Direktur Museum Louvre salahkan CCTV atas perampokan perhiasan Rp1,6 triliun
Kamera pengawas yang tidak mencakup seluruh bagian museum membuat pencuri mampu beraksi di siang bolong, serta dapat melarikan diri hanya dalam hitungan menit.
Crane yang diduga digunakan sekelompok perampok ketika menggasak sejumlah perhiasan di museum Louvre, di Paris, Prancis, 19 Oktober 2025. (Foto: REUTERS/Gonzalo Fuentes)
PARIS: Kamera pengawas di Museum Louvre gagal mendeteksi kedatangan para pelaku sehingga empat pencuri berhasil membawa kabur perhiasan kerajaan Prancis bernilai fantastis, menurut direktur Museum Louvre, Laurence des Cars.
Komentar itu dikemukakan Des Cars di hadapan para senator Prancis pada Rabu (22/10), terkait kasus perampokan yang memperlihatkan kelalaian keamanan sehingga perampok dapat dengan mudah membobol gedung bersejarah itu.
Menurut keterangan polisi, para pencuri berhasil membobol museum paling terkenal di Paris itu pada Minggu (19/10) hanya dengan menggunakan crane untuk memanjat ke lantai atas menuju Galeri Apollo, menghancurkan jendela di lantai itu dan menggasak perhiasan senilai sekitar US$102 juta (Rp1,6 triliun) sebelum melarikan diri dengan sepeda motor.
Kabar perampokan ini menggema ke seluruh dunia dan membuat malu Prancis terkait sistem keamanan mereka.
Di hadapan Senat Prancis, Des Cars sendiri mengaku ia sudah menyerahkan pengunduran dirinya, namun ditolak oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati, yang juga turut dikritik atas peristiwa memalukan ini.
KELALAIAN KEAMANAN
"Meskipun kami telah berusaha, meskipun kami bekerja keras setiap hari, kami kalah," kata Des Cars kepada komite Senat, dikutip dari Reuters.
Banyak warga Prancis maupun publik internasional dibuat tak habis pikir bagaimana empat pelaku bertopeng bisa dengan santainya berkendara ke museum yang paling banyak dikunjungi di dunia, merusak jendela lantai dua, dan kabur membawa perhiasan berharga tanpa tertangkap.
Para menteri Prancis mengakui sistem keamanan mereka gagal, dan ini kegagalan yang sangat serius.
"Kami tidak mendeteksi kedatangan para pencuri dengan cukup cepat," ujar Des Cars, menyalahkan kurangnya kamera pengawas yang memantau perimeter Louvre.
Kamera luar gedung tidak memberikan cakupan penuh pada fasad museum, katanya, sembari menambahkan bahwa jendela tempat para pencuri masuk tidak diawasi CCTV.
Des Cars berjanji untuk meningkatkan jaringan CCTV, meminta kementerian dalam negeri Prancis mendirikan kantor polisi di dalam museum, serta menetapkan area bebas parkir di sekitar Louvre.
Ia mengaku telah berulang kali memperingatkan bahwa keamanan gedung bersejarah itu berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. "Peringatan yang selama ini saya suarakan menjadi kenyataan dengan begitu mengerikan pada hari Minggu lalu."
Sementara, mantan agen khusus FBI Amerika Serikat, Robert King Wittman, menekankan bahwa usia dan struktur bangunan museum membuat peningkatan keamanan modern menjadi sulit.
Menyoroti bahwa Louvre sendiri pada awalnya tidak dirancang sebagai museum, melainkan kastil pertahanan, Wittman menjelaskan: "Batu-batu yang menyusun dindingnya bisa setebal beberapa kaki dan sangat sulit memasang sistem surveilans nirkabel di dalam struktur seperti ini."
Agen FBI spesialis kejahatan seni ini juga menambahkan bahwa meskipun pencurian ini direncanakan dengan baik, eksekusi dan aksi kaburnya justru buruk. Ia yakin polisi Prancis pada akhirnya akan menangkap para pelaku.
"Mereka meninggalkan begitu banyak jejak forensik. Mereka meninggalkan kendaraan yang dipakai untuk memasang tangga, mereka menjatuhkan salah satu rompi mereka yang pasti memiliki DNA di mana-mana," katanya kepada program Asia First dari CNA.
"Saya pikir pihak berwenang akan bisa menemukan siapa saja yang terlibat. Mereka akan menghadapi hukuman penjara bertahun-tahun, mungkin hingga satu dekade."
Wittman juga menyoroti bahwa prioritas pendanaan museum kerap mengutamakan pameran dan penghargaan kepada donatur, sementara anggaran keamanan sering menjadi sasaran pemangkasan karena dianggap sebagai biaya, bukan investasi yang menghasilkan pemasukan.
"Tidak ada yang ingin membayar kamera. Mereka ingin membayar pameran. Itulah pola pikir yang terjadi di seluruh dunia ketika membicarakan soal keamanan," katanya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.