Skip to main content
Iklan

Dunia

Comeback rebut kembali Gedung Putih, Donald Trump resmi disumpah, presiden tertua AS dalam sejarah

Trump dengan dramatis kembali menjadi orang nomor satu AS setelah rentetan kasus hukum yang membelitnya serta percobaan pembunuhan yang hampir menewaskannya.

Comeback rebut kembali Gedung Putih, Donald Trump resmi disumpah, presiden tertua AS dalam sejarah
Donald Trump disumpah sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat oleh Ketua Mahkamah Agung John Roberts di Capitol Hill, Washington DC, Senin (20/1/2025). (SAUL LOEB/Pool via REUTERS TPX IMAGES OF THE DAY)
21 Jan 2025 12:09AM (Diperbarui: 21 Jan 2025 12:21AM)

WASHINGTON DC: Donald Trump secara spektakuler kembali ke Gedung Putih setelah disumpah sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat (AS) di Capitol Hill Rotunda, Washington DC, oleh Ketua Mahkamah Agung, John Roberts, Senin siang (20/1).

Trump yang saat ini berumur 78 tahun 7 bulan mencatatkan sejarah sebagai presiden tertua AS mengalahkan rekor pendahulunya Joe Biden yang disumpah empat tahun lalu di umur 78 tahun 2 bulan.

Taipan real estat ini menjadi presiden kedua dalam 132 tahun setelah Groger Cleveland yang disumpah untuk masa jabatan kedua tidak berturut-turut.

Seperti diketahui Trump menjabat menjadi orang nomor satu AS pada periode 2017 hingga 2021 sebelum dikalahkan oleh Biden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2020.

Senator Ohio JD Vance (40) disumpah sebagai Wakil Presiden (Wapres) AS ke-50 sekaligus sosok termuda ketiga dalam sejarah.

Upacara pelantikan yang biasanya secara tradisi digelar secara terbuka di bagian barat Capitol yang juga Gedung Kongres AS dipindah ke dalam karena suhu musim dingin yang menyentuh minus 4 derajat celsius.

Suporter-suporter Trump dengan topi merah MAGA, singkatan dari slogan khas Trump yaitu Make America Great Again, terlihat membanjiri ibukota AS untuk menjadi saksi kembali berkuasanya idola politik mereka. 

Tamu-tamu negara asing yang didominasi sosok berideologi konservatif hingga kanan jauh mulai dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Ekuador Gustavo Noboa, mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, politisi Inggris Nigel Farage, pemimpin Partai Alternatif untuk Jerman Tino Chrupalla terlihat menghadiri pelantikan.

Ikut hadir juga Wakil Presiden China Han Zheng yang mewakili Presiden Xi Jinping sebagai perwakilan dari Negeri Tirai Bambu.

Kehadiran perwakilan negara asing adalah yang pertama kalinya dalam sejarah pelantikan Presiden AS. 

Selain itu tiga mantan presiden AS yang masih hidup selain Biden yaitu Bill Clinton, George W Bush dan Barack Obama juga hadir. Terlihat juga mantan Ibu Negara serta Menteri Luar Negeri dan rival Trump, Hillary Clinton. 

JD Vance disumpah sebagai Wakil Presiden ke-50 Amerika Serikat oleh Hakim Agung Brett Kavanaugh di Capitol Hill, Washington DC, Senin (20/1/2025). (Julia Demaree Nikhinson/Pool via Reuters)

COMEBACK DRAMATIS TRUMP

Banyak yang awalnya meragukan apakah Trump dapat kembali ke kursi presiden, empat tahun setelah dia menolak mengakui kekalahannya yang memicu kerusuhan 6 Januari di Capitol yang mencoreng reputasi politiknya.

Presiden Republikan itu juga terbelit sejumlah kasus hukum di mana dia didakwa sejumlah tindak pidana mulai dari menyembunyikan pembayaran uang tutup mulut, upaya membalikkan kekalahannya di Pilpres 2020, hingga pelanggaran prosedur penanganan dokumen rahasia.

Ia adalah presiden terpilih AS pertama yang berstatus narapidana.

Hakim sendiri telah menjatuhkan bebas tanpa syarat kepada Trump karena konstitusi Amerika Serikat melindungi Presiden AS dari tuntutan pidana.

Namun guncangan demi guncangan kasus hukum yang bahkan membuatnya sempat ditinggal oleh sejumlah sekutu politiknya tidak menggoyahkan Trump.

Suami Melania Trump itu dengan mudah memenangkan nominasi Partai Republik untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Tidak ketinggalan, Trump lolos dari percobaan pembunuhan yang hampir merenggut nyawanya ketika berkampanye di kota Butler, Pennsylvania, bulan Juli lalu.

Kemenangan Trump bisa dikatakan sangat meyakinkan. Ia mengalahkan Wakil Presiden Kamala Harris dengan 312 electoral vote berbanding 226 menyapu seluruh 7 swing states.

Trump juga menjadi presiden Partai Republik pertama dalam 20 tahun yang memenangkan popular vote alias suara langsung dari rakyat.

Ketika pertama kali terpilih pada Pilpres 2016, Trump ketika itu kalah hampir 3 juta suara dari Hillary Clinton dalam popular vote. Meski demikian, Trump berhasil menjadi presiden karena unggul di Electoral College 304 melawan 227.

Mandat kedua Trump juga mendapat dukungan bukan hanya dari basis pemilihnya yang loyal yaitu kelas pekerja kulit putih. Kali ini ia berhasil meningkatkan dukungan suaranya di kalangan pemilih kelas pekerja Hispanik yang dikenal loyal terhadap Partai Demokrat.

Tidak seperti periode pertamanya di mana ia menghadapi resistensi politik dari berbagai pihak yang shock dengan kemenangan mengejutkannya, periode kedua Trump mendapat sokongan dari taipan-taipan teknologi seperti Bos X, Elon Musk, Bos Meta, Mark Zuckerberg, dan Bos Amazon Jeff Bezos yang semuanya menghadiri acara pelantikan.

Kekuasaan kedua Trump juga semakin kuat dengan dukungan legislatif dari Partai Republik yang menguasai mayoritas di DPR dan Senat AS.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: AGENCIES/ew

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan