Skip to main content
Iklan

Asia

Thailand tetapkan 5 kucing ras jadi peliharaan nasional, tapi apakah nasib mereka akan lebih baik?

Para pembiak kucing menyambut baik ketetapan pemerintah Thailand tersebut. Namun beberapa khawatir hal itu malah justru akan meningkatkan populasi kucing liar.

Thailand tetapkan 5 kucing ras jadi peliharaan nasional, tapi apakah nasib mereka akan lebih baik?

Preecha Vadhana, seorang pembiak kucing, memeriksa kucing Siam di fasilitasnya di Bangkok. Ras tersebut merupakan satu dari lima yang diakui pemerintah sebagai simbol nasional. (Foto: CNA/Jack Board)

BANGKOK: Dalam berbagai manuskrip kuno Thailand, kucing dianggap sebagai hewan yang dihormati, dianggap pembawa keberuntungan dan kesayangan keluarga kerajaan.

Para penyair Thailand di masa lampau dalam berbagai manuskrip samut khoi, buku dengan kertas dari kulit pohon murbei, menggambarkan kucing dengan bulu berwarna perak dan putih sebagai penjaga kuil.

Kucing memiliki akar sejarah yang kuat dan warisan nasional yang berasal dari masa sebelum naskah abad ke-14 yang dikenal sebagai Tamra Maew di Thailand.

Dari simbol kuno hingga ikon masa kini, spesies ikonik kerajaan itu kembali diangkat, dengan diakui secara resmi bersama sejumlah lambang bersejarah lainnya.

Lima kucing ras asli ditetapkan sebagai simbol hewan peliharaan nasional oleh pemerintah Thailand pada 18 November lalu, bersama dengan gajah Thailand, ikan cupang aduan, dan Naga.

Kelima kucing ras asli Thailand itu adalah Suphalak, Korat, Siam, Konja, dan Khao Manee. Menurut Komite Identitas Nasional Thailand yang mengusulkan penetapan hewan peliharaan nasional, kucing-kucing ini memiliki ciri fisik dan perilaku khas yang membedakannya dengan ras lain.

“Ciri khas mereka kini mendapat pengakuan dunia, mendorong pembiak asing mencoba mendaftarkan keturunan murni kucing Thailand dan menyusun standar ras internasional,” kata Departemen Hubungan Masyarakat pemerintah Thailand dalam laporannya pada 20 Nov.

Preecha Vadhana, pembiak kucing yang mengoperasikan Bangrak Cat Farm di Bangkok, mengatakan masing-masing dari lima ras tersebut memiliki karakteristik sangat berbeda sehingga mudah dibedakan satu sama lain.

“Tetapi mereka juga memiliki kesamaan, terutama struktur tubuh dan bulu pendeknya.”

Suphalak memiliki bulu tembaga yang khas dan dianggap sebagai simbol prestise dan hoki. Korat adalah kucing berwarna abu-abu kebiruan dengan mata hijau terang yang besar, sementara Khao Manee, spesies putih yang langka, sering memiliki sepasang mata dengan dua warna berbeda, seperti emas dan biru.

Konja dikenal sebagai kucing hitam pembawa keberuntungan, berbeda dengan reputasi kucing hitam di banyak negara lain yang justru sering dianggap sebaliknya.

Terakhir, “raja kucing”, Siam atau Wichienmas, memiliki ciri khas berupa titik-titik gelap dan diminati karena kecerdasannya. Ras ini biasanya yang paling mahal, dengan harga 15.000–20.000 baht (Rp6,6 juta–Rp8,8 juta) dari pembiak lokal, sementara ras lain dihargai 7.000–15.000 baht (Rp3 juta–Rp6,6 juta).

“Saya pikir ini langkah yang bagus dan akan mendorong minat lebih besar terhadap kucing ras Thailand,” kata Titipat Laohaprasertsiri, presiden International Maew Boran Association (TIMBA), organisasi yang mempromosikan spesies ikonik Thailand. Maew Boran berarti kucing kuno dalam bahasa Thailand.

“Kucing Thailand itu energik, ceria, rasa ingin tahunya tinggi, dan sangat penyayang. Mereka tampak lebih menyukai manusia dibanding kucing lainnya. Mereka sangat berorientasi pada manusia, dan benar-benar menambah kehangatan serta keceriaan dalam hidup sehari-hari,” ujarnya.

Tidak ada data publik tentang berapa banyak kucing jenis ini di Thailand.

