Mengapa warga Singapura tertarik bekerja di Malaysia meski gajinya lebih kecil?
Gaji lebih kecil bukan berarti kurang menarik. Sebagian warga Singapura memilih bekerja di Malaysia demi kualitas hidup, peluang karier, dan biaya hidup yang lebih rendah.
Dari kiri: Doreen Sim, Greg Low, dan Hafiz Ellahi, warga Singapura, telah tinggal dan bekerja di Malaysia selama lebih dari satu dekade. (Foto: CNA/Fadza Ishak)
KUALA LUMPUR: Warga Singapura, Doreen Sim, mendapatkan setidaknya lima pesan bernada nyinyir soal keputusannya bekerja di Malaysia.
"Kebanyakan komentar dari orang Singapura adalah, 'Ngapain bekerja di Malaysia kalau gajinya lebih kecil?'" kata perempuan warga Singapura berusia 52 tahun yang mendirikan sebuah perusahaan IT dan telah 20 tahun tinggal di Kuala Lumpur itu.
Komentar tersebut diterimanya setelah Menteri Perumahan dan Pemerintah Daerah Malaysia Nga Kor Ming pada Juni berkomentar di sebuah media lokal berbahasa Mandarin, Oriental Daily.
Dalam komentarnya, Nga menyampaikan visinya bahwa semakin banyak warga Singapura akan bekerja di Malaysia mulai menjadi kenyataan. Dia menyebut dua contoh nyata, yaitu pindahnya beberapa kantor operasional perusahaan fesyen H&M dan produsen roti Gardenia dari Singapura ke Kuala Lumpur.
Ini bukan kali pertama Nga melontarkan komentar serupa. Sebelumnya, jelang pemilu Malaysia pada November 2022, dia mengatakan, ke depan akan semakin banyak warga Singapura yang bekerja di Malaysia. Komentar ini disampaikan menyusul laporan adanya ratusan ribu warga Johor yang rela menempuh perjalanan bekerja ke Singapura demi gaji tinggi.
Ketika nilai ringgit mencapai level tertinggi dalam dua tahun terhadap dolar Singapura pada Januari tahun ini, ia kembali mengangkat topik ini. Namun belakangan, ia mengatakan pernyataannya itu hanya gurauan.
Namun, menurut Sim, visi Nga masih jauh dari kenyataan jika warga Singapura memutuskan bekerja di Malaysia semata-mata karena uang.
"Kalau keputusan pindah ke Malaysia semata-mata didasarkan pada uang, visi itu masih akan lama menjadi kenyataan," katanya kepada CNA.
Namun, dia mengatakan, komentar Nga ada benarnya juga. Pasalnya, warga Singapura adalah "talenta asing" terdekat dari Malaysia.
"Menteri Nga tidak salah ... Warga Singapura adalah 'talenta asing' yang paling tepat direkrut Malaysia karena pada dasarnya kami memiliki budaya yang sama," kata Sim.
Ia menambahkan, proyek-proyek Johor-Singapura yang akan segera beroperasi, seperti Kawasan Ekonomi Khusus Johor-Singapura (JS-SEZ) dan Rapid Transit System (RTS), yang diperkirakan menciptakan lapangan kerja dan mempermudah mobilitas lintas batas, juga dapat menarik lebih banyak warga Singapura untuk bekerja di Malaysia.
"Yang ditawarkan bukan sekadar pekerjaan, tetapi pengalaman bekerja dan tinggal di Malaysia," kata Sim.
Sementara itu, warga Singapura yang telah bekerja di Malaysia selama lebih dari satu dekade kepada CNA mengaku memahami untung-ruginya. Gaji memang lebih rendah, disertai birokrasi yang lebih rumit dan proses kerja yang kurang efisien. Namun, biaya hidup lebih murah dan kualitas hidup dinilai lebih baik.
Mereka menambahkan, para pengusaha yang ingin membuka usaha di Malaysia juga diuntungkan oleh pasar yang lebih besar serta biaya operasional yang lebih rendah.
Para pakar mengatakan, semakin banyak perusahaan yang berafiliasi dengan Singapura berekspansi ke Malaysia, diikuti meningkatnya pengaturan kerja lintas batas dan penugasan regional. Namun, tren tersebut masih berlangsung secara bertahap, belum meluas.
"Saya yakin tren ini akan tetap terbatas pada tenaga profesional berketerampilan tinggi, spesialis, dan posisi kepemimpinan, bukan tenaga kerja secara umum," kata Arulkumar Singaraveloo, CEO Malaysia HR Forum, firma konsultan sumber daya manusia.
"Biaya tetap menjadi pertimbangan utama. Mempekerjakan warga Singapura dengan paket gaji lokal Malaysia sering kali tidak menarik, baik bagi perusahaan maupun pekerjanya."
TREN MASIH TERBATAS PADA TENAGA AHLI DAN SEKTOR TERTENTU
Meski belum ada data resmi, perkiraan terbaru menunjukkan, ada sekitar 120.000 warga Singapura tinggal dan bekerja di Malaysia.
Sebagai perbandingan, Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia saat itu, V Sivakumar, menyampaikan pada 2023 bahwa terdapat 1,13 juta warga Malaysia yang tinggal di Singapura pada 2022.
Singaraveloo mengatakan, hingga kini belum ada statistik resmi yang menunjukkan lonjakan signifikan jumlah warga Singapura yang bekerja di Malaysia.
Menurutnya, mereka umumnya bekerja di perusahaan multinasional, sektor keuangan, teknologi, manufaktur, pendidikan, dan kesehatan, terutama pada posisi spesialis, kepemimpinan, atau manajemen regional.
Menurut Singaraveloo, banyak dari mereka dipindahkan melalui penugasan atau relokasi perusahaan, meski ada juga yang direkrut langsung oleh perusahaan Malaysia.
"Gaji mereka bisa dibayarkan dalam dolar Singapura atau ringgit Malaysia. Namun, jika perpindahan itu atas penugasan perusahaan, mereka biasanya tetap menerima paket gaji Singapura atau paket ekspatriat," katanya.
"Perusahaan yang memindahkan operasinya ke Malaysia umumnya bertujuan menekan biaya. Karena itu, mereka tidak akan merekrut warga Singapura untuk posisi umum, kecuali yang memiliki keahlian khusus atau mengisi jabatan penting."
CNA telah meminta tanggapan dari kantor Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia R Ramanan mengenai jumlah warga Singapura yang bekerja di Malaysia serta kemungkinan tren yang berkembang, namun belum mendapat tanggapan.
Ben Neumann, pimpinan Vialto Singapura, perusahaan global di bidang mobilitas karier, menuturkan, meski Malaysia berambisi menarik lebih banyak investasi dan talenta regional, masuknya tenaga kerja dari Singapura kemungkinan akan berlangsung bertahap dan selektif, bukan dalam skala besar.
"Pertumbuhan kemungkinan akan terjadi pada posisi regional, pekerjaan hibrida atau berbasis proyek, warga Singapura yang bekerja untuk perusahaan asal Singapura yang beroperasi di Malaysia, pemimpin senior yang membawahi tim di Malaysia, atau profesional yang tertarik pada peluang di sektor-sektor yang sedang berkembang," katanya kepada CNA.
Menurut Neumann, saat ini mulai terlihat tren menuju "pasar talenta regional yang lebih terintegrasi". Perusahaan yang memperluas operasinya di Asia Tenggara semakin sering menempatkan tenaga kerja lintas negara berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan lagi batas negara.
JS-SEZ menjadi salah satu contohnya. Menurutnya, meningkatnya investasi, integrasi ekonomi yang semakin erat, serta infrastruktur seperti RTS Link akan membuat mobilitas lintas batas menjadi lebih mudah.
"Dengan kata lain, perbatasan akan semakin kecil pengaruhnya dalam penempatan tenaga kerja. Namun, besaran gaji, prospek karier, dan pertimbangan pajak tetap akan menentukan apakah warga Singapura mau pindah ke Malaysia."
Greg Low, warga Singapura yang menjalankan perusahaan konsultan properti di Malaysia dan telah tinggal di Johor Bahru selama 15 tahun, mengatakan, warga Singapura "tidak tiba-tiba berbondong-bondong menyeberangi Jembatan Causeway" untuk mencari pekerjaan biasa.
"Kalau Anda sudah bergaji tinggi di Singapura, nilai tukar membuat paket gaji lokal Malaysia tidak lagi menarik. Hitung-hitungan ekonominya nggak masuk," kata pria berusia 46 tahun itu kepada CNA.
Namun, menurut Low, ceritanya berbeda bagi pengusaha maupun pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
"Di Singapura, perusahaan multinasional menguasai hampir semua sektor pasar sehingga sangat sulit mencari ruang untuk berkembang. Malaysia menawarkan peluang yang jauh lebih besar, tempat untuk mengasah kemampuan berbisnis dan membangun usaha dari nol," katanya.
UNTUNG-RUGI
Bagi pelaku usaha, daya tarik Malaysia bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal kualitas hidup, kata Low.
"Biaya hidup di Malaysia masih jauh lebih murah dibandingkan Singapura, mulai dari rumah, makanan, transportasi, tenaga kerja hingga ruang kantor. Artinya, dengan pendapatan yang sama, daya beli kita jauh lebih besar dan bisnis rintisan tidak langsung kehabisan uang sebelum sempat berkembang," katanya.
"Ritme hidupnya juga lebih santai dan pilihannya lebih beragam, mulai dari pantai dan lapangan golf di Johor, dataran tinggi, wisata kuliner, hingga perjalanan akhir pekan yang mustahil dilakukan di pulau kecil seperti Singapura."
Hafiz Ellahi, yang pindah ke Malaysia bersama keluarganya pada 1996 dan kini mengelola bisnis perhiasan di Kuala Lumpur, menuturkan, para profesional maupun nomaden digital asal Singapura sebaiknya pindah jika masih bisa menerima penghasilan dalam mata uang yang lebih kuat. "Peningkatan kualitas hidupnya tidak ada tandingannya," katanya.
"Kalau pindah untuk bekerja dengan gaji dalam ringgit, hitung baik-baik. Penurunan pendapatan yang bisa dibelanjakan mungkin tidak sebanding dengan penyesuaian yang harus dilakukan terhadap kualitas infrastruktur dan layanannya," kata pria berusia 42 tahun itu kepada CNA.
Meski begitu, ia mengingatkan warga Singapura yang ingin pindah agar tidak "memutus hubungan dengan Singapura".
"Tetap pertahankan CPF (Central Provident Fund), rekening bank di sana, dan dana cadangan untuk kembali. Anggap Malaysia sebagai tempat bertualang yang menyenangkan, tetapi pahami bahwa efisiensi yang selama ini Anda nikmati di Singapura adalah kemewahan yang ditukar dengan ruang dan kebebasan," tambahnya.
CPF adalah program tabungan wajib di Singapura yang digunakan untuk kebutuhan pensiun, kesehatan, dan pembelian rumah.
Hafiz mengatakan, ia mulai melihat semakin banyak desainer perhiasan asal Singapura membuka bengkel produksi di Malaysia karena biaya tenaga kerja dan logam lebih murah.
"Menurut saya, Nga sama sekali tidak merendahkan Singapura. Ia hanya menyampaikan realitas ekonomi. Apakah itu mulai menjadi kenyataan? Ya, tetapi hanya di sektor-sektor tertentu," katanya.
Andrew Yong pindah ke Kuala Lumpur pada November 2024 untuk bekerja sebagai insinyur riset dan pengembangan di sektor pertanian. Pria berusia 35 tahun itu sebelumnya meniti karier yang beragam di Singapura, termasuk sempat menjadi sopir bus umum.
Saat mulai merasa benar-benar bosan dengan pekerjaan terakhirnya, ia mendalami teknologi nirkabel jarak jauh yang memungkinkan perangkat murah berbasis baterai berkomunikasi hingga jarak 300 kilometer dengan konsumsi daya yang sangat rendah.
Ketika itulah sejumlah pelaku industri pertanian tertarik memanfaatkan teknologi tersebut untuk memenuhi kebutuhan konektivitas di kawasan pertanian pedesaan di Malaysia.
Yong mengatakan kepada CNA bahwa kini ia menerima gaji dalam ringgit. Akibatnya, biaya hidup di Kuala Lumpur terasa lebih mahal dibandingkan ketika ia masih bergaji dalam dolar Singapura.
Ia mengaku, gajinya saat ini memang tidak menyamai penghasilan terakhirnya di Singapura yang mencapai S$7.000 per bulan. Namun, perusahaan berusaha "mencari jalan tengah" dengan mempertimbangkan kewajiban keuangannya di Singapura, termasuk kepemilikan flat Housing and Development Board (HDB).
"Menurut saya, saya mendapat kesepakatan yang menguntungkan karena sejak awal masuk dengan gaji untuk posisi senior. Tidak semua orang akan seberuntung itu. Anda harus berjuang untuk mendapatkan kesepakatan seperti ini," katanya.
Yong tidak keberatan dengan daya beli yang lebih rendah karena gaya hidupnya sederhana. Ia biasa makan di pusat jajanan di kawasan perumahan murah, menggunakan mobil buatan Malaysia, dan tidak mengejar iPhone terbaru setiap tahun.
"Pada akhirnya, semuanya soal menemukan keseimbangan antara gaya hidup, tanggung jawab, dan apa yang benar-benar Anda sukai," katanya.
Meski begitu, Yong menilai Malaysia masih tertinggal dari Singapura dalam hal integrasi antar-ras dan konektivitas menuju tujuan akhir (last-mile connectivity). Di sisi lain, ia merasa aturan di Malaysia lebih longgar dan berdampak positif pada kesehatan mentalnya.
APA YANG BISA MENARIK LEBIH BANYAK WARGA SINGAPURA?
Menurut Singaraveloo, ada beberapa faktor yang bisa membuat warga Singapura tertarik bekerja di Malaysia, mulai dari biaya hidup yang lebih rendah, peluang karier regional, work-life balance yang lebih baik, hingga ekspansi perusahaan multinasional.
"Namun, peluang itu baru akan benar-benar menarik jika mereka tetap menerima paket gaji setara Singapura atau paket ekspatriat. Kalau tidak, keuntungannya dari sisi finansial menjadi jauh berkurang," katanya.
Sementara itu, Ben Neumann dari Vialto mengatakan, warga Singapura umumnya tidak akan pindah hanya karena lokasi kerjanya berbeda. Yang mereka cari adalah peluang yang benar-benar bisa mendorong karier.
"Peluang itu bisa berupa posisi kepemimpinan, jabatan manajemen regional, atau pekerjaan di sektor seperti manufaktur berteknologi tinggi, teknologi, rantai pasok, kesehatan, pendidikan, dan jasa profesional, terutama ketika perusahaan memperluas operasinya di Asia Tenggara," katanya.
Meski begitu, keputusan pindah tidak semata soal pekerjaan. Menurut Neumann, perjalanan pulang-pergi setiap hari, meski didukung infrastruktur yang lebih baik, tetap memengaruhi kualitas hidup. Belum lagi urusan keluarga, pendidikan anak, dan rencana karier jangka panjang yang sering kali menjadi pertimbangan utama.
"Pada akhirnya, pertumbuhan pekerjaan lintas negara tidak hanya bergantung pada peluang ekonomi. Perusahaan juga harus mampu menawarkan jenjang karier yang jelas, paket kompensasi yang kompetitif, serta pengalaman bekerja lintas negara yang mudah dan nyaman," katanya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.