menjadi kawasan penting bagi pertahanan rudal dan operasi kapal selam di bawah lapisan es.

Kini, periode perairan terbuka - ketika laut bebas dari es - berlangsung semakin lama, membuka lebih banyak peluang bagi kapal angkatan laut dan penjaga pantai untuk melakukan patroli musiman.

“(Operasi semacam ini) umumnya lebih mudah terlihat dan menjadi salah satu cara untuk menunjukkan sikap,” kata Rebecca Pincus, peneliti senior Transatlantic Security Program di German Marshall Fund of the United States.

Salju masih menyelimuti lereng-lereng gunung yang curam pada musim panas di Greenland barat. (FOTO: CNA/Jack Board)

AS meningkatkan patroli di Laut Bering dan Samudra Arktik, dengan fokus lebih besar pada pemantauan kapal-kapal China dan Rusia. Sejumlah sekutu AS di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) kini juga lebih sering beroperasi di sekitar Greenland.

Rusia tetap menjadi kekuatan utama di Arktik. Di wilayah utaranya, Rusia kembali membuka pangkalan-pangkalan era Soviet di Arktik, memperluas pelabuhan laut dalam, dan meningkatkan patroli angkatan laut dengan armada utara yang telah dimodernisasi.

Namun, seperti dicatat Pincus, operasi di sana masih bergantung pada musim dan terbatas secara geografis. Arktik juga tetap menjadi salah satu lingkungan paling berat di dunia untuk beroperasi, baik untuk kepentingan militer, pariwisata, maupun transportasi.

Dodds memperingatkan bahwa perubahan iklim juga membuat kawasan ini semakin sulit diprediksi, semakin mahal, dan semakin berbahaya untuk ditinggali maupun dijadikan tempat bekerja.

“Arktik yang semakin panas akan lebih sering terbakar. Arktik yang semakin basah akan lebih sering dilanda banjir. Dan ketika Arktik semakin panas sekaligus basah, biaya pemeliharaan infrastrukturnya akan semakin mahal,” katanya.

“Berkurangnya es laut bukan berarti es laut akan hilang sepenuhnya.”

Pegunungan membentang di tengah lanskap Arktik Greenland yang berbatu dan terjal. (FOTO: CNA/Jack Board)

BERTAHAP BUKAN BERARTI TANPA DAMPAK

Di bawah sinar matahari tengah malam di Fyord Nuuk, bongkahan es berukuran sedang yang terlepas dari gletser mengapung gemeretak dan mencair. Suaranya memecah kesunyian saat air tawar perlahan mengalir ke teluk-teluk kecil di sekitar ibu kota Greenland.

Bongkahan-bongkahan es ini terbawa dari pencairan gletser yang terjadi lebih jauh di pedalaman. Air terjun juga mengalir ke fyord, jatuh ke permukaan air yang sebening kaca, sementara pelangi terbentuk di antara tebing-tebing batu purba yang curam.

Proses yang tampak lambat dan telah berlangsung sejak lama ini sebenarnya mengkhawatirkan. Para ilmuwan mengatakan, hilangnya es di Greenland semakin cepat, terutama sejak dekade 2000-an, seiring meningkatnya suhu udara dan laut serta kadar karbon dioksida di atmosfer.

Pencairan gletser juga bisa berlangsung dramatis dan merusak. Pada akhir Juli, sebuah video merekam gunung es seukuran Titanic terbalik di lepas pantai Ilulissat, Greenland. Peristiwa itu menjadi gambaran nyata betapa besarnya kekuatan alam yang bekerja di sepanjang pesisir pulau tersebut.

Seiring menghangatnya Arktik, semakin banyak permukaan lapisan es yang mencair. Es gelap yang kemudian tersingkap menyerap lebih banyak energi matahari, sementara gletser outlet - saluran es yang mengalir keluar dari lapisan es - dapat menyusut dan mengalirkan lebih banyak air ke laut, kata Horton.

Greenland bagian tengah telah mengalami kenaikan suhu sekitar 1,5°C sejak pertengahan 1990-an, membuat suhu di kawasan itu mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari seribu tahun. Akibatnya, pencairan es semakin cepat.

Pengamatan satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA) menunjukkan bahwa antara 2002 dan 2025, Greenland kehilangan sekitar 264 miliar ton es setiap tahun. Pencairan itu menambah kenaikan permukaan laut global sekitar 0,8 mm per tahun.

“Kenaikan permukaan laut bisa terasa seperti ancaman yang masih jauh karena prosesnya berlangsung bertahap. Namun, bertahap bukan berarti tidak berbahaya,” kata Horton.

