Skip to main content
Iklan

Dunia

Berawal dari resep nenek Surabaya, gado-gado mendunia tembus nominasi Oscar kuliner

Chef Thomas Pisha-Duffly dari restoran Gado-Gado di Portland menjadi finalis James Beard Awards 2026 lewat cita rasa Indonesia modern

Berawal dari resep nenek Surabaya, gado-gado mendunia tembus nominasi Oscar kuliner

Hidangan Indonesia di Restoran Gado Gado di Portland, Oregon, Amerika Serikat (https://www.gadogadopdx.com/)

PORTLAND: Gado-gado, salah satu hidangan tradisional Indonesia, mencuri perhatian dunia. Restoran Gado-Gado di Portland, Amerika Serikat, berhasil mengantarkan chef Thomas Pisha-Duffly menjadi finalis James Beard Awards 2026, salah satu penghargaan paling bergengsi di industri kuliner global.

Penghargaan yang diberikan oleh James Beard Foundation tersebut kerap dijuluki sebagai "Oscar dunia kuliner". Setiap tahun, penghargaan ini memberikan apresiasi kepada chef, restoran, dan pelaku industri makanan yang dinilai menghadirkan kualitas, inovasi, serta kontribusi besar terhadap perkembangan dunia kuliner di Amerika Serikat.

Pada edisi 2026, Thomas Pisha-Duffly masuk dalam daftar finalis kategori Best Chef: Northwest & Pacific, berkat restoran Gado-Gado yang ia dirikan di Portland, Oregon.

Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian terbaru bagi restoran yang dikenal mengangkat cita rasa Indonesia melalui pendekatan modern tanpa meninggalkan akar tradisinya.

BERAWAL DARI RESEP NENEK ASAL SURABAYA

Dilansir detikFood, Thomas merupakan chef asal Amerika Serikat keturunan China-Indonesia yang tumbuh dengan masakan buatan neneknya, seorang perempuan asal Surabaya.

Kecintaannya terhadap masakan Indonesia semakin kuat setelah kunjungan pertamanya ke Tanah Air. Pengalaman tersebut mendorongnya mulai memasak menggunakan resep keluarga dan mendirikan Gado-Gado pada 2019.

Awalnya, bisnis tersebut hadir sebagai food cart sebelum berkembang menjadi restoran yang kini dikenal luas di Portland.

Thomas mengatakan, nama "Gado-Gado" dipilih karena mencerminkan identitas restoran sekaligus perjalanan hidupnya. Seperti arti harfiahnya, yaitu "campur-campur", restoran tersebut menjadi perpaduan warisan budaya Indonesia, Tionghoa, serta pengalaman kuliner yang ia kumpulkan sepanjang kariernya.

Menu andalan restoran ini adalah gado-gado, hidangan yang sudah akrab di meja makan keluarganya sejak kecil. Namun, latar belakang keluarganya yang berasal dari komunitas China-Surabaya membuat menu restoran tidak hanya berfokus pada masakan Indonesia, tetapi juga dipengaruhi kuliner kaki lima Tionghoa, Singapura, dan Malaysia.

Dalam unggahan akun Instagram @gadogadopdx, restoran tersebut mengungkapkan rasa syukurnya kembali masuk dalam jajaran finalis James Beard Awards.

"Kami pernah menjadi finalis sebelumnya, tetapi setiap kali rasanya berbeda karena kami selalu berbeda setiap saat. Saya dapat dengan yakin mengatakan, apa pun yang terjadi, kami lebih baik hari ini daripada sebelumnya dan itu memberi saya begitu banyak kebahagiaan," tulis restoran tersebut.

Restoran Gado-Gado sebelumnya juga telah beberapa kali menerima nominasi James Beard Awards dan dikenal karena menghadirkan cita rasa Indonesia yang kuat melalui penggunaan bahan-bahan musiman dengan pendekatan yang kreatif.

SALAD KHAS INDONESIA YANG MENDUNIA

Selain rendang dan nasi goreng, gado-gado menjadi salah satu kuliner Indonesia yang paling dikenal di dunia.

Nama "gado-gado" berasal dari bahasa Betawi yang berarti "campur-campur", merujuk pada perpaduan berbagai bahan dalam satu hidangan. Sepiring gado-gado umumnya berisi aneka sayuran rebus seperti kangkung, kacang panjang, kol, taoge, kentang, tahu, tempe, telur, dan lontong yang disiram bumbu kacang.

Di dunia internasional, gado-gado kerap dijuluki sebagai "Indonesian salad". Namun, berbeda dengan salad Barat yang umumnya menggunakan vinaigrette atau mayones, gado-gado memiliki karakter rasa yang lebih kaya berkat bumbu kacang yang dipadukan dengan bawang putih, cabai, gula merah, air asam jawa, dan perasan jeruk limau.

Sejumlah sejarawan kuliner menyebut hidangan ini telah dikenal sejak masa kolonial sebagai makanan bergizi yang memanfaatkan bahan-bahan lokal. Ada pula yang menilai perkembangannya dipengaruhi tradisi kuliner Tionghoa yang menggabungkan aneka sayuran dalam satu sajian, kemudian berpadu dengan bumbu kacang yang menjadi ciri khas masakan Nusantara.

Kini, gado-gado tidak hanya mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga hadir di restoran-restoran mancanegara sebagai salah satu representasi kuliner Indonesia di panggung global.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ew(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan