Skip to main content
Iklan

Dunia

Trump ancam cabut bantuan AS jika Israel nekat caplok Tepi Barat

Komentar Trump itu menyusul diloloskannya rancangan kebijakan yang memungkinkan Israel menganeksasi Tepi Barat.

Trump ancam cabut bantuan AS jika Israel nekat caplok Tepi Barat

Presiden AS Donald Trump berpidato di hadapan Knesset di Yerusalem, pada 13 Oktober 2025. (Foto: Reuters/Pool)

24 Oct 2025 04:58PM (Diperbarui: 24 Oct 2025 05:04PM)

WASHINGTON: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam bahwa Israel akan kehilangan dukungan krusial dari AS jika nekat menganeksasi wilayah Tepi Barat.

Komentar Trum itu disampaikan dalam wawancara terbaru melalui panggilan telepon dengan majalah Time yang dipublikasikan pada Kamis (23/10). Komentar Trump ini menyusul adanya peringatan dari Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio agar Israel tidak nekat melakukan aneksasi.

"Itu tidak akan terjadi. Tidak akan terjadi karena saya sudah berjanji kepada negara-negara Arab. Dan itu tidak akan mungkin terjadi sekarang. Kami sudah mendapat dukungan besar dari negara-negara Arab," kata Trump ketika ditanya soal konsekuensi bagi Israel jika tetap melakukannya.

"Israel akan kehilangan seluruh dukungan dari Amerika Serikat jika hal itu terjadi," lanjutnya.

Trump juga mengaku ia percaya Arab Saudi akan bergabung dalam Abraham Accords—perjanjian yang menormalkan hubungan antara Israel dan negara-negara Arab—sebelum akhir tahun ini.

"Ya, saya percaya. Saya percaya," ujar Trump ketika ditanya apakah ia yakin Riyadh akan bergabung dalam waktu tersebut.

"Mereka sebelumnya punya masalah. Mereka punya masalah Gaza dan punya masalah Iran. Sekarang mereka tidak lagi punya dua masalah itu," katanya, merujuk pada perang Israel di Gaza dan program nuklir Iran yang menjadi target serangan udara AS awal tahun ini.

Trump menambahkan ia akan "mengambil keputusan" soal apakah Israel sebaiknya membebaskan tahanan pejabat Palestina, Marwan Barghouti, sebagai bagian dari upaya perdamaian.

Barghouti—anggota gerakan Fatah yang menjadi rival Hamas—disebut sebagai salah satu tahanan yang ingin dibebaskan oleh Hamas sebagai bagian dari kesepakatan Gaza, menurut laporan media yang terkait dengan pemerintah Mesir.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump telah mengirim sejumlah pejabat tinggi AS ke Israel untuk memperkuat gencatan senjata di Gaza rentan berakhir kapan saja itu. Gencatan senjata itu diperantarai oleh AS sejak awal bulan ini.

Namun, ketika kunjungan tiga hari Vance berakhir dan Rubio tiba, parlemen Israel justru meloloskan dua rancangan undang-undang yang membuka jalan bagi aneksasi Tepi Barat.

Vance menyebut langkah itu sebagai "aksi politik yang sangat bodoh, dan secara pribadi aku merasa tersinggung."

Sementara itu, ketika Rubio berangkat dari Washington, ia memperingatkan Israel agar tidak melanjutkan rencana aneksasi Tepi Barat.

Rubio mengancam bahwa langkah yang diambil parlemen Israel itu, disertau dengan serangkaian kekerasan yang dilakukan para pemukim, dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata di Gaza.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan