WNI korban kebakaran Hong Kong alami trauma, takut dengar kata 'api'
Per Senin (1/12) tercatat 9 WNI tewas dan 30 lainnya masih hilang dalam insiden kebakaran kompleks apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong.
Warga Hong Kong menangis di penampungan sementara setelah kebakaran melanda sejumlah kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, China, 26 November 2025. (REUTERS/Tyrone Siu)
HONG KONG: Masih ada puluhan pekerja migran Indonesia (PMI) yang belum ditemukan dalam kebakaran dahsyat kompleks apartemen di Hong Kong. Sementara mereka yang berhasil selamat, beberapa mengalami trauma.
Hal ini diamati oleh para relawan dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) yang terjun langsung untuk menyalurkan bantuan dan mendampingi para PMI korban kebakaran kompleks apartemen Wang Fuk Court, distrik Tai Po.
"Kalau saya melihat kondisinya, mereka semuanya mengalami trauma, Ada yang tidak bisa tidur dalam waktu 2–3 hari," kata Sringatin, koordinator JBMI di Hong Kong kepada CNA Indonesia, Selasa (2/12).
Beberapa PMI yang bekerja di sektor domestik mengungsi ke tempat penampungan sementara bersama majikan mereka, sementara sebagian lainnya menumpang di rumah keluarga majikannya, kata Sringatin. "Beberapa ada yang tinggal di boarding house agensi juga," lanjut dia.
Sringatin mengatakan, bentuk trauma lainnya dari para PMI adalah ketakutan ketika mendengar kata-kata "kebakaran" atau "api". Hal ini yang menyebabkan mereka enggan menceritakan kembali apa yang dialami dalam kebakaran itu kepada wartawan.
"Mereka takut saat mendengarkan kata-kata yang berhubungan dengan kebakaran, api, asap dan melihat video yang beredar. Mereka juga sedih karena belum mendengar kabar temannya, keberadaan mereka," ujar Sringatin.
Diberitakan Reuters, insiden kebakaran Rabu pekan lalu yang menghanguskan 7 dari 8 tower apartemen itu menewaskan total 151 orang, 40 lainnya masih hilang.
Menurut laporan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hong Kong per Senin (1/12), 30 di antara korban yang masih hilang adalah WNI. Sementara korban tewas dari WNI sejauh ini berjumlah 9 orang.
WNI yang selamat berjumlah 100 orang, 1 dirawat karena luka.
Sringatin mengatakan, di tengah trauma dan luka, para PMI masih dituntut untuk bekerja kepada majikan mereka, terutama jika harus merawat lansia.
"Ada teman-teman yang setelah kebakaran, mereka juga harus standby 24 jam dengan majikannya, tapi ini mereka menjaga orang tua yang sudah tidak bisa berjalan, yang tidak bisa melakukan aktivitas lainnya," kata dia.
"Jadi, teman-teman ini sangat capek luar dan dalam secara fisik dan juga secara mental."
Pejabat Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KJRI Hong Kong Clemens Triaji Bektikusuma, mengatakan para PMI yang masih berkondisi baik "dapat bekerja dengan masing-masing majikannya".
"Sementara bagi mereka yang masih memerlukan penanganan, baik fisik maupun psikologis, tentunya tetap mendapatkan perawatan, baik pada fasilitas kesehatan sesuai peruntukan, ataupun berobat jalan, bergantung kondisi dari masing-masing yang terdampak," kata Clemens kepada CNA Indonesia.
Sementara PMI yang kehilangan majikan dalam peristiwa itu, lanjut dia, diberi kebebasan memilih; bekerja untuk majikan baru atau beristirahat.
"Bagi yang hendak tetap bekerja di Hong Kong, maka agen ketenagakerjaan setempat akan menjajaki kesempatan kerja pada majikan yang baru, yang tentu prosesnya tetap dilakukan sesuai prosedur yang berlaku," kata dia.
Clemens juga mengatakan bahwa KJRI juga telah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk, mulai dari logistik seperti makanan, minuman, atau alat kebersihan pribadi, melalui pemerintah Hong Kong atau secara langsung.
"KJRI Hong Kong juga memfasilitasi pengurusan dokumen yang mungkin hilang sebagai dampak kebakaran, seperti contohnya penerbitan ulang paspor," kata Clemens.
Sringatin mengatakan JBMI dan berbagai organisasi diaspora juga turun membantu distribusi bantuan. Namun dia mengimbau untuk mewaspadai pengumpulan donasi palsu yang banyak tersebar di media sosial.
"Karena saat kita klarifikasi kepada teman-teman lokal di sini, belum tentu semua informasi itu benar dan tidak tahu sumbernya dari mana," kata dia.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.