Keputusan mengangkat spesies-spesies tersebut tidak hanya bersifat simbolis. Langkah ini dimaksudkan untuk membantu melestarikan ras asli yang langka, menetapkan standardisasi, dan melindungi hak kepemilikan Thailand atas ras-ras itu. Pemerintah menyatakan bahwa spesies tersebut juga akan lebih banyak digunakan dalam branding ekonomi kreatif dan pariwisata.

Seekor kucing Suphalak Thailand terlihat di Bangrak Cat Farm di Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)

“Saya melihat ini sebagai potensi positif yang sangat besar. Sayangnya, kucing ras biasanya dipandang lebih berharga dan mendapat perlakuan lebih baik dibanding hewan yang tidak memiliki status tersebut,” kata Henna Pekko, direktur pelaksana Rescue P.A.W.S. Thailand, organisasi kesejahteraan hewan nirlaba di Thailand.

“Jika kucing dianggap sebagai harta nasional, itu hari yang baik bagi para pecinta kucing,” tambah Karan Bhatia, pemilik Catsanova Cat Shelter & Playroom di Bangkok, bisnis yang berfokus pada adopsi kucing secara etis.

Meski begitu, mereka menyoroti kesenjangan kesejahteraan antara pamor ras tertentu dan nasib kucing-kucing di Thailand sekarang.

Kucing Korat Thailand dikenal dengan bulu abu-abu dan mata hijau zamrud yang cerah. (Foto: CNA/Jack Board)

HEWAN LIAR DI JALANAN

Jumlah kucing dan anjing liar diperkirakan mencapai ratusan ribu di seluruh Thailand, bisa jadi lebih dari itu. Berdasarkan estimasi Departemen Pengembangan Peternakan Thailand pada 2018, terdapat sekitar 820.000 hewan liar di jalanan.

Kota-kota besar seperti Bangkok memiliki hewan liar terbanyak, namun persoalan ini terjadi di seluruh Thailand.

Program sterilisasi, pencarian pengadopsi, atau vaksinasi yang didukung negara sangat jarang. Namun mulai 10 Januari tahun depan, pemilik kucing di wilayah metropolitan Bangkok diwajibkan mendaftarkan dan memasang mikrochip pada hewan peliharaan mereka.

Ada banyak kucing liar di jalanan Bangkok. (Foto: CNA/Jarupat Karunyaprasit)

Akan ada juga pembatasan jumlah kucing yang boleh dipelihara, tergantung pada ukuran rumah pemilik.

Penelantaran hewan peliharaan tetap menjadi masalah besar, situasi yang semakin memburuk akibat pandemi COVID-19.

“COVID memang situasi ekstrem, tetapi tetap saja memicu lonjakan jumlah hewan yang dibuang di jalan,” kata Sam McElroy, direktur operasional Soi Dog Foundation, organisasi nirlaba untuk kesejahteraan anjing dan kucing liar di seluruh Asia.

“Tak sedikit dari hewan itu yang sebelumnya tinggal lama di rumah orang, lalu mendadak terdampar di jalanan. Di Thailand, mereka mudah tak terlihat karena begitu banyak kucing liar,” ujarnya.

Seekor kucing yang diselamatkan beristirahat di kandang di Catsanova, Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)

Pekko mengatakan, jumlah kucing liar dan kucing peliharaan yang bebas berkeliaran sangat besar, banyak di antaranya tidak pernah diperiksa dokter hewan. Akibatnya, kucing-kucing tersebut sering melahirkan dan dihinggapi parasit, cedera, serta penyakit.

“Akses terhadap layanan sterilisasi yang terjangkau atau disubsidi sangat terbatas, sehingga masalah ini makin memburuk dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Para aktivis hewan mengatakan bahwa pengakuan ras-ras asli itu tidak dibarengi kebijakan jelas untuk menekan jumlah kucing liar, selain ajakan meningkatkan “kesadaran publik”. Mereka berharap langkah ini bisa memicu perubahan.

“Saya pikir akan membantu jika pemerintah atau pihak di balik kebijakan ini bisa memanfaatkannya sebagai wadah untuk mulai mengedukasi masyarakat tentang cara memperlakukan kucing peliharaan dan kucing liar,” kata Bhatia.

Pihak lain lebih tegas menyatakan bahwa pemerintah perlu mengambil tindakan nyata, bukan sekadar isyarat simbolis terhadap kucing-kucing langka.

Kucing Siam atau Wichienmas sangat dihormati di Thailand. (Foto: CNA/Jack Board)

Mavin Russameethongthakul, warga Bangkok yang menampung 25 kucing di rumahnya, mengatakan kampanye seharusnya tidak terbatas pada ras murni.

Menurutnya, akan lebih baik mendorong masyarakat untuk membantu kucing liar.

“Ras-ras Thailand tertentu ini sebenarnya cukup langka, dan saya tidak begitu melihat manfaatnya,” ujarnya.

Pekko menilai langkah itu bisa memperluas kesadaran publik dan menumbuhkan empati terhadap kucing.

“Semoga pengakuan ini membawa dampak positif bagi kucing Thailand secara keseluruhan, bukan hanya ras tertentu,” katanya.

Namun ia mengaku khawatir bahwa meningkatnya sorotan pada ras-ras tersebut bisa memicu praktik pembiakan yang jika tidak diatur dengan baik sehingga berpotensi menimbulkan masalah bagi kesejahteraan kucing. Thailand hampir tidak memiliki regulasi terkait pembiakan komersial kucing.

“Jadi meskipun keputusan ini menjanjikan, dampak nyatanya masih harus dilihat,” tambah Pekko.

Diperkirakan ada ratusan ribu hewan liar di jalanan Thailand. (Foto: CNA/Jack Board)

DI BALIK INDUSTRI PEMBIAKAN

Di gang kecil kawasan Bang Rak, Bangkok, yang berada di antara sungai dan hiruk-pikuk Silom, puluhan kandang berjajar rapat di balik pagar besi.

Nyaris seratus kucing memenuhi ruang yang berisik dengan suara mengeong itu.

Bangrak Cat Farm menjadi lokasi pembiakan untuk lima spesies asli Thailand yang sangat dicari.

Preecha, pembiak berusia 76 tahun, berjalan dan memeriksa kucing-kucing itu dengan saksama, sesekali berhenti untuk menyisir bulu beberapa kucing favoritnya atau mengecek kondisi yang lain.

Pembiak Preecha Vadhana di Bangrak Cat Farm, Bangkok, Thailand. (Foto: CNA/Jack Board)

Ia merasa bangga pada kucing-kucingnya dan pada pengakuan baru dari pemerintah, sesuatu yang ia perjuangkan selama bertahun-tahun lintas pemerintahan.

“Kucing Thailand selalu menjadi bagian dari identitas nasional kita; pemerintah saja yang belum memberi perhatian. Tapi sekarang mereka mengakui kucing Thailand sebagai bagian dari soft power, dan itu sesuatu yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Ia mengatakan pengakuan tersebut akan membantu membangun kepercayaan di dalam industri, menjamin kualitas, menjaga kelestarian spesies, dan menumbuhkan rasa bangga di kalangan pemilik kucing.

Langkah itu juga bisa mendorong lebih banyak orang bergabung dalam industri pembiakan kucing Thailand, jika bisnisnya sehat dan ras-ras ini makin populer, tambahnya.

Sebagian besar kucing di tempatnya dipelihara oleh keluarga-keluarga Thailand, bukan untuk diekspor, meski ada permintaan dari Amerika Serikat dan Eropa. Secara umum, minat untuk memiliki salah satu ras kucing kuno Thailand memang meningkat di dalam negeri, kata Titipat dari TIMBA.

Kucing Korat Thailand dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran. (Foto: CNA/Jack Board)

Semakin banyak pemilik kucing mulai menyadari bahwa ras lokal lebih cocok dengan kondisi Thailand dibanding ras asing, kata Preecha.

“Yang makin terlihat adalah banyak mantan pemilik ras asing kini beralih ke kucing Thailand. Salah satu alasannya adalah kesehatan,” ujarnya, menjelaskan bahwa kucing dari luar negeri sering mengalami infeksi jamur pada kulit karena iklim Thailand.

“Inilah beberapa alasan lebih banyak orang beralih ke kucing Thailand, dan saya pikir tren ini akan terus berlanjut.”

Dengan status yang meningkat, kucing-kucing ini akhirnya diakui sebagai hewan yang “benar- benar berharga”, tambahnya.

Ia mengatakan hal itu juga bisa membawa manfaat tak terduga bagi kucing jalanan. Pasalnya, banyak kucing liar yang secara alami mirip ras Thailand kini lebih sering diadopsi.

“Saya yakin kucing Thailand akan terus bertahan sebagaimana mereka telah melakukannya selama ratusan tahun,” ujarnya.

“Dan kami, orang-orang yang mencintai kucing, akan terus berjalan bersama mereka, semoga untuk ratusan tahun lagi.”
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan