Konflik Iran-Israel: China menyatakan Iran mampu menghindari lebih banyak ketegangan di Timur Tengah
Objek yang terlihat di wilayah udara Amman setelah Iran meluncurkan drone ke arah Israel dalam tangkapan layar yang diperoleh dari video media sosial, di Amman, Yordania 14 April 2024. (Foto: Dari video diperoleh REUTERS)
BEIJING: China mengatakan mereka yakin Iran bisa "menangani situasi” dengan baik dan menghindari gejolak lebih lanjut di Timur Tengah, mengacu pada serangan terhadap kedutaan Iran di Suriah dan serangan balasannya pada akhir pekan.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Iran bisa melakukan semua itu sambil menjaga kedaulatan dan martabatnya.
Ini dinyatakan Wang kepada Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian melalui panggilan telepon pada Senin (15 April).
Dia menambah China menghargai penekanan Iran untuk tidak menargetkan negara-negara regional dan tetangga, menurut kantor berita resmi Xinhua pada Selasa.
Wang juga mengatakan dia mencatat bahwa Iran menggambarkan tindakannya sebagai tindakan terbatas dan dilakukan untuk membela diri. China mengutuk keras dan dengan tegas menentang serangan kedutaan tersebut, dan menyebut insiden tersebut “tidak dapat diterima”, kata Wang.
Setelah memberi pengarahan kepada Wang mengenai posisi Iran, Amir-Abdollahian mengatakan kepada Wang bahwa Iran menyadari ketegangan regional, bersedia menahan diri dan tidak berniat melakukan eskalasi lebih lanjut.
Ketegangan meningkat di Timur Tengah ketika militer Israel berjanji akan menanggapi serangan Iran, dan beberapa negara menyerukan untuk menahan diri. Sejak serangan rudal pada Sabtu malam, banyak negara telah memanggil duta besar Iran.
Wang juga berbicara dengan menteri luar negeri Arab Saudi pada hari yang sama, kata Xinhua, sambil menyatakan bahwa China bersedia bekerja sama dengan Riyadh untuk menghindari eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Faisal bin Farhan Al Saud mengatakan bahwa Arab Saudi “sangat mengharapkan” China untuk memainkan peran aktif dan penting dalam hal ini, dan bahwa negaranya bersedia memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan Beijing untuk mendorong gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Gaza.
Sejak perang di Gaza dimulai pada bulan Oktober, bentrokan telah meletus antara Israel dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran di Lebanon, Suriah, Yaman dan Irak.
SERANGAN IRAN "TINDAKAN YANG SAH": PM MALAYSIA
Di Malaysia, Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan bahwa serangan drone dan rudal Iran pada hari Sabtu itu merupakan “tindakan yang sah” sebagai pembalasan atas pemboman Israel terhadap kedutaan Iran di Suriah awal bulan ini.
Dalam pernyataannya pada Senin (15 April), Anwar mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan konsekuensi dari pemboman “biadab” pemerintah Israel terhadap kedutaan Iran di Damaskus, Suriah pada 1 April. Insiden tersebut menewaskan 16 orang, termasuk beberapa anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
“Perang antara Iran dan Israel yang dimulai setelah pemerintah Zionis Israel menyerang kedutaan Iran, yang melanggar hukum internasional, adalah konsekuensi dari tindakan seseorang. Ketika Anda melanggar hukum, Anda mengundang reaksi,” kata Anwar, menurut Malay Mail dan platform media lainnya.
Dia menambahkan bahwa perang antara dua musuh regional ini tidak baik bagi perekonomian dan perdamaian dunia, dan dia akan mengadakan pertemuan dengan Kabinet Malaysia untuk memutuskan langkah selanjutnya.
Anwar juga mengatakan bahwa Putrajaya menyambut baik jaminan dari Iran bahwa tanggapannya akan sesuai dengan tindakannya, asalkan tidak ada provokasi lebih lanjut dari Israel.
Negara-negara Asia Tenggara yang lain juga bereaksi terhadap serangan Iran itu.
Kementerian Luar Negeri Singapura mengeluarkan pernyataan pada tanggal 14 April yang mengutuk serangan tersebut, dan menambahkan bahwa “serangan yang meningkat ini memperburuk ketegangan dan semakin menggoyahkan kawasan yang sudah tegang.”
Keesokan harinya, Filipina menyatakan "keprihatinan serius atas meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran."
Departemen Luar Negeri Filipina mengatakan bahwa mereka mendesak “semua pihak untuk menahan diri dari memperburuk situasi dan berupaya mencapai penyelesaian konflik secara damai”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam Pham Thu Hang juga mengatakan negaranya “sangat prihatin dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama tindakan kekerasan yang melanggar Piagam PBB dan menimbulkan kerugian pada warga sipil,” menurut platform media lokal VNExpress.
Malaysia dan Indonesia juga telah mengeluarkan pernyataan terpisah, menyerukan pengendalian diri.
Kedua negara itu tidak mengakui Israel dan telah menyatakan dukungannya terhadap hak-hak dan perjuangan Palestina.