Anjing-anjing penarik kereta luncur Greenland menunggu di luar kandang mereka di “Dog Town”, di luar Sisimiut, pada Juni 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

Di berbagai belahan dunia, kenaikan permukaan laut beberapa sentimeter saja dapat memperparah dampak peristiwa ekstrem dan membuat banjir pesisir semakin sering terjadi. Dampak lainnya mencakup kerusakan infrastruktur, masuknya air asin ke sumber air minum dan lahan pertanian, hilangnya hutan bakau dan lahan basah, meningkatnya biaya asuransi dan adaptasi, serta di sejumlah tempat, warga terpaksa meninggalkan rumah mereka yang tenggelam.

Riset ilmiah terbaru yang dirilis pada Agustus mengungkap lebih jauh dampak dari Arktik yang semakin panas.

Ketika es laut menyusut, permukaan laut yang sebelumnya tertutup es akan melepaskan senyawa alami yang membantu pembentukan awan. Menurut studi University of Birmingham, proses ini berpotensi memengaruhi seberapa banyak sinar matahari yang dipantulkan Bumi kembali ke angkasa dan seberapa banyak panas yang diserap kawasan tersebut.

Proses yang baru ditemukan ini dapat memengaruhi seberapa cepat Arktik akan memanas di masa depan.

“Dengan memantulkan radiasi matahari yang masuk, Arktik membantu mendinginkan planet ini dan membentuk pola cuaca global, termasuk fenomena seperti arus jet kutub dan monsun,” kata Pincus.

“Hilangnya es laut Arktik melemahkan efek ‘pendinginan’ tersebut,” katanya.

Rumah-rumah warna-warni di Sarfannguit, permukiman yang dihuni sekitar 100 orang. (FOTO: CNA/Jack Board)

Dampaknya tak hanya terjadi di laut. Kenaikan suhu mulai mengganggu pola musim di Greenland, pergerakan satwa di darat maupun laut, serta aktivitas manusia yang bergantung pada semua itu.

Perairan di sekitar Greenland menopang salah satu industri perikanan paling produktif di dunia. Sektor perikanan menyumbang sekitar 95 persen pendapatan ekspor wilayah tersebut, dengan hasil laut dikirim ke berbagai pasar di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Para ilmuwan telah mendokumentasikan perubahan wilayah persebaran sejumlah spesies penting. Ikan kod Arktik, misalnya, bergerak semakin jauh ke utara seiring meningkatnya suhu laut. Sementara itu, para nelayan melaporkan hasil tangkapan yang semakin sulit diprediksi dan sejumlah spesies berpindah ke perairan yang lebih dalam.

Nelayan tradisional, yang banyak di antaranya masih mengandalkan es laut yang stabil untuk mencapai lokasi berburu dan menangkap ikan, menjadi kelompok yang paling terdampak perubahan ini. Karena kondisi semakin sulit diprediksi, sebagian dari mereka memilih pindah ke kota-kota yang lebih besar dan bergabung dengan usaha perikanan komersial yang mampu beroperasi lebih jauh dari pantai.

Dampaknya tidak hanya dirasakan industri perikanan. Perubahan ini mengancam keberlangsungan permukiman-permukiman terkecil di Greenland beserta tradisi yang selama ini menopang kehidupan masyarakatnya, kata anggota parlemen Greenland Bo Martinsen.

“Kalau mereka tidak ada, siapa yang akan memenuhi kebutuhan wilayah lainnya? Kalau mereka menghilang, banyak yang akan kita kehilangan. Namun, kita juga tidak bisa menghentikan apa yang sedang terjadi, jadi kita harus belajar menghadapinya,” katanya.

Kapal-kapal nelayan bersandar di pelabuhan Sisimiut, Greenland. (FOTO: CNA/Jack Board)

Hampir setiap hari, Tika Olsen berangkat dari pelabuhan Nuuk dengan perahu kecil menuju fyord untuk menangkap kod Atlantik. Hari-harinya tetap panjang, bahkan ketika jaring penuh dengan ikan dan cuaca cerah.

Suatu pagi, seekor paus yang kemungkinan paus bungkuk merusak jaringnya hingga seluruh hasil tangkapannya terlepas. Olsen lalu berseloroh bahwa ada mamalia besar lain yang sedang berkeliaran di kawasan itu.

“Mungkin beruang kutub,” kata Olsen, yang suaranya diiringi rap Greenland dan lagu-lagu Adele yang terdengar nyaring di atas permukaan air yang tenang, bersahutan dengan pekikan burung camar di kejauhan dan desir angin Arktik yang dingin.

Beruang kutub masih jarang terlihat di sekitar Nuuk karena habitat utama mereka berada di kawasan dengan hamparan es laut yang lebih luas di Greenland utara dan timur. Namun, menurut mantan anggota parlemen Greenland Tillie Martinussen, gurauan yang sejak lama digunakan untuk mengerjai orang asing itu kini terasa lebih mungkin menjadi kenyataan.

Kemunculan seekor beruang yang tidak biasa di kawasan fyord pada musim panas 2024 - kemungkinan terbawa es laut yang hanyut - menjadi pengingat bahwa perubahan lingkungan Arktik bahkan berdampak pada salah satu satwa yang paling identik dengan kawasan tersebut.

“Gila banget. Kalau Anda mengatakan hal seperti itu 15 tahun lalu, tidak akan ada yang percaya,” katanya.

“Lapisan es mencair dengan sangat mengkhawatirkan. Saya rasa ke depan kita akan melihat perubahan yang bahkan jauh lebih drastis.”

Tika Olsen dan awaknya menangkap ikan di tengah kabut di kawasan fyord di luar Nuuk, Greenland. (FOTO: CNA/Jack Board)

YANG TERSISA DARI MASA LALU

Greenland kini menghadapi tantangan mempertahankan komunitas-komunitas terpencil yang kehidupannya sangat lekat dengan alam, di tengah perubahan yang membuat semuanya tak lagi sama.

Warga setempat tak perlu membaca data ilmiah untuk memahami perubahan itu.

Nelayan Hanserak Olsen mengenang masa ketika es laut terbentuk selama berbulan-bulan di fyord di depan desanya. Kini, hampir sepanjang tahun pelabuhan yang sama bisa dilalui perahu.

“Es pada musim dingin sekarang lebih sedikit. Dulu, ketika saya masih kecil, kami bisa naik kereta luncur anjing sampai ke kota. Sekarang hampir mustahil,” katanya.

Lebih jauh ke utara, di luar kota Sisimiut, badai salju musim panas sempat memutihkan Arctic Circle Trail. Jalur terkenal sepanjang 160 km itu membentang ke pedalaman menuju lapisan es Greenland, melintasi bentang alam dengan kondisi yang semakin sulit diprediksi.

Marinus Hurni Christensen, yang mengelola tur petualangan melalui Hotel Søma, mengatakan, cuaca musim dingin yang tidak biasa pernah membuat sungai-sungai mengering dan kebakaran hutan melanda tundra terpencil.

Minimnya salju sepanjang musim dingin bukan hanya memaksanya membatalkan perjalanan wisata, tetapi juga membuat suasana muram menyelimuti masyarakat selama periode panjang tanpa banyak cahaya, katanya.

“Meski di sini gelap, sedikit cahaya yang kami dapatkan akan dipantulkan kuat oleh salju, termasuk cahaya bulan dan bintang. Semuanya bersinar,” katanya.

“Kalau saljunya tidak ada, yang tersisa hanyalah kegelapan Arktik yang pekat dan total. Orang-orang menjadi depresi, cemas, dan secara umum sedikit lebih murung.”

Marinus Hurni Christensen, yang mengelola tur petualangan dari Sisimiut, berjalan di atas salju musim panas pada Juni 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

Ada pula kerugian finansial bagi perekonomian yang semakin meninggalkan perburuan tradisional dan kehidupan yang bergantung pada alam, dan beralih ke pariwisata internasional.

Greenland menerima sekitar 170.000 wisatawan pada 2025, melonjak dari sekitar 100.000 hingga 110.000 satu dekade sebelumnya.

Tahun lalu, pemerintah menargetkan jumlah wisatawan naik dua kali lipat pada 2035 dengan meningkatkan konektivitas penerbangan dan infrastruktur.

Salju yang tak menentu pada musim dingin lalu membuat Villiam Olsen harus membatalkan beberapa perjalanan kereta luncur anjing bagi wisatawan di Sisimiut. Moda transportasi yang telah digunakan selama berabad-abad itu kini berkembang menjadi bisnis yang melayani wisatawan dan sangat bergantung pada prakiraan cuaca.

Ia dan istrinya, Ninni Geisler, mengatakan, mereka menikmati pekerjaan yang membuat orang lain bahagia di alam liar Greenland. Mereka bahkan membesarkan anjing-anjing agar lebih ramah dan terbiasa berinteraksi dengan manusia dibandingkan dulu. Namun belakangan, kondisi alam tidak berpihak kepada mereka.

“Ketika saya masih kecil, salju selalu ada. Tahun ini sangat berbeda, hampir tidak ada salju, jadi kami nyaris tidak bisa menggunakan kereta luncur anjing. Benar-benar sulit,” katanya.

Ninni Geisler, yang mengelola Dogsledge Taxi bersama suaminya, Villiam, di Sisimiut, merawat anak anjing yang baru lahir pada Juni 2026. (FOTO: CNA/Jack Board)

Nama Sisimiut dalam bahasa Greenland kerap diterjemahkan sebagai “sarang rubah”, merujuk pada kemampuan satwa asli itu beradaptasi dengan lingkungannya.

Selama ribuan tahun, masyarakat Inuit bertahan hidup dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan musim dan bentang alam. Tantangan yang mereka hadapi sekarang mungkin berbeda, tetapi naluri untuk beradaptasi tetap sama.

“Kami ingin membawa sejarah ini bersama kami ke masa depan dan berharap bisa terus melakukannya selama bertahun-tahun,” kata Villiam Olsen.

Namun, kehidupan modern menarik banyak orang untuk pergi. Dalam banyak kasus, permukiman yang lebih terpencil akhirnya ditinggalkan.

Greenland memiliki sejarah relokasi paksa dan penutupan wajib sejumlah desa kecil pada masa kolonial Denmark. Namun kali ini berbeda. Yang terjadi lebih menyerupai penyusutan secara perlahan, kata Steven Arnfjord, direktur Centre for Arctic Welfare di University of Greenland.

“Permukiman-permukiman itu akan terus menyusut dan akhirnya menjadi kota mati. (Warga) perlahan meninggalkan komunitas mereka karena mencari layanan dan pekerjaan di tempat lain,” katanya.

Langit terpantul di jendela sebuah rumah warna-warni di Sarfannguit, Greenland. (FOTO: CNA/Jack Board)

Di Sisimiut, sebuah bengkel kerajinan bagi perajin lokal dipenuhi rak dan meja kecil dengan berbagai patung yang diukir dari gading walrus, tanduk rusa kutub, dan tanduk narwhal. Ikat kepala rajutan dari bulu musk ox serta sarung tangan berlapis bulu beruang kutub juga dijual di sana.

Semua barang itu berakar kuat pada budaya berburu tradisional Greenland. Namun, para perajinnya semakin menua. Kini, karya mereka terutama dibuat untuk wisatawan kapal pesiar yang rutin singgah di dermaga setempat.

Beberapa tahun lagi, para pemahat dan perajut kawakan ini mungkin sudah tidak ada. Frederikke Platou berharap anak-anaknya memilih jalan hidup lain, alih-alih mengikuti jejaknya menekuni kerajinan tradisional tersebut.

“Nanti semua ini tidak akan ada lagi. Tapi tidak ada pilihan,” katanya.

Di Sarfannguit, Hanserak Olsen masih optimistis desanya dapat terus berkembang. Namun,  menurutnya, warga harus bersedia mengubah cara pandang dan mencoba cara-cara baru, meski terkadang bertentangan dengan tradisi.

“Saya rasa anak-anak ingin tetap tinggal di sini dan membangun desa ini, membuat jumlah penduduk kembali bertambah,” katanya.

“Mereka terbuka menerima wisatawan. Bahkan, ada beberapa keluarga yang tertarik membuka kafe atau hostel di sini agar lebih banyak wisatawan datang.”

Jens Ugpernangitsok, seorang perajin tradisional, mengukir patung hewan kecil dari tanduk di bengkelnya di Sisimiut, Greenland. (FOTO: CNA/Jack Board)

Greenland sejak dulu adalah tempat yang kehidupan masyarakatnya bergerak mengikuti musim, cahaya, pasang surut, dan angin. Kini, Greenland menghadapi perubahan yang berbeda, didorong oleh iklim yang semakin panas, meningkatnya perhatian dunia, dan Arktik yang berubah dengan cepat.

Dampaknya akan terasa jauh melampaui bentang alam Greenland yang keras, dengan pegunungan bergerigi dan gletser yang terus melepaskan bongkahan es.

Di Qaanaaq, salah satu kota paling utara di dunia, Aleqatsiaq Peary, seorang pemburu dan pendongeng yang merupakan keturunan penjelajah Arktik Robert Peary, kini memilih menerima perubahan besar yang terjadi, bukan melawannya.

Di dekat Kutub Utara, kehidupan mengikuti terbentuknya es laut. Berburu menjadi bagian penting untuk bertahan hidup. Sementara perubahan yang dipicu dunia di luar sana terasa tak terelakkan dan mustahil dihentikan.

“Kita hanyalah butiran debu. Budaya selalu berubah. Hewan datang dan menghilang. Anak cucu kita kelak tidak akan tahu bagaimana kita dulu hidup,” katanya.

“Dunia akan terus berjalan tanpa kita.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan