Elon Musk mundur dari pemerintahan Trump setelah masa jabatan penuh kontroversi
Kritikan Elon Musk terhadap RUU perpajakan Partai Republik baru-baru ini dilaporkan memicu amarah beberapa pejabat senior Gedung Putih.
Elon Musk berbicara di samping Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, DC, pada 11 Februari 2025. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
WASHINGTON: CEO Tesla dan miliarder ternama, Elon Musk, meninggalkan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah memimpin upaya efisiensi yang penuh kontroversi.
Dalam masa tugasnya, Elon merombak beberapa lembaga federal namun akhirnya gagal mencapai penghematan besar-besaran yang dicita-citakannya.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada Reuters pada Rabu malam (28/5) bahwa "proses pemberhentian Elon akan dimulai malam ini", sekaligus mengonfirmasi keluarnya Elon dari pemerintahan.
Sebelumnya di hari Rabu, Elon mengunggah ucapan terima kasih kepada Presiden Trump melalui media sosial X miliknya tatkala masa tugasnya sebagai pegawai khusus Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) akan segera berakhir.
Kepergian Elon dari pemerintahan berlangsung cepat dan tanpa upacara khusus. Ia bahkan tidak mengadakan pembicaraan resmi dengan Trump sebelum mengumumkan pengunduran dirinya, menurut seorang sumber yang mengetahui masalah ini. Sumber tersebut juga menambahkan bahwa keputusan Elon untuk keluar diputuskan "di tingkat pejabat senior".
Walaupun alasan pasti dari keluarnya Elon belum sepenuhnya jelas, pengunduran dirinya terjadi sehari setelah ia mengkritik rancangan undang-undang perpajakan Trump yang menurutnya terlalu mahal dan menghambat hasil kerjanya bersama DOGE.
Beberapa pejabat senior Gedung Putih, termasuk Wakil Kepala Staf Stephen Miller, dilaporkan sangat kesal dengan komentar Elon tersebut. Gedung Putih bahkan sampai harus menelepon beberapa senator Partai Republik guna menegaskan kembali dukungan Trump terhadap undang-undang itu, ujar seorang sumber yang memahami situasi tersebut.
Meskipun Elon tetap dekat dengan Trump, kepergiannya mencerminkan menurunnya pengaruhnya secara bertahap dalam pemerintahan.
Setelah pelantikan Trump, Elon sempat menjadi sosok kuat dalam lingkaran dekat presiden: mencolok, berani, dan tidak terikat oleh norma-norma tradisional. Dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) pada Februari lalu, ia membawa gergaji mesin berwarna merah di atas panggung yang disambut sorak-sorai meriah sambil berkata: "Inilah gergaji mesin untuk birokrasi."
Selama kampanye, Elon berjanji DOGE dapat memangkas setidaknya US$2 triliun (Rp32.600 triliun) dari anggaran federal. Namun sejauh ini, DOGE memperkirakan penghematannya hanya mencapai US$175 miliar, sebuah angka yang belum dapat diverifikasi secara independen oleh Reuters.
Elon tidak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap para pegawai federal dan pernah memperkirakan bahwa pencabutan "keistimewaan bekerja dari rumah era COVID" akan memicu gelombang pengunduran diri sukarela yang menurutnya positif bagi efisiensi pemerintah.
Tetapi, beberapa anggota kabinet yang semula menerima gaya Elon yang unik ini perlahan mulai merasa tidak nyaman dengan pendekatannya. Lama-kelamaan, mereka menjadi lebih berani menolak pemotongan karyawan yang diusulkan Elon, terutama setelah Trump sendiri menegaskan pada Maret lalu bahwa keputusan staf berada di tangan masing-masing sekretaris departemen, bukan Elon.
Elon berselisih secara terbuka dengan tiga menteri senior Trump—Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Transportasi Sean Duffy, dan Menteri Keuangan Scott Bessent. Ia bahkan menyebut penasihat perdagangan Trump, Peter Navarro, sebagai "orang bodoh" dan "lebih bodoh dari sekantong batu bata". Navarro sendiri menanggapi santai dengan mengatakan: "Saya pernah dipanggil lebih buruk."
Menjelang akhir masa jabatannya, Elon mulai memberi isyarat bahwa waktunya di pemerintahan hampir habis, sambil menyatakan frustrasi karena tidak bisa memangkas anggaran pemerintah secara lebih agresif.
Dalam telekonferensi Tesla pada 22 April lalu, Elon mengisyaratkan akan mengurangi keterlibatannya di pemerintahan untuk fokus pada bisnisnya.
"Kondisi birokrasi federal ternyata jauh lebih buruk dari yang saya bayangkan," kata Elon kepada The Washington Post pekan ini. "Saya tahu ada masalah, tetapi ternyata memperbaiki situasi di Washington benar-benar perjuangan berat."
MISI DOGE BERLANJUT
Masa kerja Elon sebagai pegawai khusus pemerintah dalam pemerintahan Trump selama 130 hari dijadwalkan berakhir sekitar 30 Mei. Pemerintahan Trump menyatakan bahwa upaya DOGE untuk merestrukturisasi dan mengecilkan pemerintahan federal tetap akan dilanjutkan.
Beberapa menteri kabinet kini sedang berdiskusi dengan Gedung Putih tentang bagaimana melanjutkan upaya ini tanpa membuat marah para anggota Kongres dari Partai Republik. Walaupun sebagian struktur DOGE tetap akan dipertahankan, kemungkinan besar para pemimpin departemen akan mengambil kembali kontrol penuh atas anggaran dan staf mereka, menurut sumber Reuters.
"Misi DOGE hanya akan semakin kuat sementara menjadi bagian dari budaya kerja pemerintah," ujar Elon.
Trump dan DOGE sejauh ini telah memangkas hampir 12 persen, atau sekitar 260 ribu pegawai sipil dari total 2,3 juta pegawai pemerintah federal. Pemangkasan ini sebagian besar dilakukan melalui ancaman pemecatan, tawaran pensiun dini, dan kompensasi pengunduran diri sukarela, menurut kajian Reuters.
Meski begitu, DOGE juga menemui berbagai kendala, seperti putusan pengadilan yang kadang membatalkan upaya DOGE membubarkan beberapa lembaga federal. Pemotongan staf dan dana juga menyebabkan hambatan dalam pembelian, naiknya biaya, serta hilangnya bakat ilmiah dan teknologi dari pemerintah.
Kritikan Elon terhadap RUU perpajakan Partai Republik baru-baru ini juga menciptakan gesekan dengan pejabat Gedung Putih.
"Saya kecewa melihat RUU belanja besar ini, yang justru memperbesar defisit, bukan menguranginya, dan merusak kerja tim DOGE," kata Elon kepada CBS News.
Aktivitas politik Elon juga telah menuai protes, sementara beberapa investor Tesla meminta Elon untuk meninggalkan pemerintahan Trump agar lebih fokus pada perusahaannya sendiri yang belakangan mengalami penurunan penjualan dan harga saham.
Elon, orang terkaya di dunia, sebelumnya telah menghabiskan hampir US$300 juta untuk mendukung kampanye Trump dan Partai Republik pada pemilu lalu. Namun, bulan ini ia mengumumkan akan mengurangi secara signifikan pengeluaran politiknya.
"Saya rasa saya sudah melakukan yang cukup," kata Elon dalam forum ekonomi di Qatar baru-baru ini.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.