Skip to main content
Hamburger Menu
Close
Edisi:
Navigasi ke edisi CNA lainnya di sini.

Iklan

Asia

Topeng wajah realistis asal China picu ketakutan akan pencurian identitas dan pelanggaran privasi

CNA mendapati bahwa topeng wajah silikon bisa dikirim dari China ke seluruh wilayah Asia. Namun para pengamat mengatakan tidak perlu khawatir terlalu berlebihan.

Topeng wajah realistis asal China picu ketakutan akan pencurian identitas dan pelanggaran privasi

Topeng silikon yang dikenakan oleh pencuri di Shanghai. Produk semacam ini telah menjadi sorotan di China setelah para pelaku kejahatan memakainya untuk mencuri. (Foto: Biro Keamanan Publik Shanghai Cabang Minhang)

SINGAPURA: Benda ini banyak digunakan di Hollywood dan muncul dalam adegan-adegan khas film-film Mission Impossible.

Benda ini adalah topeng wajah silikon, yang kini tengah jadi sorotan di China karena digunakan para pelaku kejahatan. Topeng yang sangat mirip wajah manusia asli ini bisa dibeli dengan mudah, sehingga menuai seruan agar penjualannya dibatasi.

Sementara para pengamat memperingatkan, benda ini bisa membantu pelaku kejahatan menutupi identitas mereka atau meniru seseorang agar bisa lolos dari sistem pengenalan wajah. Belakangan, platform e-commerce China seperti Taobao dan Pinduduo telah memblokir pencarian untuk topeng semacam ini.

Pengecekan oleh CNA mendapati topeng wajah silikon ini siap dikirimkan dari China ke berbagai negara di Asia, termasuk ke Singapura. Namun para pakar mengatakan untuk tidak perlu khawatir.

"Saya yakin jika (memang topeng itu dibeli dan) digunakan untuk melakukan kejahatan, maka itu baru pelanggaran," kata Chung Ting Fai yang memiliki firma hukum khusus menangani masalah hak kekayaan intelektual dan bisnis di China dan Singapura.

"Tapi untuk saat ini, belum ada kasus seperti itu (di Singapura), jadi ini belum jadi masalah," kata dia kepada CNA.

SEBAGAI ALAT KEJAHATAN

Perkara topeng silikon wajah menarik perhatian dan kekhawatiran di China setelah beberapa media lokal melaporkan penggun annya di beberapa kasus kejahatan.

Pada Maret lalu, empat rumah di Shanghai dijebol maling yang berhasil menggasak barang-barang senilai 100.000 yuan (Rp223 juta). Pelaku yang berhasil ditangkap polisi adalah pria berusia 40 tahunan yang menyamar menjadi lansia dengan menggunakan topeng silikon.

Bulan lalu, pencuri juga menjebol lima rumah di provinsi Jiangsu, mencuri barang senilai 30.000 yuan (Rp67 juta). Polisi mengatakan, pelaku menyamar sebagai tukang listrik dengan memakai topeng silikon agar terhindar dari identifikasi aparat.

Seorang pencuri di Jiangsu mengenakan topeng silikon untuk menyamarkan identitasnya. (Foto: Jiangsu News)

Kasus-kasus kejahatan ini memicu perdebatan di dunia maya setelah sebagian netizen mengaku khawatir akan penggunaan topeng wajah silikon.

Salah satu netizen di media sosial Weibo mengatakan: "Penjualnya harus menyadari risiko penggunaan topeng wajah, mematuhi hukum, dan mencegahnya agar tidak disalahgunakan."

Netizen lainnya berkata: "Yang salah itu manusianya, bukan topengnya."

Sementara netizen lainnya menambahkan, "teknologi dan sains adalah pisau bermata dua, penggunaan yang tepat bisa menjadi anugerah, tapi penyalahgunaan bisa membuka kotak Pandora."

Para pakar di China juga mengaku resah dengan topeng-topeng yang sangat mirip dengan wajah manusia itu.

Mengutip media pemerintah Legal Daily, lektor kepala bidang hukum kriminal di Fakultas Hukum Universitas Xiamen, Liu Jiong, mengatakan topeng seperti itu bisa membuat seseorang lolos dari identifikasi serta pengawasan, menyusahkan aparat dalam memburu pelaku kejahatan.

Liu menambahkan, topeng yang berparas realistis ini bisa mengecoh teknologi pengenalan wajah, digunakan untuk pencurian identitas atau tindakan ilegal lainnya.

DISENSOR, TAPI MUDAH DIAKALI

Situs-situs e-commerce China telah menyensor pencarian topeng silikon menyusul banyaknya protes yang terjadi. Namun sensor tersebut ternyata mudah diakali.

Ketika CNA melakukan pencarian pada 3 Juli, istilah "topeng manusia" tidak menampilkan hasil apapun di Taobao, Pinduoduo, dan 1688. (Tangkapan layar dari situs web Taobao)

Pemeriksaan oleh CNA pada 3 Juli pada platform seperti Taobao, Pinduoduo, dan 1688 menemukan bahwa pencarian "topeng manusia" atau "ren pi mian ju" dalam bahasa Mandarin telah diblokir, sehingga tidak menampilkan hasil. Namun, barang-barang tersebut akan tetap ditampilkan hanya dengan mengganti kata kunci menjadi "topeng silikon" atau "gui jiao mian ju".

Ada berbagai macam topeng silikon yang ditawarkan, di antaranya yang menyerupai selebritis atau tokoh sinetron. Harganya berkisar antara 19-250 yuan (Rp50.000-560.000).

Pengiriman topeng ini tidak hanya terbatas di dalam negeri China. CNA menguji tiga toko elektronik berbeda, kesemuanya menawarkan pengiriman ke luar negeri, termasuk ke Singapura.

Pencarian untuk "topeng silikon" di platform e-commerce Cina Taobao menampilkan lebih dari 400 hasil. (Tangkapan layar situs web Taobao)

Platform e-commerce yang berkantor pusat di Singapura juga menawarkan masker ini. Dalam pengecekan, ditemukan setidaknya 60 daftar yang berbeda di Lazada dan Shopee, kebanyakan dikirim dari China. Jumlah penjualan untuk setiap daftar sebagian besar di bawah 10.

Salah satu toko elektronik di China mengatakan bahwa angka penjualan mereka tidak terpengaruh dengan berbagai kasus yang terjadi belakangan ini. 

Toko elektronik lainnya yang mengirimkan barang dari Indonesia mengatakan "setiap bulannya, ada saja orang yang membelinya".

Topeng silikon tidak terlarang di Singapura. Penjual berhak mengimpor dan menjualnya di berbagai platform selama sesuai dengan hukum dan regulasi yang berlaku.

Pengacara Chung mengatakan bahwa Singapura tidak punya peraturan khusus yang mengatur penjualan di e-commerce. Lagi pula, kata dia, tidak ada kasus kejahatan terkait topeng silikon yang pernah terjadi di Singapura.

Lektor kepala Wai Kin Kong dari Fakultas komputer dan sains data di Nanyang Technological University (NTU) mengatakan regulasi terkait produk ini perlu hati-hati, jangan sampai mengganggu industri yang membutuhkan topeng bermutu untuk keperluan pengujian atau lainnya.

"Menerapkan langkah-langkah keamanan yang sesuai regulasi dapat memengaruhi efisiensi. Misalnya, jika untuk membeli topeng wajah harus dari vendor resmi dan izin dari pemerintah, maka pekerjaan bisa terhambat," kata dia kepada CNA.

Topeng yang menyerupai wajah manusia dapat dengan mudah dibeli dari berbagai platform e-commerce Singapura, seperti Lazada dan Shopee, dengan sebagian besar produknya dikirim dari China. (Tangkapan layar situs web Lazada)

ANCAMAN TERHADAP PRIVASI

Topeng silikon menimbulkan kekhawatiran akan risiko pelanggaran privasi di China. Di negara ini, banyak hal yang mengandalkan teknologi pengenalan wajah, misalnya untuk membuka ponsel, pintu kantor, atau bahkan rekening bank.

Seorang influencer asal China baru-baru ini merilis dua video yang masing-masing ditonton oleh 11.000 dan 60.000 orang. Dalam video tersebut, diperlihatkan bagaimana seseorang yang mengenakan topeng silikon mampu mengecoh sistem verifikasi wajah untuk membuka ponsel, akses masuk ke kantor, dan bahkan membayar di supermarket menggunakan Alipay.

Kong mengatakan risiko penggunaan topeng untuk menyamar menjadi orang lain telah menjadi bahan penelitian dalam beberapa tahun terakhir.

"Topeng-topeng ini telah digunakan untuk menguji akurasi metode deteksi wajah, dan pengujian kinerja berbagai metode ini telah menjadi semacam persaingan," kata dia.

Kong mengatakan hanyalah "orang dengan keterampilan tinggi" yang mampu menciptakan model 3D dari citra 2D.

"Jika ada yang mulai menggunakan model 3D yang dihasilkan dari gambar 2D untuk mengecoh sistem pengenalan wajah, kami baru akan khawatir, khususnya pada perangkat yang tidak memiliki algoritme pendeteksi kehidupan yang canggih."

CNA mendapati adanya beberapa pedagang di e-commerce China yang menawarkan topeng wajah yang bisa dipersonalisasi sesuai keinginan pembeli. Menurut laporan dari media China, harga topeng ini berkisar antara 3.000 hingga 25.000 yuan (Rp6,7 juta-56 juta).

Salah satu pedagang di Guangzhou yang dikontak CNA mengatakan produksi topeng seperti itu memakan waktu sekitar satu bulan.

Ketika ditanya informasi seperti apa yang dibutuhkan untuk membuat topeng semacam itu, pedagangnya berkata: "Jika ingin hasil yang lebih realistis, silakan datang langsung. Jika tidak bisa, kirimkan kami foto orang yang ingin direplikasi wajahnya dari berbagai sisi."

MELANGGAR HUKUM

Para ahli hukum di China memperingatkan bahwa membuat topeng silikon yang mirip dengan wajah seseorang adalah pelanggaran hukum, terutama jika tanpa persetujuan mereka.

"Mereka yang menggunakan topeng semacam itu tanpa izin dapat digugat secara perdata karena melakukan pencemaran nama baik," kata Profesor Meng Qiang dari Fakultas Hukum Beijing Institute of Technology seperti dikutip dari Legal Daily.

Meng juga mengatakan, pedagang topeng ini juga bisa dijerat hukuman jika terbukti melanggar privasi seseorang, atau jika topengnya digunakan untuk tindak kejahatan.

Firma hukum Zhongda pada tulisan opini mereka 1 Juni lalu di laman Weibo mengatakan bahwa topeng wajah "memuat berbagai informasi pengenalan rupa seseorang."

"Mereka yang mengenakan topeng itu tanpa izin bisa dijerat hukum karena pelanggaran privasi."

Agustus tahun lalu, badan pengawas dunia siber China mengeluarkan rancangan peraturan soal penggunaan dan keamanan teknologi pengenal wajah. Teknologi ini banyak digunakan di seantero China, untuk berbagai urusan - mulai dari membuang sampah hingga untuk membuka wadah tisu toilet.

Lembaga Dunia Siber China (CAC) mengatakan teknologi pengenalan wajah hanya boleh digunakan untuk memproses informasi wajah untuk tujuan dan kebutuhan tertentu, serta dengan langkah perlindungan yang ketat.

Penggunaan teknologi ini juga mengharuskan persetujuan dari individu, dan perlu adanya identifikasi non-biometrik sebagai opsi lainnya.

Para ahli mengatakan ada beberapa langkah perlindungan yang bisa dilakukan, baik di China maupun di tempat lain.

Untuk keamanan perangkat pribadi seperti ponsel atau laptop yang menggunakan teknologi pengenalan wajah, para ahli mengimbau untuk terus memperbaruinya. Pasalnya, pembaruan piranti lunak juga akan mencakup beberapa patch yang memberi perlindungan terhadap malware.

Otentikasi multi-faktor juga penting, kata Terence Siau, manajer di Center for Strategic Cyberspace + International Studies di Singapura.

"Memasukkan faktor otentikasi tambahan, baik melalui sidik jari, biometrik, atau bahkan kata sandi sederhana, secara signifikan dapat mencegah akses yang tidak berizin," kata dia kepada CNA.

Sementara untuk risiko penyalahgunaan foto, Chung mewanti-wanti untuk tidak sembarangan memposting foto diri di internet.

"Saya tahu bahwa untuk sekarang, hal ini (tidak membagikan foto) sangat sulit bagi anak-anak muda."

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini. 

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan

Iklan