Roket jadi magnet turis di Wenchang, China ingin mereka tinggal lebih lama
Peluncuran roket menarik banyak pengunjung ke Wenchang. Kota pesisir di Hainan ini berupaya mengubah daya tarik tersebut menjadi sesuatu yang lebih berkelanjutan - mulai dari pariwisata dan manufaktur hingga data satelit, bisnis, dan lapangan kerja.
Para penggemar roket mengambil foto dan video roket Long March-7A saat dibawa menuju landasan peluncuran di Wenchang, China, pada 8 Agustus 2026. (FOTO: CNA/Lan Yu)
WENCHANG, Hainan: Roket belum juga diluncurkan, tetapi Chen Huanpeng sudah mengejarnya.
Beberapa hari sebelum peluncuran, pemuda 23 tahun itu bersama sekelompok penggemar menyusuri Longlou, kawasan pesisir Wenchang yang dikenal sebagai ‘Kota Roket’, mengikuti perjalanan kendaraan peluncur roket menuju landasan peluncuran.
Mereka tahu tempat terbaik untuk menunggu dan mengambil gambar. Dalam salah satu perburuan roket baru-baru ini, Chen menyaksikan roket melintas di antara pohon-pohon kelapa dan ternak yang sedang merumput - pemandangan yang menggambarkan keseharian baru Wenchang yang tak biasa.
“Ini menunjukkan bahwa peluncuran roket di Wenchang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Di sela-sela merekam, kelompok itu berkumpul sambil menikmati laoba cha - yang artinya “teh pak tua”, tradisi Hainan menikmati teh murah dan makanan ringan sambil bersantai - untuk melihat kembali rekaman, membahas peluncuran mendatang dan, belakangan, membicarakan bisnis.
Chen membuat model roket cetak 3D dan produk edukasi antariksa. Penghasilannya saat ini masih kecil - menurutnya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar - tetapi ia berharap kelak bisa mendirikan perusahaan sendiri dan tetap tinggal di Wenchang.
Ambisinya mencerminkan pertaruhan jauh lebih besar yang tengah dilakukan kota kelahirannya.
Wenchang sejak lama dikenal dengan hamparan pohon kelapa dan kuliner ayam khasnya. Kini, kota itu mengandalkan industri roket sebagai motor pertumbuhan baru.
Menurut para pakar, tantangan bagi Wenchang bukan lagi sekadar meluncurkan roket ke antariksa, tetapi juga membuat ekonomi di sekitarnya ikut lepas landas.
Untuk mencapai tujuan itu, pemerintah membangun ekosistem antariksa yang mencakup roket, satelit, pemanfaatan data dan pariwisata, sebagai bagian dari upaya nasional China yang lebih luas untuk mengembangkan sektor antariksa sebagai industri berkembang strategis.
Ujian yang lebih berat adalah apakah ekosistem tersebut mampu menciptakan bisnis, investasi dan lapangan kerja yang berkelanjutan.
MENGAPA WENCHANG?
Keunggulan Wenchang bermula dari lokasinya.
Berada di sekitar 19 derajat lintang utara, Wenchang relatif dekat dengan khatulistiwa, tempat rotasi Bumi memberi dorongan tambahan pada roket saat peluncuran, kata Gregg Li, profesor dan duta NewSpace di Laboratory for Space Research, University of Hong Kong (HKU), kepada CNA.
Lokasinya di pesisir memberi keuntungan lain. Lokasi-lokasi peluncuran China yang lebih lama - termasuk Jiuquan, Taiyuan dan Xichang - masih aktif, tetapi berada jauh di pedalaman sehingga pengangkutan roket lebih rumit dan mahal, kata Blaine Curcio, pendiri konsultan industri antariksa Orbital Gateway Consulting.
“Karena Wenchang berada di pesisir, roket bisa dinaikkan ke kapal dan dikirim ke sana,” ujarnya.
Letak geografis itu turut menjadikan Wenchang sebagai pusat peluncuran.
Lokasi peluncuran pemerintah Wenchang menjalankan misi pertamanya pada 2016. Hampir satu dekade kemudian, pada November 2024, kota ini membuka lokasi peluncuran antariksa komersial khusus pertama di China - menjadikan Wenchang satu-satunya tempat di negara itu yang memiliki fasilitas peluncuran pemerintah sekaligus komersial.
Namun, ambisinya melampaui peluncuran. Pemerintah ingin mengembangkan ekonomi antariksa, dengan fokus pada pariwisata dan rantai industri yang lebih luas, mulai dari manufaktur dan operasional hingga pemanfaatan di sektor hilir, kata Profesor Xie Xiangxiang dari School of International Tourism and Public Administration, Hainan University.
Wali Kota Wenchang Cao Shuyu mengatakan dalam konferensi pers pada 17 Agustus bahwa kota itu menargetkan pembangunan “kota sains dan teknologi antariksa kelas dunia” dan membentuk kluster industri antariksa yang berpengaruh secara global.
Hingga April, Wenchang International Aerospace City menjadi lokasi bagi 673 perusahaan antariksa, naik dari 30 pada 2021. Menurut data resmi, kawasan itu membukukan pendapatan 23,53 miliar yuan (Rp61,6 triliun) tahun lalu, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 10,7 miliar yuan (Rp28 triliun) pada 2022.
Namun, Li dari HKU mengingatkan bahwa infrastruktur saja tidak cukup.
“Belum sampai ke tahap itu, tetapi Wenchang sedang berkembang menjadi pusatnya,” ujarnya.
BERTAHUN-TAHUN MENUNGGU
Bagi Liang Qihang, 38, pendiri Xingjian Seaview Hotel yang seumur hidup tinggal di Longlou, antusiasme terhadap ambisi antariksa Wenchang bukanlah hal baru.
Ia pernah menyaksikannya sebelumnya.
“Dulu, tempat ini hanya desa nelayan kecil yang terpencil,” ujarnya.
Ketika China mulai membangun lokasi peluncuran pemerintah Wenchang pada akhir 2000-an, para investor ikut berdatangan dengan harapan peluncuran roket akan menarik pengunjung ke Longlou dan kawasan pesisir sekitarnya.
Hotel menjadi salah satu investasi paling awal. Hilton Wenchang dibuka pada 2015, ketika investor lokal bersiap menyambut lonjakan peluncuran yang diperkirakan terjadi tahun itu, dan menjadi hotel kelas atas bermerek internasional pertama di kota tersebut. Proyek-proyek lain yang direncanakan di Qishui Bay tak kunjung terealisasi secepat yang diharapkan.
“Banyak orang berinvestasi di hotel,” kata Liang. “Namun kemudian, karena peluncurannya tertunda, banyak hotel terbengkalai sebelum selesai dibangun.”
Menurutnya, beberapa bahkan tak pernah beranjak dari kerangka beton.
Peluncuran perdana itu akhirnya berlangsung pada Juni 2016, sekitar setahun molor dari jadwal perkiraan para pelaku usaha setempat. Namun pada tahun-tahun awal, peluncuran masih jarang dilakukan.
Liang mengenang perkembangan sektor antariksa di sekitarnya mengalami “dua atau tiga kali pasang surut besar”. Ia merujuk pada gelombang investasi awal setelah Wenchang dipilih sebagai lokasi peluncuran, optimisme baru setelah peluncuran pertama, dan periode pertumbuhan yang lebih lambat setelahnya.
Jejak gelombang-gelombang awal itu masih terlihat di sekitar Longlou dan Qishui Bay, tempat bangunan-bangunan yang belum rampung berdiri berdampingan dengan resor yang telah selesai dibangun. Di Nanyang Meilihui, kompleks komersial yang rampung pada 2020, CNA mendapati sebagian besar toko tutup bahkan pada hari peluncuran.
Saat CNA berkunjung, sejumlah proyek yang sebelumnya mangkrak tampak kembali dikerjakan, sementara proyek-proyek baru mulai dibangun.
Kali ini, ada satu perbedaan yang jelas: semakin banyak roket yang diluncurkan. Lokasi peluncuran pemerintah dan komersial Wenchang mencatat total 21 misi ke orbit pada 2025, melonjak tajam dibandingkan peluncuran yang sebelumnya hanya sesekali dilakukan di kota itu.
Bagi Huang Bodong, 24, peningkatan itu membuka peluang bisnis.
Ia masih ingat mendengar peluncuran pertama Wenchang dari sekolah menengahnya, sekitar 30 km dari lokasi.
“Semua siswa berlari ke jendela dan terus memandangi langit,” ujarnya.
Ketika peluncuran semakin sering dilakukan, Huang mulai pergi ke Longlou untuk merekamnya. Kini hobinya telah menjadi bisnis: Lanyue No. 1 Rocket Launch Viewing Platform miliknya sudah penuh dipesan jauh sebelum peluncuran pada 10 Agustus.
Namun, perubahan tersebut juga mengganggu mata pencaharian yang telah lama ada.
Chen Yao, 26, dan ibunya, Wu, 60 - yang meminta hanya disebut dengan nama keluarganya - tinggal di permukiman relokasi di Longlou bagi warga yang dipindahkan dari desa-desa dekat lokasi peluncuran pemerintah.
Keluarga mereka pindah ke sana pada 2011 setelah rumah dan lahan pertanian mereka diambil alih.
Kini, mereka memperluas area di atap rumah untuk dijadikan tempat menonton peluncuran, dengan harapan bisa menjadi sumber pekerjaan bagi Chen, yang sebelumnya meninggalkan Hainan untuk bekerja di Jiangsu.
Bagi Wu, hal itu juga berarti putranya bisa tinggal lebih dekat dengan rumah.
“Kami semakin tua,” ujarnya. “Saya berharap dia bisa mendapat pekerjaan di dekat sini sehingga juga bisa merawat kami.”
APAKAH LONJAKAN INI BISA BERTAHAN?
Mengembangkan pariwisata berbasis peluncuran roket memiliki ketidakpastian tersendiri: jadwal peluncuran bisa berubah atau misi bisa gagal, sehingga mengganggu rencana yang disusun berdasarkan jadwal tersebut.
Wenchang mendapat pengingat nyata akan risiko itu pada 10 Agustus lalu, ketika roket Long March 7A mengalami kegagalan tak lama setelah lepas landas.
Dari tempat menonton di atap Xingjian Seaview Hotel milik Liang, CNA bersama Chen, Huang dan para pemburu roket lainnya menyaksikan roket itu lepas landas dari lokasi peluncuran pemerintah.
Sekitar 85 detik kemudian, sorak-sorai berubah menjadi seruan kaget ketika roket itu tampak pecah di langit. Misi tersebut gagal dan penyebabnya masih diselidiki.
“Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya,” kata Curcio dari Orbital Gateway Consulting. Ia mengatakan, dampaknya terhadap ambisi Wenchang akan bergantung pada penyebab kegagalan tersebut. Jika kegagalan itu tidak terkait dengan masalah yang lebih luas dan dapat memengaruhi peluncuran lain, menurutnya insiden tersebut “tidak terlalu memengaruhi prospek kota ini sebagai pusat antariksa”.
Bagi wisatawan, tantangan yang lebih umum tidak sedramatis itu: jadwal peluncuran bisa berubah.
Empat keluarga dari Chongqing telah merencanakan liburan mereka di Hainan berdasarkan jadwal peluncuran 9 Agustus, sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain. Ketika misi itu ditunda sehari, mereka tidak bisa mengatur ulang sisa perjalanan.
“Kami sudah menyusun semua rencana agar bisa menyaksikan peluncuran,” kata Maggie Zheng, yang bepergian bersama putranya yang berusia enam tahun.
“Tapi rencana kami tidak bisa mengikuti perubahan. Kamar dan jadwal perjalanan sudah dipesan, jadi kami tidak mungkin memindahkan semuanya ke hari berikutnya.”
Xie dari Hainan University mengatakan, Wenchang perlu menyediakan alternatif bagi pengunjung yang melewatkan peluncuran, mulai dari museum antariksa dan simulasi hingga pantai, kuliner dan atraksi budaya.
Zhao Shan, wakil direktur perencanaan Wenchang Aerospace Supercomputing Cultural Tourism Zone, mengatakan kepada CNA bahwa atraksi antariksa di kawasan tersebut - termasuk museum yang berfokus pada data satelit dan ilmu meteorologi - memberi pengunjung cara lain menikmati Wenchang selain menyaksikan peluncuran.
“Bagi wisatawan yang tidak sempat menunggu peluncuran, ini bisa menjadi pengalaman alternatif yang baik,” ujarnya.
Menurut para pakar, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah berbagai atraksi itu bisa membuat pengunjung tetap berada di Wenchang setelah roket meluncur.
Wang Long berkendara dari Guangdong bersama 14 anggota keluarganya ke Wenchang, berharap bisa menyaksikan peluncuran setelah melewatkan kesempatan itu dalam perjalanan sebelumnya.
Kali ini, waktunya tepat: perjalanan darat selama dua pekan di Hainan yang fleksibel memungkinkan keluarga itu menyesuaikan rencana perjalanan dan menyaksikan peluncuran roket di Wenchang.
“Alasan utama kami datang ke Wenchang adalah untuk melihat roket,” ujarnya.
Namun, Wenchang hanya salah satu persinggahan dalam perjalanan mereka di Hainan. Keluarga itu tidak berencana menginap. Setelah peluncuran, mereka akan menuju Wanning agar anak-anaknya bisa berselancar.
Bagi pelaku usaha setempat, pola seperti itu sudah tidak asing.
“Kalau tidak perlu menginap, kebanyakan orang memang tidak menginap,” kata Liang. “Mereka menonton lalu pulang.”
Untuk mengubah pola itu, pelaku usaha berupaya memberi lebih banyak alasan bagi pengunjung untuk tinggal lebih lama.
Di Hilton Wenchang, sekitar 120 dari 435 kamar menawarkan pemandangan peluncuran, kata General Manager Peter Dai kepada CNA. Hotel itu juga menambah kegiatan seperti panjat tebing dan program anak-anak, dengan harapan kunjungan untuk menyaksikan peluncuran bisa menjadi masa inap yang lebih panjang.
“Dulu, orang mungkin hanya menginap sehari untuk melihat peluncuran roket,” kata Dai. “Sekarang, pada dasarnya sudah bertambah menjadi dua atau bahkan tiga hari.”
LEBIH DARI SEKADAR PELUNCURAN
Bagi Wenchang, potensi sesungguhnya bukan pada peluncuran itu sendiri, melainkan pada apa yang bisa berkembang di sekitarnya.
Di fasilitas iSpace di Wenchang, CNA melihat salah satu potensi itu mulai terwujud. Perusahaan roket komersial tersebut tengah membangun fasilitas manufaktur dan pengujian di sana, dengan sebagian proses produksi roket turut dimasukkan dalam tur bagi pengunjung.
Profesor Xie mengatakan, peluang Wenchang terletak pada pembangunan rantai industri antariksa yang lebih luas, mulai dari manufaktur dan peluncuran hingga pengoperasian satelit dan pemanfaatan data.
“Mengembangkan sektor antariksa agar lebih terperinci, mendalam, dan lengkap mungkin menjadi pilihan yang diperlukan dalam pembangunan Wenchang sebagai sebuah kota,” ujarnya.
Selain roket, Wenchang juga mengandalkan potensi yang muncul setelah satelit berada di orbit.
Pusat superkomputasi antariksa menyediakan infrastruktur untuk pemrosesan dan pemanfaatan data satelit. Li dari HKU mengatakan, data bisa menjadi salah satu bagian terpenting dari ekonomi antariksa komersial, seiring semakin besarnya nilai industri yang berasal dari pemanfaatan data satelit di Bumi, mulai dari pemetaan dan pemantauan hingga layanan berbasis data lainnya.
Namun, membangun ekonomi tersebut membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur. Menurut Li, Wenchang masih membutuhkan wirausahawan, tenaga ahli, pembiayaan, asuransi, dan perusahaan yang mampu mengomersialkan data satelit.
Ia melihat Hong Kong dan Singapura dapat memainkan peran yang saling melengkapi dalam bidang seperti permodalan, pemanfaatan data, asuransi dan arbitrase, dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing dalam keuangan dan jasa profesional.
Kerja sama awal sudah mulai terjalin: pusat superkomputasi Wenchang telah bekerja sama dengan peneliti HKU dalam penginderaan jauh satelit dan pemanfaatan AI, sementara pelaku usaha setempat telah menjajaki Singapura untuk layanan data satelit di luar negeri.
“Mereka membutuhkan bisnis, data, dan uang, dan di sinilah Hong Kong dan Singapura sama-sama bisa memberikan dukungan,” ujarnya.
Sektor manufaktur menghadapi tantangan yang lebih berat.
Pada 2035, pemerintah menargetkan roket dan satelit yang dibuat di Wenchang dapat diluncurkan dari dua lokasi peluncuran di kota tersebut.
Namun, analis Curcio mempertanyakan seberapa besar ekosistem manufaktur satelit secara realistis dapat dipindahkan ke Wenchang dari pusat-pusat industri antariksa yang sudah mapan di sekitar Beijing dan Shanghai, tempat jaringan pemasok dan tenaga terampil telah terkonsentrasi.
Tidak seperti roket, satelit bisa dibuat di tempat lain lalu dikirim ke Wenchang untuk diluncurkan, ujarnya.
“Tantangannya adalah seluruh ekosistem itu harus dibangun,” ujarnya.
Dan itu artinya perlu menarik talenta-talenta yang dibutuhkan agar ekosistem tersebut dapat berjalan.
Chen, sang pemburu roket, memahami daya tarik kota-kota besar bagi talenta-talenta tersebut. Menurutnya, para lulusan muda mungkin memilih kota yang menawarkan lebih banyak peluang.
Rata-rata upah sektor swasta pada 2025 menggambarkan daya tarik tersebut. Menurut data resmi, pekerja di Hainan rata-rata memperoleh sekitar 5.500 yuan (Rp14,4 juta) per bulan, dibandingkan sekitar 8.300 yuan (Rp21,7 juta) di Shenzhen.
Untuk saat ini, pekerjaan Chen di sektor antariksa belum menghasilkan banyak uang. Ia masih mengejar roket, membuat model dan berusaha mengubah minatnya itu menjadi bisnis.
“Saya belum punya rencana yang terlalu spesifik,” ujarnya. “Mungkin saya akan menjalaninya selangkah demi selangkah.”
Namun, ia tahu di mana ingin mencobanya.
“Karena kami punya kecintaan pada antariksa, kami memilih untuk menetap dan membangun masa depan di sini,” ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.