Singapura, Brunei, Indonesia, dan Malaysia akan nominasikan Zapin ke daftar warisan budaya takbenda UNESCO
Ini akan menjadi nominasi keempat Singapura dan pertama kalinya negara itu mengajukan seni pertunjukan secara bersama-sama ke daftar tersebut.
Seni pertunjukan tradisional zapin yang akan diajukan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke UNESCO, 24 September 2026. (Foto: CNA/Alyssa Tan)
SINGAPURA: Singapura bersama Brunei, Indonesia, dan Malaysia akan menominasikan zapin, tari tradisional Melayu, ke daftar warisan UNESCO, kata Dewan Warisan Nasional (NHB) pada Kamis (24/9).
Ini akan menjadi nominasi Warisan Budaya Takbenda UNESCO Singapura keempat dan yang pertama untuk seni pertunjukan. Budaya "hawker" masuk daftar itu pada 2020, kebaya pada 2024, sementara Chingay yang dinominasikan bersama Malaysia, masih menunggu evaluasi.
Keempat negara menargetkan pengajuan berkas nominasi ke UNESCO pada Maret 2027, dengan hasil kemungkinan diumumkan dua hingga tiga tahun setelah pengajuan. Daftar yang dibuat pada 2008 itu mencakup 716 unsur warisan budaya takbenda hingga Desember 2025.
Zapin, yang kerap dipentaskan di pernikahan dan festival, merupakan satu dari lima jenis tari yang umum dipraktikkan komunitas tari Melayu di Singapura. Gerakannya yang diiringi melodi bertempo cepat meniru gerak hewan dan alam.
Gerak dasar yang sederhana dan struktur tetap menjadikan zapin salah satu tari Melayu yang lebih mudah dipelajari serta populer di sekolah dan kelompok tari setempat.
Para siswa mempelajari zapin melalui kegiatan kokurikuler dan klub tari tradisional Melayu, sementara kelompok tari dari berbagai penjuru kawasan mengikuti festival tahunan Muara, kata NHB.
AKAR REGIONAL
Nominasi ini berawal dari pembicaraan internasional dengan Indonesia, Brunei dan Malaysia, kata Direktur Kebijakan dan Riset Warisan NHB Georgina Koh.
"Ini juga mencerminkan bahwa sebagai bentuk seni, zapin pada dasarnya merupakan sesuatu yang dimiliki bersama di kawasan ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa hal itu juga menunjukkan keterhubungan Singapura dengan kawasan.
Salah satu bentuk dasar zapin di Singapura, Zapin Asyik, diciptakan Liau Ah Choon yang lahir di Indonesia pada 1960-an, setelah ia menyaksikan penampilan zapin di sebuah pernikahan di Terengganu dan mengadaptasinya di Singapura.
Varian lokal, antara lain, Zapin Telok Blangah, yang koreografinya mencerminkan sejarah pelabuhan kawasan itu, serta Zapin Sungei Kallang, yang mengenang komunitas yang tinggal di sepanjang sungai tersebut pada 1970-an.
Som Said, 75, pendiri Sri Warisan Som Said Performing Arts sekaligus koreografer Zapin Telok Blangah, senang sekaligus terkejut dengan nominasi tersebut. Penerima Cultural Medallion itu mengatakan, pengakuan UNESCO akan membawa banyak perubahan bagi komunitas zapin.
"Kami melakukan begitu banyak hal sendiri-sendiri, sebagai Singapura, lalu bekerja sama dengan pihak-pihak dari Malaysia dan Indonesia. Jika ini diakui dan disahkan, saya rasa masih banyak yang harus kami lakukan untuk zapin," ujarnya.
LANGKAH SELANJUTNYA
UNESCO akan mengevaluasi nominasi berdasarkan kesesuaian kesenian tersebut dengan definisi warisan budaya takbenda, serta bagaimana langkah perlindungan yang telah dan akan diterapkan di setiap negara mendukung praktik dan pewarisannya, kata NHB.
NHB akan menggelar diskusi kelompok terarah sepanjang proses tersebut untuk menghimpun pandangan para pemangku kepentingan mengenai makna budaya zapin dan cara melindunginya.
NHB juga bekerja sama dengan komunitas dan praktisi untuk mendokumentasikan cara mereka mempraktikkan dan mewariskan zapin, termasuk berbagai varian lokalnya, kata Koh. "Ini akan menjadi beberapa unsur khas yang kami tonjolkan dalam nominasi."
Mohammad Aniq Haqif, 20, asisten koreografer di Dharma Endari, kelompok minat tari Melayu Republic Polytechnic, mengenal zapin melalui kegiatan kokurikuler saat duduk di kelas 3 sekolah dasar. Ia mempelajari lima bentuk dasar yang dipraktikkan di Singapura dan tertarik pada ritme zapin.
"Saya agak kaget karena tidak menyangka sesuatu yang saya pelajari sewaktu kecil bisa menjadi sebesar ini, sampai dinominasikan ke UNESCO," ujarnya, seraya mengatakan bahwa kontribusinya kepada komunitas menumbuhkan rasa memiliki.
Osman Abdul Hamid, direktur artistik Era Dance Theatre sekaligus koreografer Zapin Sungei Kallang, mengatakan, nominasi tersebut akan mengangkat zapin dan membantu memperkenalkannya kepada lebih banyak anak muda.
Menurutnya, ada banyak jenis zapin dan bentuk yang dipraktikkan di negara lain berbeda dengan yang ada di Singapura.
Setelah bertahun-tahun mengajar siswa dari tingkat taman kanak-kanak hingga universitas, Osman mengatakan: "Melihat kondisi sekarang, saya sangat senang dan sangat, sangat bangga zapin tetap hidup. Kini, semakin banyak siswa dan praktisi di bidang seni pertunjukan Melayu, terutama yang memahami zapin."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.