Perempuan China membayar untuk romansa – dan mereka tahu itu tidak nyata
Di China, semakin banyak perempuan rela membayar ratusan yuan demi menikmati romansa yang sudah disusun lewat naskah. Tren ini memicu pertumbuhan pesat industri yang menjual keintiman buatan, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang batas antara fantasi dan kenyataan.
Seorang aktor pria memerankan pasangan setia Chi Peiyao selama sesi permainan—jenis kasih sayang yang diatur dalam skenario ini menjadi inti dari permainan “pasangan cinta” di China. (Foto: Chi Peiyao)
SHANGHAI: “Gembalaku,” kata pria itu sambil menyalakan korek api di kegelapan. “Apakah kamu melihatku sekarang?”
Pemeran berusia 26 tahun yang hanya ingin dikenal sebagai Xiaobai itu sedang memerankan Qiang Qingci — seorang psikiater fiksi yang menghapus dirinya dari ingatan perempuan yang dicintainya demi menjaga keselamatannya.
Perempuan yang duduk di hadapannya bukanlah Cheng Yuhuai, koresponden perang yang ia cintai dalam cerita tersebut. Ia adalah pelanggan yang membayar untuk bisa berada dalam situasi itu.
Lau, ia menangis terlalu keras untuk menjawab. “Aku melihatmu,” katanya akhirnya.
Adegan penuh kerinduan itu merupakan bagian dari permainan peran romansa di Tiongkok yang dikenal sebagai lianpei atau “pendamping cinta”, sebuah genre yang popularitasnya melonjak terutama di kalangan perempuan muda Tiongkok.
Diadaptasi dari permainan misteri pembunuhan tradisional, para pemain membayar untuk memerankan alur cerita yang telah ditulis dengan bantuan para aktor dan aktris profesional — mengambil peran sebagai kekasih masa kecil, pasangan yang setia, atau cinta tragis.
Permainan peran ini sering berlangsung selama berjam-jam dan dapat menelan biaya ratusan yuan. Para pemain dan aktor mengungkapkan mayoritas pelanggan merupakan perempuan muda.
Di sebuah lokasi di Changzhou, misalnya, kata seorang staf kepada CNA, 80 persen peserta merupakan perempuan.
Lianpei makin populer karena menawarkan bentuk pelarian dan pelepasan emosional — kesempatan untuk merasakan keintiman emosional selama beberapa jam tanpa kewajiban kehidupan nyata.
Namun, popularitas permainan romansa berskenario ini juga memunculkan pertanyaan tentang batas-batas keintiman yang direkayasa — dan apa yang terjadi ketika batas-batas tersebut mulai kabur.
“Kita membayar dan selama periode itu ada seorang (aktor) yang mencintai kita tanpa syarat, melayani kita dengan sepenuh hati, dan hanya ada untuk kita saja,” kata Chi Peiyao, perempuan berusia 20 tahun dari kota Qingdao di timur Tiongkok, yang pertama kali mencoba bermain peran kisah misteri pada 2018.
Saat itu, permainan peran kerap kali dimainkan bersama teman-teman, kata Chi, yang kemudian mendirikan bisnis permainan perannya sendiri.
Namun, permintaan berubah, ujarnya, dan para penulis permainan misteri serta operator lokasi semakin beralih ke cerita yang berfokus pada romansa.
“Itu karena para pemain menginginkannya,” kata Chi. “Jika naskah (romansa) ini hilang, tidak akan ada yang bermain peran saat ini.”
EKONOMI FANTASI
Genre ini juga sangat populer di aplikasi seperti Xiaohongshu dan Douyin, yang marak menampilkan berbagai potongan video soal perekrutan permainan peran. Video-video itu memperlihatkan sekilas bagaimana sebuah sesi berlangsung: pelukan dari belakang, belaian di wajah, “digendong bak putri kerajaan”, permen lolipop yang dipindahkan dari mulut ke mulut, hingga gerakan mendekat sebelum ciuman nyaris terjadi — semuanya merupakan bagian dari bisnis yang dibangun di atas kasih sayang yang direkayasa.
Di balik video-video viral tersebut terdapat industri yang berkembang pesat.
Satu sesi biasanya melibatkan sekitar enam pemain dan dijalankan oleh dua atau lebih pemeran, digelar di ruangan bertema yang dilengkapi kostum, pencahayaan panggung, dan sistem suara. Pada kelas yang lebih tinggi, beberapa sesi bahkan diadakan di ruang bergaya teater profesional.
Data registrasi bisnis dari Qichacha menunjukkan, sekitar 178.700 perusahaan terkait jubensha (permainan peran yang sebagian besa bertema pembunuhan atau misteri) terdaftar di China hingga awal Juni. Jumlah itu meningkat selama satu dekade, dengan rekor 73.300 perusahaan baru pada 2025.
Dalam survei yang dilakukan media berita keuangan Yicai, 54 persen dari sekitar 1.000 responden mengaku mereka bersedia mencoba permainan pendamping cinta, sementara 70 persen mengatakan format tersebut dapat memberikan nilai emosional yang nyata.
Para responden mengungkapkan sejumlah faktor, seperti kesepian, keinginan untuk merasa dicintai, dan keengganan menjalin hubungan di dunia nyata, sebagai alasannya.
Investasi emosional itu juga dapat berujung pada pengeluaran finansial.
Di Shanghai, berperan dalam sebuah naskah romansa dapat menelan biaya antara 300 yuan (sekitar Rp793.000) hingga 600 yuan.
Ada pula fitur “subsidi”, di mana seorang pemain yang menginginkan pendamping tertentu membayar sebagian atau seluruh biaya penampilan pemain lain agar sesi tetap dapat berlangsung.
Menurut Chi, hal itu dapat mendorong biaya satu sesi menjadi lebih dari 1.000 yuan.
Tambahan seperti kostum, tata rias, dan paket fotografi dapat semakin menambah biaya.
Di beberapa teater romansa, para pemeran profesional juga berinteraksi langsung dengan pemain dan mendorong pemberian tip.
Chi mengatakan, ia mengetahui seorang perempuan yang menghabiskan lebih dari 200.000 yuan (sekitar Rp528 juta) per bulan di tempat semacam itu.
“[Permainan] itu seperti tidak ada habisnya,” ujarnya.
Bagi para pemeran yang menjadi pusat fantasi tersebut, penghasilan dapat sangat bervariasi.
Seorang pemeran di kota besar seperti Shanghai dapat memperoleh sekitar 10.000 yuan (Rp26 juta) per bulan, menurut Xiaobai, yang telah bekerja di industri ini selama hampir lima tahun.
Mereka yang memegang peran kecil mungkin memperoleh sekitar 100 yuan (sekitar Rp264.000) per hari, sementara pemeran utama dan penampil yang banyak diminati dapat menghasilkan beberapa kali lipat lebih banyak.
Di kota-kota yang lebih kecil, ujar Xiaobai, pendapatan bulanan biasanya jauh lebih rendah, mendekati 6.000 yuan (sekitar Rp15 juta)
Sifat permainan romansa berskenario yang membutuhkan banyak tenaga kerja juga meningkatkan biaya bagi operator lokasi.
Yanyan (nama panggilan), 23 tahun, mengaku permainan “pendamping cinta” membutuhkan lebih banyak pemeran dan staf dibanding permainan konvensional. Ia bekerja di sebuah lokasi romansa berskenario di Changzhou dan sesekali ikut berpartisipasi dalam sesi tersebut.
“ORANG INI MENCINTAIMU, TETAPI TIDAK ADA”
Jika perasaan itu terasa nyata, apa yang terjadi ketika permainan berakhir?
Bagi banyak pemain, daya tariknya terletak bukan pada pemerannya, melainkan pada karakternya.
“Saya pikir naskah emosional pada dasarnya adalah tentang mencintai karakter fiksi — karakter yang sepenuhnya diciptakan oleh seorang penulis,” kata Chi dari Qingdao.
“Orang ini mencintaimu — tetapi dia tidak ada.”
Akan tetapi, perbedaan itu juga bisa sulit dipertahankan.
Ia pernah berpacaran dengan seorang pemeran yang dipasangkan dengannya dalam permainan. Hubungan itu tidak bertahan lama.
“Saya jatuh cinta padanya karena dia adalah kekasih saya dalam naskah,” katanya. “Tetapi orang yang sebenarnya di balik peran itu tidak seperti itu.”
Pengalaman itu juga mengubah cara pandangnya terhadap hubungan di kehidupan nyata.
“Kekasih saya dalam naskah semuanya sangat sempurna — setia, tampan, kaya, dan mencintai saya,” katanya.
“Jadi, dalam kenyataan, itu sebenarnya meningkatkan ekspektasi saya.”
Meski demikian, ia berhati-hati untuk tidak membandingkan pasangan nyata dengan pasangan fiksi.
“Saya tidak akan mengambil hal-hal dari naskah emosional dan membebankannya kepadanya,” katanya. “Semua itu hanyalah situasi palsu yang diciptakan oleh seorang penulis.”
Beban untuk memisahkan fantasi dari kenyataan juga berada di pundak para pemeran.
Xiaobai mengatakan, ia secara rutin mengingatkan para pemain bahwa kekasih setia yang mereka temui dalam permainan hanyalah karakter, bukan manusia nyata.
“Karakter sama sekali tidak boleh diproyeksikan kepada pemerannya,” katanya.
Meski begitu, ia melihat pekerjaannya sebagai sesuatu yang bermakna.
“Saya merasa seperti pembuat mimpi,” katanya.
“Mereka (para pemain) menjalaninya seumur hidup dalam naskah itu, dan saya akan menemani mereka melewatinya.”
Banyak pemain, kata Xiaobai, datang bermain karena tak punya tempat lain untuk meluapkan perasaan mereka — tak punya kesempatan “untuk menangis sejadi-jadinya atau tertawa sepuasnya sekali saja” — dan pulang dengan perasaan lega.
Itulah, menurutnya, tujuan sebenarnya dari pekerjaan tersebut.
BATAS-BATAS KEINTIMAN YANG DIREKAYASA
Titik di mana sebuah pertunjukan seharusnya berhenti merupakan garis batas yang tidak selalu dipatuhi dalam industri ini.
Meski kontak fisik diperbolehkan, di lokasi permainan yang mengikuti aturan, kontak tersebut dibatasi dan disepakati sebelumnya.
Bentuknya dapat berupa berpegangan tangan, menggandeng lengan, menyandarkan kepala di bahu, hingga berpelukan — yang menjadi batas tertinggi di lokasi permainan yang pernah dijalankan Chi.
“Paling jauh, aktor hanya akan memegang tangan atau memeluk,” katanya. “Bahkan mencium tangan pun tidak diperbolehkan.”
Ciuman sungguhan, kata Xiaobai, “secara inheren sudah melampaui ruang lingkup yang seharusnya dimiliki industri ini”, dan jika seorang pemain memaksakannya, pengelola lokasi akan turun tangan dan mengakhiri sesi.
Risiko terbesar terletak pada “ruang gelap kecil”, yaitu adegan pribadi satu lawan satu antara pemain dan pemeran.
“Banyak tempat tidak memasang kamera,” kata Chi, “sehingga perilaku yang sangat berlebihan bisa saja terjadi.”
Dampaknya terjadi di kedua sisi.
Xiaobai sendiri pernah mengalami pelecehan dari seorang pemain — dikirimi pesan tiap hari dan dikuntit, katanya, hingga tempat permainan itu akhirnya melarang perempuan itu datang.
“Itu benar-benar cukup memengaruhi saya.”
“Karena terlalu banyak tekanan, saya sempat mengalami depresi ringan.”
Chi mengetahui seorang pemain perempuan yang mengejar seorang pemeran laki-laki dengan foto-foto intim dan uang, lalu mengancam akan membongkar percakapan mereka ketika pria itu mencoba mengakhiri hubungan tersebut.
Meski demikian, pelaku di industri ini menegaskan bahwa kasus-kasus negatif tersebut bukanlah hal yang lazim terjadi. Chi mengingat sebuah pengelola lokasi yang melindunginya dari seorang pemain laki-laki yang terlalu agresif dalam sesinya sendiri, memisahkan mereka dan mengantarnya hingga ke mobil.
Sebagian besar lokasi permainan kini memasang pemberitahuan di dekat pintu, mengingatkan pelanggan agar tidak menyamakan karakter dengan pemerannya.
Tekanan untuk melangkah lebih jauh bersifat komersial, bukan berasal dari naskah.
Para penulis, kata Chi, “sama sekali tidak akan menuliskan kontak fisik eksplisit ke dalam naskah”.
Justru operator lokasi dan para pemeran yang menambahkannya kemudian — seorang pemain duduk di pangkuan pemeran, atau lolipop yang dipindahkan dari mulut ke mulut — lalu merekam dan mengunggah adegan tersebut ke internet.
Berbagai video yang beredar itulah, tambah Chi, yang membuat orang luar menganggap industri ini cabul.
Video pelukan yang berlangsung lama dan permainan peran yang intim secara rutin menarik jutaan penonton daring, membuat sebagian kritikus menilai permainan romansa tidak lebih dari sekadar pendampingan berbayar.
Tuduhan yang sangat ingin dibantah oleh para pemain adalah tuduhan mereka hanya membeli seks.
Ketika salah satu video Chi di Douyin melampaui lima juta views, kolom komentarnya dipenuhi perbandingan dirinya dengan gigolo.
Reaksi tersebut mencerminkan standar ganda, kata Mu Zheng, profesor madya sosiologi di National University of Singapore (NUS).
China, seperti banyak masyarakat Asia lainnya, “masih cenderung sangat berorientasi gender”, katanya.
Laki-laki telah lama membayar untuk pendampingan dan keintiman perempuan; yang baru adalah perempuan membayar keintiman dari laki-laki — “tetapi ini jelas merupakan suatu fenomena yang sedang muncul”.
Mu menambahkan bahwa seorang perempuan secara terbuka membayar untuk romansa, dalam kerangka yang masih konservatif ini, dianggap sebagai pelanggaran norma.
Ia juga melihat popularitas naskah romansa sebagai bagian dari pergeseran yang lebih luas dalam cara sebagian anak muda memandang keintiman.
Menurut Mu, di masa lalu, cinta cenderung hadir sebagai satu paket — kedekatan emosional, kepercayaan, persahabatan, dan tanggung jawab membangun kehidupan bersama, yang banyak di antaranya masih secara tidak proporsional dibebankan kepada perempuan di China.
Kini, sebagian perempuan masih menginginkan hubungan emosional, tetapi tidak selalu menginginkan kewajiban yang menyertainya seperti dalam hubungan konvensional.
Dan di tengah ketidakpastian kencan di dunia nyata, beberapa jam cerita yang disusun dengan cermat dalam sebuah naskah dapat terasa sebagai cara yang lebih sederhana dan lebih dapat diprediksi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Para pemain yang pernah bekerja di industri ini sendiri cenderung melihat fantasi tersebut sebagaimana adanya.
Yanyan dari Changzhou mengatakan bahwa ia tahu pemeran di hadapannya menyampaikan kalimat yang sama kepada banyak orang lain.
“Saya memang bisa terbawa suasana, tetapi saya akan menahan diri,” katanya.
“Penampilan itu tidak menipu saya,” kata Xiaokui, 29 tahun, yang hanya ingin dikenal dengan nama panggilannya.
Ia mulai bermain sekitar setahun lalu setelah bekerja di sebuah tempat permainan peran imersif.
“Ketika saya bekerja di bidang itu, saya juga mengatakan hal yang sama kepada para pemain,” tambahnya.
Mu tidak memandang keterikatan semacam itu sebagai sesuatu yang secara inheren sehat atau tidak sehat, seraya menambahkan bahwa sebagian besar tidak berlanjut menjadi hubungan bermakna di dunia nyata.
Namun, hal itu tidak membuat emosi yang dirasakan selama permainan menjadi kurang nyata, katanya.
“Jika seseorang pergi dengan membawa momen-momen koneksi yang bermakna, pengalaman itu nyata bagi mereka,” kata Mu.
Risikonya muncul ketika pelarian sesekali itu berubah menjadi pengganti keintiman yang nyata.
“Para pemain dapat menikmati sisi positif dari sebuah hubungan tanpa benar-benar menanggung ketidakpastiannya,” katanya.
“Itulah yang membuatnya membuat ketagihan.”
Chi tidak membantah bahwa hubungan yang dijual itu bersifat artifisial.
“Hubungan seperti ini sejak awal memang palsu. Anda mengeluarkan uang hanya untuk mengalaminya,” katanya.
Lalu permainan berakhir, lampu menyala, dan semua orang pulang.
“Dan itu sudah cukup.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.