Skip to main content
Iklan

Dunia

AS dan China sepakat meredam pembatasan ekspor, gencatan tarif dilanjutkan

Kesepakatan yang lebih komprehensif tetap diperlukan sebelum 10 Agustus untuk menghindari tarif kembali melonjak ke level lebih dari 100%.

AS dan China sepakat meredam pembatasan ekspor, gencatan tarif dilanjutkan

Menteri Keuangan AS Scott Bessent berjabat tangan dengan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng pada pertemuan bilateral antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Jenewa, Swiss, pada 10 Mei 2025. (Foto: Reuters/KEYSTONE/EDA/Martial Trezzini)

11 Jun 2025 11:35AM (Diperbarui: 11 Jun 2025 01:49PM)

LONDON: Petinggi Amerika Serikat dan China pada Selasa (10/6) mengatakan mereka telah menyetujui kerangka kerja untuk meneruskan gencatan tarif perdagangan serta mencabut pembatasan ekspor mineral tanah jarang oleh China, meskipun konflik perdagangan jangka panjang ini tampaknya belum benar-benar terselesaikan.

Setelah dua hari negosiasi intensif di London, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyampaikan kepada wartawan bahwa kerangka ini merupakan langkah konkret dari kesepakatan awal yang dicapai di Jenewa bulan lalu untuk menurunkan tarif pembalasan bilateral yang sebelumnya mencapai lebih dari 100 persen.

Namun, kesepakatan Jenewa sebelumnya tersendat karena China tetap memberlakukan pembatasan ekspor mineral penting, sehingga pemerintahan Trump merespons dengan menerapkan kendali ekspor terhadap China, termasuk larangan pengiriman perangkat lunak untuk mendesain semikonduktor, bahan kimia, dan teknologi lainnya.

Howard mengatakan bahwa kesepakatan yang dicapai di London akan mencabut beberapa pembatasan ekspor baru-baru ini dari AS, tanpa memberikan rinciannya usai pembicaraan yang berakhir sekitar tengah malam waktu London (pagi di Asia).

"Kami telah mencapai sebuah kerangka kerja untuk menerapkan kesepakatan Jenewa serta pembicaraan antara kedua presiden," ujar Howard.

"Sekarang kami akan kembali dan berdiskusi dengan Presiden Trump untuk memastikan beliau menyetujuinya. Demikian pula pihak China akan kembali dan berdiskusi dengan Presiden Xi untuk mendapatkan persetujuannya. Jika keduanya setuju, kami akan melaksanakan kesepakatan tersebut."

Dalam konferensi pers terpisah, Wakil Menteri Perdagangan China, Li Chenggang juga mengatakan bahwa kerangka kerja perdagangan telah disepakati dan akan disampaikan kepada para pemimpin kedua negara.

"Kedua belah pihak, pada prinsipnya, telah mencapai kerangka kerja untuk menerapkan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara dalam pembicaraan telepon pada 5 Juni dan konsensus pada pertemuan Jenewa," kata Chenggang kepada wartawan.

Akan tetapi, persetujuan ini belum menyelesaikan perbedaan mendalam terkait tarif sepihak Trump dan keluhan lama AS atas model ekonomi China yang dikomandokan pemerintah dan berbasis ekspor.

Josh Lipsky, direktur senior GeoEconomics Center di Atlantic Council di Washington, menyatakan bahwa kedua pihak meninggalkan Jenewa dengan interpretasi yang sangat berbeda terhadap kesepakatan awal dan perlu merinci tindakan yang harus dilakukan.

"Kembali ke titik awal ini lebih baik daripada tidak ada kemajuan sama sekali," kata Josh.

Kedua belah pihak memiliki waktu hingga 10 Agustus untuk merundingkan kesepakatan yang lebih komprehensif untuk meredakan ketegangan perdagangan. Jika tidak, tarif akan kembali melonjak dari sekitar 30 persen menjadi 145 persen dari pihak AS, sementara dari pihak China tarif akan naik menjadi 125 persen dari 10 persen.

Investor yang sebelumnya terpukul oleh ketegangan perdagangan memberikan respons yang berhati-hati, dengan indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen.

"Perinciannya akan menentukan segalanya, tetapi minimnya reaksi pasar menunjukkan bahwa hasil ini sudah diperkirakan sebelumnya," ujar Chris Weston, kepala riset di Pepperstone di Melbourne.

"Perinciannya sangat penting, terutama tentang seberapa banyak mineral tanah jarang yang dikirim ke AS, dan sejauh mana kebebasan chip buatan AS menuju China. Namun, sejauh berita utama tetap konstruktif, aset berisiko akan tetap mendapat dukungan."

Howard mengatakan pembatasan ekspor mineral tanah jarang dan magnet dari China ke AS akan diselesaikan sebagai bagian "mendasar" dari kesepakatan kerangka kerja ini.

"AS juga mengambil sejumlah tindakan dengan dihentikannya ekspor mineral tanah jarang," ujar Howard.

"Langkah-langkah ini juga akan dicabut secara seimbang, seperti yang dikatakan Presiden Trump."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Reuters/jt

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan