Skip to main content
Iklan

Dunia

AI bikin pekerjaan 'entry-level' makin langka, anak muda di seluruh dunia rentan menganggur

ILO mencatat 67 juta orang berusia 15-24 tahun tak bekerja pada 2025, sementara pekerjaan entry-level tergerus imbas perkembangan AI.

AI bikin pekerjaan 'entry-level' makin langka, anak muda di seluruh dunia rentan menganggur

Ilustrasi pelamar mencari pekerjaan. (Foto: iStock/Yazid Nasuha)

Mencari pekerjaan semakin sulit bagi generasi muda di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perlambatan ekonomi, lemahnya penciptaan pekerjaan, ketegangan geopolitik, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bersamaan mengubah pasar tenaga kerja dan membuat perjalanan generasi muda menuju pekerjaan yang stabil semakin sulit.

Di tengah ekonomi yang melambat, perkembangan AI turut menyusutkan jenis pekerjaan yang selama ini banyak diandalkan anak muda untuk memulai karier.

Laporan Tren Ketenagakerjaan Global untuk Kaum Muda 2026 yang dirilis International Labour Organization (ILO) pada Selasa (11/8) mencatat, tingkat pengangguran anak muda berusia 15 hingga 24 tahun mencapai 12,4 persen pada 2025 atau setara dengan sekitar 67 juta orang.

Angka tersebut naik tipis dari 12,3 persen pada 2023, ketika tingkat pengangguran anak muda sempat mencapai level terendah sepanjang sejarah.

"Penganggur generasi muda global meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan penciptaan lapangan kerja yang lemah," tulis laporan tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

Pada saat bersamaan, jumlah anak muda yang tidak bekerja, tidak bersekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan (not in employment, education or training/NEET) juga meningkat menjadi sekitar 20 persen dari populasi muda dunia, setara dengan lebih dari 257 juta orang.

Direktur Departemen Ketenagakerjaan dan Perusahaan Berkelanjutan ILO Sukti Dasgupta mengatakan, kondisi pasar tenaga kerja telah berubah dibandingkan periode pemulihan setelah pandemi Covid-19.

"Situasinya kini telah berubah di tengah perlambatan ekonomi dan ketegangan geopolitik," jelas Dasgupta.

Dasgupta memperingatkan bahwa tingkat pengangguran anak muda justru naik ketika tingkat pengangguran secara keseluruhan sedikit menurun. Kondisi tersebut membuat anak muda sekarang memiliki kemungkinan empat kali lebih besar untuk menganggur dibandingkan orang dewasa.

Ilustrasi pencari kerja di depan laptop. (Foto: iStock/Aree Sarak)

TERJADI DI NEGARA MAJU DAN BERKEMBANG

Negara maju atau berpendapatan tinggi pun tidak otomatis menawarkan pasar kerja yang lebih mudah bagi generasi muda. Sebaliknya, sejumlah kenaikan pengangguran paling besar justru terjadi di wilayah tersebut.

Di Amerika Utara, misalnya, tingkat pengangguran anak muda naik dari 8,3 persen pada 2023 menjadi 9,8 persen pada 2025. Sementara di Eropa Utara, Selatan, dan Barat, angkanya tetap tinggi di kisaran 15 persen. Sebanyak 20 dari 29 negara di wilayah tersebut juga melaporkan melemahnya peluang kerja bagi generasi muda.

Namun, secara global, tingkat pengangguran anak muda tertinggi berada di negara-negara Arab dengan 26,2 persen, disusul Afrika Utara sebesar 22,6 persen. Di kedua subwilayah tersebut, setidaknya satu dari tiga anak muda masuk dalam kategori NEET.

Eropa Barat berada di posisi berikutnya dengan tingkat pengangguran anak muda sebesar 15 persen, kemudian Asia Timur 14,6 persen dan Asia Selatan 14,3 persen. Amerika Latin berada di angka 11,9 persen, sedangkan Amerika Utara 9,8 persen.

Afrika Sub-Sahara mencatat tingkat pengangguran anak muda terendah, yakni 8,4 persen. Namun, angka yang lebih rendah tidak berarti anak muda di kawasan tersebut memiliki pekerjaan yang lebih aman. ILO menyebut negara-negara dengan perekonomian berkembang menghadapi tantangan besar untuk menyediakan pekerjaan layak yang cukup bagi populasi muda yang terus bertambah.

Di wilayah-wilayah tersebut, "banyak anak muda tak mampu untuk tetap menganggur sehingga akhirnya mengambil pekerjaan informal atau pekerjaan dengan kondisi yang tidak menentu," catat organisasi tersebut.

"Hampir sembilan dari sepuluh pekerja muda berusia 15 hingga 29 tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah bekerja secara informal. Hal itu membatasi akses mereka terhadap pendapatan yang stabil dan perlindungan sosial," tulis laporan ILO tersebut.

Direktur Jenderal ILO Gilbert F Houngbo menilai, generasi yang tidak berhasil mendapatkan pekerjaan layak akan kesulitan membangun masa depan dengan rasa percaya diri. Ketika anak muda kehilangan akses terhadap pekerjaan berkualitas, negara juga berisiko kehilangan bakat, produktivitas, hingga kohesi sosial.

"Menciptakan pekerjaan yang layak bagi kaum muda bukan hanya keharusan sosial, melainkan juga salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan suatu negara," ujarnya.

AI AMBIL ALIH PEKERJAAN ENTRY LEVEL

Tekanan terhadap generasi muda bukan hanya datang dari perlambatan ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja. Perkembangan AI juga mulai menggeser jenis pekerjaan yang tersedia.

Pekerjaan berketerampilan menengah seperti administrasi, jasa, penjualan, hingga pekerjaan teknis selama ini menjadi pintu masuk anak muda ke dunia kerja. Kini, jumlahnya terus menyusut, terutama untuk pekerjaan rutin dan berbasis pengolahan data yang semakin rentan digantikan teknologi.

Menurut ILO, sekitar 6,1 persen pekerjaan yang dipegang anak muda termasuk yang paling terekspos AI. Risikonya terutama mengintai pekerjaan klerikal dan administratif yang juga tengah mengalami penurunan.

"Bahkan, apabila hanya 10 persen pekerjaan yang terekspos AI benar-benar menghilang, dampaknya berpotensi mengenai jutaan pekerja muda," kata Dasgupta.

"Hal ini berarti 5,6 juta anak muda, terutama di negara-negara berpendapatan tinggi, akan menghadapi risiko menganggur, berganti pekerjaan, atau bahkan meninggalkan pasar tenaga kerja sepenuhnya," Dasgupta memperingatkan.

Meski sejumlah pekerjaan menyusut, permintaan terhadap pekerjaan teknis berbasis pengetahuan di bidang sains, kesehatan, dan teknik justru terus berkembang. Karena itu, akses anak muda terhadap keterampilan yang relevan dengan perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja dinilai semakin penting.

Dasgupta mengatakan, seluruh negara perlu meningkatkan investasi pada keterampilan dan perlindungan sosial agar generasi muda dapat menyesuaikan diri dengan transformasi dunia kerja sekaligus memanfaatkan peluang baru.

"Kemajuan teknologi, termasuk AI, harus mendukung kaum muda, bukan melawan mereka," ujarnya.

Ilustrasi wawancara mencari pekerjaan. (Foto: iStock/rudi_suardi)

BAGAIMANA DI INDONESIA?

Tekanan terhadap pasar tenaga kerja juga terlihat di Indonesia. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 menunjukkan, jumlah penganggur berlatar belakang sarjana telah mencapai 1.033.182 orang.

Dari total 7,22 juta penduduk usia kerja yang menganggur, sekitar 14,31 persen merupakan lulusan sarjana terapan maupun S-1, S-2, dan S-3. Persentase penganggur dengan pendidikan tinggi ini cenderung terus meningkat dalam beberapa periode terakhir, meskipun jumlah pengangguran secara keseluruhan bergerak turun.

Pada Agustus 2024, jumlah penduduk usia kerja yang menganggur mencapai 7,47 juta orang dan 11,28 persen di antaranya berlatar belakang sarjana. Setahun kemudian, pada Agustus 2025, jumlah penganggur tercatat 7,46 juta orang dengan porsi sarjana naik menjadi 12,12 persen.

Tren tersebut berlanjut pada November 2025. Dari 7,35 juta penganggur, sebanyak 12,37 persen merupakan lulusan sarjana. Kemudian pada Februari 2026, total penganggur turun menjadi 7,24 juta orang, tetapi proporsi lulusan sarjana kembali meningkat menjadi 14,27 persen. Pada Mei 2026, porsinya mencapai 14,31 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) menggambarkan proporsi angkatan kerja yang tidak memiliki pekerjaan, tidak secara aktif mencari pekerjaan, dan tidak bersedia bekerja. Sementara penganggur merupakan penduduk yang tidak mempunyai pekerjaan, sedang mencari pekerjaan, serta bersedia bekerja.

Ilustrasi pelamar mencari pekerjaan. (Foto: iStock/Yazid Nasuha)

Setiap tahun, rata-rata lebih dari 3,6 juta orang menganggur dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SMA, SMK, diploma, hingga sarjana.

Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yanu Endar Prasetyo melihat adanya persoalan yang lebih struktural di balik peningkatan pengangguran lulusan perguruan tinggi.

Menurut Yanu, meskipun TPT secara keseluruhan turun dari sekitar 5 persen pada 2022 menjadi sekitar 4 persen pada 2026, porsi lulusan sarjana terhadap keseluruhan penganggur justru meningkat dari sekitar 8 persen menjadi 14,3 persen.

"Ekspansi akses pendidikan tinggi tidak diimbangi perluasan lapangan kerja formal. Penyerapan tenaga kerja justru lebih banyak di pekerjaan berketerampilan rendah," ujar Yanu dikutip dari Kompas.id.

Tekanan tersebut semakin kompleks karena pasar tenaga kerja juga harus menghadapi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur, perkembangan teknologi dan disrupsi AI, serta ketidakpastian geopolitik yang menekan industri padat karya dalam beberapa tahun terakhir.

"Situasi pasar kerja yang dirasakan lulusan sarjana saat ini adalah kombinasi antara masalah struktural lama (mismatch pendidikan-kerja) yang diperparah oleh syok ekonomi dan tren perekrutan yang mengecil," kata Yanu.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan