Skip to main content
Iklan

Dunia

FOKUS: Senjata kecil, dampak besar – bagaimana drone telah mengubah wajah perang

Drone (pesawat nirawak) kian menjadi garda terdepan dalam berbagai konflik belakangan ini. Namun, mampukah aset nirawak tersebut sepenuhnya menggantikan persenjataan konvensional?

FOKUS: Senjata kecil, dampak besar – bagaimana drone telah mengubah wajah perang

Seorang anggota Departemen Polisi Patroli Ukraina memasang bom jatuh mini rakitan pada sebuah drone di dekat Toretsk, di tengah serangan Rusia terhadap Ukraina di wilayah Donetsk, 19 Desember 2024. (Foto arsip: Stringer/Reuters)

SINGAPURA: Alat pengendalinya pas dalam genggaman. Dengan sedikit gocekan pada joystick, sebuah drone (pesawat nirawak) kecil perlahan terbang ke langit.

Bagi seorang penghobi drone, satu sore bisa dimanfaatkan untuk sekadar memburu gambar udara yang indah. Namun, di tangan seorang prajurit, drone bisa menjadi senjata.

Dengan bahan peledak terpasang, drone yang harganya jauh lebih murah daripada sebuah tank dapat menghancurkan kendaraan lapis baja dalam sekejap.

Pesawat ini, yang secara resmi disebut pesawat udara nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV), kian menjadi garda terdepan di medan perang modern.

“Militer (berbagai negara) sedang mencari solusi pamungkas,” kata peneliti madya di S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Thomas Lim.

“Setiap kali muncul bentuk teknologi baru, Anda tentu memikirkan cara mengatasi ancaman tersebut. Jika itu berpotensi mengancam saya, saya harus memastikan sudah memiliki solusi ketika saatnya tiba.

“Dalam gambaran besarnya, militer sudah tahu cara mengimbanginya – mempercepat pengadaan, mengikuti laju perkembangan ... atau mencari solusi yang membuat Anda tetap selangkah lebih maju.”

Dari medan perang Ukraina hingga Timur Tengah, berbagai konflik belakangan ini menunjukkan bahwa drone telah menjadi bagian penting perlengkapan militer.

Dalam gambar dari video yang dirilis Kementerian Pertahanan Rusia pada 24 September 2024 ini, sebuah drone Rusia menjatuhkan bahan peledak di lokasi yang dirahasiakan di wilayah Donetsk. (Foto: Russian Defence Ministry Press Service)

Menurut para pakar pertahanan, sebagai langkah awal, militer perlu berinvestasi pada drone. Namun, apakah mereka akan tertinggal bila tidak melakukannya bergantung pada sasaran masing-masing negara.

“Dalam hal kemampuan serang, misalnya, jika suatu negara menginginkan kemampuan tersebut tetapi mungkin tidak memiliki anggaran atau sumber daya untuk pesawat sayap tetap berteknologi tinggi atau platform rudal, drone bisa menjadi alternatif yang layak,” kata peneliti RSIS Dr Ian Li Huiyuan.

“Tentu saja negara tersebut harus menyadari keterbatasan kemampuannya. Namun, setidaknya Anda memiliki sesuatu ketimbang tidak sama sekali.”

Lawan yang dihadapi juga menjadi faktor penting.

“Mengapa Iran, misalnya, berfokus pada drone murah? Menurut saya, alasan utamanya adalah lawan atau pesaingnya – seperti Amerika Serikat dan Israel – memiliki teknologi sangat maju yang tidak akan mampu diimbangi Iran secara langsung,” tambah Dr Li.

“Jadi, mereka perlu mencari semacam cara untuk sekiranya mempersempit kesenjangan itu, dan menurut saya drone memberi mereka pilihan untuk melakukannya.”

Drone telah terbukti mampu memberikan hasil taktis. Namun, mampukah pesawat nirawak ini sendirian menentukan hasil akhir perang?

PERANG-PERANG TERKINI

Seiring drone mengubah medan perang, militer di seluruh dunia menata ulang prioritas mereka.

Inggris meluncurkan Defence Investment Plan pada akhir Juni dan mengumumkan “investasi drone terbesar sepanjang sejarah”.

Lebih dari £5 miliar (Rp119,2 triliun) akan dialokasikan dalam empat tahun ke depan untuk membangun kemampuan drone di seluruh angkatan bersenjata Inggris.

“Seperti diperlihatkan konflik di Iran dan Ukraina, drone dengan cepat mengubah peperangan. Sistem murah dapat menghancurkan sasaran bernilai tinggi, sementara siklus inovasinya dihitung dalam hitungan minggu, bukan tahun,” kata Kementerian Pertahanan Inggris.

Kapal-kapal tua Angkatan Laut Inggris tidak akan diganti, sedangkan kapal “hibrida” baru yang mampu mengerahkan drone akan dibangun.

Korea Selatan berencana mengakuisisi 20.000 drone militer untuk menghadapi ancaman Korea Utara, dengan merujuk pada pelajaran dari perang di Ukraina dan Timur Tengah.

Menyebut drone sebagai “faktor penentu di medan perang”, Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back mengatakan armada itu akan mencakup drone pengintai jarak pendek dan drone serang kecil yang dikenal sebagai munisi berkeliaran (loitering munitions).

Kepulan asap tebal dan kobaran api membubung dari sebuah kilang minyak setelah serangan drone Ukraina dalam konflik Rusia-Ukraina di Moskow, Rusia, 18 Juni 2026, dalam gambar yang diperoleh dari media sosial. (Foto: Reuters/via media sosial)

Perang Rusia-Ukraina telah membuka era baru bagi drone sekaligus memperlihatkan keunggulannya di medan tempur.

Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina melancarkan serangan drone terhadap kilang minyak dan kapal tanker Rusia. Serangan pada 18 Juni menembus pertahanan udara Rusia dan menghantam sasaran jauh di wilayah lawan.

Ukraina juga menggunakan drone quadkopter canggih untuk menjatuhkan granat ke dalam palka tank Rusia, serta “drone naga” (dragon drones) untuk menyemburkan termit ke kawasan hutan yang diduga menjadi persembunyian pasukan Rusia.

Termit adalah campuran serbuk logam – biasanya aluminium – dan oksida besi atau karat, yang menghasilkan panas ekstrem, disebut bisa mencapai lebih dari 2.200 derajat Celsius.

Perang drone juga dilaporkan merambah lautan. Ukraina mengklaim drone lautnya berhasil menembak jatuh sebuah jet tempur Rusia.

Rusia merespons dengan memperluas basis produksi drone dalam negeri, tulis jurnalis lepas Ukraina-Amerika David Kirichenko untuk lembaga pemikir Atlantic Council.

Rusia mengerahkan drone serat optik, yang dikendalikan dengan kabel yang terhubung langsung ke operator sehingga kebal terhadap pengacauan sinyal (jamming).

Komandan Rusia mulai menggunakan drone tersebut dalam jumlah besar pada akhir 2024. Drone itu kemudian digunakan untuk mengganggu jalur pasokan Ukraina, tulis Kirichenko.

Hamas juga banyak dilaporkan mengadaptasi taktik drone dari perang Rusia-Ukraina dalam perangnya melawan Israel.

Kelompok militan Palestina itu menggunakan drone kecil berisi alat peledak rakitan untuk menyerang menara komunikasi di dekat perbatasan Gaza dan pos pengamatan Israel dalam serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan ratusan orang.

Hamas juga merusak sistem canggih – sebagian bernilai jutaan dolar – dan melumpuhkan infrastruktur sehingga menghambat komunikasi antarpasukan.

Sejumlah video memperlihatkan Hamas menggunakan drone komersial yang telah dimodifikasi untuk membawa senjata guna menyerang tank Merkava 4 milik Israel.

Lembaga verifikasi Sanad milik organisasi berita global Al Jazeera menemukan bahwa militer Israel juga memodifikasi drone komersial untuk menjatuhkan bom ke rumah sakit dan tempat-tempat pengungsian.

Drone juga banyak digunakan dalam bentrokan Kamboja-Thailand. Kamboja dilaporkan mengerahkan drone serat optik, sedangkan Thailand membentuk pusat sistem udara nirawak dan satu batalion khusus untuk mengendalikan serta memadukan operasi drone angkatan daratnya.

Dalam perang yang masih berlangsung di Timur Tengah, Iran mengerahkan ratusan drone Shahed – drone serang satu arah berbiaya rendah – untuk membanjiri sistem pertahanan udara.

Amerika Serikat juga menggunakan drone yang meniru rancangan Iran dalam serangannya.

KEUNGGULAN DAN KETERBATASAN DRONE

Keunggulan drone sulit diabaikan – harganya lebih murah daripada senjata konvensional dan dapat memberikan presisi lebih tinggi.

Drone tipe first-person view (FPV) berbiaya rendah dan drone komersial dapat dikerahkan secara massal untuk operasi garis depan dan serangan.

Berbekal kamera dan amunisi, drone FPV dapat memandu operator ke wilayah terpencil, mengenali sasaran, dan menjatuhkan muatan peledak secara langsung sembari mengirimkan tayangan video secara real-time.

Sebagian drone dapat berputar-putar di suatu wilayah selama berjam-jam untuk mengumpulkan intelijen. Karena dapat dikorbankan, drone juga memungkinkan militer menjalankan misi berbahaya tanpa mempertaruhkan nyawa prajurit.

Bagi negara seperti Ukraina, drone yang murah dan berpotensi tersedia dalam jumlah besar menjadi pilihan menarik untuk mengimbangi keunggulan lawan dalam sumber daya, personel, daya tembak, dan pendanaan, tulis Kirichenko dalam analisisnya.

Namun, drone tidak dapat sepenuhnya menggantikan rudal dan tetap memiliki keterbatasan, kata Dr Li dari RSIS.

Drone umumnya berukuran lebih kecil sehingga muatan dan bahan bakar yang dapat dibawanya pun terbatas.

“Tentu saja, Anda bisa mengatakan kita cukup membeli lebih banyak drone. Namun, itu tetap pilihan yang sangat berbeda. Jadi, ini sebenarnya bukan mengganti apel dengan jenis apel lain; ini benar-benar membandingkan apel dan jeruk, lalu memilih mana yang paling sesuai dengan selera Anda saat itu,” ujarnya.

STRATEGI DRONE SINGAPURA

Drone militer bukan hal baru bagi Angkatan Bersenjata Singapura (Singapore Armed Forces/SAF). SAF pertama kali menggunakan UAV dalam bentuk awal pada 1979 dan sejak itu memperluas kemampuannya secara signifikan.

Lanskap peperangan berkembang seiring munculnya drone asimetris berbiaya rendah dan kawanan drone untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (intelligence, surveillance, and reconnaissance/ISR), yang memungkinkan satu operator mengendalikan banyak aset sekaligus.

Menteri Pertahanan Chan Chun Sing mengatakan dalam pidato anggaran kementeriannya tahun ini bahwa SAF akan mengembangkan perpaduan kemampuan “tinggi-rendah” (high-low), yakni sistem konvensional berteknologi tinggi dilengkapi sistem berbiaya rendah, berfungsi ganda, dan tersedia secara komersial, terutama di bidang drone dan teknologi digital.

“Kami juga akan memfokuskan upaya kami memadukan operasi berawak dan nirawak sebagai satu sistem. Untuk perpaduan antara yang berawak dan nirawak ini, komposisinya akan menjadi keseimbangan dinamis yang ditentukan laju perkembangan teknologi,” ujarnya.

Dalam latihan dua tahunan di Amerika Serikat tahun lalu, SAF menguji tiga drone komersial: Skydio X10, Ascent Spirit, dan Neros Archer.

Selain itu, Angkatan Udara Republik Singapura (Republic of Singapore Air Force/RSAF) telah mengakuisisi Hermes 900, yang mampu menjalankan operasi terus-menerus dalam jangka panjang tanpa harus kembali ke pangkalan.

RSAF juga memiliki Hermes 450 dengan sistem komunikasi yang dapat mengirimkan citra waktu nyata.

UAV Heron 1 meningkatkan kesadaran situasional dan efektivitas misi, sedangkan UAV jarak dekat Orbiter 4 dapat beroperasi di berbagai lingkungan, termasuk kawasan perkotaan dan ruang sempit, untuk mendukung operasi antiterorisme dan masa damai.

UAV Heron 1 dalam Exercise Forging Sabre di Mountain Home Air Force Base, Idaho, Amerika Serikat, 10 September 2025. (Foto: CNA/Ili Mansor)

Angkatan Laut Republik Singapura (Republic of Singapore Navy/RSN) melengkapi Littoral Mission Vessel dengan UAV Veloce 60 buatan dalam negeri untuk misi ISR maritim dan darat jarak jauh.

RSN juga mengoperasikan UAV ScanEagle pada korvet rudal kelas Victory. Pesawat ini berfungsi sebagai pengintai bergerak cepat untuk mendeteksi ancaman.

Angkatan Darat Singapura menggunakan Veloce 15 untuk operasi jarak dekat di kawasan perkotaan dan misi pengintaian.

Chan mengumumkan tahun lalu bahwa para rekrutan Pelatihan Dasar Militer kini belajar menerbangkan drone sekaligus menangkalnya.

Angkatan pertama yang menerima pelatihan drone, terdiri dari lebih dari 3.000 prajurit, mulai menjalani wajib militer pada Juli tahun lalu dan lulus pada September.

Berbagai satuan Angkatan Darat dalam Exercise Wallaby tahun lalu – latihan unilateral terbesar SAF di luar negeri – berkesempatan menjalankan beragam misi dan latihan tembak langsung terpadu darat-udara dengan dukungan UAV.

Seorang rekrutan Angkatan Bersenjata Singapura menggunakan drone saat latihan lapangan di Pulau Tekong, 4 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ili Mansor)

Para pakar pertahanan mencatat upaya SAF memadukan drone di seluruh matra, bukan membatasi penggunaannya pada satu cabang angkatan bersenjata.

Menurut Lim dari RSIS, hal ini menunjukkan bahwa SAF memahami kemampuan drone di medan perang. Namun, pemahaman itu harus diwujudkan menjadi kemampuan mengoperasikan drone secara andal melalui pelatihan dan latihan militer, baik di dalam maupun luar negeri.

Militer Singapura juga menghadapi kerentanan berbeda, termasuk proyeksi penyusutan jumlah personel hingga sepertiga pada 2030 akibat angka kelahiran yang menurun.

“SAF selalu berbicara tentang, misalnya, teknologi sebagai pengganda kekuatan (force multiplier). Namun, pemikiran teknologi sebagai pengganda kekuatan … pada saat ini, dengan berbagai keterbatasan pada teknologi tersebut, manfaatnya hanya sampai titik tertentu. Setidaknya untuk sekarang, Anda tetap membutuhkan operator manusia,” tambah Lim.

“Karena itu, SAF harus menghadapi realitas baru ini, selain berbagai macam keterbatasan yang pernah ada, dan memikirkan ulang struktur kekuatan, doktrin peperangan, serta cara kita menyikapi perkembangan teknologi lebih baru semacam ini.”

Mayor Andrew Ong dari DROID mengoperasikan drone Neros Archer dalam Exercise Forging Sabre di Saylor Creek Range, Idaho, Amerika Serikat, 9 September 2025. (Foto: CNA/Ili Mansor)

DRONE VERSUS SENJATA KONVENSIONAL

Dengan drone yang menjadi pusat perhatian dalam berbagai konflik belakangan ini, wajar bila muncul pertanyaan apakah negara sebaiknya hanya membeli drone. Para pakar pertahanan mengingatkan agar tidak mengambil langkah tersebut.

Sejumlah militer mengembangkan UAV lebih besar yang mampu terbang jauh dan membawa muatan dalam kelas yang setara dengan aset serang.

“Namun, kita belum sampai pada tahap untuk mengatakan bahwa drone dapat menggantikan semua yang kini dilakukan pasukan berawak,” kata Lim dari RSIS.

“Dengan melakukan itu, Anda juga menghilangkan keterlibatan langsung manusia – bukan sepenuhnya mengeluarkannya dari lingkaran – tetapi menjauhkannya dari lingkaran garis depan pengambilan keputusan. Hal ini dapat memperumit penentuan pihak yang bertanggung jawab atas suatu serangan.”

Ia menambahkan: “Selalu ada unsur manusia dalam perang atau medan tempur ... Perang adalah benturan kehendak, dan ketika membicarakan kehendak, kita kerap membahasnya dalam konteks manusia.

“Agak mengkhawatirkan jika tujuan politik pribadi sepenuhnya diserahkan kepada mesin. Saya kira itulah kekhawatiran mendalam saya pribadi terhadap skenario yang – saya enggan menyebutnya distopia – tetapi nyaris menyerupai distopia.”

Ketimbang sekadar membeli drone, yang lebih penting adalah berinvestasi pada inovasi, pengembangan, dan kapasitas produksi, demikian pendapat profesor keamanan internasional di University of Birmingham, Stefan Wolff.

“Siklus inovasi drone dan kemampuan anti-drone berlangsung sangat cepat. Jadi, jika Anda membeli banyak drone hari ini, besar kemungkinan Anda menghabiskan – atau membuang – banyak uang untuk drone yang sudah usang ketika akhirnya dibutuhkan di medan perang,” ujarnya.

Prof Wolff merupakan salah satu pendiri Navigating the Vortex, yang menyediakan analisis tentang berbagai isu seperti geopolitik, tata kelola, dan teknologi.

Teknologi militer jarang mempertahankan keunggulan tanpa tandingan untuk waktu lama, tulis mantan letnan kolonel Pasukan Khusus Hungaria Sandor Fabian dalam analisisnya untuk Modern War Institute di akademi militer Amerika Serikat, West Point.

Lembaga itu merupakan pusat nasional yang mempelajari konflik terkini dan yang masih berlangsung untuk mempersiapkan para pemimpin masa kini dan masa depan.

“Setiap inovasi ofensif segera memunculkan adaptasi defensif,” kata Dr Fabian. Peperangan elektronik berkembang pesat untuk menghadapi drone; pengacauan dan intersepsi sinyal kini menjadi bagian dari operasi militer.

“Peningkatan otonomi drone diimbangi kemajuan dalam peperangan elektromagnetik, pertahanan udara, sistem deteksi pasif, teknik pengelabuan, dan teknologi anti-pesawat nirawak.

“Dinamika ini semestinya meredam prediksi bahwa drone akan mendominasi medan perang masa depan tanpa batas. Efektivitasnya tidak hanya bergantung pada inovasi drone, tetapi juga pada seberapa cepat sistem pertahanan beradaptasi,” ujarnya.

Selain itu, aset konvensional masih memiliki keunggulan yang belum dapat ditandingi drone, terutama dari segi daya tembak.

Drone lebih kecil dan tidak dapat membawa hulu ledak besar. Pesawat nirawak juga tidak setangguh atau seandal platform berawak karena bergantung pada kondisi seperti cuaca, kata Dr Li dari RSIS.

“Jika cuaca buruk, drone sebenarnya sama sekali tidak efektif,” ujarnya.

“Jika Anda melihat perang di Ukraina, dalam hal tingkat keberhasilan drone dalam mengenai sasaran saat ini, saya kira kisarannya adalah 40 persen, jadi itu sebenarnya tidak terlalu bisa diandalkan.

“Jika memperhitungkan drone yang bahkan tidak dapat lepas landas akibat segala macam kondisi (cuaca), sejumlah studi menunjukkan angkanya turun ke kisaran 30 persen.”

Platform berawak sudah teruji. “Dalam sebagian besar situasi, platform itu lebih andal, setidaknya dalam menghasilkan dampak yang diinginkan,” kata Dr Li.

Pendekatan ideal adalah memadukan aset konvensional dengan drone agar keunggulan keduanya saling melengkapi dan keterbatasannya tertutupi.

“Drone tidak bisa merebut kota. Drone tidak mengamankan jalur pasokan atau mempertahankan garis pertahanan. Drone tidak mengevakuasi warga sipil, memperbaiki infrastruktur, atau menegakkan kendali politik,” tulis Dr Fabian.

“Itulah sebabnya militer yang paling efektif tidak memperlakukan drone sebagai pengganti, melainkan memperlakukannya sebagai perluasan peperangan manuver gabungan.”

Senada, Dr Li mengatakan platform berawak tetap berguna di ketinggian yang lebih tinggi, tempat kondisi operasional lebih menantang.

Namun, platform tersebut tidak seefektif itu di ketinggian rendah karena lebih rentan terhadap tembakan dari darat – dan di situlah drone berperan.

“Tidak ada satu jawaban untuk segala persoalan ... jalan ke depan sebetulnya adalah memiliki beragam pilihan sehingga tersedia lebih banyak alat di dalam ‘kotak perkakas’ Anda.”

PERLOMBAAN SENJATA DI DEPAN MATA?

Laporan tahun ini menunjukkan bahwa Ukraina telah mengerahkan drone baru bernama Hornet, yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI), dalam perangnya melawan Rusia.

Drone tersebut menggunakan AI untuk menganalisis tayangan video langsung dan menyerang sasaran Rusia dengan hulu ledak bawaan.

Para analis juga memperkirakan drone masa depan akan lebih cepat, lebih cerdas, lebih otonom, dan lebih mematikan.

Cara terbaik mengikuti laju perkembangan drone adalah mengamati konflik yang sedang berlangsung dan berkonsultasi dengan militer yang berada di garis depan penggunaan drone, kata Dr Li dari RSIS.

Namun, yang juga penting adalah apakah militer cukup adaptif untuk memadukan drone. “Sebab, dalam beberapa kasus, hal ini menuntut perubahan mendasar terhadap cara kerja yang ada,” ujarnya.

“Saya kira terkadang kendalanya bukan apakah kita tahu atau mampu mempelajari dengan cukup cepat apa yang dapat dilakukan drone, melainkan sebetulnya – sayangnya – hal-hal seperti birokrasi, prosedur berbelit, serta praktik yang sudah mengakar dalam menentukan jenis aset yang kita beli.

“Belajar adalah satu hal, tetapi menurut saya organisasi itu sendiri harus siap lebih adaptif terhadap perubahan seperti ini dan benar-benar bersedia memadukannya, dan itu membutuhkan lebih dari sekadar memahami apa yang dapat dilakukan drone.”

Anggota Brigade Sistem Penerbangan Serang Nirawak Terpisah ke-414 “Magyar's Birds” menyiapkan drone serang jarak jauh FP-1 untuk misi tempur di sebuah lokasi yang dirahasiakan di Ukraina pada 2026, di tengah invasi Rusia ke Ukraina. (FOTO: Reuters/Valentyn Ogirenko)

Lim dari RSIS menambahkan bahwa proses pengadaan militer berubah cepat karena teknologi drone juga berkembang sangat pesat.

Namun, ia tidak melihat hal itu akan memicu perlombaan senjata. Drone bukan teknologi baru; teknologi itu kini hanya menjadi sorotan berkat hasil yang dicapainya di medan perang.

“Militer terkadang sangat terpikat oleh perkembangan tren terbaru ... Anda berusaha mengikuti perkembangan teknologi, Anda akhirnya justru melaju terlalu cepat,” kata Lim.

“Kemudian, ketika menengok ke belakang, Anda menyadari: Apakah saya akhirnya menyia-nyiakan sumber daya untuk sesuatu yang seharusnya dapat saya investasikan di tempat lain?

“Seberapa cepat saya harus bergerak agar tidak tertinggal, tetapi juga tidak terlalu jauh di depan, iya kan? Ini sangat penting, terutama bagi militer yang memiliki ruang kesalahan lebih kecil.

“Militer memang sulit memosisikan diri untuk menghadapi perang hari ini sekaligus bersiap menghadapi apa pun yang datang esok. Mencoba untuk menemukan dan mempertahankan posisi ideal itu, menurut saya, merupakan pergulatan sehari-hari yang terus dihadapi para perencana (militer) saat ini.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan