Mengenang Paus Fransiskus: 7 terobosan sang 'Paus Merakyat', ubah wajah Gereja Katolik
Dari bicara soal krisis iklim, peningkatan peran perempuan, hingga penanganan kekerasan seksual di lingkungan Gereja, Paus Fransiskus menorehkan berbagai terobosan sepanjang lebih dari satu dekade masa kepausannya.
Paus Fransiskus melambaikan tangan pada akhir misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, 20 Maret 2016. (Foto: REUTERS/Tony Gentile)
JAKARTA: Dunia tengah berduka menyusul kepergian pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus, pada Senin (21/4) di usia 88 tahun. Terkenal memiliki senyuman hangat dan gaya kepemimpinan yang merakyat, Paus Fransiskus dikenang sebagai pemimpin Gereja Katolik yang penuh gebrakan.
Dari awal masa kepausannya pada 2013, Bapa Suci asal Argentina ini sudah menorehkan sejarah sebagai paus non-Eropa pertama dalam 1.300 tahun.
Baca:
Namun, bukan hanya itu yang membuat Paus Fransiskus berbeda dari para pendahulunya. Terkenal dengan julukan Paus Merakyat (The People's Pope), Paus Fransiskus berani menantang tradisi, mendekatkan Gereja kepada kaum marjinal, dan membuka pintu dialog lintas perbedaan agar Gereja Katolik dapat relevan dengan zaman.
Berikut tujuh kebijakan Paus Fransiskus yang dianggap paling berdampak selama masa kepemimpinannya sepanjang lebih dari satu dekade:
1. REFORMASI VATIKAN
Pada 2022, Paus Fransiskus menerbitkan konstitusi apostolik Praedicate Evangelium, yang secara drastis merombak struktur administrasi pusat Gereja Katolik, atau dikenal sebagai Kuria Roma.
Konstitusi ini berfokus merombak struktur administrasi Gereja Katolik sehingga lebih berfokus pada misi pelayanan, sehingga bukan sekadar birokrasi, menurut laporan National Catholic Reporter.
Baca:
Departemen-departemen diubah agar lebih efisien dan terbuka terhadap umat, termasuk umat awam.
Ini adalah reformasi organisasi terbesar sejak era Paus Paulus VI.
2. MENGAKUI PERAN PEREMPUAN
Melalui dokumen apostolik Spiritus Domini yang dirilis pada 2021, Paus Fransiskus secara resmi mengubah hukum kanonik untuk mengizinkan perempuan menjadi lektor (pembaca Kitab Suci) dan akolit (asisten misa).
Ini langkah bersejarah — dulu peran ini hanya untuk laki-laki.
Meskipun belum sampai pada imamat perempuan, keputusan ini membuka jalan menuju inklusivitas yang lebih besar.
3. LEBIH MENDENGARKAN UMAT
Alih-alih hanya memberi arahan dari atas, Paus Fransiskus mendorong gereja untuk mendengarkan suara umat lewat Sinode Sinodalitas yang dimulai tahun 2021.
Sinode ini mengundang seluruh umat Katolik — baik awam, religius, maupun klerus — untuk menyuarakan harapan, kritik, dan usulan.
Topik-topik sensitif seperti LGBT, peran perempuan, hingga kepemimpinan umat juga ikut dibahas, menurut laporan Reuters.
Gereja kini bukan hanya milik hirarki, melainkan juga milik komunitas.
4. PERANG TERHADAP KORUPSI
Paus Fransiskus tidak menutup mata terhadap dugaan korupsi dan skandal keuangan di dalam Vatikan.
Ia mereformasi lembaga keuangan Gereja, memperketat aturan audit, dan menunjuk pakar-pakar luar untuk memperkuat sistem pengawasan.
Beberapa pejabat tinggi Vatikan bahkan dicopot dari jabatannya karena dinilai tidak transparan.
5. BICARA KRISIS IKLIM
Melalui ensiklik Laudato Si’ (2015), Paus Fransiskus menjadi salah satu pemimpin agama dunia pertama yang menjadikan isu lingkungan sebagai prioritas moral.
Ia menyerukan agar umat manusia menjaga "rumah bersama" dan mengkritik gaya hidup konsumtif yang merusak bumi.
Pandangan ini menjadikan dirinya tokoh penting dalam diplomasi iklim global.
Pada KTT iklim COP tahun 2023 yang tidak dapat ia hadiri karena kondisi kesehatannya memburuk, Paus berulang kali menekankan tanggung jawab negara maju untuk mengurangi dampak konsumsi sumber daya yang tidak berkelanjutan terhadap negara-negara miskin, menurut laporan The Guardian.
Sebagai putra seorang imigran Italia yang hijrah ke Argentina, Paus Fransiskus mengungkapkan fakta bahwa karena alasan ekonomi dan iklim, migrasi massal akan menjadi fenomena permanen di abad ke-21.
6. TANGANI KEKERASAN SEKSUAL
Paus Fransiskus menerapkan kebijakan baru untuk menangani kasus kekerasan seksual oleh klerus, termasuk mekanisme pelaporan yang lebih transparan dan pemberhentian beberapa tokoh gereja ternama yang terbukti bersalah.
Walau tak lepas dari kritik atas pendekatannya yang dinilai masih hati-hati, ini adalah komitmen nyata untuk memperbaiki luka lama di tubuh Gereja.
Sekitar satu tahun setelah memulai kepausannya, Paus Fransiskus menyatakan "tidak ada yang melakukan lebih banyak" daripada gereja dalam menindak para pedofil di kalangan klerus, dan memuji "transparansi" gereja, menurut laporan Time.
Dalam pertemuan pertamanya dengan para korban yang dilecehkan secara seksual oleh para imam pada Juli 2014, Paus Fransiskus menyebut para imam itu sebagai "kultus yang tidak bermoral."
7. BUKA PINTU KAUM MARJINAL
Mendiang Paus Fransiskus juga terkenal dikenal sebagai "paus bagi kaum yang terpinggirkan."
Ia konsisten menunjukkan empati terhadap komunitas LGBT, pengungsi, dan kelompok yang selama ini merasa tak punya tempat di dalam Gereja.
Komentarnya, "Siapakah aku sehingga bisa menghakimi?" saat ditanya soal homoseksual menjadi simbol pendekatan penuh belas kasih yang tidak pernah ditunjukkan secara eksplisit oleh pemimpin Gereja sebelumnya.
Paus Fransiskus juga berupaya membuat Gereja lebih ramah terhadap kaum LGBT, membuka pintu untuk pemberkatan bersyarat bagi pasangan sesama jenis pada Desember 2023 lalu, dan membatasi penggunaan misa tradisional menggunakan bahasa Latin yang tidak banyak dimengerti umat Katolik di seluruh dunia.
Sepanjang masa kepausannya, Paus Fransiskus meninggalkan terobosan yang mengubah wajah Gereja Katolik.
Gaya kepemimpinannya yang rendah hati, inklusif, dan penuh terobosan menjadikannya sosok unik dalam sejarah kepausan.
Meski tidak semua reformasinya disukai atau disetujui semua pihak, kebijaksanaan dan keberaniannya akan terus dikenang lintas generasi.
Selamat jalan, Bapa Suci Paus Fransiskus.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.