Dari rumah teh ke turnamen: Chengdu bertranformasi menjadi pusat event kelas dunia
Dikenal dengan rumah tehnya dan atmosfernya yang santai, ibu kota Provinsi Sichuan ini tengah berbenah dengan menjadikan berbagai ajang global, termasuk turnamen esports, sebagai mesin pertumbuhan baru.
Acara Kejuaraan Dunia League of Legends digelar di Dong’an Lake Sports Park. (Foto: CNA/Hu Chushi)
CHENGDU, Sichuan: Menjelang fajar, jalan-jalan di Chengdu mulai ramai.
Ratusan orang sudah berkumpul di Jalan Chunxi, kawasan pedestrian bersejarah di pusat Chengdu, menunggu di bawah trofi perak raksasa setinggi 10 meter sambil membawa boneka dan merchandise.
Mereka adalah para penggemar game multipemain League of Legends (LoL) yang antre untuk menukarkan merchandise gratis untuk final kejuaraan dunia tahun ini.
Disebut sebagai “Piala Dunia esports”, event yang digelar pada 9 November itu menarik ribuan penggemar game dari berbagai negara.
Menurut penyelenggara, tiket yang dijual antara 688 hingga 1.788 yuan (Rp1,6 juta–Rp4,2 juta) langsung habis terjual.
Menjelang pukul 11 siang, seluruh merchandise resmi limited-edition sudah ludes diborong, tambah mereka.
Polisi setempat turut turun tangan untuk mengendalikan kerumunan yang terus membesar.
Beberapa jam kemudian, pertunjukan utama digelar di Dong’an Lake Sports Park, kompleks olahraga besar sekitar 21km dari pusat kota, tempat hampir 18.000 penonton dari berbagai negara, termasuk dari Rumania, Austria, dan Singapura, menyaksikan laga tim-tim terbaik di atas panggung.
“Fakta lucu, sebenarnya saya seharusnya tidak bisa datang ke sini. Tapi begitu T1 (tim esports asal Korea Selatan) lolos kualifikasi, saya langsung mengurus visa dan terbang ke China demi acara ini,” kata Jasmine Agustin, 24, jurnalis asal Filipina.
Di antara penonton juga ada dua mahasiswa asal Austria yang menyebut pengalaman itu “membuka mata” mereka.
“China benar-benar berbeda dari Eropa,” ujar Emil Kolba, 21, kepada CNA. “Negaranya jauh lebih besar dari yang kami bayangkan. Sistem metronya, cara orang bertransaksi, semuanya menarik,” tambahnya.
Bagi sebagian pengunjung lain, akhir pekan itu bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga kesempatan berwisata dan menjelajahi China. Eng Jiaying, 28, datang ke Chengdu dari Singapura bersama empat temannya. Meski gagal mendapatkan tiket, mereka tetap menemukan cara untuk menikmati perjalanan.
“Kami datang untuk (kejuaraan) sekaligus menjelajahi kota baru,” kata Eng, menambahkan bahwa berkeliling Chengdu terasa mudah dan penduduknya “sangat ramah”.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Chongqing dan berencana mengunjungi taman nasional Jiuzhaigou sebelum kembali ke negaranya.
Bagi Chengdu, sorak-sorai penonton bukan sekadar ekspresi antusiasme. Gemuruh suara mereka menjadi gambaran soal ambisi besar kota tersebut, yaitu menjadikan olahraga, hiburan, dan gaya hidup sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Sejak 2017, ibu kota Provinsi Sichuan ini telah menjadi tuan rumah hampir 100 turnamen internasional, mulai dari event olahraga seperti FISU Summer World University Games 2023 hingga League of Legends Championship. Ini adalah bagian dari strategi “membangun kota lewat event besar” atau dalam bahasa Mandarin disebut yi sai xing cheng.
Menurut pejabat setempat, tujuannya bukan sekadar mendongkrak pariwisata, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi jasa, meningkatkan kenyamanan hidup, serta memperkuat profil internasional Chengdu melalui budaya olahraga dan rekreasi yang berkembang pesat.
“Event-event ini tidak lagi sekadar pertunjukan budaya, mereka kini menjadi bagian dari strategi globalisasi Chengdu,” ujar Cai Dongliang, profesor di School of Finance, Southwestern University of Finance and Economics (SWUFE).
Chengdu, lanjut Cai, telah menempuh perjalanan panjang dari “kota lokal” menjadi “metropolis internasional”.
Langkah ini sejalan dengan visi nasional pemerintah China yang menargetkan pembangunan industri olahraga senilai 7 triliun yuan (Rp15.620 triliun) pada 2030, dengan basis jaringan perusahaan olahraga berpengaruh dan event berskala global.
Pendekatan Chengdu dinilai selaras dengan peta jalan tersebut.
“Pada 2035, Chengdu menargetkan diri menjadi kota olahraga berkelas dunia,” kata Zuo Yifan, asisten profesor di School of Physical Education, Shenzhen University.
“Gagasannya adalah memberi manfaat bagi warga, mengembangkan industri, dan membangun kota lewat olahraga,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa upaya ini mencakup keterkaitan antara penyelenggaraan kompetisi tingkat tinggi dengan fungsi kota dan peningkatan kualitas hidup.
KOTA YANG DIBANGUN MELALUI EVENT BESAR
Dong’an Lake Sports Park bukan sekadar arena pertandingan, pembangunannya mencerminkan kisah yang lebih luas.
Dengan fasilitas seluas lebih dari 320.000 meter persegi, lokasi yang awalnya dibangun untuk menjadi tuan rumah FISU Summer World University Games ini kini menjadi pusat dari strategi pembangunan Chengdu berbasis penyelenggaraan event besar. Arena ini menjadi simbol transformasi kota yang mengejar pertumbuhan bukan lewat industri atau sektor keuangan, melainkan lewat stadion, festival, dan sorotan dunia.
Penyelenggaraan World University Games, salah satu ajang olahraga multievent terbesar bagi atlet mahasiswa, menjadi titik balik bagi Chengdu.
Persiapan menuju event itu memicu gelombang pembangunan: 13 arena baru dibangun dan 36 lainnya direnovasi, banyak di antaranya dilengkapi sistem cerdas untuk penggunaan publik jangka panjang.
Setelah itu, berbagai acara internasional terus berdatangan. World Police and Fire Games, Thomas dan Uber Cup 2024, serta World Games menarik lebih dari 220.000 penonton berbayar dan menghasilkan konsumsi terkait sebesar 2,36 miliar yuan (Rp5,3 triliun).
Menurut Trip.com Group, kunjungan wisatawan mancanegara ke Chengdu selama penyelenggaraan World Games pada Agustus lalu meningkat 31 persen dibanding tahun sebelumnya, didorong oleh pengunjung dari Eropa dan Asia Tenggara.
Perjalanan keluarga dan kelompok mencatat porsi terbesar kedatangan, sementara hotel di kawasan populer seperti Jalan Chunxi dan distrik Taikoo Li melaporkan tingkat hunian melampaui 90 persen.
“Kombinasi antara event kelas dunia dan budaya santai Chengdu terbukti menjadi daya tarik kuat,” ujar Trip.com Group.
Para pakar menyebut inilah efek berantai yang diharapkan pemerintah kota.
“Atlet, penonton, dan penggemar membawa dampak ekonomi lewat belanja untuk akomodasi, makanan, wisata, dan belanja,” kata Zhang Keyun, profesor di School of Applied Economics, Renmin University, Beijing.
Ia menambahkan, ekonomi Chengdu didominasi oleh sektor jasa, sehingga efek limpahan dari berbagai acara tersebut sejalan dengan struktur industri kota.
“Tidak setiap kota bisa dibangun lewat event besar,” ujar Zhang. “Diperlukan skala dan fasilitas yang memadai untuk menggelar kompetisi kelas atas,” lanjutnya.
Zhang menggambarkan Chengdu sebagai “pusat ekonomi China barat”, seraya mencatat bahwa kota ini adalah “salah satu dari sedikit kota di China yang memiliki dua bandara internasional” sekaligus kota bersejarah dengan “akar budaya yang kuat” yang membantu memperkuat posisinya di panggung global.
Dengan beroperasinya Bandara Internasional Tianfu pada Juni 2021, Chengdu menjadi kota ketiga di China setelah Shanghai dan Beijing yang mengoperasikan dua bandara internasional.
MAMPUKAH CHENGDU MEMPERTAHANKAN MOMENTUM?
Para pakar pembangunan kota menilai tantangan utama terletak pada bagaimana Chengdu mengubah daya tarik jangka pendek menjadi aset jangka panjang.
“Keuntungannya bukan hanya dari penjualan tiket. Dampaknya meluas ke hotel, restoran, pariwisata, dan transportasi,” ujar Xi Guangliang, peneliti di School of Architecture and Urban Planning, Nanjing University.
“Yang penting, fasilitasnya tetap hidup—konser, acara komunitas, kegiatan olahraga—itulah yang membuat sebuah event tetap bernilai setelah sorotan meredup,” tambahnya.
Begitu final League of Legends usai, Dong’an Lake Sports Park hampir tak punya waktu untuk beristirahat.
Beberapa hari sebelumnya, arena ini menjadi lokasi konser penyanyi China Zhou Shen, dan pada akhir bulan nanti, musisi legendaris asal Hong Kong George Lam dan Sally Yeh dijadwalkan tampil di panggung yang sama.
Di dalam kompleks Dong’an Lake Sports Park, stan makanan ringan Cai Dapang Fried Potatoes nyaris tak pernah sepi.
“Selalu ramai,” ujar manajernya, Li Meilin, 25. “Hampir setiap minggu ada konser atau pertunjukan.”
Pejabat setempat menyebut pendekatan ini sebagai “satu investasi, banyak manfaat”, membuka stadion dan arena untuk umum, dengan banyak di antaranya menawarkan akses gratis atau berbiaya rendah ke olahraga populer seperti renang, sepak bola, dan basket.
Menurut Xi dari Nanjing University, fleksibilitas ini memberi Chengdu peluang untuk menghindari nasib “gajah putih” yang kerap menimpa kota tuan rumah lain di China.
“Event besar hanya akan berarti jika fasilitasnya tetap hidup setelah sorotan media mereda,” ujarnya.
Berdasarkan buletin statistik terbaru, hampir 70 persen PDB Chengdu kini berasal dari sektor jasa, mulai dari pariwisata dan ritel hingga budaya dan teknologi.
Ma Yuqian, pengelola hotel esports ZYQ dengan 15 kamar di pusat Chengdu, mengatakan kepada CNA bahwa meski tingkat hunian tidak melonjak drastis selama final League of Legends, para penonton olahraga tetap menjadi tamu tetap.
“Orang-orang di sini menyukai esports, jadi hotel selalu penuh bahkan di akhir pekan,” kata Ma, seraya menambahkan bahwa sebagian besar tamunya berasal dari dalam negeri.
Para pemilik usaha ritel juga ikut menikmati dampak positif dari gelombang acara ini.
Di toko utama Li-Ning di Jalan Chunxi, yang berdampingan dengan stan resmi League of Legends, para penggemar mengantre untuk berfoto dengan tiga trofi kejuaraan asli yang dipajang di etalase.
Toko tersebut juga menawarkan hadiah edisi terbatas bertema game bagi setiap pembelian, sebagai bagian dari kampanye penjualan singkat yang menurut pihak toko, “mendorong penjualan dalam beberapa pekan terakhir”.
Para analis menilai, mempertahankan momentum ini memerlukan pergeseran dari event sesekali menjadi kegiatan rutin yang berkelanjutan.
“Lihat saja Pameran Dagang Guangzhou (Canton Fair), pengaruhnya luar biasa,” kata Zhang, seraya menekankan bahwa sebuah kota tidak bisa menjadi tuan rumah segalanya setiap tahun dan harus memprioritaskan event yang berulang serta berkelanjutan.
Menurut Xi, Liga Su Chao menunjukkan bagaimana satu kompetisi bisa mendorong belanja di berbagai kota, termasuk peningkatan sektor ritel, kuliner, dan akomodasi di Nanjing dan wilayah Jiangsu lainnya.
Liga sepak bola tersebut kini menjadi contoh nasional dalam konsumsi olahraga berkelanjutan.
Menurut pejabat setempat, musim perdananya menarik 2,4 juta penonton langsung—dan untuk setiap 1 yuan (Rp2.200) yang dihasilkan dari penjualan tiket, tercipta tambahan 7,3 yuan (Rp16.100) belanja lokal oleh pengunjung.
Salah satu kota tuan rumahnya, Nantong di pesisir Provinsi Jiangsu, kini menjajaki penyelenggaraan bersama dengan Quanzhou di Provinsi Fujian setelah keduanya mencatat lonjakan pariwisata dan ritel lebih dari 40 persen setiap akhir pekan pertandingan.
Menurut Cai dari Southwestern University of Finance and Economics (SWUFE), keunggulan Chengdu terletak pada kemampuannya memadukan olahraga dengan gaya hidup.
“Event-event ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perkembangan budaya dan posisi internasional Chengdu,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pertumbuhan jangka panjang akan bergantung pada kemampuan kota untuk mengaitkan turnamen besar dengan kekuatannya yang sudah ada: rekreasi, budaya, dan keramahan.
DARI EVENT BESAR KE KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Menurut para ahli, Chengdu tidak sekadar menjadi tuan rumah turnamen kelas dunia, tetapi kota ini membangun ekosistem di sekitarnya dengan tujuan menjadikan olahraga dan rekreasi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di bawah rencana induk “kota taman”, berbagai taman olahraga baru juga tengah dibangun.
Jalur hijau Tianfu Greenway, yang dirancang sepanjang 16.930km dan kini telah rampung lebih dari 9.000km, mencakup jalur sepeda ikonik hampir 100km yang menawarkan pemandangan pegunungan, hutan, dan lahan basah di sekitar Chengdu.
Wang Pu, pesepeda lokal berusia 37, mengatakan Greenway telah banyak mengubah rutinitas hariannya.
“Komunitas pesepeda di Chengdu terus berkembang,” ujarnya.
“Semakin banyak orang yang bergabung. Jalur ini sudah menjadi salah satu ciri khas kota.”
Di bawah jalan layang Renyi Road, Li, 70, sigap menangkis bola di meja pingpong lusuh, sementara suara kendaraan dan kepingan mahjong berpadu di udara.
Di sekelilingnya, para pensiunan tengah berolahraga, meregang, dan tertawa, sementara pertandingan santai mereka berubah menjadi obrolan ringan.
Berolahraga setiap hari membuatnya tetap bugar, kata Li kepada CNA. Ia sudah menjadi pengunjung tetap di lokasi itu selama lebih dari satu dekade.
Gerakannya lincah, suaranya tegas dan mudah terdengar di tengah riuhnya suasana.
“Saya datang ke sini setiap hari,” ujarnya. “Cara yang bagus untuk tetap aktif dan bertemu teman.”
Pemandangan seperti ini menggambarkan revolusi kebugaran yang berlangsung senyap di Chengdu.
Dulu dikenal dengan rumah tehnya dan ritme hidup yang lambat, kini kota ini menjadi salah satu pusat urban paling aktif dan sadar kesehatan di China. Sekitar 9,4 juta penduduk rutin berolahraga, menurut data Biro Olahraga Chengdu tahun 2024.
Pendorong utamanya adalah National Fitness Implementation Plan kota tersebut, yang menetapkan “lingkar kebugaran” agar warga dapat menjangkau fasilitas olahraga hanya dalam beberapa menit dari rumah mereka.
West Village Basis Yard memiliki jalur melingkar setinggi 1,6km di lantai atas, didesain untuk aktivitas seperti lari, bersepeda, dan latihan fisik.
Karya arsitek ternama China Liu Jiakun ini melingkar di lima lantai kafe dan toko, menghadap ke halaman bawah yang berisi lapangan sepak bola dan bola basket serta area istirahat beratap.
Dari subuh hingga malam, kompleks itu selalu ramai, pelari menapaki lintasan, sementara keluarga dan pelajar beristirahat atau beraktivitas di teras-teras bertingkatnya.
Yang, warga 63 tahun yang tinggal di seberang jalan, mengatakan ia mulai rutin berjalan 10.000 langkah sejak fasilitas itu dibuka pada 2015. “Saya berjalan di sini dua kali sehari, masing-masing dua jam, pagi dan malam. Kadang saya juga ke taman terdekat,” ujarnya.
Kini kompleks tersebut menampung lebih dari 120 gerai, sekitar 30 persen di antaranya bergerak di bidang olahraga dan kebugaran.
“Fasilitas kami berbeda dengan arena profesional—tempat ini terbuka untuk semua orang, bukan hanya atlet,” ujar Ni Wenhong, General Manager West Village Basis Yard dari Chengdu Culture & Tourism Group.
“Dengan dorongan dari University Games dan ajang olahraga kota, kebugaran kini menjadi bagian dari kehidupan urban sehari-hari,” tambahnya.
Dalam gedung yang sama terdapat dua lembaga olahraga kota, Chengdu Event Operations Centre dan Chengdu National Fitness Centre, yang memudahkan koordinasi program komunitas di satu lokasi terpadu.
Hal itu membuat penyelenggaraan acara dan proses perizinan jauh lebih efisien, kata Ni kepada CNA.
Bahkan olahraga yang lebih kecil pun ikut terdongkrak.
Wang Shun, manajer Bonazenmei Cheer and Dance Club, mengatakan minat meningkat setelah event League of Legends menampilkan pertunjukan cheerleading.
“Sekarang kami mendapat sekitar 10 pendaftar baru setiap bulan,” ujarnya. “Kehadiran (West Village Basis Yard) di pusat kota sangat membantu karena orang tua tak perlu bepergian jauh.”
Di Distrik Wuhou, pensiunan berusia 60 tahun bernama Chen memantulkan bola basket sendirian di lapangan lingkungan.
Olahraga membuatnya tetap bugar, katanya. “Lebih baik daripada duduk di rumah,” ujarnya sambil memegang bola.
Di West Village, seorang guru bermain tenis meja bersama putranya yang berusia tujuh, tawa mereka menggema di aula terbuka. “Ini kebiasaan akhir pekan kami,” ujarnya. “Baik untuk dia, baik juga untuk saya.”
Tak jauh dari Jalan Chunxi, seorang pedagang tahu fermentasi memandangi kerumunan League of Legends yang mulai meninggalkan area.
“Orangnya berganti, tapi kotanya sama,” katanya. “Di sini selalu ada sesuatu yang terjadi.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.